#1 Bahagia Itu Simple

#1 Bahagia Itu Simple

smiley

Pagi datang seperti biasa. Mentari tak lupa menyapa dengan tusukan sinar yang tembus dari lubang kecil jendela rumah. Hawa sejuk masuk tanpa permisi membangunkanku dari mati tidurku. Sontak aku kaget melihat alarm yang tertunda di lumia kecilku. Hah astaga ini sudah jam 6.54 artinya aku hanya punya 6 menit untuk persiapan dan perjalanan ke kampus untuk kuliah pagi. Anehnya aku tak begitu tergesa gesa menuju kampus. Ku sempatkan mengucapkan little greeting to someone special-ku yang jauh disana. Setidaknya itu yang membuat aku tersenyum menemani pagi itu.

Kuliah pagi ini aku gunakan untuk membaca artikel kesukaanku yang sempat tertunda kubaca malam harinya. Detik demi detik mengalir tanpa terasa aku menyelsaikan semua target membaca artikelku hari ini. Tak ku sangka secepat ini kuliah yang katanya serem di kalangan mahasiswa jurusanku, termodinamika material. Salam tanda berakhirnya mata kuliah ini aku sambut gembira karena aku belum mengerjakan tugas dan ternyata tidak dikumpulkan.

Ku segerakan pulang dengan mempercepat kayuhan sepeda mini-ku ini. Sepeda yang senantiasa menemaniku kemanapun aku pergi yang menggantikan kepergian united tercintaku. Sepeda merah dengan cat yang sudah mengelupas karena karat membuat penampilanku lebih feminim. Entahlah aku tak mempedulikannya sedikitpun. What ever you say, I wanna be happy. Tak berselang lama kayuhan sepeda ini mengantarkanku ke kasur empuk kontrakanku. Meskipun aku belum banyak tidur saat itu, tak tahu perasaan ini mengatakan aku belum waktunya tidur. Aku bingung harus ngapain. Sayup sayup aku berpikir di atas kasur membawaku ke mimpi yang sebenarnya. Tidur pulas.

Adzan dhuhur membangunkanku sesaat namun tidur lagi. Buruk. Tapi tak apalah sholat masih dipertengahan waktu dan menyegerakan pergi ke kampus lagi untuk kuliah jam kedua. Kali ini aku tergesa-gesa. 12.40 aku masih harus mencetak tugasku, belum lagi perjalanan yang semakin lama karena ban depan sepedaku bocor lagi. Cobaan ini bertubi tubi. Namun tetap aku jalani saja karena aku tahu pasti ada kebahagiaan menjemput disaat saat seperti ini. 13.07 aku masuk kelas namun kondisi kelas masih separuh. Kursi di ruang kuliah itu tak penuh dengan mahassiswa. Aku lupa ini kuliah dosen yang suka telat. Kuliah tentang manufaktur ini tak begitu aku suka. Seikit mengarah pada praktek dan perhitungan yang tak diperlukann saat kerja nanti. #So aku tak bisa banyak bercerita disini ahahah

Kuliah dipercepat karena dosen sibuk dengan proyekknya. Alhamdulillah pulang lebih awal. Keluar dari kelas aku langsung saja meminta bala bantuan pada teman baikku.

Aku : Bro, langsung pulang?

Brother : Ya, langsung pulang.

Aku : Aku minta tolong dong annterin ke bengkel, sepedaku bocor (melas)

Brother : Bukannya kemarin baru kamu benerin ya?

Aku : Iya sih tapi kali ini lebih parah.

Brother : Okelah. Tak anter. Tapi beli rokok dulu ya?

*weleh-weleh emang temenku satu ini hari harinya kayak lokomotif bahan bakar batu bara. Tak pernah berhenti berasap.

Aku : terserah dah.

Aku naik sepeda vixion miliknya dengan hati hati sambil memposisikan sepeda buntutku. Aku tarik menyamping membentuk komposisi mirip mobil vespa modifikasi dengan sedikit mengangkat ban depan agar velg tidak rusak.

Brother : Sudah?

Aku : Siap bro

Jalan kampus, jalan perumahan, gang kecil, dan jalan raya itu telah terlewati. Bengkel sudah di depan mata.

Aku : makasih bro udah ngaterin

Brother : yo (sambil tersenyum manis)

Aku duluan yo. Mau cuci sepeda dan ambil duit nih.

Sedikit bernegosiasi dengan pak montir akhirnya deal 20 ribu ongkos untuk ganti ban dalam dan pemasangannya.

Sepeda diputar balik 180 derajat. Engkol yang di pegang pak montir di kaitkan ke mut baut hub depan sepedaku. Ban pun terlepas. Ban luar juga dicongkel memakai pengait besi.

Aku : Hah.. pecah segini besar. Kok bisa ya pak?

*shock

Pak montir : (Diam tanpa kata)

Aku : (hanya bisa menggerutu dalam hati) Huh

Sepeda selesai aku keruk dalam dalam saku celanaku tuk menemukan sisa uang yang ada. Aku bayarkan semua yang ada ditanganku dan mengucapkan banyak terima kasih. Tapi pak montir tak mengubah sikapnya. Cuek. Dasar montir huh. Tak apalah overall sepedaku sehat kembali meskipun harus meronggot kocek tak sedikit.

Aku ada janji dengan seorang teman. Tapi tak kunjung ada notification di hpku. Aku memutuskan untuk ke perpustakaan tuk mengerjakan PKM sendirian. Untung-untung sambil nunggu maghrib. Aku habiskan waktuku di perpustakaan untuk search, browse, and find keyword penelitianku.

Dret dret…

Hpku berbunyi. Ada notif ternyata. Ada dari mbakku dan satunya temanku yang janji mau ketemu. Ternyata dia batalkan semua janji itu dengan mudahnya. ”Oke aku baik baik saja kok” ucapku dalam hati. Memang kata inilah yang sering aku gunakan ketika aku kecewa pada sesuatu hal.

Langit terlihat semakin memurungkan diri. Awan hitam tebal menutupi senja sore ini. Di sela sela kaca perpustakaan dimana aku duduk terlihat dengan jelas kondisi langit yang semakin petang. Ini menandakan aku harus bergegas menuju tempat sholat dan segera berbuka puasa. Puasa senin ini aku lakukan karena ada ajakan dari temanku yang mengajakku janjian mau berbuka bersama. Tapi akhirnya tidak jadi. Aku harus shake my planning again. Meskipun sudah terencana aku tak bisa mengejar maghribku di masjid. Adzan maghrib kujawab di sela sela hembusan nafasku yang semakin pendek karena kayuhan sepedaku. Terlihat dari kejauhan. Ada sosok orang yang aku kenal. Semakin dekat aku kayuh semakin aku yakin itu adalah temanku.

Aku : Bro, bareng sepedaku, yuk!

Brother : walah ada kamu toh, ayo! *menerima tawaranku dengan senang

Ini temanku memang selalu jalan kalau mau pulang kerumah. Rupanya dia ada acara di kampus yang menuntutnya harus jalan di waktu maghrib seperti ini. Aku yang terburu mengejar maghrib hawa nafsu makan dan minum sudah memuncak. Namun seketika itu mati tersiram sejuknya saling tolong menolong untuk teman.

Berinteraksi dengan orang membuat kita paham perasaan orang lain, cara berpikir orang lain, dan cara orang lain menempatkan diri mereka. Hal ini yang tidak ada di mata kuliah kampus manapun. – Me 

Ambilah sisi positifnya.

Sesampainya di pertigaan jalan raya, dia tak ingin merepotkanku mengayuh dengan susah payah rupanya. Dia tahu mungkin raut muka letihku yang memang tak bisa aku tutupi lagi.

Brother : Sampai sini saja

Aku : Okelah

Aku melanjutkkan kayuhan sepedaku ditengah ramai lalu lalang aktivitas petang kota ini. Kuputar otakku untuk memepercepat pembatalan puasaku karena jujur sudah terlambat. Aku bersepeda dengan tegas menuju supermarket terbesar di sekitar kmpusku. Aku membeli segelas pocari sweat dan bikang serta pukis. Satu set makanan ini aku buat untuk ta’jil. Namun apadaya, hasrat hati ingin segera sholat maghrib untuk berinteraksi pada Sang Maha Kuasa tak dapat dihindarkan. Akhirnya makanan ini tak sempat aku makan. Hanya seteguk air dan doa itu yang membuatku tersenyum lebar menghadapi hidup yang kadang tak sesuai perkiraan ini.

Kenikmatan sesuap nasi di warung biru tak akan terlupakan sesaat setelah aku menunaikan kewajiban maghribku. Aku merenung dan belajar bahwa kekuatan itu merupakan fungsi dari niat.

Makanan ini sekarang aku makan tuk menemaniku menghasilkan karya inspiratif ini. Semoga bermanfaat.

Sumber gambar

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s