#8 Hangatnya malam itu

#8 Hangatnya malam itu

Biasanya Juki dan Supeno bagaikan kucing dan tikut. Meskipun mereka bekerja dipabrik yang sama dan bertempat tinggal di kontrakan pinggir kota yang kumuh dalam satu atap, tapi nyatanya tiap hari kerjaannnya Cuma berantem mulu. Tak pernah akur sedikitpun. Mereka juga sering tak terlihat pulang atau masuk kerja bersama padahal jadwal kerja mereka sama. Ini berlangsung sejak dua tahun lalu. Sejak pertama bertemu, mereka memang sudah mengindikasi sifat yang berlawanan arah. Mereka sering kres dalam mengajukan pendapat mereka.

Suatu ketika Supeno bertanya, ” Juk, kenapa aku merasa sering sakit sakitan ya? Aku takut nih kinerjaku di pabrik menurun dan endingnya aku di PHK.” Peno menunjukkan wajahnya yang murung, pucat karena memang saat itu dia capek dan kurang enak badan.

”Wah ane nggak tau, no. Kamu sih kerjannya selalu ngambil lembur tiap hari. Kayak ane aja kerja oke jalan jalan oke juga. Nggak usah ngebut ngebut, no. Lagian kan bayaran kita udah cukup untuk sehari hari kita.” Lugas Juki, mencoba membatu masalah Peno.

”Kayaknya iya deh. Aku kecapekan. Tapi kalo tidak seperti ini. Makan apa anakku dirumah?” Peno menjawab, suasana semakin riuh menyedihkan.

Juki menepisnya,” Kerja memang butuh perjuangan, no. Tapi selama usaha kita udah maksimal janganlah memaksakan diri untuk kerja lebih. Tepati tuh waktu makanmu biar tetep sehat”

Tapi semakin lama juki memberi saran, peno semakin menjadi jadi ceritanya dan berambisi menjadi seperti juki. Dikisahkan Juki adalah seorang yang malas belajar, kerjaannya main mulu, tapi prestasinya di pabrik bagus dan lebih disayang si bos. Peno rupanya iri pada eksistensi Juki di pabriknya yang mulai menyingkirkannya. Peno sempat menanyakannya pada Juki,”Eh juk, gimana sih carannya bisa kayak kamu yang pemalas tapi bisa disayang si bos. Bayaranmu gede. Nah aku kerjaku fullday, lembur lagi. Tapi nyatanya gajiku nggak segede kamu juk”

Juki memberi saran ini dan itu. Namun tak pernah digubrisnya. Dan suatu ketika dia memberi saran baik baik dan pada waktu itu ntah sengaja atau tidak peno tiba tiba mengejek saran baik baik juki. Juki mah orangnya penyabar dan tak ambil risih terhadap apa yang menjadikannya tersinggung. Namun kesabaran Juki sontak terbakar api amarah ketika mengetahui saran Juki baik baik tadi diterapkan oleh Peno dengan dalih ingin menjadi lebih baik darinya. Padahal kemarin itu dia mengejek saran itu. Sakit itu tak hanya sekali dua kali tetapi berkali kali. Hingga kini juki merasa muak melihat muka si Peno.

Tapi malam itu beda. Sinar mata Juki malamm itu seolah menerangi malam. Di matanya, tersirat cahaya berseri seri. Wajahnya tak lagi kusut seperti malam lalu. Meskipun pada siang harinya dia kerja fullday dan sekaligus lembur hingga tengah malam, dia tak menampakkan rasa capek sedikitpun. Entah apa yang dia pikirkan saat itu.

Juki duduk didepan kamarnya. Tiba tiba Peno datang membawa salah seorang temannya. Dia duduk disamping juki sambil berkata,”ah aku malas dengan semua ini, juk”.

”Malas gimana, pen?” Juki terheran heran.

”Itu lho masalah pabrik yang tiada henti hentinya usai”. Jelas peno

”Masalah yang mana lagi pen?” Juki masih belum ngerti nampaknya

”Kamu tau nggak sih mekanisme kerja dan penggajian di pabrik kita itu masih nggak jelas. UMR kota ini kan 2.2 jt. Jika kita bekerja seharian ful maka minimal kita harus dapat 2.2 jt diakhir bulan, kan? Nah kalau kita lembur. Harusnya upah nambah kan? Itu malah diitungnya nambah dikit nggak sebanding dengan kerja keras kita dipabrik. Cuma nambah 100 rebu.” Jelas peno sambil membenarkan sarungnya.

”Kalo itu seh aku juga ngerasa, pen. Aku ngerasa semua ini tak adil. Kita kerja malem pagi siang sore gajinya Cuma 10% diatas UMR. Nggak sudi dong.” Keluh si Juki

Teman si peno yang notabene tak suka pada peno juga memang mencoba menjawab dan ikut dalam perbincangan ini. Mereka berbincang tanpa terasa sudah jam 1. Tetapi mereka sepertinya menikmati sekali malam itu hingga perbincangan mereka tak berujung kesana kemari. Tak jelas tapi nikmat. Tanpa kopi tanpa gorengan, hidup ini tetap indah dengan berkumpul dengan teman.

Diutip dari kisah nyata penulis sendiri.

Semoga menginspirasi.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s