Ilmu berinteraksi dengan alam (Islam view)

Ilmu berinteraksi dengan alam (Islam view)

Apa motivasi anda mendaki gunung, menyusuri hutan, berlayar di luasnya samudra, melihat indahnya langit malam, sunrise, sunset dan fenomena alam lain yang sangat indah itu? Kebanyakan kita pasti bilang ingin mendekat dengan alam, ingin mengetahui kebesaran ciptaan Allah, keindahan ciptaan Allah, mengenal Allah SWT. Itu adalah jawaban klasik seorang petualang sejati. Namun apakah jawaban itu dari hati atau sekedar idealisme semu saja?

Sebagian besar petualang yang ketagiahan dengan alam yang sangat indah ini akan merasa ingin dan ingin lagi. Baru juga sampai rumah udah pengen keluar lagi. Rasanya kalau ada dirumah itu serasa terpenjara, tak bebas seperti di alam liar. Menurut anda apakah hal ini dibenarkan?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(QS 5:87)

Cintailah sesuatu sewajarnya saja karena semua akan berpisah.

Jibril datang kepada Nabi saw, lalu berkata : “Wahai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, maka sesunguhnya engkau akan mati, dan cintailah apa saja yang engkau kehendaki, maka sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya, dan berbuatlah apa saja yang engkau kehendaki, maka sesungguhnya engkau pasti akan mendapat balasan dari amal itu … (HR.Thabrani : 4429, Al-Mu’jam Al-Awsath Lith-Thabrany, bab manismuhu Abdullah, juz : 9, hal. 483)

Kalau kita tilik lebih dalam lagi jiwa dan hati seseorang siapa yang tahu. Hanya Allah yang tahu. Tetapi hati ini tak bisa berbohong ketika kita bisa ”go ahead” menjelajah alam yang mana tidak mampu dilakukan orang lain. Kita akan berbangga diri. Meskipun sedikit saja seperti ucapan ”aku lho sudah kesini, kamu gimana?” Cenderung merendahkan teman yang belum pernah kesana. Perasaan ini lah yang harus dibasmi dari dalam diri kita karena

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (Q.S. At-Taubah: 25)

Apalagi kita sampai sombong seperti ucapan ”kita kan ndak Cuma 1 atau 2 kali saja naik gunung? Jadi jangan khawatir masalah pengalaman lah”. Sombong. Dengan demikian apa yang sebenarnya kita cari. Pujian dari manusia yang membuat kita tinggi hati besar kepala?

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Ini hanya sekedar cerminan saja bagi kita penggiat alam. Beberapa hal yang perlu diwaspadai. Jangan berbangga diri, jangan congkak, jangan pula haus pujian orang!

“Menggapai ridho manusia adalah tujuan yang tak mungkin dicapai”– Imam Syafi’i

Terlebih sering terlihat banyak petualang sejati lupa akan tiang agama. Sholat. Sholat menjadi nomor dua. Mereka cenderung meremehkan atau meringankan sholat. Terlebih jika mereka menganggap dirinya musafir. Mereka kira dengan jadi musafir sholat bisa di qodho, dan di jama’ qosor seenak hati. Tidak! Ada syarat menjadi musafir, ada pula ketentuan sholat yang bisa di jama’ ada batasan waktu. Tidak semerta merta kita bisa dengan mudah meninggalkan kewajiban besar ini. Padahal jika kita mampu melaksanakan maka hukumnya sangat dilarang keras untuk meninggalkan sholat. Itu prinsip.

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun. (Al-Maryam : 59-60)

Belum lagi masalah najis dan kesucian petualang yang suka berkotor kotor dalam perjalanannya. Buang air kecil, buang air besar ada ilmu thoharo yang mengatur. Teknik bersuci jika tidak ada air. Teknik wudhu. Dan banyak lagi yang lain. Sekarang kita tilik banyak yang seenaknya saja buang air kecil berdiri dan tanpa melihat cipratan air kencing mengenai pakaian dan celana mereka.

Karena saat sholat ada tiga hal penting yang harus suci yaitu diri, pakaian, dan tempat.

Apalagi tentang perbuatan syirik saat memasuki tempat sakral. Sangat berbahaya ketika kita mempercayainya akan datangnya bala’ ketika kita melanggarnya. Ingat hanya Allah lah yang memberi kita pertolongan. Don’t believe the other one. Tentang kesesatan di gunung. Baca kelanjutannya.

Well sampai sini dulu. Semoga kita termasuk petualang muslim yang teguh pendirian mendahulukan agama daripada hawa nafsu. Amin.

backpack

“Semua itu ada ilmunya, belajar ilmunya sebelum melakukan sesuatu agar perbuatan tidak sia sia dan terlebih malah menjerumuskan kita– Me

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s