Bank dan Kemiskinan

Bank dan Kemiskinan

Bismillahirahmanirahim

Aku ingin menjelaskan opiniku mengenai kemiskinan yang berkepanjangan di Indonesia. Aku tahu semua akibat pasti ada sebabnya. Begitu pula kemiskinan pasti ada sebabnnya. Aku menjelaskan salah satu penyebabnnya. Hhe jadi pengamat ekonomi sekarang, meskipun belum handal.

Well, aku rasa kemiskinan yang berkepanjangan dikarenakaan sistem bank yang buruk sekali. Kenapa demikian? Karena bank sejatinya tidak membantu masyarakat tetapi malah menyusahkan masyarakat. Dapat dilihat bersama orang yang meminjam uangnya di bank akan mengembalikan dengan suku bunga tertentu yang sangat memberatkan. Suku bunga ini adalah satu satunya cara bank untuk mendapatkan pemasukan. Dan pemasukan itu yang akan digunakan untuk mendanai pengeluaran bank dapat berupa transaksi, percetakan, pembangunan, gaji pegawai, dan bunga bagi nasabah yang menabung. Bahkan ironinya, pemasukan itu juga akan digunakan untuk kupon berhadiah bagi yang nabung banyak di bank tersebut. Nah itu sekedar gambaran umum saja. Mari take deeper analogy!

Aku sangat miris melihat bank di seluruh dunia khususnya di Indonesia. Lihat saja sekarang analogiku.

Ketika ada orang yang meminjam uang di bank. Misal mereka meminjam 1 juta dan akan dikembalian setahun kemudian. Dan di tanggal yang telah ditentukan itu mereka harus mengembalikan uangnya bukan 1 juta lagi, tetapi lebih dari itu, bisa saja 1.200.000. Kalau kita telaah lebih dalam lagi, orang yang meminjam uang adalah orang yang tidak mampu bukan? Tentu saja orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhannya dengan uangnya sendiri? Ya kan? Kalau orang mampu ya nggak mungkin pinjem uang, paling paling juga nabung.

Sebaliknya ketika ada orang yang menabung di bank. Maka setiap hari, bulan dan tahun mereka akan menikmati yang namanya bunga. Uang mereka akan bertambah dengan sendirinya. Misal ada yang nabung 50 juta maka tahun berikutnya uang mereka akan bertambah bisa jadi 60 juta lho. Terus siapa yang mendanai pertambahan uang mereka? Bank? Ya nggak mau lah bank rugi mendanai uang uang mereka yang harus bertambah. Boro boro buat itu, gaji pegawai dan pembangunan bank aja belum ada. Kalau bank milik pemerintah sih kyaknya ada jaminan pegawai jadi yang biayai gaji dan pembangunan bank itu ya pemerintah. Tapi kalau bank swasta? Ya dari bunga si pemilik hutang yang aku jelaskan diatas tadi.

Selain itu juga bank sekarang marak melakukan promo yang kelihatannya oke banget tapi dalemnya  busuk banget. Nih aku kasih tau ya. Tadi orang tuaku mengikuti kupon berhadiah. Orang tuaku dapet kupon setelah menabung beberapa uang. Kupon tersebut nantinya diundi dan akan mendapatkan hadiah tertentu yang menggiurkan bahkan sampai mendapat mobil. Yeah. Balik lagi pertanyaannya, siapa yang mendanai hadiah itu? Tentu saja bunga dari si penghutang. Aku yakin itu. Mana ada orang yang ada di bank, atau stakeholder bank yang mau mendanainya. Boro boro men, lha mereka aja butuh gaji dann uang pula. Nggak bisa hidup dong kalau membiayai hadiah hadiah itu. Hahah..

Belum lagi lihat tuh yang di tipi tipi. Undian mobil di bank bank tertentu. Siapa yang dapet? Adakah orang miskin di pinggir kota? Adakah petani yang nggak punya lahan? Adakah buruh yang penghasilannya pas pasan? Adakah para pengangguran? Adakah orang tua yang ada di panti? Adakah tukang becak? Adakah orang orang yang memang membutuhkan uang? Oh no men. Taukah kalian yang dapet itu siapa? Tentu saja orang yang nabungnya banyak. Dan dapat dipikir lah dengan kepala sehat. Orang yang nabung pasti orang yang kaya. Bahkan yang hanya bisa dapet hadiah itu adalah orang yang super duper kaya dengan jumlah tabungan selangit.

Nah berlanjut lagi jika kita lihat di tipi tipi. Banyak sinetron yang menampilkan orang kaya akhirnya bangkrut dan tidak mempu membayar hutangnya dan mereka akhirnya tidak punya rumah karena disita. Belum lagi kalau rumah yang disita tersebut belum mampu membayar hutangnya maka peminjam uang akan dipenjara. Dan orang yang dipenjara akhirnya sakit dan mati. *ala sinetron. Itu sekilas cerita yang tentu saja nyata ditengah tengah kita. Aturan itu memang ada ditengah tengah para pengusaha yang berhutang di bank. Tidak asing ditelinga kita banyak pebisnis stres tidak punya rumah karena disita. Duh sengsara bener dah pokoknya para peminjam uang di bank.

Nah itu kalau skalanya hanya pebisnis. Kalau dilihat skala makro misanya hutang indonesia ke bank dunia yang mencapai 1000 triliun. Misal dengan bunga 1% saja, indonesia setiap tahunnya harus membayar bunga sebesar 10 triliun. Kebayang nggak? Kita paling bisa membayar bunga aja. hahah

Udah lah udah. Sampai disini saja ceritanya. Kesimpulannya adalah kenikmatan berupa pertambahan uang bagi penabung, hadiah bagi penabung dengan jumlah tabungan besar adalah kebiadaban. Kenapa demikian? Nasib naas akan dialami oleh para peminjam uang di bank. Itu adalah ulah  dari para nasabah yang menabung di bank yang hanya ingin uangnya bertambah dan hadiah yang sangat besar. Sedangkan kalau mereka tahu uang itu dari mana, kok tega amat sih para orang kaya ini melihat saudaranya kesusahan, bukan malah dibantu malah dibunuh secara perlahan. Itu analogi bagi para orang kaya yang ingin bunga bank. Membunuh orang sakit secara perlahan.

*tulisan ini terinspirasi dari penyebab haramnya riba

Aku disini tidak ingin mencari masalah dengan bank. Aku juga tidak ingin sistem ini terus terusan begini. Aku tidak ingin. Maka dari itu aku akan menyertakan solusi kongkret sistem baru yang lebih sesuai diterapkan dalam upaya meingkatkan kemakmmuran masyarakat secara luas. Ikuti lanjutan ceritanya disini.

Semoga bisa membuka mata hati kita akan tipu daya setan yang semakin menjadi jadi di era sekarang ini.

Advertisements

One thought on “Bank dan Kemiskinan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s