Gucialit, Lumajang : Tak Melulu Ada Teh

Membuktikan Sendiri Pesona Keindahan Alam Gucialit
Gucialit memang tak diragukan lagi keindahannya dengan panorama pegunungan dan perkebunan tehnya. Udara disana sangat segar dan sejuk meskipun disiang hari. Pepohonan rimbun ala vegetasi gunung adalah ciri khas daerah sana. Hutan mahoni juga terlihat masih lebat layaknya hutan hujan tropis lain di Indonesia.

WP_002175
Kebun Teh Gucialit

Namun, tak hanya itu, Gucialit memiliki sejuta potensi wisata alam yang sangat memukau terutama air terjunnya. Tapi potensi tersebut belum banyak dilihat orang. Hal itu mendorongku untuk segera membuktikan sendiri keindahan yang ditawarkan disana. Eksplorasi yang aku lakukan ini berbuah ekspedisi alam melewati batas akses yang ada. Kebanyakan air terjun disana masih diketahui oleh warga sekitar dan jalannya juga masih dibuka untuk akses setapak saja.
Oke, partner melancongku sudah datang dari pelatihan kerja luar jawa. Aku langsung mengajaknya untuk trekking ke daerah pegunungan di Gucialit. Aku mempersiapkan semuanya dengan menghubungi teman di sana untuk mengantarkanku berpetualang disana.
Akhirnya waktu itupun tiba. Perjalanan menuju gucialit memang sangat menakjubkan. Kanan kiri terlihat berpetak-petak sawah dan perbukitan. Ditengah perjalanan juga kami saling menceritakan pengalaman di dunia kami masing-masing. Aku kuliah berbasis jalan jalan, dan temanku jalan jalan berbasis pelatihan. Hahah menyenangkan sekali bertemu teman yang lama tak menjumpainya.
Tak terasa perjalanan 17 Km dari pusat kota ke Gucialit pun sudah terlewati. Berkenalan dengan penduduk lokal lewat media sosial dan akhirnya bertemu di tempat yang keren dan mengekplorasi daerahnya memang merupakan pengalaman berkesan. Kami berdua ditemani 2 pemuda asli sana memutuskan berangkat bergrilya setelah sempat bercakap-cakap sejenak perkenalan sekaligus melepas lelah perjalananku tadi.
Siang itu sangat cerah menambah gairahku tuk menarik motorku melewati jalan yang tak biasa. Untuk awalan aku diajak berkunjung ke Antrukan Pawon yang sekarang jadi andalan wisata disana. Letaknya di desa Kertowono. Kalau ingin tahu betapa indahnya pemandangannya. Ini deskribsi keindahannya. Mulanya jalan masih mulus. Tapi setelah itu jalan rusak mendominasi tour kami. 2 temanku memakai sepeda tua tapi tenaga kuda. Mereka berbonceng tapi sepedanya kuat nanjak melewati jalan berbatu itu. Nah sepedaku, Supra X 125 cc, yang memang saat ini jarang dipakai untuk melintasi daerah pegunungan mulai terasa beratnnya. Sempat ’ngotot’ narik sepeda agar kuat naik. Untung aja masih kuat. Heheh
Sepeda telah terparkir di rumah warga, itu tandanya trekking dimulai. Jalan menuju sana masih berupa batuan ala jalan di pegunungan. Awalnya landai menuruni bukit menuju lembah. Jalannya lumayan jauh sekitar 30 menit jalan kaki. Tapi tak terasa kok karena pemandangan di kiri jalan sangat indah dengan panorama dataran rendah dibawahnya. Dikanan jalan juga bisa melihat lembah yang aliran airnya membentuk antrukan nantinya.

WP_002108
Trekking Melewati Jalan Warga ala Pegunungan

Keluar dari jalur besar milik warga dan jalan menuruni jalan setapak yang sempit dan curam dengan kemiringan rata-rata sekitar 50 derajat sedikit menyisakan rasa takut. Meskipun tidak hujan tapi jalannya sangat licin karena tekstur tanah liat tapi berpasir. Dengan sangat berhati hari kami menuruni jalan curam itu.
Tak lama kemudian, kami sampai dibawah dan terdengar derasnya air jatuh dari ketinggian 30 meter. Gemuruh airnya seolah memecah air dan tanah dibawah. Tak heran kalau antrukan ini membentuk lubang mirip gua akibat abrasi air terjun dari atas. Ini adalah keunikan dari antrukan pawon ini karena memang bentuknya yang mirip seperti pawon atau lebih tepatnya tumang tempat orang desa masak.

WP_002126
Nih Terlihat dari Atas

Kesan awal masuk gua memang masih terasa energi magisnya. Namun, terpelas dari cerita mitos disana tentang penguhuni antrukan ini, keindahannya sungguh menakjubkan. Sinar matahari tembus membentuk titik-titik cahaya dari atas gua yang terbuka atapnya. Sesekali terbentuk pelangi yang indah akibat pembiasan sinar ke dalam embun air di sekitar air terjunnya. Airnya jernih dan dingin. Kita bisa pijat refleksi disini yang berguna untuk kesehatan dan menghilangkan berbagai macam penyakit. Oiya semak-semak diantara lubang atap goa yang hijau membentuk pola yang indah untuk dinikmati sambil duduk santai di bawah air terjun. Kita juga bisa menikmati keindahannya dari atas goa dan menghadap langsung pada air terjun dan lubang pada goa di bawah kita secara langsung.

WP_002075
Antrukan pawon

Well setelah puas di atrukan pawon, kami lanjut ke antrukan kali gedang. Kami harus balik ke gucialit dulu karena salah satu dari teman kami harus pulang karena ada keperluan tertentu. Meskipun komposisi tim semakin berkurang tapi tak menyurutkan sedikitpun semangat kami untuk mengeksplorasi alam disana. Perjalanan pulang menaiki bukit sedikit lebih berat dan sangat melelahkan. Untung sedikit mendung jadi udara tak terlalu panas untuk melakukan trekking.
Sesampainya di gucialit, kami bertiga langsung berangkat menuju antrukan kali gedang. Trek yang dilewati lebih menantang daripada ke antrukan pawon. Kali ini kami harus melewati jalan makadam full dan memotong kompas menuju kiri jalur biasa melewati jalan sempit dan terjal naik turun. Disini kami sempat jatuh akibat sepeda mundur. Untung aja nggak terjadi apa-apa. Heheh tetap bisa tertawa meskipun harus jatuh bangun. Ditengah perjalanan kami sempat menemukan spot sungai yang bagus. Tak terlewatkan sedikitpun untuk berfoto ria disini. Narsis mode on.

WP_002147
Derasnya Antrukan Bedhug

Air terjun kali gedang terlihat sangat indah dari kejauhan. Jalur yang dilewati banyak pohon pisang atau gedang dalam bahasa jawa sehingga karena daerahnya banyak pisangnya air terjun ini dinamakan kali gedang. Mungkin seperti itu. Dibalik itu, keindahan bebatuan yang berlapis dengan semak yang beraturan membentuk pola yang sangat indah untuk dilihat. Lahan yang luas air di bawahnya cocok untuk berenang karena airnya jernih kehijauan dan kedalaman yang pas untuk dingin air disana. Sayangnya kami tak membawa baju ganti sehingga kami tak bisa menikmati mandi disana. Kami mengambil spot terindahnya dengan melewati jalan yang sulit untuk sekedar menggapai air terjunnya dari dekat.

WP_002164
Spot Terdekat Antrukan Kali Gedhang

Sudah puas di antrukan kali gedang, kami melanjutkan perjalanan ke antrukan semingkir yang merupakan antrukan paling terkenal di Gucialit. Ini sebagai akhir cerita kami di Gucialit. Air terjun ini tak jauh beda dari pertama aku kesini. Sedikit ada perubahan di bawah air terjun yang sudah ada tempat untuk berenangnya. Keindahannya lebih tertata karena memang sudah ada sentuhan dari pengelola wisata disana. Taman disana juga sangat indah dengan jalan setapak diantaranya yang sangat cocok untuk sekedar berjalan menyusuri sejuknya udara pegunungan teh disana.

WP_002176
Semingkir

Tak terasa hari sudah mulai sore dan menyingkap senja dibalik mendung awan hitam diatas yang menyuruhku untuk pulang. Disini memang indah tapi pulang kerumah adalah hal yang melengkapi keindahan itu. Well, rintik hujan dan dinginnya udara sesaat setelah air hujan menyiram alam lumajang mengantarkanku pada rumah kenangan itu.

WP_002129
Bersama Teman #gantian fotonya
?????????????
Bersama Teman #gantian fotonya

Deskribsi Keindahan Antrukan Di Gucialit :

Antrukan Pawon

Antrukan Bedhug

Antrukan Kali Gedhang

Antrukan Semingkir

Semoga Bermanfaat

Advertisements

3 thoughts on “Gucialit, Lumajang : Tak Melulu Ada Teh

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s