Pendakian Gunung Argopuro via Bremi

Kata itulah yang pertama kali terlintas. Betapa jauh jalur yang harus ditempuh. Menyusuri lebatnya hutan, trek yang menyanjak, licinnya jalur, tingginya rerumputan, dan bebatuan terjal menemani perjalanan menuju puncak tempat Dewi Rengganis mengasingkan diri. Jalur yang rumornya merupakan trek terpanjang di pulau jawa membuatnya ”seram” tuk ditulis menjadi rangkaian deskribsi ini.

Awalnya jalur yang harus ditempuh dari probolinggo menuju pos pendakian lumayan mudah. Cukup dari terminal Bayuangga Probolinggo naik bus menuju Desa Bremi langsung tanpa oper. Tinggal cari bus Akas Probolinggo-Bremi namun bus ini hanya ada ketika jam 6.00 am dan jam 3.30 pm. Ada pula alternatif lain yaitu naik bus Bondowoso atau Situbondo dari terminal Probolinggo menuju Pajarakan. Dari Pajarakan naik angkot menuju Desa Bremi, tempat pos perijinan. Kontak perijinan : Pak Aripin, No Hp : 085204941082

Ini sunrise di basecamp Bremi

Dari Pos Perijinan menuju Pos I pendakian dapat ditempuh 1 jam melewati jalanan warga rumah penduduk kemudian melewati gapura bertuliskan ”Danau Taman Hidup”. Setelah itu jalanan berganti dengan perkebunan penduduk yang biasanya ditanami sawi dan jenis kacang kacang seperti jagung. Batas antata perkebunan penduduk dan pintu hutan terdapat Pos I.

WP_000919
Pos I
WP_000920
Mulai melangkah

Perjalanan selanjutnya didominasi oleh hutan lebat yang memanjang dan terjal serta licin. Pintu hutan terdapat banyak pohon damar menjulang tinggi yang melambai lambai karena angin yang bertiup begitu kencang. Disini cahaya matahari masih bisa tembus meskipun hanya sedikit. Kemudian naik lagi akan ditemukan hutan dengan vegetasi pohon hutan yang besar dengan rata rata diameternya 1 meter. Terlihat tua dan keropos pohonnya sehingga memberikan efek hutan belantara yang sangat indah. Belum jauh kaki melangkah akan menemui jalan yang tidak terlihat akibat pohon besar tumbang di jalur pendakian. Tetapi tetap ada petunjuk jalan berupa pita. Dalam hutan dengan vegetasi ini akan dijumpai kabut tipis yang lumayan mengganggu pandangan. Seiring langkah kaki siulan burung menjadi lagu yang memberikan sensasi merdu tersendiri bagi pecinta alam. Sayangnya perlu hati hati dalam melewati trek ini karena semakin lama trek akan semakin terjal ditambah dengan licinnya jalur pendakian. Trek ini terkenal dengan lintahnya karena lembabnya udara, air yang berada ditanah, dan dedaunan yang menumpuk cocok untuk tumbuh kembang lintah. Sebaiknya anda membawa kaos kaki ekstra tambahan untuk menghindari kaki dari gigitan lintah. Setelah berjalan kurang lebih 4-5 jam, Plakat Selamat Datang di Dataran Tinggi Yang akan memberikan motivasi pertanda Danau Taman Hidup sudah di depan mata. 15 menit turun kebawah Danau yang begitu indah menyambut kedatangan pendaki gunung. Ruginya pendaki yang tidak bisa menikmati sunrise di Taman Hidup ini karena pagi berkabut dengan cerahnya mentari pagi yang cahayanya menembus celah gunung sangatlah menyejukkan mata.

Sunrise di Taman Hidup
Aku dan Kabut Taman Hidup

Ketika pagi mulai berlalu dan perut sudah terisi serta amunisi perang menuju puncak sudah siap, mulailah summit attack yang dapat ditempuh sekitar 20 jam pulang pergi samapi ke taman hidup lagi. Melewati jalur yang sama sekitar 15 m lalu belok kanan di persimpangan jalan menuju jalur puncak. Tanda benarnya jalur yang ditempuh bisa dilihat dari adanya sungai yang ditempuh sekitar 15 menit dari persimpangan. Ya sungai ini harus dilalui tanpa jembatan. Sungai yang dalam serta dingin airnya akan menusuk tulang kaki tapi sensasinya enak. Trek dilanjutkan menyusuri hutan lumut dimana sinar matahari tidak tembus ke dalam hutan ini sehingga trek siang hari dalam hutan ini terasa sudah senja. Setelah lama berkutat di hutan lumut yang rapat mulailah menyusuri pinggiran gunung yang sedikit menjanjak ditandai dengan plakat ”Dilarang Berburu”. Terus melewati lereng gunung akan menemui cemara hutan yang tidak terlalu tinggi. Disini trek begitu berbahaya karena kiri jurang dengan jalanan yang licin. Di pertengahan jalan akan ditemui sumber air yang jernih dapat dijadikan isi ulang air yang sedikit kotor dari danau. Kemudian sampailah di rerumputan yang menjulang tinggi hingga 2 meter. Fokus terhadap jalanan yang ditempuh sangat diperlukan disaat seperti ini agar tidak terjadi disorientasi medan yang mengakibatkan tersesat. Di pertengahan rumput terdapat tempat datar luas yang cocok untuk mendirikan tenda atau sekedar makanan ringan dan kopi saja. Kemudian trek rumput tetap menemani hangga kali mati dilewati. Kalimati inilah tanda bahwa tepat didepan mata adalah persimpangan jalur puncak via G. Rangkak dan Cisentor.  Tempat ini sering disebut cemoro limo karena memang konon katanya dulu ada cemara berjumlah lima disini. Pilihlah jalur yang sesuai dengan sedikit perbandingan kalau melewati gunung rangkak jalur lebih pendek tetapi lebih terjal dan kalau via cisentor jalur sangatlah panjang tapi landai. Jalur potong kompas (gunung rangkak) diperlukan kalau memang logistik cukup untuk waktu sedikit saja. Sumber air di cisentor berasal dari rawa embik. Cisentor ditempuh dengan memutari lereng rengganis menuju lembah ditepian bukit dekat gunung rengganis. Dari cisentor perjalanan menuju rawa embik ditempuh sekitar 2 jam saja dan 30 menit kearah kiri menuju gunung Rengganis dan 30 menit ke kanan menuju puncak Argopuro sedangkan puncak arca bisa ditempuh dari savana kecil naik kekanan. Dan jika melalui jalur gunung rangkak akan ditemukan sumber air sebelum naik ke puncak arca. Kemudian trek menanjak melewati lereng puncak arca dan sampailah dipuncak arca. Setelah itu perjalanan diteruskan saja lurus kearah puncak Argopuro dengan ketinggian 3088 mdpl. Kemudian menuruni lereng gunung Argopuro menuju savana lonceng dan naik ke puncak Rengganis kemudian turun melewati savana savana dan kembali ke gunung Rangkak.

WP_001007
Jalur arah gunung Rangkak
WP_001047
Berpose di puncak arca, argopuro
WP_001061
Jalur pintas menuju puncak argopuro via puncak arca
WP_001071
Mengibarkan merah putih di puncak argopuro
WP_001106
Puncak rengganis yang manis, sayang sudah siang
WP_001125
Perjalanan pulang membelah savana lonceng

Perjalanan pulang menuju ke taman hidup dapat lebih cepat ketika trek dikebut namun tentu dengan ekstra hati hati karena medan sangat curam. Perjalanan pulang dari puncak hingga ke pos perijinan memakan waktu sekitar 9 jam. Bisa dibayangkan perjalanan puncak pp memakan waktu 30 jam dengan komposisi ketika pp dari puncak menuju taman hidup 24 jam nonstop. Sudah menjadi wajar jika ini adalah trek terpanjang di pulau jawa. Apalagi jika berangkat dari baderan, pos perijinan situbondo, dibutuhkan 48 jam menuju pos perijinan Bremi.

WP_001136
Ditelan kabut

Keindahan yang tersuguhkan akan seimbang dan selaras dengan kesulitan yang ditempuh karena keadilan Sang Pencipta-nya. –Hafidhfrian

Review #Deskriptif

 

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s