Entahlah..

Entahlah..

Dear

My Travelmate,

3 jam berlalu diatas goresan penanya. Berjalan dalam alur yang dia buat memang tak ada ujungnya. Selalu ada kata baru, ilustrasi baru, bahkan kejutan demi kejutan keberuntungannya yang mengajakku berputar dalam kungkungan kerangka catatan perjalanan yang dia buat. Bukan fiktif yang ia ceritakan. Bukan catatan negeri dongeng yang ia tuliskan. Bukan pula sinetron FTV yang kisah cintanya serba khayal itu. Dia menyebutnya kebetulan yang istimewa.

Dia adalah Agustinus Wibowo, si Backpacker yang sudah berkelana mengembara ke negeri yang belum banyak di tempuh turis asing pada umumnya. Dia justru mengambil jalan tersulit, mengunjungi ranah negara konflik dan hanya berbekal kelihaian serta kejeliannya menghadapi masalah yang ia hadapi.

Paruh pertama aku lahab habis. Selama itu aku biasa saja, terpaku, terpana, dan terpesona setiap langkah pengalamannya. Tetapi ada sesuatu di halaman 224 yang benar benar membuat hatiku bergetar. Tak kusangka perjalanan akbarnya menuju Afrika Selatan terhenti di India. Padahal awalnya ia sudah tak betah dengan negara itu. Sungguh ia ingin segera bergegas ke negeri sebelah yang kebetulan ada momen gempa bumi. Tapi langkahnya seolah lumpuh di persinggahan tempat umum dekat toilet.

Dia menemukan teman seperjalanannya yang ia temui di Kathmandu, Nepal. Dia bernama Lam Li. Sesama backpacker yang fasih berbahasa melayu. Kesamaan itu yang membuahkan kedekatan antar mereka berdua meskipun berasal dari negeri yang berbeda, negeri jiran Malaysia dan Indonesia. Benar benar hal yang tak dia sangka sebelumnya. Dia bertemu di kathmandu. Tanpa ada kesengajaan. Mereka berdua berteman hanya karena garis darah petualang yang sama sama melekat di hati. Kemudian perbedaan itinerary membuat mereka berpisah. Entah kemana. Lam Li mendahului Agustinus menuju Puncak Annapura. Sejak itu pula mereka berpisah.

Dan di persinggahan tepat di perbatasan India mereka bertemu. Tanpa adanya janji. Tak pernah bertukar kartu nama. Tak ada nomor hp atau email. Tapi mereka dipertemukan oleh takdir yang secara logika itu tak mungkin terjadi dan hanya kebetulan belaka. Tapi ini sekali lagi nyata. Dan akhirnya Agustinus pun tak jadi cepat meninggalkan India menuju Pakistan dan memilih untuk berlama lama dengan Lam Li yang menjadi inspirasi perjalanannya. Pengalaman Lam Li yang sudah menggunung dan digali terus dan dijadikan gurunya.

Lain orang lain cerita. Belum genap 12 bulan, 1 tahun, tapatnya agustus tahun lalu, aku tanpa sengaja kenal dengan seseorang. Saat itu, aku lagi asyik googling mencari destinasi di kotaku yang ingin aku kunjungi berikutnya. Dan akhirnya aku sampai di suatu blog yang menjelaskan tentang rute yang diambil menuju segitiga ranu yang legendaris di kotaku itu. aku baca dengan seksama kata demi kata tuk temukan apa yang aku cari. Dan entah kenapa aku tiba tiba klik link di pojok blog tertera ’blog kakakku’. Entah siapa yang menuntun langanku kala itu, Tanpa sengaja aku kunjungi dan bertemu dengan tulisan seorang cewek yang hobinya berpetualang lebih daripada adiknya. Ternyata dia juga anak lumajang yang kuliah di ITS. Dan tanpa basa basi aku cari biodatanya dan segala cara untuk menemukan penulis aslinya. Itu mengantarkanku pada sebuah akun media sosial dan kenalan pertamaku dengan penulis blog yang keren itu secara langsung.

Sungguh tak kusangka aku dapat respon yang positif. Tersirat ’welcome’ di setiap chat yang dibuatnya. Dan sejak saat itu, aku mulai berfirasat tentang kebetulan yang tak biasa. Aku rasa ini luar biasa. Dan akan terasa lebih istimewa lagi ketika aku bisa bertemu dengannya. Berbicara kesana kemari mengungkap semua kesamaan demi kesamaan yang kita punya. Dan pertemuan yang kandas ditengah kemelut kenyataan ruang dan waktu yang berbeda. Kenyataan berkata harus berpisah setelah pertemuan perdana kala itu di kampus ITS.

Agustinus pun terkejut ternyata cewek pertama yang menginspirasi perjalanan grand overland journey nya adalah kakak Lam Li. Dia bernama Lam Yuet. Backpacker yang tengah menuju rusia melalui Beijing. Dan singgah di kos milik Agustinus karena susahnya menembus jalur yang ketat dan tergolong sulit untuk traveller asal Malaysia. Disana agustinus mulai bermimpi dan mulai menginisiasi perjalanan akbarnya.

Dunia terasa sempit. Aku punya kenalan baru. Aku punya teman baru. Dan tatkala aku menceritakan padamu ternyata itu temanmu satu sekolah dulu. Ada yang SMP, ada pula yang SMA, ada pula yang pernah berbicara denganmu. Entahlah garis darah petualang itu mungkin yang membuat tali diantara orang orang yang ku temui. Selalu itu, dan itu, dan kamu kenal itu sebelumnya.

Agustinus sepertinya mengaguminya dalam segala hal.

Kutipan novelnya seperti ini:

Mungkin ini yang namanya saling mengisi? Dua karakter berbeda tapi masih bisa jalan bersama? Aku makin khawatir berpisah darinya, tampaknya negeri negeri akan hambar tanpanya. Aku pun tak tahu apakah rasa ini, yang membuatku jadi malu berada disampingnya kalau keringatku bau, belum cuci baju, atau kata kataku gagu. Apa ini rasa wajar? Apakah persahabatan ini tulus? Beranikah aku menyebut ini sebagai cinta atau sekadar kekagumman pada sosok yang mirip ibunda? Ataukah salah. Ketika mimpi mimpi pun turut menjadi kuran ajar dan vulgar? Apakah perasaan aneh ini membuat bayangan jadi campur aduk, mana Lam Li, mana yang mama? Ataukah sebaiknya kejujuran ini kupendam dalam hati saja.

Dalam hatiku juga terlanda kalut. Pertempuran hati membludak tak ada kendali. Aku gemetar. Aku ragu pernyatanku bikin keadaan semakin suram. Dan hari itu aku nyatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Lega rasanya menyingkap semua isi hati yang sempat terpendam sekian lama sejak pertama kali bertemu.

Dan kamu bertanya, ”lantas, apa yang kamu inginkan dariku?”

Ah entahlah, aku tau mau jawab apa. Bingung.

Terlalu banyak hal yang aku kagumi darimu. Cita cita multi talenta yang aku impikan selama ini ada pada dirimu. Mulai dari music, photograph, journalist, traveller, your work, your mastering subject, motto, and your weakness that motivate me to be better. Dan mungkin banyak lagi yang lain yang sejauh ini belum aku tahu darimu. Dan sampai kapanpun aku tak akan berhenti untuk mengerti semua tentangmu. Dan aku yakin semua perbedaan yang kita punya juga merupakan sebuah pelengkap yang nantinya akan saling menerima.

Terlalu sempurna perjumpaan kita selama ini. Aku masih tak tau tuk menganggapmu sebagai siapaku. Aku kadang mengangkatmu sebagai kakak perempuanku yang setia mengajari adiknya menghadapi hidup. Aku juga lebih suka anggap teman seperjalanan karena hobi itu telah membuat jalinan pertemanan sejauh ini. Aku juga kadang terpikir kau yang masih muda lebih cocok untuk aku lindungi layaknya adik perempuan yang sangat aku sayangi. Dan sekali lagi, entahlah. Aku kehabisan kata untuk mengungkapkan segala apa yang kurasa saat ini. Bisa dibilang suka, sayang, atau cinta. Tapi aku belum yakin karena aku tak tahu arti darik kata romantis itu. Aku hanya bisa berkata pada waktu dan sebagai implikasi dari jarak, samudra, pulau pulau yang memisahkan kita saat ini

Aku sangat merindukanmu.

Sincerely,

Your Admirer

Advertisements

One thought on “Entahlah..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s