Masa Muda : Bebas

Penulis             : Hafidh Frian Perdana

Pekerjaan         : Mahasiswa

Tulisan ini didedikasikan untuk masa mudaku.

Tak terasa. Ungkapan yang tepat untuk waktu yang tiada berhenti berjalan. Waktu atau yang sering disebut masa sering terbuang sia sia. Kita sedang melakukan rutinitas tiba tiba tersadar oleh waktu. Lho kok sudah jam sekian? Eh nggak terasa ya udah masuk bangku kuliah? Kayak baru kemarin aku sekolah SD sekarang sudah mau nikah? Hayo ngaku saja yang pernah berpikiran seperti itu. Tentu pemikiran itu terlintas bukan tanpa alasan. Alasan kita merasa waktu ini berjalan begitu cepat adalah ketidaksadaran kita terhadap waktu itu sendiri. Contohnya ketika kita menunggu seseorang, waktu akan berjalan lama sekali karena kita selalu melihat ke arah jam tangan kita, kita teringat selalu oleh waktu.

Begitupun kehidupanku saat ini. Aku merasa bahwa hariku semakin cerah bahkan terik. Idealisme muncul seiring emosi yang tidak terkontrol. Genggaman tangan semakin kuat memegang teguh cita cita yang ingin diraih. Bebas menikmati indahnya dunia tanpa beban sedikitpun. Resiko belum sempat terpikir jauh. Tak luput bayang bayang cinta lawan jenispun selalu mengikuti langkah. Semua itu lumrah tak dapat disalahkan.

WP_000218

Ilustrasi gambar pemuda seperti burung elang yang terbang bebas di langit.

Namun apa benar yang muda itu punya power besar sehingga ramai ramai demo sana sini, berlagak sok, dan berbicara atas luapan emosinya saja? Ya sering kali masa muda tidak bisa dipungkiri sekali perasaan terusik maka emosinya pun tinggi. Itulah anak muda. Tapi bukan tidak mungkin pemuda memiliki jiwa yang jernih, perasaan yang tenang, dan tentunya pemikiran yang berlian. Jiwa yang jernih bermula dari kemampuan diri menolak yang buruk. Perasaan yang tenang bermula dari spiritual yang suci dan tak ternodai. Pemikiran berlian bermula dari pengalaman belajar yang banyak dan terarah. Bisa dikatakan semua itu bisa tercapai ketika kita bisa mengendalikan emosi diri.

Entahlah. Kita memilih jadi pemuda yang berhasil melewati jembatan kehidupan dari masa kecil menuju dewasa atau kita akan menyesalinnya nanti ketika hari mulai redup karena kita melompat dari jembatan menuju jurang kehancuran. Yang jelas semuanya tergantung seberapa kita memperjuangkannya.

Intention is the most powerful weapon to counter the enemy of life. – Hafidhfrian

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s