Penanggungan di Awal Tahun 2014

Penanggungan..

Memang kau tak setinggi rinjani

Memang tak semenarik semeru

Memang jalanmu tak seindah argopuro

Tapi puncakmu menyimpan kenangan indahku waktu itu

Galau di argopuro dengan background arjuno welirang

Sebait puisi aku ciptakan untuk melukiskan pergantian tahun 2013 menuju 2014 kemarin yang begitu indah. Sedikit kata yang bisa ku buat karena aku bukanlah seorang penyair handal layaknya chairil anwar.

Langsung aja cerita nih. Kemarin pas november akhir, aku ditawari naik penanggungan oleh temenku. Dia adalah mbak une. Katanya sih dia udah ngebet banget pengen kesana karena sering lihat pas waktu dipenjara di diklat PLN pandaan. Ya itu penggambaran buruknya meskipun banyak baiknya juga sih pas diklat. Ya kan mbak? Ahahah

Lama lama berdiskusi akhirnya nemu 2 planning yang satunya pas malem natal dan satunya malem tahun baru. Awalnya sih pengen malem natal tapi karena aku lagi pulkam dan mbak une nggak bisa keluar dari diklat. Akhirnya planning B yang kita pilih.

Selasa, 31 Desember 2013, aku deg degan takut nggak jadi. Hal itu karena salah satu teman mengusulkan adanya post test praktikum yang mendadak sore hari. Padahal sore itu aku rencanakan jam 3 sudah meninggalkan keputih, desa kumuh dekat kampusku yang bikin kepala penat. Alhasil aku nggak fokus untuk post test dan aku kerjakan asal karena aku nggak mempersiapkan untuk post test sama sekali namun aku packing buat naik penanggungan. 3600 detik setelah pengerjaan soal aku keluar buru buru dengan salah satu temanku yang aku ajak juga naik. Namanya ucup. Dia juga ngajak pacarnya si lisa. Salut deh buat pasangan yang so sweet ini. Hhe

Prepare seadanya, dengan terburu buru aku keluar dari kontrakan kumuhku. Aku langsung cap cus ke kampus untuk pinjem sepeda temenku dan langsung jos ke sakinah, supermarket tempat aku dan mbak une janjian. Waktunya menunggu ucup dan lisa sambil berbincang bincang di depan sakinah.

Jam 17.30 langsung go dari keputih menuju trawas. Tak lupa sholat maghrib di perjalanan. Setelah 2 jam perjalanan, alhamdulillah lancar nggak macet sampailah aku di trawas. Sempet nyasar dan tanya orang berkali kali untuk menemukan pos awal pendakian. Sempet makan di warung yang biasanya para pendaki makan disitu juga, warung mak ti. Perempatan jalan menuju pos perijinan pendakian penanggungan via Tamiadjeng Trawas Mojokerto. Di sela sela perjalanan kami disuguhkan pemandangan indah kota pandaan dan tretes, gemerlap lampu sayup sayup menambah semangat hati untuk menginjakkan kaki diatas puncak penanggungan.

Jam 9.00 kami mulai pendakian setelah mengurus perijinan perijinan disini termasuk sangat mudah tinggal ngisi form pendakian lapor berapa orang dan bayar buat kebersihan gunung dan dikasih tas keresek untuk membawa sampah dari puncak. Senter kami nyalakan, doa kami panjatkan, kaki kami langkahkan bersama salah seorang pendaki lain yang sengaja kami ikut bersama mereka agar kami tidak salah jalan karena memang ini pendakian pertama kami.

Berjalan di terjalnya makadam berbatu sepanjang 500 m, kami sempat ngos ngosan karena perjalanan awal sudah sangat terjal. Istirahat sebentar langsung cabut lagi untuk mengejar tepat pergantian tahun diatas. Setelah itu jalan mulai berlumpur dan sedikit landai. Tapi licinnya jalan memaksa kami untuk ekstra hati hati, fokus dan konsentrasi di jalan. Diiringi lagu dari guide perjalanan kami menemani jalanan yang sudah mulai menanjak. Jalan terjal dan licin juga membuat kami bolak balik istirahat menghela nafas dan tak lupa minum juga. Sungguh tak kuduga meskipun 1600an mdpl tapi jalannya mengalahkan jalur ranu pane ke kumbolo. Ekstra terjal 60 derajat lah. Biuh biuh tak jarang kami terpeleset. Dan tertawa terbahak bahak melihat kelakuan konyol kami selama perjalanan. Karena emang pendaki amatir. Maklum

2 jam berjalan puncak bayangan pun tak terlihat juga. Sudah semu semu menyerah ucup dan lisa di belakang kami sesekali terjatuh akibat licinnya jalan. Namun secercah harapan itu mulai datang seiring kabut yang terlihat dibawah kami. Gemerlap kota terlihat dari jauh. Kelap kelip lampu terlihat menembus awan putih. Keren habis. Subhanallah.

Semakin semangat kami jalan menuju puncak bayangan. Target kami memang jam 12 sudah sampai puncak. Semangat kami juga tergenjot setelah terdengar letusan kembang api diatas menandakan puncak semakin dekat.  Betapa senangnya beberapa langkah lagi sudah sampai. Eits tapi nggak sampai sampai juga.

Pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan ini adalah hidup ini terasa sangat lama ketika kesabaran diuji dengan tantangan curamnya jalur, namun di puncak sana terdapat keindahan yang tiada tara menanti kita.

Dan taraaaaa akhirnya jam 12.00 tepat aku berada di puncak bayangan, subhanallah kota pandaan dan tretes terlihat dari ketinggian itu sangat indah. Layaknya letupan air mendidih di laut kembang api menyala dibawahku. Aku terdiam, tak bisa berkata lagi. Terbungkam oleh indahnya awan putih yang menutupi sebagian pandanganku. Subhanallah. Aku dan teman teman duduk tanpa di komando dan menikmati hampir setengah jam pemandangan indah ini.

Bergegas mencari tempat mendirikan tenda yang sudah nggak ada kayaknya karena telat mendirikan tenda. Kami berjalan agak keatas lagi kali aja ada. Ternnyata ada meskipun tanahnya agak miring tapi tak apalah tak ada lagi soalnya. Aku yang survei keatas pun tak menemukan lahan datar. Aku putuskan untuk memilih lahan yang agak miring tak jauh dari tempat kami duduk di puncak bayangan.

Aku dan ucup segera mendirikan tenda karena angin kencang dan hujan gerimis mulai datang menerpa. Kami segerakan. Setelah selesai kami langsung makan roti sebagai pengganjal perut dan langsung tidur. Eits tak lupa sholat isya’ dulu.

Jam 3.00 1 januari 2014. Pagi hari aku terbangun oleh suara degup kaki pendaki yang mulai melakukan summit attack. Aku terbangun dan mendapati lisa sedang mendekat ke tendaku yang mau ketemu ucup. Dan setelah itu aku bergegas keluar untuk sholat shubuh dan membangunkan mbak une juga untuk sholat shubuh. Aku dan mbak une saja yang hendak melakukan summit attack sedangkan ucup dan lisa sudah kelelahan dann memilih untuk menjaga tenda saja.

Jam 5.00 tepat aku dan mbak une bersemangat menuju puncak. Namun semangat itu seolah memudar seiring dengan kemiringan jalan menuju puncak meninggi sampai 70 derajat. Nafas yang sudah tersenggal senggal dan kaki yang masih terasa capek karena pendakian tadi malam seolah tak menjadi halangan untuk tetap melangkah kan kaki sedikit demi sedikit. Jalan menuju puncak didominasi oleh jalanan rumput berbatu terjal yang mudah longsor. Belum lagi batu setelah hujan yang licin membuat perjalanan ini terasa begitu lama. Tak sampai 1.5 jam akhirnya kamipun sampai di puncak. Terbayar sudah capeknya kaki setelah aku melihat pemandangan utara puncak yang menunjukkan kota surabaya sidoarjo gresik maupun pasuruan. Nan jauh disana terlihat madura, selat madura, suramadu, lumpur lapindo dan rawa yang terlihat samar samar oleh kabut pagi.

WP_000883WP_000887

Sayangnya puncak tak kebagian sunrise akibat kabut yang begitu tebal. Tapi tak apalah ini sudah cukup bagitu. Pemandangan diatas awan juga semapat aku abadikan dengan background arjuna welirang di sebelah selatan.

WP_000891

Setelah puas ngobrol, melihat pemandangan dan foto tentunya, kami bergegas turun karena kabut mulai terlihat menutupi puncak. Alhamdulillah aku sampai dipuncak bayangan sesaat sebelum kabut menutupi puncak. Banyak pendaki lain kurang beruntung karena ke puncak terlalu siang dimana kabut tebal menelan puncak. Segerakan makan dan membereskan tenda kamipun langsung turun sekitar jam 10.00 pagi.

Jalanan menurun yang sangat aku suka menanti dibawah. Aku lari dan sesekali berjalan cepat. Aku tinggalkan temanku di belakang. Aku duluan bareng mbak une. Sempat terpeleset juga sih pas lari. Sungguh memalukan. Tapi tak apalah. Bisa jadi cerita juga kan? Hhe. Akhirnya sampai juga di pos perijinan tepat 3 jam dari puncak bayangan. Itu sedikit terlambat dan bisa lebih cepat sebenarnya tetapi kaki mbak une terkilir yang sebelah kiri jadi agak pelan deh jalannya.

Jam 13.40 kami meninggalkan pos setelah ijin ke pos pendakian di dekat kampus ubaya daerah trawas sana. Perjalanan pulang kami habiskan dengan berrpencar karena lisa dan ucup memiliki kepentingan lain. Dan aku langsung mengantar mbak une ke bungurasih terminal untuk cepat pulang karena akan segera ke NTT untuk OJT. Semoga bisa ketemu lagi untuk melakukan petualangan bersama lagi ya.. amin..

Sekian dulu ceritanya besok ujian metalurgi nih. See you in next trip yeah.

Thanks to Allah, and my beloved friend, mbak une, ucup, and lisa.

Kita dituntut untuk sabar agar kita bisa menikmati indahnya syukur yang akan hadir setelah kita lolos uji kesabaran. Hafidhfrian

Bonus Foto

altAhwh3So4VbTSRAtfJ_OW6tfzI_mMU3ckXmQslGunzLzm (2)

Aku dan une, travelmate

altAui6S914CHQl2nNiV7sJ1zeiCrLBt8P63PMr2FO8An4-

Mereka yang sedang kasmaran dimabuk cinta

altAuIcUC1uAIjF4AHvkK3MuQUx5IYetVHER6Z6AgevQOZD (2)

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s