Beginilah Caraku Memandangmu

Beginilah Caraku Memandangmu

Semua tentang kata orang bilang,

Kau itu dewasa, sikapmu duah tau mana yang baik mana yang buruk dan mampu menempatkan diri di setiap kondisi itu menuju kebaikan.

Kau sudah tua, tua dalam hal pengalaman, sudah banyak mengalami jatuh bangun pahit manis kehidupan, sehingga tahu apa yang harus dilakukan ketika ada masalah seperti ini ataupun seperti itu.

Kau punya sikap yang ’menuakan’ (dalam bahasa jawa berarti memiliki sopan santun yang tinggi dimana orang yang memiliki sifat seperti ini akan menghormati dan menghargai semua orang tanpa pandang bulu selama apa yang dia ucapkan baik).

Kau itu pembicara yang handal, bisa memutar balikkan fakta, mengalirkan alur obrolan, mengendalikan jalannya sesuatu, pandai bercuap cuap yang bermutu, omonganmu itu berat, seberat makna didalamnya.

Kau itu muslimah yang taat, sholat, puasa sunnah, membaca alquran, ikuti kajian, mentoring kesana kemari, menimba ilmu dari buku buku islami, dan berkumpul dengan orang soleh dan tak pernah batasi kau dengan khalayak luar sana.

Kau itu wanita pandai, siapa yang tak tahu seberapa rajin kau, banyak belajar, akademisi yang handal, dekat dengan pengajar, punya cita cita setinggi langit dalam dunia pendidikan, cerdas, nilai yang konstan di atas, dan keramah tamahanmu juga sikap ’welcome’mu terhadap orang lain yang ingin belajar denganmu, tanpa pamrih, juga dengan penuh semangat, senang, happy, tak pernah murung dalam menimba ilmu.

Kau itu spesial, jarang terlihat go ahead tapi riwayat kompetisi dimana mana, juara lagi, ikut lagi, kapan mengerjakannya, padahal setahuku kau itu belajar mata kuliah, organisasi, kerohanian, ya itu itu saja, tapi kok bisa ikutan lomba seperti itu juga ya. Super spesial.

Tapi itu semua kata orang. Orang bilang. Orang lain bilang. Orang di luar sana, secara umum berkata yang demikian itu. Akan tetapi, beginilah caraku memandangmu:

Kau itu anak kecil, sikapmu tak dewasa sama sekali, masih cengeng, emosi labil, ada masalah ini ngeluh gini, ngambek, ngamuk sepanjang hari, sedih berlarut larut, menyimpan dendam kesumat tak henti dipikir, tak bisa mandiri, masak tak bisa, jalan sendiri pun tak berani, dasar penakut.

Kau itu butuh tuntunan, kamu itu butuh kakak yang melindungimu, tuk memimpinmu kesana, menyuruhmu kemari, mengendalikanmu layaknya kau itu anak kecil yang minta ajari naik sepeda, harus dituntun dulu biar tidak terjatuh. Sungguh tak banyak kemandirian yang kau tunjukkan. Mau ini, nyuruh orang. Mau itu nyuruh orang. Emangnya ada apa orang yang mau nurutin semua apa maumu?

Kamu itu tak akan bisa dan tak akan pernah bisa memperlakukanku sama layaknnya interaksimu dengan orang lain. Percayalah, akulah yang lebih bisa mengalirkan nalurimu. Alur bicaramu aku ubah pada perbincangan ringan. Tak ada serius sedikitpun. Canda tawa marah sedih jadi satu dalam momen yang sama. Tak akan mampu kau mengendalikan alur bicara kita. Kau juga jelas tak akan mampu berbicara sepatah kalimat serius denganku. Hanya ada candaan tiada henti. Mungkin itulah yang membuat kita selalu fenomenal dimanapun itu. selalu menghadirkan kegegeran publik. Selalu dikenal. Selalu menjadi trending, centre of view. Karena apa? Interaksi kita itu lebih dari sekedar interaksi teman biasa.

Itulah kita, entahlah.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s