Ujung dari perkenalan

Ujung dari perkenalan

Ada baik ada buruk, ada wanita ada pria, ada hitam ada putih. Selalu terlihat indah dunia karena adanya perbedaan yang saling melengkapi. Begitupula ketika ada perjumpaan maka perpisahan tak dapat dipungkiri akan terjadi kapanpun. Berat memang rasa untuk mengikhlaskan dia pergi. Tapi bagaimana lagi, semua sudah digariskan oleh Tuhan.

Rasanya baru kemarin kita kenal. Pertemuan pertama di sudut kampus yang luas masih terbesit dalam otakku. Tak lama. Tapi bekasnya hingga kini masih terasa. Perpisahan selalu datang pada waktu yang tak tepat. 3 bulan berlalu, mengantarkan pada rencana mendaki gunung bareng. Bersama kita jalan, naik, bercanda, dan bergandeng tangan tuk sampai di puncak pagi itu. Dan hilanglah semua dalam sekejap. Lama aku ditinggal dalam kekosongan hati. Dan puncaknya, ku luapkan semuanya di kotaku. Aku tau itu jadi yang terakhir. Sayangnya, hari itu tak jadi yang teristimewa karena aku tak menyatakannya saat itu.

Saat itu, aku tahu aku harus lekas pergi ke Surabaya, tempat perantauan penimbaan ilmu. Itu mungkin jadi yang terakhir.

Aku masih teringat pertanyaan yang selalu kau gaungkan di detik detik akhir perjumpaan kita, ”Ada yang mau disampaikan lagi?

Aku sebenarnya mau menyatakan sesuatu, tapi waktu yang tak memungkinkan.

Dan akhirnya, aku bertanya, ”kapan kita bertemu lagi?”

”Tak pasti”, jawabnya ragu

Dan aku berkata dalam hati, tak apalah pergilah jauh kesana, kalau seandainya berjodoh pasti akan kembali ke tempat yang sama dan di hati yang sama pula. Tulang rusuk tak akan pernah tertukar, bukan?

Tak ada yang istimewa selain kado oleh-oleh dari perjalanan pengembaraanmu ke negeri timur yang hanya jadi mimpi bagiku. Tak mungkin aku bisa kesana. Mau pakai duit siapa. Dan perpisahan itu diakhiri dengan Assalamualaikum serta doa klasik ala drama abg di TV: hati hati dijalan.

Dan hari kemudian, selepas perpisahan itu, aku berjalan tanpa arah. Tak tahu mau berbuat apa. Semangat yang dulu aku pupuk dengan adanya dirimu dalam hidupku kini telah padam. Padam termakan api erpisahan yang tak terelakkan itu. Hari hariku tak tenang. Sampai akhirnya ku lampiaskan dalam bentuk tulisan tulisan di selembar kertas putih. Kucoret-coret hingga tak terlihat lagi putihnya.

Niat hati tuk bisa move on. Aku ingin fokus kuliah dulu, dan kamu fokus sama pekerjaanmu dulu. aku tak tau kelanjutan ini seperti apa. Jawaban jalanin dulu aja adalah kata yang terus aku ingat dan menjadikan motivasi tersendiri untuk tetap mempertahankan ini. Tak ada lagi kode .php dalam kamus koding msql html ku. Semua kan aku jalani dengan serius. Tak peduli gila, bodoh, sinting, atau apalah kata orang. Ketulusan ini buta dan bahkan tuli dengan kata celaan orang tentangku.

Dan mungkin hanya dalam kata yang morat marit ini aku ungkapkan semua maksud hatiku padamu. Dan ku harap kamu mengerti tentang ini.

Masih di lanjutan kisah yang kemarin.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s