Satu Fakta tentang Masa Perkuliahan

Ujian Akhir Semester telah usai, kini saatnya nilai hasil kerja keras mahasiswa selama masa kuliah satu semester kemarin diumumkan. Dan hasilnya tentu saja mencengangkan, ada yang gembira nilainya bagus, ada pula yang nangis nangis nilainya jelek, adapula yang tidak terima, tak jarang pula yang mengikhlaskan saja.

Inilah celoteh anak yang sedang iri dengan nilai temannya yang sudah keluar. Bukan aku, tapi catatan temanku yang sekarang sedang galau dengan nilai yang akan keluar. Catatan ini aku simpulkan dari perbincangan kecilku tadi.

Dinamika perkuliahan di kampusku sudah payah.

Aku dulu berpikiran bahwa orang paham akan mampu menguasai perkuliahan dengan baik. Nyatanya, paham saja tak cukup untuk memenuhi kriteria yang diterapkan di kampus ini. Orang cerdas yang menguasai materi dengan baik belum tentu bisa lulus dengan mudah di arena perkuliahan. Bukan jadi jaminan anak yang dulunya top markotop prestasinya di sekolah bisa mulus perjalanannya ketika menginjak ranah akademik di kuliah.

Aku mendapati sebuah kesimpulan berupa generalisasi dari pemikiranku terhadap kampus ini bahwa di kuliah itu, ternyata yang dicari adalah mahasiswa rajin, tekun, dan tahan banting atau ulet. Mau belajar adalah kuncinya, kata kakakku dulu jauh sebelum aku berpikir untuk kuliah. Ternyata benar saja. Semua serba terbalik. Orang yang dulunya pandai dan dengan segudang prestasi akademik di sekolah, ternyata diperkuliahan malah remuk. Tak ada suara.

Memang sih beda tingkat beda cara berpikir. Tapi yang tak habis aku pikirkan tentang kenapa pak dosen dan bu dosen (tak semua) lebih memilih memberi nilai A terhadap anak didik yang rajin mengumpulkan tugas, rajin bertannya di kelas, rajin pedekate, rajin maju ke depan kelas manakala ada problem yang harus diselsaikan, rajin duduk di barisan depan kelas tanda antusiasme, dan rajin ketika ditunjuk menjadi volunteer dari dosen tersebut.

Parameter rajin seperti inilah yang membuat kenyataan pahit. Lihatlah dampaknya, mahasiswa akan cenderung melakukan segala cara guna memenuhi tugas dari dosen, bagaimanapun caranya, entah nyontek sana nyontek sini, ujian asal menjawab dengan full lembar jawaban dengan segala cara misal membawa catatan kecil. Baca juga: Bobroknya pendidikan di negeri ini.

Lantas apa yang mereka dapatkan dengan sistem pendidikan seperti ini, pelajar akan hanya bisa teknik menulis dengan cepat, teknik menyalin jawaban teman, teknik meniru, mengedit agar tak ketahuan dosen kalau kerjanya itu hasil contekan. Eits aku tak ingin memojokkan salah seorang pihak disini. Pendidikan seperti ini juga bagus, pelajar akan tergerak untuk menyelsaikan tugas dengan baik, diharapkan paham dengan adanya tugas yang menumpuk, bertujuan untuk memberikan kesempatan pelajar untuk belajar mandiri, mencatat pelajaran agar bisa dipelajari sendiri dirumah.

Aku menilai itu sangat tak adil. Coba sini adu skill matakuliah dengan aku dengan nilai B pun, dibuktikan dengan ujian ulang tanpa sedikit kecuranganpun aku berani. Aku yakin nilai A anak rajin dengan nilai B anak yang paham itu akan menghasilkan perbedaan. Aku paling tak suka mengukur sesuatu dengan nilai. Kemampuan itu hanya diproyeksikan dalam nilai tapi kemampuan yang sesungguhnya tidak bisa dilihat dari satu parameter nilai karena akan tergantung dari sudut pandang proyeksi tersebut dari mana. Baca juga: kalah menang itu relatif

Tak mudah menentukan parameter apa yang digunakan para dosen yang terhormat disana untuk menilai kami mahasiswa.

Saran dari penulis: objektiflah pak dosen dalam menilai kemampuan dari mahasiswa. Jangan lihat yang lain selain kepahaman siswa terhadap materi yang disampaikan. Berproses dengan progres yang baik dengan mencatat saja mata kuliah, mengerjakan saja tugas, mengikuti ujian dengan baik, dan nilai setiap ujian baik memang merupakan parameter yang baik untuk dijadikan penilaian tapi ada yang lebih penting lagi, yaitu: Sudahkah paham benarkah anak didik anda? Dan bagaimana siswa tersebut mendapatkan pemahaman itu, dengan cara baik atau buruk?

Dua hal tersebut sudah cukup sebenarnya. Bisa saja ujian dapat nilai baik tapi caranya curang. Bisa saja mahasiswa paham terhadap materi anda tapi mahasiswa tersebut tak menghargai anda. Jadi pertimbangkan dua ini ya?

Bagaimana pandanganmu?

Advertisements

6 thoughts on “Satu Fakta tentang Masa Perkuliahan

  1. Saya berusaha jawab pertanyaan Mas Hafidh ya. Mohon diterima dengan pikiran terbuka. Sebab yang Mas Hafidh tulis ini mengandung banyak pertanyaan-pertanyaan bagus dan perlu ditanggapi.

    Sudahkah paham benarkah anak didik anda? Dan bagaimana siswa tersebut mendapatkan pemahaman itu, dengan cara baik atau buruk?

    Dosen itu tahu kualitas mahasiswanya. Sama halnya dengan bos-bos di dunia kerja. Hanya mereka itu lebih memilih diam (di luar pelajaran) dan membiarkan mahasiswa belajar dan mengerti sendiri. Ini yang disebut dengan pengembangan soft skill semasa kuliah, dan ini juga terus berlaku hingga Anda bekerja.

    Bisa saja ujian dapat nilai baik tapi caranya curang. Bisa saja mahasiswa paham terhadap materi anda tapi mahasiswa tersebut tak menghargai anda. Jadi pertimbangkan dua ini ya?

    Sekali lagi, dosen tahu mana mahasiswanya yang punya potensi dan tidak. Mereka bicara juga antar dosen (surprise, surprise). Dan percayalah, tidak semua mahasiswa yang nilainya sama-sama A juga sama kualitasnya. Yang benar-benar bagus atau punya kelebihan tertentu (tidak harus nilai bagus, bisa juga karena doi cakep), itulah yang dipakai. Jadi jangan heran jika ada teman Anda yang juga semester 1 dan mendapat banyak tawaran (baca: kesempatan) sementara yang lain tidak.

    Semoga ini bisa membantu Mas Hafidh.

    Shalom,
    ~Sesama rekan mahasiswa semester 1

    1. Nice perspektif mas, ya memang betul begitu adanya. Yuk diskusi lebih lanjut!
      Hanya saja dalam tulisan saya diatas merupakan pelampiasan rasa kesal saya dahulu kala, ada banyak teman yang mendapat nilai A sebuah matakuliah tetapi ketika ditanya tentang materi apa saja yang didapat dari matakuliah tersebut, mereka malah bingung dan dilihat dari sikapnya itu sepertinya mereka memang belum paham apa-apa. Bagaimana itu? Salah parameter atau faktor beruntung (baca: kebetulan) itu ada? 🙂

      1. Makasih atas feedback-nya, Mas Hafidh. Untuk pertanyaannya, saya tanggapin lagi dalam reply di bawah:

        Ada faktor beruntung juga disitu, Mas Hafidh. Nggak ketahuan waktu nyontek sementara yang lainnya ketangkep kan bisa dibilang beruntung.

        Lalu kalau soal parameter, ya ini artinya yang bersangkutan memang pintar… pintar menghapal text book. Pintar jenis ini lain lho Mas dengan pintar dalam prakteknya nanti, salah satunya, ya kelihatan ketika mereka ditanya prakteknya gimana dan tidak bisa menjawab itu.
        Berarti mereka ini sebenarnya belum mengerti betul, cuma jago dalam mengulang apa yang ada dalam buku saja.

        Gitu deh, Mas. Semoga gak tambah bingung ngertinya.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s