Prioritas Pendidikan

Assalamualaikum

Bismillahirahmanirahim

Begitu prihatinnya aku dengan pendidikan negeri ini. Apa yang aku prihatinkan? Rendahnya mutu pendidikan di Indonesia. Benar memang nilai mereka bagus bagus, tapi ketika di tes sesuai tidak antara kemampuan dengan nilai yang diperoleh? Aku hanya berani memperkirakan saja kira kira ya sebagian besar tidak sesuai kan? Betapa tidak mereka hanya diajarkan mengenai pelajaran akademik dan penilaian saja. Penghargaan tertinggi diberikan kepada siswa yang memiliki nilai tinggi. Aku yang paling tidak setuju dengan ini. Kenapa, fidh? Padahal maksudnya kan baik biar memotivasi belajar siswa untuk mendapatkan penghargaan itu. Salahnya sih para pendidik tidak menghiraukan lagi bagaimana mereka mendapatkan nilai itu. Apakah dia jujur dalam mengerjakan, apa di hanya nyontek sana nyontek sini, apa dia membuka buku catatan. Di sekolah sekolah di desaku bahkan kurang ditegakkan. Sebenarnya sih sudah ditegur keras. Tapi ada yang perlu digarisbawahi meskipun mereka ketika ulangan atau kuis sudah ditegakkan dengan baik, ketika UN bagaimana? Ujian nasional menjadi hal yang sangat seram dikalangan pelajar. Bagaimana mereka bisa lulus UN yang menjadi penentu ijasah. Meskipun sekarang sudah ada persentase UN diturunkan sebagai penentu kelulusan tetapi tetap saja penentu itu adalah nilai rapor dan UN. Aku nggak begitu yakin ini bisa mengubah budaya mencontek ketika ujian bisa hilang. Budaya buruk pelajar ini belum juga tuntas hanya dengan solusi seperti ini.

Ada lagi pendidikan karakter yang baru hangat dicetuskan beberapa tahun terakhir. Wah ini aku setuju banget. Ini sudah sangat bagus secara ideal. Tetapi secara praktek apakah mudah diterapkan dan bisa cepat menuntaskan buruknya budaya pendidikan negeri ini. Eits belum tentu. Kenapa lagi sih fidh? Semua kok dikritisi. Wah tau nggak sih betapa sulitnya menanmkan budaya baik melalui karakter? Susah banget bung. Para pendidik dan orang tua harus bekerja ekstra keras menanmkan budaya baik kepada anak mereka. Dana anak mereka juga harus memperjuangkan menahan kebiasaan buruk yang ada dan berakar kuat pada sistem pendidikan kita.

Kita flashback dulu ya. Sebenarnya yang dibicarakan hafidh ini apa sih yang menjadi masalah sistem pendidikan? Aku sebenarnya prihatin pada UN yang dijadikan ajang nomer satu penentu kelulusan. Dan mereka yang ketika pelajaran diajarkan tentang arti kejujuran malah ketika ujian nasional diperbolehkan sms, menerima jawaban bahkan dari gurunya sendiri, memperbolehkan guru mengajari murid saat ujian, dan contek sana contek sini. Lalu mana karakter yang “katanya” diterpkan dalam setiap pelajaran. Nol bung hasilnya.

Rencana kedepan dari pemerintah mungkin akan menerapkan kurikulum karakter dalam penentuan kelulusan. Ini hanya perkiraan baik dariku saja. Mungkin ada perkiraan yang lebih baik ya monggo. Aku memang sangat gembira dengan kurikulum ini. Tapi itu saja belum cukup. Aku nggak puas kalau langkahnya lambat. Aku pengen negeri ini bangkit secepatnya. Lalu daritadi lho kamu ini bisanya mencerca dan mengkritisi pemerintah saja? Lalu apa soluismu, fidh? Wah jangan mengejekku ya. Gini gini aku udah punya solusi lho.

Ini adalah prioritas pendidikan menurutku.

  1. Ketika kecil anak tidak usah terburu buru disekolahkan. Ajarkan mengenai tujuan hidup. Apa sih tujuan hidup kita? ada yang tau nggak. Bagiku tujuan hidup adalah beribadah sesuai dengan ajaran agamaku. Dengan demikian anak akan tau dan sadar sebenarnya mereka melakukan apapun aktivitas termasuk belajar itu karena apa dan untuk siapa. Kesadaran mengenai apa yang dilakukan sekaligus dengan penyebab kenapa mereka melakukannya adalah satu hal penting yang wajib ditanamkan agar mereka dalam melakukan aktivitas itu tidak terpaksa dan senantiasa memiliki arah hidup. Udah itu aja. Sekarang aku beritahu sistem pendidikan sekarang. Mereka anak kecil diajarkan mengenai cara bermain, cara mengaji bagi yang islam, cara sholat juga, hafalan bacaan sholat wudhu dan banyak lagi yang lain dan ilmu ilmu membaca dan menulis yang lazim ada di PAUD TK atau madrasah TPQ pada saat anak masih belum cukup umur. Aku rasa menyekolahkan anak terlalu cepat bukan menambah kecerdasan anak. Ya emang bisa cepat bisa sih tapi esensi didalamnya itu yang masih belum tertanam. Mengapa mereka belajar ini itu, mengapa bermain ini itu, mengapa dan siapa yang menciptakan semua ini masih belum mereka kuasai. Ini hanya akan mencetak kader bangsa yang cerdas tapi korup. Mencetak kader bangsa yang hebat tapi pindah keluar negeri. Mencetak kader bangsa yang pandai tapi juga suka mencuri, mencetak umat islam yang sangat banyak tapi tidak sholat, mencetak umat islam yang sholat tapi sehari hari maksiat, mencetak umat islam yang pandai mengaji tapi juga mereka nggak tau sebenarnya untuk apa sih ngaji mereka itu, mereka melakukan keburukan tanpa kontrol kesadaran dan mereka yang melakukan kebaikan tanpa dasar yang kuat kenapa mereka melakukan itu. Ya itu deh akibatnya. Nggak tau yang baik mana yang buruk. Kalau aku tanya kenapa kamu sholat biar masuk surga, tapi lain hari ketika aku tanya lho kemarin sholat tapi sekarang kok maksiat, harus imbang antara maksiat dan ibadah. Apa itu dibenarkan?. Buruk bukan? Apa yang salah? Sejak kecil mereka hanya diasupi seluruh pelajaran sekolah saja. Tanpa tau arah hidup. Tau arah hidup sejak dini adalah akar pembentukan karakter. Jadi karakter baik yang ditanamkan itu hendaknya setelah mereka tau tujuan hidup mereka. Ya. Aku bicara itu bukan perkara mudah. Pertanyaan selanjutnya adalah langkah penerapkannya bagaimana? Pertama orang tua dan pendidik harus dibenahi dulu. Ketika mereka sudah bisa menjadi teladan, maka secara langsung anak mereka akan menjadi baik pula. Jadi ketika mereka menyuruh anak mereka mengaji tidak usah susah susah karena anak akan mencontoh orang tuanya. Jadi ketika ada anak bandel kalau diajak sekolah, jangan menyalahkan anak itu dulu. Tapi intropeksi diri dulu, apakah saya sebagai orang tua atau pendidik itu sudah benar? Kalau belum mungkin anak juga berpikir ketika orang tuanya nggak sholat tapi anaknya disuruh sholat, anak bukannya sholat tapi membangkang dan bilang ngapain sholat lha wong orang tuaku aja nggak sholat. So deep intropection must do.
  2. Setelah itu? Udah cukup? Belum cukup bro. Setelah itu kita akan mudah menanamkan mana yang baik dan mana yang buruk dengan kaitannya dengan tujuan hidup mereka. Misal nih si A, ingin ditanamkan kejujuran. Maka orang tuanya bilang, nak kalau sekolah jangan nyontek ya karena nyontek itu nggak baik dan termasuk perbuatan yang tidak jujur. Itu adalah larangan Allah. Bagi anak yang sudah ditanamkan bahwa Allah itu adalah tuhan mereka dan pencipta alam semesta ini yang wajib kita patuhi segala perintahnya dan senantiasa menjauhi larangannya, maka anak akan dengan mudah mencerna dengan bilang seperti ini mungkin: ya itu adalah larangan Allah ya, pa? iya nak. Wah pasti mudah deh nanemin inti dari ajaran karakter yang memang sangat berhubungan dengan nilai islam. Dengan demikian juga bisa mengurangi angka orang pintar tapi mencuri, orang sholat tapi mabok, orang ngaji tapi zina. Kok bisa, fidh? Bisa lah. Analogiku seperti ini, ketika mereka tau apa yang mereka kerjakan dan itu bernilai baik mereka akan tanya sudahkah sesuai dengan tujuan hidupku pekerjaan seperti ini. Mereka akan tanya ketika selesai sholat, sudahkah benar sholatku ini? Sudahkah aku menerapkan hikmah dari sholat? Kalau manfaat sholat dalah mencegah yang mungkar dan keji, maka apa yang harus aku lakukan. Untuk siapa sih sholat ini? Dan ketika mereka tahu akan manfaat sholat, mereka akan dengan senang hati menggapai manfaat itu. Dan tanpa diragukan lagi mereka bisa menggapai kehidupan yang tentram. Ketika itu mereka mampu memproyeksikan bahwa apa yang baik dan apa yang buruk. Dengan demikian mereka akan tau pedoman hidup yang harus dilakukan itu yang mana. Ketika mereka melihat TV mereka tidak melulu terpesona pada alur cerita sinetron, tidak terlarut pada itu ketika adzan berkumnadang mereka tau yang baik adalah sholat dulu. Dengan demikian pasti permasalahn masjid sepi akan hilang dengan sendirinya. Begitu pula masalah lain. Misal ketika lihat TV lihat banyak budaya buruk, karena mereka tau misal pacaran dan bergandengan tangan anak muda yang belum nikah adalah buruk mereka akan menjauhinya. Itu akan aku jelaskan di bagian ketiga setelah ini. Jadi kesipmulannya, aku berharap disetiap aktivitas orang itu senantiasa berpikir apa kegiatan ini, untuk apa, kenapa harus melakukan ini, mana yang penting, dan apakah ini baik, apakah ini buruk, dan bolehkah saya bersikap seperti ini dan yang terakhir mereka senantiasa undercontrol, not lost control. Semoga semua orang cepat sadar dalam perhelatan drama dunia ini yang aku sangat yakin bahwa dunia adalah tipu muslihat. Orang yang tau bahwa dunia itu adalah panggung sandiwara adalah orang yang sukses kelak. Tapi belum tentu. Lho kok bisa, fidh? Ntar aku jelasin deh.
  3. Nah ketika kita sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk, bukan terus diem aja. Ibarat gini. Kita sudah tau ilmu tentang sebelum makan harus doa adalah baik. Tapi kita tidak melakukannya. Itu juga musibah buruk juga menurutku. Jadi kita diberi akal harusnya dipakai lah. Harus melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Di point ketiga ini yang sangat riskan menurutku. Mereka orang diluar sana banyak yang tau mencuri itu jelek tapi kok masih banyak dilakukan, tau kalau malas itu buruk tetapi tetap aja dilakukan. Itu lebih buruk daripada orang yang malas dan memang nggak tau malas itu baik atau buruk. Intinya orang berilmu tapi tidak mengamalakan ilmunya itu lebih buruk daripada orang bodoh yang nggak tau apa apa. Setuju nggak? Harus sepemikiran lah kalau masalah ini. Aku tahu dan bukan sangat tahu mengenai hal ini apa akarnya. Tapi aku yakin dengan mengikuti alur berpikirku mungkin anda semua bisa menemukan jalan hidup yang sesungguhnya tapi bukan sebenarnya. Kalau jalan hidup sebenarnya anda harus ngaji pada guru dan ulama. Karena aku seorang pemikir dan bukan seorang guru atau ulama yang punya gudang ilmu. Diluar dari pemikiranku ini. Aku berpikir bahwa sekarang memang disadari atau tidak hidup ini barokahnya semakin menurun. Oke sekarang banyak orang kaya, tapi orang kaya stress gara2 bingung nimbun uangnya. Oke sekarang padi banyak tapi mahal. Oke sekarang banyak umat muslim, tapi nggak sholat. Oke sekarang juga ada orang sholat tapi mabok. Oke sekarang banyak orang sedekah tapi nggak barokah karena riya’. Memang sulit untuk menjadi jiwa yang bersih. Tetapi yang diuji disini adalah seberapa kuat kita bisa melakukan yang baik dan seberapa kuat kita meninggalkan yang buruk. Itu menurutku.
  4. Setelah itu bukan tanpa arah. Aku juga punya tujuan yang sangat visioner. Ini adalah arahan langkah jangka panjang. Yaitu inisiatif melakukan perubahan. Setelah kita tau dan kita melakukan apa yang baik dan meninggalkan apa yang buruk dengan kesadaran penuh mengenai tujuannya. Nggak cukup itu ja bro. apa sih? Masih belum ngerti? Apa kita mau bener sendiri sedang yang lain buruk. Apa kita mau masuk surga sendiri nggak ada temennya? Apa kita akan menjadi presiden terbaik didunia tapi rakyatnya ancur tingkah lakunya. Nggak kan? Pasti kita ingin orang lain juga baik. Terlebih generasi penerus kita. ya inisiatif itu berlu untuk menginisiasi adanya dakwah kepada orang lain. Senantiasa mengajak pada orang lain untuk melakukan hal yang baik dan meninggalkan yang buruk. Amal makruf nahi mungkar. Ya kan? Wuh langkah keren ini menurutku. Orang akan lebih mudah mencontoh orang yang sudah melakukan daripada hanya menyuruh tapi dianya tetep aja nggak seperti apa yang disuruh. Lihat saja sekarang. Orang tua ngajarin anaknya ngaji. Eh orang tuanya nggak pernah ngaji. Pasti nggak mungkin bisa jalan pendidikan seperti itu. Oleh karena itu keteladanan itu penting.

Intinya kita harus menciptakan keteladanan yang baik untuk menggapai label rida dari Allah dan label manusia terbaik versi Nabi Muhammad SAW. Siapa sih manusia terbaik itu? Manusia yang mempelajari AlQuran, manusia cerdas juga adalah manusia yang banyak mengingat mati dan menyiapkan untuk itu, dan manusia yang terbaik juga adalah manusia yang bermanfaat bagi sekitarnya.

Semoga membuka mata hati kita.

Wallahua’lam

Advertisements

One thought on “Prioritas Pendidikan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s