#34 Celoteh hati kecil pengamen

#34 Celoteh hati kecil pengamen

Hari ini memang tak ada dua deh. Banyak hal unik dan baru aku temui sepanjang perjalanan. Selama dalam perjalanan pulang kampung kali ini aku bertemu dengan teman baru. Mereka rombongan mahasiswa UB. Rencana mereka mau ke jember. Lang weekend mau main ke papuma kata salah satu tim yang aku ajak bicara. Orangnya sih asal tangerang. Dan memiliki teman di ITS juga. Jurusan sama juga denganku. Tapi aku belum kenal. Tak apalah. Banyak yang aku bicarakan disana.

Aku diam menikmati senja. Aku melihat pemandangan petang dibalik kaca bus restu yang aku tumpangi dari surabaya menuju kota kecilku. Angin sepoi sepoi dari jendela atas yang terbuka menggerakkan rambutku yang sepertinya sudah mulai panjang ini. alunan lagu pengamen yang serak dan besar menemaniku malam itu. Rombongan ”anak barat” ini sepertinya tak tahu adat timur. Mereka nyerocos ngobrol sana ngobrol dengan nada keras ketika pengamen bernyanyi. Suara pengamen yang kecil dan nada tinggi jadi tak begitu terdengar akibat ramai penummpangnya. Mmungkin si pengamen geram melihat ulah penumpang yang tak tahu rasa menghargai itu. pengamen selesai menghibur penumpang dan seperti biasa dia mengeluarkan kantung plastik sisa permen kemudian menarik uang penumpang secara suka rela. Setalah sampai pada rombongan barat itu. pengamen berbicara lantang seolah mengancam dan berbisik tepat di telinga salah satu rombongan yang kalau tidak salah bernama wahyu itu, ”kalau ada pengamen nyanyi jangan ramai, hargai!”

Itu sudah mewakili.

Ya semoga bisa dipahami dan tak terulang pada dirimu. Sekecil apapun orang lain di matamu, mereka tak akan minta banyak. Mereka hanya ingin dihargai saja sebagai sesama manusia.

Advertisements

One thought on “#34 Celoteh hati kecil pengamen

  1. […] Dan aku bertemu dengan pengamen itulagi. Pengamen yang menyanyikan lagu Ebith G ade, kupu kupu kertas dan lagu klasik jaman 80an dari si krebo entah aku lupa siapa. Legenda lagu top di Indonesia. Suaranya nyaring keras dan serak layaknya pengamen jalanan. Tapi enak didengar. Aku larut dalam buaian alunan petikan gitar dan suara merdunya. Bajunyapun tetap itusaja. Pengamen itulah yang dulu pernah aku ceritakan tentang celoteh hati kecilnya. Aku sampai hafal dan tahu wataknya. Baca juga celoteh hati kecil pengamen. […]

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s