#3 Action first, risk letter

#3 Action first, risk letter

take action Volunteer.

Buya namanya. Sebutan bagi anak desa yang tak kenal lelah mengayuh sepedanya untuk menimba ilmu di kampus yang katanya kampusnya para pejuang. Sepedanya berwarna merah, banyak cat yang mengelupas akibat karat yang lebar, dan bersuara kriek kriek ketika dikayuh. Entah tekad apa yang ia miliki sehingga tak sedikitpun malu menggunakan sepeda buntut mini yang notabene dipakai mahasiswi feminim. Mahasiswi aja gengsi mungkin memakai sepeda bekas seperti itu.

Rintik hujan pagi tadi menemani kayuhan sepeda buntut yang semakin berat seiring beratnya beban hidup salah seorang mahasiswa dari desa terpencil itu. Satu dua nafas terhitung semakin cepat saja. Tak ada semangat rupanya, begitu pula mentari pagi yang enggan menampakkan konsistensi tuk menyinari bumiku. Semangatnya kian turun seiring kayuhan sepeda yang semakin pelan dan lebih pelan lagi.

Hari ini, tepat hari selasa, merupakan hari terberatnya. 8 sks 3 mata kuliah memang sungguh memberatkan. Ibarat sekolah itu fullday school. Bagi kebanyakan mahasiswa, hari seperti ini sangat dihindari. Tapi bagi Si Buya, semua itu tidak menghalangi tekadnya mengikuti mata kuliah yang ada sekalipun itu berat. Namun hari ini beda. Tugas yang belum selesai, deadline pengumpulan esai, resensi, pkm, dan pengerjaan pkm yang tak terasa semakin dekat membuatnya down. Otaknya miring, wajahnya kecut, tak sempat mandi pula. Ekspresinya tak riang gembira seperti biasanya.

Satu dua mata kuliah terselsaikan dengan low motivation. Tiba saatnya mata kuliah terakhir. Masalah besar mengancam. H-15 menit deadline pengumpulan tugas menerpa. Kepalanya dipegang erat sampai otaknya merasa terperas habis untuk memikirkan solusi terbaiknya. Malas adalah masa lalu baginya. Semester ini adalah semester perubahan. Semangat itulah yang akhirnya memmatahkan rasa ragu ragunya untuk mengerjakan tugas itu dengan sisa waktu yang ada.

Greeenggg…… Suara sepeda motor ditarik seperti tekadnya untuk mematahkan masa lalu kelamnya.

Sepeda motor vixion milik teman baiknya ditumpangi tuk menuju warnet. Search materi di internet dan print di selembar kertas membutuhkan waktu lama karena komputer warnet itu tak mau diajak cepat.

Huh.. *gearmnya penuh emosi.

Detik demi detik berlalu. Internet tak bersahabat. Materi susah dicari. Si Buya tak pikir panjang. Dia langsung print apa adanya dengan bantuan google translate. 13 menit dari jam masuk perkuliahan telah terlewati dengan jantung berdebar debar. Pacuan vixion yang cepat mengantarkannya menuju tempat perkuliahan. 18 menit berlalu.

Alhamdulillah (ucap si Buya bersyukur perkuliahan belum dimulai)

Dan tugasnya ternyata benar dikumpulkan. Si Buya masuk tepat waktu dan mengumpulkan tugas sesuai keinginan dari pak dosen. Waktu demi waktu berjalan tanpa terasa mengantarkan pada usainya perkuliahan terakhir.

Note : Tekad yang kuatlah yang menyebabkan semua tugas terselsaikan cepat dan tepat. Resiko itu ada, jangan pikirkan di awal, tetap jalani saja dulu. masalah resiko datang, hadapi dengan kepala dingin saja.

Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata penulis.

Semoga bermanfaat.

Keep inspiring!

 Sumber 1 dan Sumber 2

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s