Peran Hormon Auksin

LAPORAN

Pengaruh Intensitas Cahaya Terhadap Fungsi Auksin pada Tumbuhan Sawi ( Brassica campestris )

A. Tujuan

Mendeskripsikan pengaruh hormon auksin yang dipengaruhi oleh cahaya terhadap pertumbuhan ujung batang tumbuhan sawi (Brassica campestris).

B. Dasar Teori

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini.

Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.

Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan.

Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7.

Sedangkan auksin adalah zat yang di temukan pada ujung batang, akar, pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Hormon auksin adalah hormon pertumbuhan pada semua jenis tanaman.nama lain dari hormon ini adalah IAA atau asam indol asetat. Letak dari hormon auksin ini terletak pada ujung batang dan ujung akar.

Fungsi dari hormon auksin ini dalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. Kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin. Tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme (Sumber).

C. Hipotesis

Cahaya mempengaruhi kerja hormon auksin dimana hormon auksin juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ujung batang tanaman perkecambahan Brassica campestris.

D. Variabel

1. Variabel bebas : Arah datangnya cahaya yang mempengaruhi banyak sedikitnya hormon auksin

2. Variabel Terikat : Pertumbuhan dan Perkembangan ujung batang tanaman perkecambahan Brassica campestris akibat banyak sedikitnya hormon auksin

3. Variabel Kontrol : Kecambah Brassica campestris, tanah, air, kardus, gelas

aqua, lubang kardus.

E. Langkah Kerja

a. Siapkan medium berupa 3 gelas yang berisi tanah gembur

(beri nama A,B, dan C pada gelas)

b. Ambil 3 biji Brassica campestris dan letakkan pada 3 gelas yang telah siap tadi

c. Letakkan gelas A pada kardus yang terbuka sedangkan gelas B pada kardus yang diberi lubang 10 X 10 cm pada sisi sebelah kiri dan gelas C pada kardus tertutup.

d. Siram setiap hari dengan sedikit air

e. Biarkan kecambah tumbuh selama 6 hari

f. Amati gejala yang tampak dan ukur panjang kecambahnya kemudian catat pada tabel berikut.

F. Tabel Hasil Penelitian

No. Jenis Kecambah Keadaan Batang Panjang Batang

( Cm )

Keatas (Normal) Mendekati Cahaya

1. A –  10

2. B  – 8

3. C  – 15

G. Analisa data dan pembahasan

      Analisa Data

  1. Pada gelas A yang dipengaruhi oleh arah datangnya cahaya telah menunjukkan kesesuaian dengan hipotesis kami. Tanaman pada gelas A mengarah ke datangnya cahaya. Seluruh ujung daun dan batang membengkok pada arah datangnya cahaya. Arah tanaman ini disebabkan adanya pengaruh hormon auksin dimana auksin akan berpindah tempat dari batang dan daun yang terkena cahaya ke batang yang tidak terkena cahaya sehingga komposisi auksin pada tempat yang terkena cahaya lebih sedikit dari tempat yang tidak terkena cahaya. Oleh karena itu, sesuai dengan fungsi auksin untuk memacu pemanjangan sel, maka sel yang tidak terkena cahaya akan memanjang lebih cepat dari pada sel yang terkena cahaya. Panjang batangnya adalah 10 cm. sesuai dengan kajian pustaka, Pertumbuhan panjang ini termasuk normal jika ditinjau dari lama tumbuh tanaman sawi tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa tumbuhan tidak terganggu dengan adanya variabel bebas yang kami gunakan.
  2. Pada gelas B yang kami tempatkan di tempat yang terkena sinar matahari sepanjang hari panjang batangnya hanya 8 cm. Hal ini dikarenakan sedikitnya hormon auksin yang terkandung pada tanaman tersebut. Sedikitnya hormon auksin juga dipengaruhi oleh intensitas cahaya matahari. Cahaya matahari sepanjang hari mampu memberikan respon negatif bagi pemanjangan sel dan keberadaan hormon auksin. Keberadaan hormon auksin akan menghindar dari cahaya matahari agar tidak rusak sehingga pada tanaman sawi ini memiliki panjang tanaman yang pendek dibanding tanaman sawi pada gelas A dan C. Sedangkan arah tanaman normal keatas karena cahaya matahari menyinari seluruh bagian tanaman tersebut sehingga dapat dipastikan komposisi hormon auksin disetiap bagian tanaman sawi sama. Kinerja hormon auksin pada bagian tumbuhan ini akan merata sehingga tumbuh normal keatas.
  3. Pada gelas C yang kami tempatkan pada tempat gelap tanpa cahaya matahari memiliki panjang batang 15 cm. Tentu sangat panjang daripada gelas A dan B. Pertumbuhan ini tidak wajar karena idealnya tanaman sawi memiliki kisaran tinggi 5-10 cm pada usia 7 hari. Hal ini disebabkan adanya etiolasi. Etiolasi merupakan proses pemanjangan sel tumbuhan yang sangat cepat karena banyaknya hormon auksin dalam tumbuhan sehingga memacu pemanjangan sel tumbuhan yang sangat cepat. Kinerja hormon auksin bebas dan merata karena tidak ada cahaya matahari yang dapat mempengaruhi keberadaan hormon auksin. Pertumbuhan tanaman sawi pada tempat gelap tegak keatas namun tidak kuat karena sel selnya memanjang sangat cepat namun tidak diikuti dengan proses penebalan sel dan proses diferensiasi. Bukan hanya batang yang tidak kuat namun juga warna daun yang pucat hal ini tentu diakibatkan cadangan makanan pada endosperm yang telah habis sedangkan tumbuhan tidak mampu membuat makanan sendiri tanpa cahaya matahari melalui proses fotosintesis sehingga tumbuhan mudah mati.

Dari hasil penelitian diatas, dapat dilihat bahwa tanaman sawi sangat peka terhadap faktor eksternal berupa cahaya. Dalam hal ini mengindikasikan bahwa kerja hormon auksin dalam tanaman sawi itu sangat dipengaruhi faktor cahaya. Jadi hormon auksin sangat berperan dalam proses pemanjangan sel

        Pembahasan

Pembahasan ini mengacu pada rumusan masalah yang telah kami angkat yaitu bagaimana pengaruh intensitas cahaya terhadap fungsi auksin sebagai hormon yang memicu pemanjangan sel pada tumbuhan.

Cahaya matahari sebenarnya sangat berpengaruh terhadap kinerja hormon auksin dalam tumbuhan. Pada kenyataannya, tumbuhan akan mengalami etiolasi saat berada pada tempat yang tidak ada cahaya matahari. Etiolasi adalah gejala pertumbuhan tanaman yang abnormal dimana pertumbuhan sel sangat cepat sehingga mengakibatkan sangat panjangnya batang tanaman dan menguningnya daun. Kloroplas yang tidak terkena matahari disebut etioplas. Kadar etioplas yang terlalu banyak menyebabkan tumbuhan menguning. Pada hal ini hormon auksin bekerja dengan baik karena tumbuhan tidak terkena cahaya. Sekarang kita tinjau fungsi auksin berkaitan dengan adanya fakta etiolasi diatas, fungsi auksin adalah memicu pertumbuhan sel akar dan sel batang pada bagian / daerah belakang ujung meristemnya, sehingga dapat diambil suatu korelasi bahwa ada pengaruh antara cahaya dan kinerja hormon auksin.

Korelasi itu dapat diperoleh dari kenyataan dilapangan hasil pengamatan kami pada gelas A. Hasil dari percobaan ini menunjukkan tanaman akan membengkok ke arah datangnya cahaya. Hal ini bisa terjadi karena perpindahan hormon auksin dari bagian batang / koleoptil yang terkena sinar matahari ke daerah koleoptil yang tidak terkena cahaya matahari. Jadi pada dasarnya perpindahan itu diakibatkan hormon auksin akan terhambat kerjanya dan rusak jika terkena cahaya matahari sehingga perpindahan tersebut dilakukan tanaman untuk meminimalisasi kerusakan hormon auksin yang telah dihasilkan oleh ujung batang dan ujung akar.

Pada hasil gelas A menunjukkan tumbuhan membengkok kearah datangnya cahanya. Kejadian ini dinamakan fototropisme. Dinamakan gerak fototropisme karena gerak tersebut dipengaruhi rangsangan berupa cahaya. Fototropisme dalam kejadian ini merupakan fototropisme positif karena arah bengkoknya batang ke arah datangnya cahaya.

Dilain sisi, fungsi auksin yang dapat memicu pertumbuhan sel tumbuhan pada ujung batang dan akar dapat dijelaskan prosesnya secara rinci.

Adapun prosesnya adalah: Pada dasarnya auksin ini mempengaruhi keelastisitasan dan pengendoran dinding sel tumbuhan. Auksin merangsang membran pasma untuk memompa ion H+ dengan cara menginformasikan perintah melalui protein. Ion H+ yang ada pada dinding sel kemudian mengaktifkan beberapa enzim sehingga dapat memutuskan ikatan silang hidrogen. Hal ini menyebabkan pengendoran dinding sel akibat masuknya air secara osmosis melalui dinding sel sehingga dinding sel mengendor dan sel pun jadi memanjang.

Jadi ketika cahaya matahari menyinari daerah batang, maka ujung batang tersebut memproduksi auksin yang akan menyebar keseluruh tubuh. Namun pada bagian yang terkena sinar matahari, hormon auksin berpindah menuju bagian yang tidak terkena sinar matahari. Sesuai dengan proses pemanjangan sel diatas maka bagian yang tidak terkena sinar matahari memiliki hormon auksin yang lebih banyak sehingga panjang daerah yang tidak terkena sinar matahari tersebut lebih panjang dari pada daerah yang terkena cahaya matahari sehingga terjadi pembengkokan dan gerak tropisme yang telah dijelaskan diatas.

Jadi secara umum tumbuhan memiliki respon yang sama terhadap arah datangnya cahaya. Tergantung dengan tipe auksin yang diproduksi oleh tumbuhan tersebut. Dari perbedaan tipe auksin tersebut, Respon terhadap datangnya cahaya dibagi 2 yaitu positif dan negatif. Geraknya disebut fototropisme. Fototropisme positif, pembengkokan batang kearah datangnya cahaya sedangkan fototropisme negatif membengkok berlawanan dengan datangnya cahaya.

H. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil adalah

  1. Peran hormon auksin adalah memacu pemanjangan sel pada ujung batang tanaman sawi
  2. Cahaya matahari dapat mempengaruhi keberadaan hormon auksin, jika batang terkena sinar matahari maka hormon auksin dapat berpindah ke bagian batang yang tidak terkena sinar matahari sehingga dapat membengkokkan batang tanaman sawi tersebut (fototropisme positif)
  3. Tingginya intensitas cahaya matahari dapat menghambat pemanjangan
  4. Etiolasi merupakan proses pemanjangan sel tumbuhan yang sangat cepat karena banyaknya hormon auksin dalam tumbuhan sehingga memacu pemanjangan sel tumbuhan yang sangat cepat

                   I. Lampiran (telah terkumpul)

Advertisements

One thought on “Peran Hormon Auksin

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s