Gowes to the Top of Land in Lumajang, B-29 Argosari

Gowes to the Top of Land in Lumajang, B-29 Argosari

Alhamdulillah syukur ku panjatkan pada Allah Pencipta Alam Semesta ini. Berkat anugrahnya aku dapat sukses menggapai puncak B-29 by bicycle. Antara mimpi atau kenyataan, aku pun tak tahu bisa menyelesaikan ini di akhir hari liburku semester 3. Ya this is impossible, but I have done it!

Yuk menelusuri lebih dekat apa yang aku kerjakan hari ini.

5 am. I’m packing and preparing everything for my tour today. Nesting, kompor, peralatan pribadi, rain coat, logistic, sandal, kaus kaki, hand cover, dan my powerful camera, lumia have been packing in my carrier.  Pagi itu terasa sangat cepat. Diburu waktu iya. Takut tidak sampai juga iya. Duh serba terburu buru dah. Dari rumah masih masak makanan buat dijalan lagi. Ribet banget. Hinggak akhirnya 6 am. Aku berangkat summit attack by bicycle. Bismillah.

Perjalanan di mulai dengan jalanan Tempeh-Lumajang yang rusak parah. Tak lama berselang pertigaan warung kutil, Desa Besuk, sudah terlihat. Tanpa basa basi dan berpikir panjang, aku langsung belok kiri untuk menghindari jalan raya yang sedang rusak parah itu. Jalan Besuk-Pulo ini sangat nyaman. Baru saja diperbaiki kelihatannya. Namun jalanannya sedikit menanjak dengan kemiringan sekitar 10 derajat saja. Sejauh ini tak berarti apapun bagiku. Sepeda terkayuh normal dengan ritme 3:3.

Well 15 menit berlalu aku sampai diperempatan Pulo. Jalan yang aku ambil adalah kanan menuju arah senduro. Mulanya jalan ini enak dilewati namun 1 Km terlalui mulai agak berlubang dan banyak batu berserakan dijalan. Hal ini membuat pegal punggung karena beban berat yang bergelombang. Tak apa lah, yang penting bukan jalan Tempeh-Lumajang. Jalan menurun dan nanjak menjadi sangat menyenangkan ketika pemandangan yang disuguhkan sepadan. Jalur ini rupanya tak ramai dilewati. Hanya warga Pulo atau Tumpeng lah yang biasanya melalui jalur ini untuk menuju ke pusat kota Lumajang. Persawahan, ladang, sungai menyejukkan jiwa ditambah butiran embun menetes di setiap helai daun membuat mata ini berseri seri melihatnya.

10 Km pertama telah terlalui dengan mudah. Kini mulai tanjakan dengan tingkat medium sebagai pemanasan awal menuju B-29. Jalan ini tak begitu nanjak arah menuju pasar Senduro. Rata rata hanya 20 derajat saja. Meskipun demikian harus tetap mengatur ritme agar tidak terlalu capek diatas. Jalur Lumajang Senduro ini sangat mulus tanpa lubang sedikitpun. Jalan ini begitu nyaman karena donasi dari pemilik pure di Senduro yang terkenal seantero dunia itu. Menjadi hal wajar ketika aksesnya dibuat enak. Jalur awal dilalui dengan mudah. Namun di Km 12 keatas mulailah tanjakan bertubi tubi menghadang setiap laju sepeda yang melewatinya. Superlow gear pun terpasang sebagai amunisi andalan saat melewati jalur Km 12-17. Namun tetap saja masih tidak kuat. Disini kekuatan kaki dan tangan diuji. Sedikit salah perkiraan maka sepeda bisa mundur. Apalagi melewati jurang panjang sebelum Pasar Senduro. Wuih tanjakannya serem. Tapi alhamdulillah lancar. Akhirnya 8 am. aku sampai pos pertama yaitu Pure Mandharagiri Senduro. Sekedar beristirahat dan melepas dahaga serta mengisi perut di warung pinggir jalan. Huh nikmatnya sarapan pagi ini.

WP_001469
Bayangan dan sepedaku

9 am. Hari mulai panas. Terik matahari menyengat. Awan tebal di ufuk barat pun tak lagi menutupi sinar matahari. Senjata andalan agar tidak hitam nih kulit adalah kaos tipis lengan panjang dan training panjang. Sarung tangan dan kaus kaki juga tak lupa dipakai.

WP_001474
Pure Mandhara Giri Agung Semeru

Start! Let’s go! Tanjakan model memanjang tampak dari kejauhan tak membuat hati ini gentar karena memang energi dalam perut ini masih banyak. 1 2 3 tanjakan memanjang itu telah terlewati tanpa henti sampai pertigaan menuju Penampungan, nama lain B-29. Tapi setelah itu ternyata tanjakannya bukannya malah habis malah semakin banyak. Ya akhirnya aku berhenti deh. Tanjakan 30 derajat lebih menunggu didepan mata. Namun tak menyurutkan semangat ini.

Tak lupa aku menyapa setiap orang di sisi kanan sisi kiri yang terpaku melihat kelakuanku yang satu ini. Memang benar benar gila. Semua mata tertuju padaku ketka aku lewat di depan mereka. Langsung aku menyapanya. Mereka merespon baik. Ada juga yang diam. Mungkin tak melihat atau tak dengar sapaanku.

”Menjadi hal yang terindah di setiap perjalanan ketika kita bisa berinteraksi dengan orang lain karena sejatinya kita butuh itu sebagai makhluk sosial” – Me

Tak jarang pula yang menghampiriku. Tak jarang pula yang menawarkan minum atau sekedar berteduh ditengah terik matahari siang itu. Ada juga yang mengajak bicara. Aku mengenal banyak hal disini. Mulai anak kecil yang aku ajak balapan, balapan sepeda dengan penduduk, ngobrol ringan dengan anak KKN dari kencong yang kuliah di Jember, ditanya orang mau kemana, darimana, anak kecil yang kepo, anak kecil yang bantu nyari sumber air dan tak jarang pula yang mempertanyakan kekuatanku untuk bisa sampai di tujuan. Tak jarang orang dengan tujuan yang sama, B-29, memberiku semangat. Mereka itu ngegemesin. Tapi aku suka. Masih ABG paling juga SMA. Bocengan cewek cowok. Ada juga yang bapak sama istrinya. Ada yang sekeluarga naik motor juga ada yang memakai mobil. Semua melihatku. Dan semuanya itu indah. Sangat indah. Nikmatnya kehangatan persaudaraan yang terjalin dengan tak terduga. Kehangatan adat ketimuran sapa menyapa yang sangat terasa. Ego dan individualis terbuang jauh disini.

Desa demi desa aku lalui. Kandang tepus mulai aku jajaki. Disinilah letak tanjakan yang tiada henti. Memaksaku untuk menggunakan superlow gear terus terusan. Amunisi terakhirku ini nyatanya tidak bisa berfungsi maksimal disini. Masih terasa berat. Uh tak ada lagi apa gear mountain bike yang lebih ringan dari ini? Berat, jantung berdetak kencang, nafas terengah engah, tenggorokan kering, bibir pecah akibat dari tanjakan itu. Setiap selesai satu tanjakan berhenti sebentar mengatur nafas. Aku berkata dalam hati :

”Inilah hidup sesungguhnya, kita tak boleh mementingkan ego, emosi, dan keinginan untuk mencapai puncak sedangkan fisik tak mampu. Ukurlah sesuai kemampuanmu dan kemudian lepaskan anak panah itu menuju tujuan hidupmu.” – Me

Setiap kayuhan sepedaku membutuhkan banyak waktu. Tanjakan satu demi satu membutuhkan waktu yang lama. 10 menit, 20 menit, bahkan ada yang 30 menit. Di daerah kandang tepus ini, aku menghabiskan 2 jam perjalanan. Tanjakannya tak toleransi dah. Nanjak terus sampai bukit terlihat.

Barulah 11 am. Bukit di kanan kiri mulai terlihat. Nice. Pemandangannya bikin semangat naik lagi setelah kendur akibat tanjakan demi tanjakan di kandang tepus tadi. Sekarang rumah penduduk sudah tiada. Kanan kiri jurang yang banyak ditanami sayuran terutama palawija dan sayur mayur model kubis, buncis, bawang, lombok, bawang pre dan banyak macamnya lagi. Mulanya jalan datar sepanjang 1 Km membuat kayuhan sepeda semakin cepat. Namun ketika 1 Km pertama terlewati. Jalan didomisasi oleh jalanan lurus nanjak terus terusan. Nggak begitu kelihatan berapa derajat. Yang jelas aku tak kuat mengayuhkan sepedaku maju kedepan. Tanjakan ini mirip dengan tanjakan model di kandang tepus. Rasanya pengen balik aja deh. Ketemu wisatawan lain jadi malu. Huh. Tapi tekad kuatlah yang membuatku tetap mengayuhkan sepeda ini sedikit sedikit hingga setiap 10 meter aku harus terhenti karena beratnya kayuhan sepeda ini. Kabut semakin lama semakin turun. Dan kini menyelimmuti jalan. Jalanan mulai sedikit turun. Bonus 10 meter turunan. Namun jangan berbangga hati. Sebentar lagi penderitaan akan muncul bertubi tubi.

NWP_140202_0002
Ditelan kabut B29

WP_001465

Jalur jalan mulai melikuk likuk. Berliku dan bertanjakan curam sekali, 45 derajat. Sesekali aku terdiam lama. Apa yang aku lakukan hari ini? Sapaan demi sapaan orang asli tengger silih berganti. Senyuman kecut ini tak lagi dapat ditutupi. Aku lelah. Pengen pulang saja. Meski begitu aku tetap saja tidak pulang. Aku tetap maju meskipun jalan seberat apapun. Dan langkahku terhenti di tanjakan lurus akibat hujan menerpa. Rain coat? Mana? Aku segera memakainya dan lanjut lagi. Tak berselang lama perutku sakit. Pengen makan. Ya akhirnya aku makan di pinggir jalan. Target makan di puncak tak terpenuhi. Never mind. Just go on top! Kabut semakin tebal. Rintik hujan terdengar merdu. Mendampingiku yang sendirian sedang makan persedian dari rumah. Tak lama kemudian rintik hujan yang dingin berubah menjadi terika matahari yang panas.

“Cuaca di gunung tak bisa diprediksi, tetapi harapan cuaca baik dapat diusahakan. Begitu pula hidup ini tak bisa diperkirakan tetapi bisa diusahakan” – Me

00.30 pm. Terdengar suara adzan dhuhur. Now time to pray but I dont have any matras. So I must go to argosari if I want to pray. Yuh aku berangkat lagi dan lagi. Seperti biasa aku kayuh 10 meter lalu berhenti. Begitu seterusnya hingga kabar gembira datang dari warga yang lewat.

Me : sampun celak pak?

Indigene : sampun, kantun setunggal bukit mawon.

Me : matur nuwun pak

Indigene : sami sami.

Ya kurang lebih seperti itu. Aku kayuh cepat dan cepat akhirnya sampai juga. Tanjakan terakhir itu. Kemudian turun sekitar 300 meter dan sampai di plakat selamat datang Argosari. Ya tak lupa foto dulu. untuk ada anak muda ini. Aku bisa minta bantuan fotokan. Karena aku memang sedang solo.

WP_001510
Horeee sampai di gerbang Desa argosari

1.30 pm Setelah puas foto aku segera mencari parkiran. Aku ditawari tanpa bayar sama salah seorang penduduk disana. Penduduk disana memang terkenal ramah dan baik. Mereka terdidik sebagai orang yang baik dalam bertata krama. Aku sampai tidak mengerti bahasa jawanya terlalu halus. Tapi mereka semua asyik. Tampilan rocker, tato, celana sobek sobek, antingan, layaknya punk dah tapi mereka sopan semua pada tamu yang datang. Aku diterima dengan lapang. Akhirnya aku langsung sholat dhuhur di mushola sekalian mengisi persediaan air yang habis ditengah jalan.

”Meski target menuju puncak by bicycle tak tercapai, nikmatnya perjalanan menuju puncak itulah yang sejatinya membuat kecewa berubah menjadi kebahagiaan tiada tara” – Me

2 pm. Aku lakukan pendakian karena sepedaku sudah tak mampu aku kayuh lagi. Kaki sudah gemetaran pengen jatuh. Tak lama berselang dapat 1 Km berjalan. Aku tak kuat lagi berjalan karena memang sudah capek sekali. Aku ditawari naik ojek seharga 25 ribu. Oke deal aku naik ojek tuk summit attack. Jalan rusak parah. Sepeda tukang ojekpun tak kuat dan aku sesekali harus berjalan karena sulitnya medan. Never mind yang penting sampai.

WP_001569
Jalan menuju puncak

You must pass it first

WP_001567

See it too

Tepat 3 pm aku sampai puncak. Inilah yang aku impikan. Sepi tinggal beberapa rombongan yang akan turun dan mas mas dari senduro yang mau fotoin aku. Thanks ya mas. Ndak ada samean nggak mungkin ada foto ini.

WP_001525

WP_001533

WP_001531

WP_001538

Mas ini nih yang bikin foto ini 🙂

Aku sangat menikmati puncak saat itu. Melihat keindahan alam yang tak pernah aku lihat sebelumnya. Keren. Namun tak lama berselang semua orang meninggalkanku. Mereka pada turun karena mau hujan dipuncak. Namun aku tetap disana karena memang baru saja sampai. Sendiri? Never mind yang penting happy. Aku masak TOP Coffee dan POP Mie sisa kemarin pendakian gunung Argopuro 3088 Mdpl.

WP_001547

NWP_140202_0010

NWP_140202_0011

NWP_140202_0013

NWP_140202_0015

Me and 3 arca

3.15 pm Puas di puncak dan berfoto ria. Aku pulang dengan kaki. Nasib nggak bawa uang. Jadi nggak bisa pp naik ojek. Namun 2 Km berjalan turun aku bertemu seseorang yang baik banget. Dia nawarin aku boceng tanpa bayar. Alhamdulilah tanpa dia aku pulang kemalaman pasti.

WP_001581

Orang baik itu

3.30 pm I back home by bicycle. Trek turun tiada henti aku lewati dengan mudah tanpa masalah yang berarti. Meskipun sedikit ada gangguan pada chain and rear gear aku bisa menyelsaikannya dengan cepat dan tepat. Ya perjalanan menuju kandang tepus aku tempuh hanya 1,5 jam saja padahal kalau dari kandang tepus ke B-29 butuh waktu 4 jam.

5 pm. Aku mampir rumah temenku. Temen lama sejak SMA. Beruntung banget aku bisa mampir disana. Kebetulan dia sedang tidak lagi di luar kota. Ketemu setelah sekian lama nggak ketemu.

WP_001586

”Silaturahmi memang sangat menyenangkan bagi orang yang bersosial” – Me

WP_001584

Sholat asyar dan menceritakan semua kegilaanku. Bercanda, bergurau, berfoto ria. Sungguh menyenangkan, bahagia itu simple. Allah menciptakan kenikmatan bagi makhluknya yang bersyukur.

”Tanpa bersyukur kita tak akan pernah tahu betapa besar kenikmatan yang Allah berikan kepada kita” – Me

5.30 pm. Perjumpaan singkat itu harus berakhir untuk memenuhi target dirumah tidak terlalu malam. Ya alhasil pacuan sepedaku yang keras layaknya kuda mengamuk membuat aku lebih cepat dari perkiraan. 6.30 pm sudah di Besuk sekitar 3 Km dari rumah. Wew jarak 17 Km ditempuh dalam waktu 1 jam. Nice job. Sholat maghrib di Masjid dan segera pulang ke rumah.

7 pm. Well at sweetest home.

Hallo apa kabar kakiku?

WP_001490

Pengen naik gunung lagi

Pesan :

“Kuat dan bodoh itu hampir sama” Dikutip dari perjalanan menuju Argopuro 3088

Happy holiday, Thanks for reading

Advertisements

12 thoughts on “Gowes to the Top of Land in Lumajang, B-29 Argosari

  1. good story & valuable sharing… salut bisa bersepedan dgn tanjakan ‘segila’ itu.. saya mau tanya kalo naik mobil dari lumajang ke argosari apa jalannya memungkinkan?

      • Hhe thanks udah mampir, itu mah ngos ngosan mas, hampir nggak kuat sebenarnya. Dan kalau naik mobil, sangat memungkinkan kok, jalannya mulus, aspal, dan nggak berlubang kok. Tp untuk sampai puncak mobil parkir dan ojek 1 km ke puncak. Gitu
  2. wah mantap juga mas pengalamannya …saya dari lombok salam kenal, saya trakhir sepedaan solo dari surabaya sampai lombok lewat bromo..renca tahun depan mau kebraomo lagi, rencana mau ke bromo trus ke b29 ..trus pulang lewat jember..

    1. Boleh mampir ke tempat kami bang. Di daerah lumajang sana. Lereng semeru. Saya juga pernah mampir lombok dlm perjalanan jawa bali lombok sumbawa flores hingga komodo. Gowes mania lah.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s