Bercanda Kelewat Batas: Sebuah Renungan Kecil

Bercanda Kelewat Batas: Sebuah Renungan Kecil

Kadang kita tak sadar. Kadang kita tak peduli. Kadang kita tak mau tahu. Kadang kita tak mau mendengar. Kadang kita dibutakan. Kadang kadang dan kadang. Bahkan sering. Semua kadang dan sering itu tentang cara kita bergaul, bercanda, dan berinteraksi dengan orang. Mulanya bergaul biasa saja. Kenal semakin kenal, dalam dan saling mengerti. Kita semakin free mengeluarkan semua unek dihati. Dan bahayanya, ketika kita sudah dalam proses ini, maka kita lebih mudah bercanda. Bercanda sih bercanda. Tapi masalahnya akan terasa banyak bahan candaan yanng keluar dari koridor yang ada. Seperti bercanda dengan merendahkan orang lain.

Tak dapat dipungkiri, banyak diantara kita yang bercanda, tawa bebas, lebar tak ber-attitude hanya dengan mencela orang lain, menganggap buruk rupa, buruk sifat, cacat, lemah, jelek, tak bisa apa apa, idiot, atau kelemahan kelemahan lain. Dan tak disadari kita tertawa terbahak bahak setiap kali mengupasnya lagi. Tak ada habisnya tawa hina itu. Tawa yang tak bermanfaat.

Pernahkah kita berpikir orang yang kita hina dan kita tertawakan itu? Pernahkah terbesit dalam anganmu tentang perasaannya? Apakah dia menikmatinya? Apa dia tertawa pula yang sebenarnya menyembunyikan rasa sakit tak terkira? Apakah kamu yakin bahwa sesampainya dirumah dia tak memikirkan perkataan hinaanmu tadi? Apakah kamu yakin, dia tak akan minder jika orang lain tahu kelemahanya? Apakah kamu benar benar tahu, dia tak akan berpusing pusing dirumah hanya untuk menutupi kelemahannya? Tau kamu tak mau tahu itu, dan menganggapnya hanya candaan biasa sebagai kerabat dekat, teman dekat, atau sahabat. Atau jangan jangan kamulah sahabat yang sebenarnya paling dia benci, karena kamu telah kelewat batas. Tak pernahkah otakmu memikirkannya? Dimana perasaanmu sebagai teman dekatnya. Teman yang seharusnya tahu keaddaan temannya, perasaan temannya, kata hati terdalamnya, yang senantiasa mendengarkan apa yang dikeluhkan, dicurhatkan, dan segala aktivitasnya itu. Malah kamu menghinanya. Teman macam apakah kamu itu sebenarnya? Yang tak tahu benar hati teman dekatmu itu.

Tertulis dalam angan tatkala jam berdetak menunjukkan lengsernya matahari dari kedudukannya tepat di atas meja kerja itu disebuah ruangan terbuka. Kulihat ada dua mahasiswa duduk berdampingan dengan mengenakan pakaian yang sama persisi. Ada mahasiswa lain yang notabene teman dekat yang selalu bareng dengannya menghapiri sembari menepuk lengan dua orang tadi, dan berkata: ”Seperti anak yatim saja kalian berdua”. Sudah tahu kan implikasinya. Oke seandainya kamu yakin itu sebagai candaan dan temanmu sudah seratus satu persen tak akan menganggapnya serius, setidaknya kamu itu tak sadar, bagaimana perasaan temanmu semisal ada yang yatim dan kamu bilang seperti itu. Bagaimana, hah? Jawab?

Aku sudah tak berpikir lagi itu candaan atau serius, tapi ketika itu sudah masuk ranah hati, kita tak lepas dari perasaan yang menyertainya. Dan itu telah terjadi. Dan kamu melukainya.

Renungan kecil seorang yang sedang sakit hati mendengar celoteh menggelitik menyayat hati dari seorang teman dekat.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s