Lawu, The Great Story

Lawu, The Great Story

10-13 April 2014.

Jauh jauh hari aku rancang itinerary perjalananku.

Mau kemana lagi, fidh? Tanya teman seperjalananku. Namanya yusuf, Si Pembalap Liar yang selalu menemaniku travelling.

NWP_140412_0000
Ini komposisi kita, foto di pos 4 via Cemoro Kandang

Aku mau ke gunung lawu yang konon merupakan gunung ter-angker dan terdingin di Jawa Tengah. Kugali informasi pendakian, referensi itinerary yang ditempuh para pendaki lain yang sudah terlebih dahulu naik lawu, dan tentang pantangan, lingkungan, trek yang ditempuh, lama waktu, dan pos pemberhentian.

Tepat tanggal main tiba. Firasat tentang melesetnya itinerary perjalanan yang kubuat sudah muncul sejak awal. Aku merencanakan ingin pulang-pergi via kereta api. Isu adanya jadwal tabrakan dengan kuliah membuat kami tak berani pesan tiket. Huh endingnya aku harus naik angkot. Naik angkot dari kontrakan menuju bratang, terminal angkot terdekat dari kampusku tercinta, ITS. Berdiri di pinggir jalan. Kami semangat. 10 menit berlalu, tak ada angkot lewat. Padahal baru jam segini, tepat pukul 3 sore, angkot sudah sepi. Lalu lalang mobil dan sepeda motor saja. Sesekali ada harapan dari kejauhan. Angkot terlihat, tapi semua sirna tatkala angkotnya bukan menuju ke tempat yang ku tuju. Keputus-asaan muncul 30 menit berlalu tanpa ada kepastian. Temanku telpon teman, pindah lajur jalan, duduk, berdiri lagi, lihat arah utara lagi, hingga ngobrol sana ngobrol sini. 1 jam kuhabiskan hanya untuk menunggu dan menunggu. Dan angkot itu akhirnya datang juga dan perjalanan di lanjutkan dengan naik bis kota yang dioper lagi di Terminal Terbesar, Bungurasih, di Surabaya menuju ke Solo, tempat transit sebelum summit attact, naik bus Patas Eka.

Tengah malam aku tak ingat apa apa, aku hanya ingin lanjutkan tidurku yang nyenyak sambil ngisi tenaga pendakian esok pagi. Bangun, isi logistik, packing, dan bergegas menuju Cemoro Kandang, Tawangmangu, Surakarta, Tempat pos pendakian. Sebenarkan Cemoro Kandang bukan satu satunya pos pendakian menuju Puncak Lawu. Masih ada Cemoro Sewu yang ada di seberang tak jauh dari Cemoro Kandang meskipun terdengar jauh karena label perbedaan propinsinya. Jadi 2 pos pendakian ini terkenal dengan pendakian lintas propinsinya. Terkesan panjang banget bukan? Padahal hanya berjarak tak lebih dari 1 Km.

WP_002502
Cemoro Kandang
WP_002492
Cemoro Sewu

Tepat setelah sholat jum’at, kami berangkat. Pendakian kali ini diliputi keragu-raguan. Aku tak biasa seperti ini. Aku seperti tak kenal lawu. Aku tak banyak tahu tentang semua yang ada di gunung ini memang. Pengetahuanku dangkal. Perjalanan utama diliputi was-was, dengan kepulan kabut sudah menutup pandang. Untung trekking awal sesampainya di pos pendakian kabut sudah tak nampak lagi, pergi entah kemana. Sinar terik matahari masuk lewat celah pepohonan yang tinggi dan kering. Tak ada hawa pegunungan sekali disini. Meskipun sudah di ketinggian 1800 lebih mdpl, udara disini panas. Entah karena masih siang juga mungkin. Tapi suasana ini hilang tertelan simfoni alam kicauan burung, jenis apa ya?, kalau di desaku sih namanya cenggeret, dan burung emprit. Disini banyak burung. Aku terlena menikmatinya, tanpa terasa sudah melangkahkan kaki begitu jauhnya.

WP_002210
Trek Pendakian Lawu via Cemoro Kandang

Trek landai menyambut ekspedisi kami. Tak banyak orang lewat pos ini. Pos ini terkenal landai, tapi panjang sekali. Pada pos pendakian tertera perjalanan total menuju tujuan camping ground tempat mendirikan tenda untuk bermalam kami berdua adalah 4 jam terbagi atas 4 pos. Sehingga jarang ada pendaki lewat sini. Khusus orang yang berkepentingan untuk mencari wangsit, pesugihan, dan ilmu hitam yang biasa lewat sini. Itupun mereka naik kuda semua. Gila.

Aku saja hanya menemui tak lebih dari 10 orang dalam perjalanan menuju puncak lawu. Itupun hanya dari pos pendakian menuju pos satu saja, selebihnya tak bertemu peradaban sama sekali. Suram. Kami hanya berdua. Dan mendirikan tenda di tanah lapang berdua saja. Tak ada orang. Tak ada hiruk pikuk aktivitas pendaki di malam hari layaknya ramainya romantisme malam yang ditawarkan ranu kumbolo.

Memang 1 jam berjalan aku sudah sampai di pos 1. Tak banyak pemandangan yang dapat kami dokumentasikan sejauh ini karena masih melewati hutan dan vegetasi rapat akan pohon.

WP_002216
Pos 1

1 jam dari pos 1 taman sari bawah, aku sampai di kawah candradimuka, kawah yang bisa dicium saja baunnya. Tak bisa dilihat arah belerang dari mana. Kawah ini tepat bisa dilihat dari pos 2 taman sari atas.

WP_002231
Pos 2

Selanjutnya, trek pendakian sepertinya sudah dimulai. Jalur pendakian mulai terjal. Tanah liat nan licin mulai terlihat didepan mata. Semula aku hanya menganggap kondisi ini cepat usai. Tapi perkiraanku salah. 1 jam berlalu aku masih belum bertemu dengan pos 3. Pos bayangan memang hanya menampikkan bayang palsu keinginanku untuk cepat sampai di pos 3. 2 jam berlalu putus asa mulai menerjang. Perjalanan bukan semakin ringan. Kami harus melipir lereng gunung, menanjak melewati punggungan bukit, dan berkelok kelok layaknya ular sedang mencari mangsa. Tapi ditengah perjalanan kami sempat merasakan berada di atas awan, berasa masih mimpi dan belum pantas menikmati ini.

WP_002271
Senja sore diatas awan

Tak lama, kabut keburu menutupi dunia mimpiku ini. Alam sepertinya tak mengijinkanku untuk berlama lama menikmati keindahannya.

WP_002267
Pos semu, bikin kesel aja nggak sampai2

Senja berganti malam. Kelam. Petang. Tak ada sinar sedikitpun. Bulan tak menampakkan wajahnya. Awan hitam, kabut pekat, debu berterbangan memperpendek jarak pandang. Jalan bukan semakin landai. Melipir lereng sudah bukan waktunya lagi. Kini harus menanjak dan menanjak lagi. Tanpa henti. Benar benar tanpa henti. Nafas terengah engah, ransel semakin dikurangi bukan semakin ringan, berat bebannya bertambah seiring meter vertikal. Selangkah melangkah selangkah lagi istirahat sejenak. Pos 3 akhirnya terlihat menampakkan warna merah di kegelapan malam, terkesan horor. Sesaji dimana-mana. Bau kemenyan. Dan rumah kosong pinggir pos sepertinya berbau mistik yang kuat.

WP_002295

Langkah berikutnya tak banyak aku berharap. 3 jam aku habiskan diperjalanan menuju pos 3 sudah membuat tenaga terkuras. Perlahan tapi pasti. Aku masih harus menyemangati temanku yang sedikit molor di belakang. Pos 4 aku jalani dengan santai. Tak seperti perjalanan sebelumnya yang diliputi kekacauan batin. Betapa tidak, kami lihat jalur pendakian benarnya 1 jam saja, kami habiskan 3 jam, kami tak tahu arah, tak tahu jalur, sudah gelap lagi, keputus asaan menerpa bagai badai besar menyapu kota. Tak banyak hal menarik disini. Hanya dingin menusuk tulang dan alunan doa yang senantiasa kami lantunkan agar kami tak terjadi apa-apa.

Pos 4 terlihat dari kejauhan. Alhamdulillah. Penantian, pengorbanan, penderitaan sudah ada hasilnya. Lelah sudah hilang. Lapar sudah menggantikannya. Kami bergegas mendirikan tenda sebelum hujan turun. Kami juga persiapkan makan. Menu malam ini tumis kacang panjang dan sosis ayam panggang panas. Menu itu ditutup dengan kopi hangat sebagai penutup semua aktivitas kehidupan hari ini. Tepat jam 00.00 aku menutup mata.

WP_002296
Pos 4 ketika pagi

Dingin menusuk tulang. Tusukannya membuat siapapun yang tidur disana tak nyenyak. Dingin bukan main. Aku pakai kaos polar, tambah kaos oblong, celana rangkap tiga, kaos kaki, sleeping bag, dan tenda lapis dua masih plus satu matras penghangat tetap saja kedinginan. Kakiku beku. Sumpah mati rasa. Entah dari mana dingin masuk melalui lubang sebelah mana. Ku usapkan berkali kali minyak kayu putih yang biasa digunakan oran untuk menghangatkan tubuh, tapi tak berguna sekalipun disana. Minyaknya juga sudah dingin seperti es. Sesekali terbangun oleh tetesan embun sisa kondensasi air hujan di luar. Diluar hujan rintik-rintik. Untung tak deras *pikirku. Kalau deras, hilang lah semua, kami tak membuat parit masalahnya. Dan dalam kesendirian malam, kami tetap terjaga, Allhamdulillah tak ada kejadian mistis disana.

Kelap kelip lampu rumah di bawah sana laksana bintang yang di langit malam yang cerah. Dan kemudian bintang itu perlahan mati satu persatu. Dan sinar terangnya semakin redup termakan sinar mentari yang sangat terang itu. Pagi sudah bangun. Akupun terbangun dalam kelelapan mimpi indah puncak hargo dumilah.

Semangatku memanas dibakar oleh panas terik mentari pagi yang mulai meninggi. Aku berdiri dengan gagah mencangklong tas ranselku aku bersiap meluncur menuju puncak yang ku impikan itu. Dengan riang gembira, lelaguan penyemangat, langkah kaki ini semakin cepat meninggalkan pos 4.

Pagi memang terbukti efektif dalam menggugah semangat. 1 jam ku lewati dengan cepat dengan bahan bakar nasi pecel bumbu sate ala chef hafidh, kopi hangat, dan udara segar dari alam sebagai faktor alam yang sangat berpengaruh.

WP_002317
Sunrise pagi itu

Horee aku sampai puncak bendera, sekitar 100 meter dari puncak yang ku impikan itu. Meskipun harus potong kompas dan merangkak melewati punggung bukit. Puncak bendera aku habiskan dengan bersyukur. Menikmati inilah berada di ketinggian itu. Berada diatas awan. Berada di atas orang lain. Melihat dari sudut pandang lain dari kebanyakan orang.

WP_002393
Puncak bendera
WP_002405
Hargo Dumilah

Aku melangkah dengan pasti sekarang. Puncak itu bukan jadi hal tabu lagi. Kibaran bendera yang sudah kusam dan sobek diatas tugu biru dongker terlihat jelas seperti di mimpiku. Aku berlari menyambutnya. Tak peduli kaki yang mulai rapuh. Sendi yang mulai remuk. Dan telapak yang mulai lecet sana lecet sini. Aku tak hiraukan itu. Puncak itu semakin jelas dan kini tepat berada di depanku. Aku tunduk sebentar melihat, menelaah, memahami suasana disana. Benar benar beda. Ini mungkin bukan puncak pertamaku yang ku daki. Tapi anginnya, dinginnya, dan keringnya atmosfer serta oksigen yang mulai menipis begitu terasa disini. Tak lama aku di puncak hargo dumilah ini. Aku segerakan turun ke hargo dalem tuk menikmati warung yang katanya tertinggi di Indonesia itu. Ya benar saja. Lah warung ada di puncak gunung. Bukan gunung yang rendah lagi. Kisaran 2800 mdpl lah.

Kami masuk warung, sebenarnya lusuh, tak bersih, banyak debu berterbangan. Tapi ya maklum saja, di ketinggian seperti ini tak penting semua itu, yang jelas kami hanya butuh tempat berteduh dan menemukan peradaban lain. Aku lebih memilih menikmati semuanya. Warungnya lebar, kira kira 20 m x 10 m. Terdapat tempat istirahat dan sebagian kecil ruang buat penjaganya. Makanannya juga enak. Aku memilih makan pecel, dan minum jahe hangat. Setelah puas beristirahat, aku bergegas turun. Aku terburu buru turun sebelum hari gelap. Target untuk sampai cemoro sewu.

Disepanjang perjalanan aku menemukan rumah diketinggian. Rumah kuno, berarsitektur jawa tengah dengan ukiran khas jawa yang sepertinya baru saja dibangun. Gagah dengan beton dari batu berajajar yang tersusun melekat oleh semen, sang perekat.

Hal unik lain adalah tentang sumber air di sendang derajat. Disana terlihat seperti air menggenang saja. Airnya menyumber kecil. Mungkin airnnya ada karena tampungan limpasan air hujan. Tapi sumber air itu disucikan disana.

WP_002426
Sendang drajat yang airnya nggak pernah kering
WP_002430
Pemandangan sepanjang jalan cemoro sewu

Pulang menyusuri jalan yang lebih terjal lagi. Batuan tersusun kasar, keras, tak peduli kakimu remuk atau nggak. Meleak leok kesana kemari tak tentu arahnya. Zig zag. Ada sih pegangan di kanan kiri yang sengaja dibuat untuk mempermudah pendaki agar tidak terpeleset ke jurang. Memang trek didominasi oleh jalur punggungan gunung yang curam tapi kenyataannya kanan kiri kawah yang seolah menampilkan jurang yang menganga. Penderitaan baru saja dimulai. Kata orang perjalanan bagi anak muda 3 jam, dan untuk orang tua 4 jam. Tapi kami habiskan waktu selama 5 jam. Benar benar payah stamina kami. Padahal kami sudah cepat berjalan, bahkan berlari. Tapi tak kunnjung tiba juga.

WP_002474
Jalur berbatu via cemoro sewu

Pegunungan ini memang kejam. Hujan mengguyur di 1/5 akhir perjalanan.

WP_002477
Rintik hujan di pos 1 cemoro sewu

WP_002479

Pegunungan ini memang kejam. Hujan mengguyur di 1/5 akhir perjalanan. Aku berlari, tak peduli basah, tak peduli dingin, aku terus berlari. Kakiku sudah tak mentoleransi pegal ini. aku ingin usaikan penderitaan ini. Dan segera menuju tempat tidur yang empuk dan naik sepeda motor tanpa harus menuruni turunan terjal ini lagi. dan atap tugu itu terlihat dari jauh. Cemoro sewu Im coming. Aku terdiam sejenak menunggu temanku dibelakang yang menemani teman pendaki dari uns yang terjatuh. Aku sempat menggigil.

WP_002490
Apa kabar kaki? remuk

Tapi santai disana ada makanan khas yaitu cilot air panas. Cocok untuk daerah argosari pegunungan seperti ini. Aku menyeduhnya. Tak ada kata tak enak, apapun dilahap untuk mengisi perut yang keroncongan ini.

Hujan terus mengguyur. Kabut tebal menyelimuti jalan raya antarpropinsi melewati pegunungan. Kami tak bisa cepat menuju solo. Sampai malam. Bahkan habis isya’ baru sampai di rumah temanku. Selepas membersihkan diri dan istirahat sejenak saja, serta makan makanan khas solo, Nasi Liwet. Ya keesokan harinya aku naik kereta tuk balik lagi ke kenyataan hidup di kota pahlawan. Di perjalanan aku termenung melihat kegagahan gunung lawu dari dalam kereta. Indah benar benar indah.

Disini aku tak punya niatan sedikitpun untuk menaklukkan kegagahan gunung itu, aku hanya ingin menikmati perjalanan hidup dan menyusuri ayat kauniyyah Allah dan belajar menimba ilmu kehidupan pada alam. – Lawu, 12 April 2014

WP_002453

Hari-hari kemarin aku sedang bad mood tuk nulis tentang catatan perjalananku. Sebenarnya tinggal mindah aja sih dari tulisan tangan di selembar kertas ke wordpress aja. Malesnya itu lho yang bikin tulisan ini nggak terbit.

Kebahagiaanku hari ini menggugah jiwaku tuk menulis tentang travelling lagi. Selamat menikmati J

Semoga bermanfaat

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s