Gunung Wayang Lumajang

Gunung Wayang Lumajang 3.30 pm. Let’s go! Teriakan semangat membakar diri di tengah rintik hujan yang mengguyur desa Tempeh Lor sore itu.

WP_001285
Semangat awal

Ku kayuhkan sepeda dengan kondisi terbaiknya pelan tapi pasti menyusuri ladang dan persawahan penduduk desa. Tak lama berselang, bau ayam menyengat hidung menandakan aktivitas pekerja peternakan sedang sibuk membersihkan kotoran ayam. Namun sejuknya udara ketika rintik hujan tak kunjung reda menambah semangat tersendiri kala itu. Jalanan sempit persawahan aku nikmati pelan pelan. Keluar dari persawahan penduduk, aku disambut bikeroad kecil yang hanya cukup untuk 2 mobil lawan arah saja. Jalanan mulus tanpa lubang dan gelombang membuat langkah sepeda lancar. Perjalanan ini memakan banyak tenaga karena tanjakan tiada henti dan licinnya medan. Namun tak menyurutkan semangatku tuk mengayuh sepeda lebih cepat lagi. 4000 meter perjalanan didominasi perumahan padat penduduk. 15.000 meter berikutnya didominasi tanjakan berat, rumah penduduk yang amat renggang, dan persawahan yang selalu membuat segar mata. 60 menit bersepeda tak terasa telah mampu mengusir dinginnya udara pegunungan disana. 1 jam lewat 5 menit, aku kelelahan dan berhenti disebuah gubuk dekat lapangan luas. Melihat dengan seksama betapa kuat tali persaudaraan orang di desa seperti ini seperti menyelam menyusuri dunia mereka yang masih bersih dari kotoran ”gombalisasi”. Entahlah hal itu membuat aku merenungkan hidupku ketika kecil yang indah tanpa banyak budaya modernisasi.

WP_001288
Warga pribumi bermain bersama pertanda sosial mereka masih kental

Perjalanan dilanjutkan 4.30 pm menyusuri hutan pinus, mahoni dan perumahan penduduk Penanggal. Sampai akhirnya tak terasa adzan maghrib pun terdengar nyaring beriringan dengan detak jantung yang semakin berdebar mengimbangi kayuhan sepeda yang semakin lama semakin loyo. Well sang malam nampaknya mulai menutupi siang. Senjapun muncul diantara gemerlap kelap kelip lampu yang semakin lama semakin banyak. Hujan mengguyur deras melunturkan harapan demi harapan yang semula bulat menjadi berlubang. Hanya satu kata yang aku pegang saat itu ”lanjut keren, pulang cemen”. Kata itu yang menggugah semangatku untuk kukayuhkan satu dua langkah ke depan dengan pasti meskipun hujan membuat rain coat basah dan semakin berat. Sinar sang bulan yang aku tunggu tunggu tak juga muncul karena ditutupi kabut tebal dan hujan deras. Alhasil dengan penerangan jalan yang sangat kurang aku bersepeda.. Tidak hanya itu, karena terlalu tinggi tanjakan, sepeda temanku rusak dan tidak dapat dipakai. Akhirnya kami pun sepakat untuk jalan menuntun sepeda bersama di malam yang dingin menusuk tulang. Berat! Ya memang beginilah hidup sangat berat tuk dijalani. 60 detik berjalan dari tempat sepeda kami rusak, pos pendakian sudah didepan mata. Pertama kali sampai di pos langsung mencari mushola, ganti, wudhu, dan sholat maghrib tanpa banyak basa basi. Kemudian kami menitipkan sepeda di pos. Setelah itu kami berjalan ke atas menuju gunung sawur dengan berbekal 1 senter yang tidak cukup terang untuk menunjukkan jalan yang berlubang atau tidak. 15 menit berjalan pada tanjakan 30 derajat akhirnya kamipun sampai di Gunung Sawur. Kami berniat untuk masak logistik untuk mengganjal perut yang mulai keroncongan sambil menikmati indahnya lampu seluruh daerah Kabupaten Lumajang. Sampai saat itu, aku masih belum tahu jalan menuju Gunung Wayang, uh aku udah mulai putus asa karena tidak ada warga sekitar yang bisa dimintai pertolongan untuk menunjukkan jalan ke Gunung Wayang. Penantian yang sedikit memangkas kesabaran akhirnya membuahkan kasil. Ada petugas keamanan loji Sunung Sawur sedang mengecek kondisi di puncak Sawur. Aku bergesa tanya dan membinta menujukkan jalan ke Gunung Wayang.

WP_001293
Fajar di ufuk timur

Gunung Wayang adalah bukit kurang lebih 1000 meter diatas permukaan laut tepat berada bersebelahan dengan Gunung Sawur. Meskipun tidak terlalu tinggi namun view dari puncak Wayang tidak kalah dengan gunung tinggi lain di jawa. View menakjubkan yang dapat dilihat dari Gunung Wayang adalah perbukitan menuju Tempursari, gunung Tambu Pasirian, gemerlap malam bintang lampu seluruh daerah di Lumajang, garis laut selatan, laut selatan beserta pulau Nusabarong, ladang, sawah, hutan, aliran lahar, gunung Lemongan Lumajang, dan Jauh nan disebelah timur laut terlihat puncak Argopuro 3088 Mdpl gagah memaku bumi. Puncaknya berupa hamparan jalan yang terhubung dengan bukit lain. Terdapat bendera merah putih berkibar diatas pohon menandakan itu adalah puncak tertinggi gunung itu.

WP_001342
Laut selatan, pegunungan Tempursari, G. Tambu, Perbukitan
??????????????????????
Pose alay
WP_001341
G. Semeru 3676 Mdpl

 

WP_001343
Aku dan semeru
WP_001370
Lemongan bersanding dengan Argopuro

Jalur pendakian lumayan mudah. Cocok untuk pendaki pemula yang ingin mengasah kemampuan mendakinya. 30 menit perjalanan dari persimpangan gunung Sawur sudah dapat mencapai puncak gunung ini. Jadi pada jalur menuju gunung Sawur terdapat portal akhir keamanan. Dari situ jangan mengikuti jalan aspal namun belok kekiri menuju rumah penduduk. Jalan menuju Gunung Wayang terletak tepat di belakang rumah penduduk yang tepat berada di portal kemananan. Kalau bingung tinggal tanya warga sekitar pasti mengetahui kok. Jalur yang ditempuh beragam. Mulai dari awal turunan pendek yang licin. Mungkin licin akibat hujan yang mengguyur malam itu. Dilanjutkan tanjakan ringan sekitar 20-40 derajat yang sudah ada tangga dari tanah yang sengaja dibuat oleh penduduk untuk mempermudah pendakian. Perlu diperhatikan saat mendaki gunung ini antara lain :

  1. Terdapat banyak lintah, Siapkan korek atau lotion!
  2. Terdapat banyak serangga nakal seperti kecoa kecil, Bagi anda yang ingin camp disini siapkan tenda dome anti nyamuk!
  3. Terdapat banyak nyamuk, Siapkan soffel!
  4. Angin kencang, Pasaklah tenda anda!
  5. Tanah lapang luas cukup untuk 10 tenda dome

Well aku sampai di puncak jam 10 malam. Langsung menggelar tenda dan bersiap untuk tidur. Karena capek dan dingin kami lagsung tertidur pulas hingga alarm jam 3 ku berbunyi menandakan shubuh sudah dekat. Jam 4.30 aku bangun lagi untuk sholat shubuh dan menanti detik detik sunrise yang amat sangat aku tunggu dengan memasak makanan untuk dijadikan energi pagi ini sebelum melanjutkan trip to Gua Tetes Pronojiwo Lumajang sekitar 35 Km dari Gunung Wayang. Meskipun mendaki gunung dengan ketinggian hanya kurang lebih 1000 Mdpl aku sangat senang karena yang penting bukan puncak sejati yang aku cari, bukan pula lautan awan, dan juga kebanggan seberapa tinggi puncak yang ku daki, tetapi yang lebih penting adalah pelajaran hidup dan kenikmatan dalam setiap jejak langkah kakiku ketika melakukan perjalanan menyusuri kebesaran ciptaan Allah SWT. Setelah berpuas diri sarapan dan berfoto dengan mentari pagi, aku langsung bergegas beres beres dan packing. Tepat pukul 7.30 aku langsung turun dan memperbaiki sepeda yang rusak. Well dengan uang 5000 saja sepeda sudah bener. Alhamdulillah sedikit kendala tak begitu berarti. Setelah itu aku turun ke sungai untuk mengisi perbekalan air menuju Pronojiwo. 8 am Ku Jemput Kau di Gua Tetes. Nantikan ceritanya di edisi berikutnya ya. Bersambung… Also see my full story here : “Out of the box” : Tour de Semeru Circle

Advertisements

3 thoughts on “Gunung Wayang Lumajang

  1. […] Hutan bambu merupakan salah satu wisata alam yang wajib dikunjungi ketika sedang mampir ke Kabupaten Lumajang. Sebelum mencapai hutan bambu, kita akan disambut oleh keramahan orang disana yang sering kali menyapa kita atau sekedar tersenyum tanda ’welcome’ mereka terhadap pengunjung. Selain itu, kita akan melihat kegagahan Gunung Semeru di sebelah barat dan 2 anak gunungnya yaitu Gununh Sawur dan Gunung Wayang di arah selatan (sayangnya pas aku kesana lagi kabut jadi nggak kelihatan deh -_-). Jaraknya tak jauh dari pertigaan menuju Hutan Bambu. Disana tempat pemantauan aktivitas gunung semeru. Lihat juga gunung sawur. Dan gunung wayang yang sempat boleh didaki dan akan menjadi salah satu objek wisata lumajang yang kini sudah ditutup tanpa alasan yang jelas. Untung sekali aku masih bisa kesana kapan hari. Jadi aku bisa menjadi saksi keindahan yang ditawarkan gunung ini. Baca keindahannya disini. […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s