Badai Dilema Besar dalam Menjadi Traveller

Badai Dilema Besar dalam Menjadi Traveller

Beberapa bulan lalu, aku baru menyadari bahwa aku punya jiwa petualang. Ketika itu aku mendapatinya setelah pendakian pertamaku menuju ranu kumbolo yang terkenal di film 5 cm itu. Perjalanan itu sebenarnya tak aku rencanakan dengan matang. Meskipun demikian, semua pengalamanku disana telah memutar balikkan hidupku di perkuliahan S1 ku ini. Aku jadi petualang, kerjaanku hanya membuka itinerary perjalanan, menentukan tanggal main, dan travelling ke tempat tempat yang asing bagi wisatawan biasa.

Aku dan banyak orang lain yang sering berjalan jalan kesana kemari. Kami adalah traveller. Entah orang menyebutnya turis, pengelana, petualang, pendaki, penikmat alam, wisatawan, atau apalah itu. Tetaplah apapun itu labelnya, kami adalah perusak alam. Lho kok perusak alam sih? Padahal kan nggak semua merusak. Ada kok pecinta alam yang sukanya bersih bersih alam. Ada kok laskar hijau. Tapi itu hanya sedikit. Dan meskipun kerjaannya menjaga, melestarikan, dan memelihara dengan cara apapun, itu tak sebanding dengan kerusakan yang kami lakukan.

Aku pernah baca tentang kenyataan yang tak bisa dibantah dari alam semesta ini, hukum termodinamika dua, tentang entropi, dimana derajat kerusakan semua materi di muka bumi akan semakin besar. Kasarannya, apapun yang ada di muka bumi akan semakin rusak.

Oke kita berprinsip bahwa paling tidak kita tak mengotori alam, dan kalau bisa membersihkan sampah yang ditinggalkan orang di tempat wisata. Memang bagus tuh prinsip. Tapi tetap saja, kita tak bisa maksimal dalam menjaga itu. Contoh kecil saja, kita akan merusak hutan hutan untuk kepentingan kita. Tak sebanding dengan apa yang kita lakukan. Reboisasi sebesar apapun tak akan bisa mengimbangi kerusakan hutan.

Apalagi yang sukanya nulis catatan perjalanan, upload foto, dan mengumbar keindahan alam di media sosial atau di internet, akan mengakibatkan hal yang fatal sekali. Hal ini akan memicu orang lain akan iri dan terinspirasi untuk mengunjungi pula. Eksplorasi demi eksplorasi dilakukan manusia untuk menemukan ‘surga’ di dunia ini. Alhasil orang lain datang untuk membuktikan sendiri keindahan yang ditawarkan. Dan coba sebutkan tempat pariwisata sebelah mana di dunia ini yang semakin dikunjungi wisatawan akan semakin bagus, semakin baik, dan semakin indah? Tentu tidak ada. Semakin banyak pengunjung akan semakin rusaklah tempat wisata itu.

Lah disisi lain, kami sebagai pecinta jalan jalan dan berkunjung kesana kemari menemukan objek wisata baru, sudah menjadi hobi. Hobi ini bukan tuk bersenang senang. Hobi ini tuk mengarungi kenikmatan yang Allah, Sang Pencipta, berikan pada kita. Menyusuri ayat kauniyyah yang ada di alam semesta sebagai ajang untuk bersyukur. Menuliskan perjalanan yang telah kita lakukan berfungsi menjadi kenangan yang sewaktu waktu dapat kita buka kembali. Maukah setiap langkah kita berjalan, setiap momen yang kita lewati, dan setiap detik yang kita habiskan untuk hidup di dunia termakan oleh waktu dan terlupakan layaknya debu dipadang pasir yang tertiup angin tanpa arah yang jelas.

Upload foto di internet atau di media sosial tak bisa dipungkiri menjadikan kita semakin tahu bahwa kita ini adalah makhluk sosial yang butuh menyampaikan kesenangan pada orang lain. Tanpa orang lain tahu apa yang kita lakukan, tanpa kita menyampaikan/curhat pada orang lain kita tak akan pernah bisa bahagia. Semua itu bukan bermaksud pamer. Meskipun diliputi pamer sedikit memang itu sifat dasar manusia.

Dilema, bagai makan buah simalakama. Mau maju kena apes, mau mundur juga apes. Ya benar benar sulit menentukan pilihan itu.

Dan sampai sekarang pun aku belum tahu jawabannya. Aku benar benar menghabiskan banyak waktuku untuk menemukan jawaban arti hidup ini, tujuan hidupku, dan apa yang aku lakukan ini, sudah benar apa tidak. Tak ingin aku sia siakan hidupku begitu saja. Tak ingin aku lakukan sesuatu tanpa tahu esensi didalamnya.

Mohon komentarnya

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s