Gua Tetes Pronojiwo Lumajang

Air Jatuh dari Ketinggian 200 m di Gua Tetes

8 am adalah waktu yang tepat memulai perjalanan berikutnya menuju target wisata alam Gua Tetes Pronojiwo. Sinar mentari pagi membuat badan hangat dan membakar semangat di dalam dada tuk berjuang menghadapi tanjakan sekelas piket nol rumornya panjang sekali, sekitar 45 Km dari Gunung Wayang. Belum tahu tentang tripku ke Gunung Wayang, let’s see first. Pack of logistic, water in the bottle, carrier in back has been set up. Time to go! Tak lupa kami berdua berdoa terlebih dahulu. This is the most powerful savety tool. Don’t miss it when you go to somewhere.

Awal perjalanan sudah disambut keindahan hutan pinus dan sungai jernih nan deras di samping kiri perjalanan. Turunan berliku-liku yang tajam membuat sensasi tersendiri ketika sepeda berpacu cepat secepat detak jantung berdebar memaksa adrenalin mengucur deras. Handbrake and control steering sangat diperlukan untuk melewati jalur seperti ini. 3600 detik bersepeda melewati segarnya udara pagi akhirnya sampailah sudah di persimpangan jalur utama menuju malang. Berhenti sebentar mengatur nafas dan distribusi air di masing masing tas kami tuk menghadapi tanjakan bertubi tubi di depan sana.

Jalan propinsi ini begitu sempit namun mulus. 9 am lonceng berbunyi tanda kaki mulai mengayuhkan pedal sepedaku. Roda mulai bergerak, ban mulai bergesekan dengan aspal jalan, tangan memegang erat power steering engine blow up. Mulanya tanjakan semi-datar terlewati tanpa hambatan namun tatapan mata tak hentinya melihat tingginya bukit depan mata yang akan aku lalui sebentar lagi. Ya bukit itu kini sudah ada tepat di depan mataku dan siap menanti para pengayuh sepeda merasakan betapa beratnya tanjakannya. Medan menanjak tak kasat mata seolah olah datar namun memiliki sudut elevasi yang tinggi membuat aku lebih semangat lagi mengayuh sepedaku. Liku tajamlah yang membuat halusinasi akan datarnya jalur yang ditempuh padahal sejatinya tanjakan ini begitu curam. Superlow gear yang sengaja aku pasang kemarin sangat menjadi andalan ketika kaki sudah lemas namun tanjakan tiada kunjung usai. Gabungan low front gear and superlow behind gear (formasi 1:1) menjadi sangat berarti disini. 45 menit berjalan keringat mulai bercucuran. Jalan tanjakan tidak semakin baik namun semakin tinggi saja. Di sela sela harapan dan keputus-asaan menerpa cahaya pos pertama jalur piket nol sudah terlihat memanjang yaitu Gladak Perak. Sebelum mencapai gladak perak, aku harus membayar mahal itu semua dengan melewati jalanan lurus dan tanjakan tinggi sekali. Lagi lagi superlow gear menjadi andalan dan percepatan kayuhan kaki yang tepat setidaknya akan memudahkan aku mencapai target pos pertama ini. Temanku sudah lama menunggu, dia sampai lebih dulu karena motivasi yang dia miliki sangat tinggi. Ambisi serta tekadnya sangat kuad membuat sepeda yang ia tumpangi itu melaju seiring dengan kucuran energi yang membara dalam dirinya. Dia terlalu semangat melihat tanjakan ini. Tak memikirkan betapa panjangnya perjalanan yang musti ditempuh berikutnya.

WP_001378
Bersepeda di Gladak Perak
WP_001385
Jembatan Lama

Setelah lama beristirahat dan berfoto ria kami melanjutkan perjalanan. Kali ini dia lebih semangat lagi. Aku pun hanya geleng geleng dan tak hentinya menasehati atur ritme sepedamu! Jangan terlalu ngoyo dalam memacu sepeda. Namun aku tidak didengar. Dia semakn melaju cepat meninggalkanku jauh. Oke nggak apalah. Aku senang mengatur ritme perjalananku daripada aku harus melesatkan sepeda kemudian pelan lagi kemmudian cepat lagi. Itu buruk menurutku. Ditengah perjalanan juga sempat berhenti berkali kali untuk mengisi air minum di sumber air dari tebing tebing tinggi kanan jalan. Sembari mengisi air, tak ketinggalan pula menikmati indahnya pemandangan jurang yang indah. Ada pantai jauh nan disana, hutan, dan aliran lahar semeru yang sungguh enak dipandang. 2 jam berjalan, tepat 11 am, aku sudah sampai di piket nol. Kini giliranku berada di garda depan dan meninggalkan jauh temanku. Konsekuensinya aku harus menunggu sejenak disana.

Hidup yang seimbang, ritme hidup yang teratur akan lebih menyenangkan dan mudah menggapai tujuan daripada hidup yang acak-acakan.

Demi menggapai target gua tetes sekitar 15 Km dari piket nol. Aku memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanan tanpa banyak istirahat di piket nol.

Piket nol adalah titik tertinggi jalur selatan lumajang malang. Piket nol terletak diatas bukit tepat dimana maju jalan turun dan mundur pun jalur turun. Disini tempat pemberhentian supir truk yang lelh. Banyak warung di kanan kiri jalan. Di puncak bukit terdapat tower pemancar sinyal. Kalau ingin naik harus jalan kaki. Terdapat taman di bukit menuju tower piket nol. Cocok untuk berfoto mengabadikan perjalanan. Terdapat pula tempat berteduh dan pos untuk sekedar melepas lelah atau piknik di taman tersebut.

11 am aku beranjak meninggalkan piket nol, menuruni bukit dan berliku liku mengikuti jalur sempit ini. Dalam menuruni bukit ini terbesit pemikiran seperti ini :

Perjalanan hidup di dunia ini layaknnya bersepeda menyusuri bukit. Kita bebas memilih jalur yang sesuai keinginan kita tuk gapai cita cita kita masing masing. Namun yang perlu dipegang baik baik adalah ketika kita bersenang senang dengan turunan yang kita lewati dan sangat menderita ketika kita menaiki tanjakan. Camkan baik baik kalau kita senang pada turunan saat kita berangkat, ingatlah turunan menyenangkan itu akan menjadi tanjakan penderitaan kita ketika kita pulang nanti. Dan ketika kita menderita melewati tanjakan ketika berangkat, ingatlah bahwa tanjakan itu akan menjadi turunan yang kita cari ketika perjalanan pulang. Intinya kesenangan dunia itu menipu. Ketika kita sudah kembali pulang ke Sang Pencipta, kita akan tahu bahwa kesenangan sesaat di dunia itu kini menjadi penderitaan yang berkepanjangan.

WP_001391
Sungai dan tebing, lebih mirip lembah

Meskipun berkali kali tanya pada orang dijalan karena memang aku tidak tahu jalan menuju Gua Tetes, nyatanya Gua Tetes tak kunjung ku jummpai. Perasaan menyerah mulai menerpa. Terik panas matahari membakar tubuh ini. Keringat tak lagi menetes, tetapi mengucur deras dari sela sela baju yang aku pakai. Mengucur deras seolah tak pernah berhenti. Minum lagi, kayuh lagi hingga kaki ini mulai merasa tak kuat lagi dan tak betah lagi mengayuh lagi. Yeyeah! Akhirnya sampai juga setelah 2 jam berjalan menyusuri naik turun bukit dan melipir disetiap sisi bukit. Aku sampai lebih dulu karena memang aku meninggalkan jauh temanku. Tak lamma kemudian temanku datang dan siap menuruni lembah. Sepeda aku taruh di dalam rumah tak berpenghuni karena saat itu memang wisata lagi tutup sehingga parkiran pun tidak ada dan karcispun tidak ada.

WP_001395
Jalan setapak menuju lokasi air terjun

1.30 pm aku menuruni lembah dengan hati hati. Meskipun sudah ada anak tangga, kaki ini gemetar dan rasanya ingin jatuh saja. Anak tangga demi anak tangga aku turuni. 70 derajat kebawah mungkin lembah itu menunjukkan keganasannya. Terkadang harus jongkok terlebih dahulu sebelum bisa turun. Meskipun tidak hujan sebelumnya, anak tangga begitu licin karena aliran air dari tebing di kanan jalan. 15 menit turun, akhirnya sampai di tepian Gua yang aku mimpikan tadi malam. Hoeh.. betapa sejuk hati ini ketika melihat air jernih mengalir dari ketinggian 200 m di atas tebing membentuk aliran yang indah. Stalagtit stalagmit membentuk sebuah aliran menyerupai aliran air karena sangking seringnya dilewati air. Dari bawah sini, aku bisa melihat betapa tinggi daratan yang ku pijak diatas, betapa curam ini semua. Aku tak percaya. Oh my God, What is this? I have to climb the stone that has pass water. Aku memanjat batu yang diatasnya dialiri air. Wow memanjat air terjun memang sebuah hal yang tabu. Tapi ini nyata dan harus aku lalui untuk mencapai gua yang katanya air menetes dari atas gua ini. Alhamdulillah sampai juga. Tak lupa foto dan kemudian menikmati mandi dibawah kucuran air jernih nan dingin ditengah teriknya matahari dan panasnya tubuh ini. Menikmati saat saat indah dengan pijat refleksi air terjun dengan pemandangan tebing nan indah di depan mata sungguh merupakan pengalaman hidup yang tak terlupakan.

WP_001400
Mantab
WP_001432
Sholat dulu

Tidak lupa sholat dulu 🙂

Tak pernah lupa kewajiban sholat dalam keadaan apapun. Ingat Sang Pencipta Alam! Dialah yang menciptakan keindahan ini.

WP_001401
Kelihatan betapa jernihnya ya..
WP_001410
Dari jauh
WP_001412
Bersama anak sekitar
WP_001416
Ini lagi
WP_001419
Aku dan derasnya air terjun itu
WP_001421
Riang gembira dengan anak-anak

 Gua Tetes, Describe it by your self!

Karena awan hitam menutupi teriknya matahari, kamipun memutuskan untuk segera turun dan naik keatas. Aku segera mempersiapkan makan besar, having lunch. Dan temanku bertugas untuk mendukung mempersiapkan apa yang aku butuhkan. Aku memasak nasi, mie, dan susu. Wih nikmatnya makan disaat saat seperti ini.

WP_001437
Lapar juga

3 pm kami beres beres dan segera melanjutkan perjalanan berikutnya menuju Turen Malang, target terakhir kami sebelum pulang. Kami menyegerakan ini karena berniat sholat diperjalanan agar menghemmat waktu dan menghindari kehujanan di jalan seperti pengalaman hari kemarin.

Bersambung..

Nantikan cerita selanjutnya di Ternyata perkiraanku salah at Dampit District

Lihat juga cerita lengkapku pada touring kali ini biar nggak ada yang janggal. “Out of the box” : Tour de Semeru Circle

Advertisements

5 thoughts on “Gua Tetes Pronojiwo Lumajang

  1. […] Ups, jangan berkecil hati. Kalau anda kebetulan sedang mampir dan berlibur di Lumajang tak ada salahnya mengunjungi alternatif wisata lain yang tak kalah menakjubkan dan dapat dikunjungi dengan aman, misalnya: air terjun gua tetes. Meskipun jalanan yang harus ditempuh sangat curam, fasilitas anak tangga akan mengantarkan pengunjung sampai tepat di bibir gua menjadikan air terjun ini cocok untuk dikunjungi. Baca selengkapnya di Pesona Air terjun Goa Tetes. […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s