#21 Perjalanan mengarungi pelajaran hidup

#21 Perjalanan mengarungi pelajaran hidup
Hari ini, aku mendapati segala sesuatunya berbeda dari biasanya. Minggu ini adalah jadwal UTS ujian tengah semester di kampusku, ITS Surabaya. UTS disini menjadi barang yang sakral disini. Semua mahasiswa kampus berlomba-lomba sekuat tenaga untuk belajar selama paruh pertama materi perkuliahan. Tak hanya belajar dan begadang sampai malam saja, merangkung, mencatat, menghafal, dan membuat catatan kecil yang sewaktu waktu bisa dibuka ketika ujian berlangsung juga masih menjadi budaya buruk segala aspek pendidikan negeri ini.
Begitu pula diriku, menahan sebuah kebiasaan atau budaya dari sebuah komunitas adalah hal yang tersulit. Perang dengan amunisi yang matang pun tak bisa jadi jaminan di era yang menuntut hasil ini. Proses mungkin sudah menjadi term kedua yang sedikit terpinggirkan oleh nilai nilai dan nilai. Aku terlarut juga dalam kebiasaan yang buruk ini pula ketika ujian berlangsung. Untung saja, tak sebanyak yang teman lain lakukan. Aku hanya berbuat curang ketika sudah benar benar terdesak dan ada kesempatan. Meskipun demikian, aku masih sering memilih berpasrah diri daripada harus mencontek sana dan mencontek sini.
Agenda memerangi kebiasaan orang pada umumnya tercetus tak sengaja beberapa hari lalu. Kala itu aku sedang banyak berinteraksi dengan seseorang. Berhubung suatu hal yang tak ku inginkan, akhirnya koneksi kita berdua tak putuskan begitu saja. Nah dari sini aku dapat sebuah hikmah. Hikmah untuk meninggalkan media sosial yang bikin kecanduan itu karena mood sedang turun untuk mengunjungi aplikasi sosial yang semu itu. Aku yakin kalian pasti pada tau tentang media sosial saat ini isinya apa kan? Akhirnya sampai hari ini aku membuka media sosial tak lebih dari 1 menit saja. 3 hari berlalu tanpa media sosial tak juga membuat aku anti-sosial. Aku tetap bisa hidup seperti sedia kala tanpa mengurangi sedikitpun interaksi sosialku terhadap orang disekitarku.
Agenda berikutnya adalah perang terhadap kecurangan saat ujian. Itu akan aku perjuangkan dan tetap menjadi headline yang senantiasa aku ingat menjadi prioritas utama. Bukanlah hal mudah memerangi hal itu. Ditinggal teman, dijauhi, dan dicemooh pelit adalah konsekuensi yang membayangi otakku mengalirkan ketakutan dalam diri ini.
Go better! Semangat!

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s