Kelanjutan ceritaku main di kampung sendiri

Bismillahirahmanirahim

Ya lanjut lagi. Kemarin sampai mana ya? Oiya sampai di aku mau kerumah saudaraku. Disini aku pengen cerita kejadian tadi malam.

Ada yang beda

Wuh rasanya ketika aku mau berangkat ada yang beda dari perjalanan malam ku. Betapa tidak aku berangkat dan ditengah jalan aku dan keluargaku stopped in market. Ya aku sama ayahku di belikan es cream. Udah 10 tahun yang lalu aku terakhir dibelikan es cream oleh ayahku. Sekarang dibelikan lagi. Wih ada yang beda. Enak deh.

Lantas ketika aku sampai ditempat tujuan yaitu kaliwungu. Kaliwungu adalah desa seberang. Ya itu adalah desa dimana nenekku dilahirkan. Nenek dari ayahku sih. Nenekku satunya ya ada di desaku sendiri yaitu tempeh lor. Udah udah kok lah nyeriatain desaku she wkakak

Lagi lagi ada yang beda

Aku dapat banyak kejutan disana. Ketika aku sampai sana, aku langsung ditanya tanya tentang mataram. Wah kok bisa tau tah kalau aku dari mataram. Pasti orang tuaku udah cerita. Ditanya tanya lomba dan juara berapa naik apa dan banyak lagi. Wuh rasanya malu dan juga ada kebanggaan tersendiri seh. Ya malunya kenapa? Duh ya secara aku kan nggak pernah kesana dan tiba tiba ditanya kayak artis ae ditanya wartawan. Disisi lain juga aku bangga karena aku diunggulkan dari adekku dan mereka semua saudaraku percaya bahwa aku hebat.

Experience can be inspiration

Nah nah, aku sebenarnya bukan mau menceritakan itunya. Cuma basa basi. Ah ada hal yang sangat menginspirasiku. Ketika disana aku nonton TV bareng sama keluarga dari ayahku. Wuh rasanya hangat banget. Hangat bukan karena the anget yang disuguhkan tapi karena kebersamaan itu. Jarang jarang aku merasakan hal yang seperti ini. Uh huh. Yang aku tonton bukan hal biasa. Aku nonton pengajian umum di daerah tempeh lor yang dijadikan kaset. Wah isinya keren. Sedikit cuplikasnnya saja ya

“KH. A’an berpesan bahwa ketika barokahnya hidup mulai luntur di era akhir jaman ini, ada hal perlu disiapkan yaitu menghormati orang tua dan menghargai guru. Itu adalah tipsnya. Silaturahmi dengan tetangga juga harus dipererat. Terlebih yang memiliki hubungan darah. Jangan sampai tidak nyapa dan jangan juga terlalu akrab nanti bisa menimbulkan fitnah. Yang jelas biasa saja lah. Beliau berpesan juga janganlah kita syirik. Sejatinya syirik itu susah dikenali maka dari itu kita harus berhati hati”

Ya itu sebenarnya ringkasan sedikit mengenai apa yang ingin aku utarakan. Aku bicara itu bukan tanpa maksud. Banyak saudaraku yang ada disana dikaliwungu mengharapkanku datang kesana untuk sekedar mempererat tali silaturahmi. Terlebih ada yang bilang aku harus nginep disana. Huh susah rasanya. Bukan tanpa alasan aku jarang kesana. Aku jarang kesana karena aku masih kurang dalam hal komunikasi. Aku merasa minder ketika tidak bisa memenuhi kebutuhan lawan bicaraku. Duh itu adalah pengganjal terbesar dalam hidupku untuk berinteraksi dengan orang lain selain karena memang sifatku yang seperti itu.

Aku ingin sekali mempelajari bahasa yang baik agar bisa merasakan kehangatan yang lebih dalam dari arti sebuah persaudaraan.

Ya sekian dulu ya.

Semoga bermanfaat

Advertisements

One thought on “Kelanjutan ceritaku main di kampung sendiri

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s