Menumpas habis apa yang disebut ’penyakit’ malas

Menumpas habis apa yang disebut ’penyakit’ malas

lazy-time

Rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh. Pepatah ini memang sudah tak asing lagi bagi pelajar di tingkat apapun. Rumus bahwa anak rajin akan pandai atau minimal mendapatkkan ilmu itu memang tak dapat dipungkiri benar adanya. Menyangkal? Mana ada anak tidak belajar tiba tiba dapat ilmu. Impossible! Semua itu ada prosesnya, bro sist. Tak ada hal instan. Semua butuh perjuangan untuk mendapatkannya.

Dari implikasi bahwa rajin akan pandai dan malas akan bodoh dapat diperoleh 3 kesimpulan jenis orang menurut tingkat intelegensinya, yaitu: orang cerdas, pandai/pintar, dan bodoh. Yang membedakan antara orang cerdas dan pintar itu adalah kecepatan menyerap ilmu ketika belajar. Orang cerdas itu cepat menyerap pelajaran dengan baik. Sedangkan orang pintar itu masih butuh beberapa kali pengulangan (red: rajin) dalam menyerap informasi/ilmu. Beda lagi dengan orang bodoh. Bodoh itu bukan takdir, guys. Bukan juga karena tak mampu. Bodoh itu pilihan bagi orang orang yang tak mau mengajak dirinya bangkit dari kemalasan sehingga mereka enggan menimba ilmu. Now, let’s see our self. Which does suitable type for me?

Bersyukurlah jika Allah menakdirkan kecerdasan intelektual tinggi pada kita, entah itu cerdas atau pandai. Malangnya kalau pelajar malas belajar. Alhasil ya mau tidak mau jadi bodoh atau kosong pengetahuan. Sayangnya ‘penyakit’ malas ini tak pandang bulu. Semua orang pasti punya sisi malas tersendiri dalam menjalani rutinitas belajarnya. Ya nggak? Ini penyakit sangat berbahaya karena seperti diulas diatas bahwa memang malas pangkal bodoh. Kalau kita menganggap bodoh itu hal yang tidak diinginkan, tentu kita akan berpikir cara menumpasnya kan?

Orang hebat adalah orang yang mampu lebih cepat menjadi insan lebih baik. – Me

Aku akan melabeli diriku orang hebat ketika aku mampu menjadi orang yang cepat menjadi baik seperti dalam menumpas kemalasan ini. Itu reward kecil yang amat sangat berharga bagiku. Tak dapat dipungkiri itulah yang menjadi titik awal aku tetap percaya diri dalam segala hal. Ini caraku tuk menginisiasi pendewasaan yang lebih cepat. Ini caraku, Mana caramu?

Balik lagi ke topik awal. Menumpas malas dengan cara yang ampuh sampai ke akarnya adalah tujuan utama. Ya harus demikian kalau kita memang mau berjuang menimba ilmu karena Allah. Kalau nggak ya cepat tinggalkan tulisan ini. Tak ada gunanya baca tulisan ini.

Ternyata setelah aku lama hibernasi panjang dalam kemalasan akut, kini aku tahu penyebab kemalasan itu datang dari mana. Malas itu disebabkan oleh psimis terhadap kemampuan diri. Psimis yang seperti apa?

Misal nih kita melakukan kegiatan sehari penuh dan menyebabkan kita capek parah dan perlu istirahat. Setelah itu kita tidur pulas sampai pagi. Seusai pagi kita merasa badan ini masih lelah dan letih sehingga kita tidur lagi. Ini dia titik psimisnya. Nangkep? Merasa bahwa tubuh ini masih belum kuat melakukan aktivitas itu adalah hal negatif yang kita kirimkan kepadda otak kita. Sehingga otak kita akan mengirimkan sinyal-sinyal untuk memanjakan diri dengan kenikmatan tidur dan melupakan aktivitas yang seharusnya dilakukan saat itu.

Itu hanyalah contoh kecil saja. Banyak hal yang lain sebenarnya. Tak kasih satu contoh lagi dah.

Misal nih si A lagi pengen belajar. Terus mau belajar. Eh malah kepikiran bahwa dia masih belum banyak refreshing, percuma belajar, pasti nggak efektif, nggak akan masuk dah ilmunya. Mending bermain, refresh otak dulu, sejenak leyeh-leyeh di kasur, berbaring di empuknya kasur tidur, bermain gadget, nyangkruk dulu. Padahal perasaan psimis bahwa belajar tidak akan efektif kalau tubuh belum fit hanyalah alasan kita saja untuk memanjakan diri dengan kemalasan menyesatkan.

Atau ada lagi nih perasaan sudah bangga dengan hasil kemarin. Ini juga sangat berbahaya. Misal nih, kemarin si B mendapat nilai A semua. Rank 1 pelajar se-angkatan. Si B merasa puas dengan nilai itu. Padahal pengorbanan tak seberapa, udah dapat nilai segitu. Akhirnya si B meremehkan semester berikutnya dengan belajar ala kadarnya. Kalau yang ini memang agak samar sisi psimisnya. Ini lebih condong ke arah kesalahan berpikir karena kesalahan persepsi juga menyebabkan kita malas. Menganggap bahwa belajar sedikit dapat ilmu banyak. Sama saja dengan membalik pepatah malas pangkal pandai, rajin pangkal bodoh. Ahahah.

Okelah setelah kita tahu titik tumpul pedang penumpas kemalasan ini, langkah selanjutnya untuk menumpas habis kemalasan ini adalah menyiapkan titik tajamnya dan menggolokkannya tepat di akar kemalasan itu. Caranya?

Optimis dan dobrak diri untuk segera belajar. Optimis bahwa diri ini mampu melakukan, mampu beraktivitas dengan baik, mampu mengefektifkan kegiatan, mampu berbuat besar meskipun tubuh masih lelah. Ini akan memunculkan sinyal positif yang bisa mendobrak kebiasaan lama bermalas malasan dengan kesenangan yang menipu. Siapkan energi terbesar untuk menumpas kemalasan ini dengan gebrakan terdasyat yang mampu kita lakukan.

Well sejauh ini itu dulu yang bisa aku share. Ini caraku, mana caramu?

Inspirasi ini didapat sejenak setelah aku bangkit terbangun dari kelelahan tidur pagi tadi.

Semoga bermanfaat.

Yuk diskusi di bawah kalau punya pendapat lain.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s