Antara Hitam dan Hijau

Day 5

DSCN0587
Bangun Tidur

Sunrise pagi ini ternyata sudah mulai terlihat. Untung langit masih petang. Mentari 9 Agustus 2014 belum menampakkan wajahnya. Bulan masih terjaga menyinari kaldera dingin Bromo. Aku segera menunaikan kewajibanku sebagai muslim. Kemudian bergegas menikmati keindahan ayat Kauniyyah Allah. Berada di atas awan menanti kehangatan sinar matahari merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Apalagi bersama sepeda onthel. Terasa sekali perjuangan untuk sampai disini. Aku memantaskan diri untuk melihat pesona alam bromo di pagi hari. Rasanya ingin meneteskan air mata. Perjuangan melewati tanjakan demi tanjakan, turunan berkelok tajam, malam yang mencekam, suasana kota yang bising akan polusi, dan panas matahari siang.

Mentari dengan sinarnya yang menyilaukan keluar dari tempat persembunyiannya sepanjang malam. Tak ada kata yang pantas diucapkan selain puja puji bagi Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Subhanallah..

DSCN0628
Golden Sunrise, Bromo

Perlahan matahari mulai lengser dari tempatnya, beranjak ke atas. Matahari yang mulanya malu malu dibalik bukit. Sinarnya membuat warna hitam dan putih malam hari menjadi mejikuhibiniu, kata anak SD dulu. Hijau memukau bukit mengelilingi kaldera Bromo. Aku tepat berada di pertengahan leerengnya.

DSCN0618
Aku akan berenang di atas lautan awan

Ku percepat persiapanku menuju tempat tertinggi di jajaran kawasan Bromo, jemplang. Jemplang merupakan titik persimpangan arah Ranu Pani Lumajang, Bromo Probolinggo, dan Tumpang Malang. Target sore hari sudah sampai sana.

DSCN0643
Let’s swim in the dust!

Eits nyaliku mulai menciut tatkala melihat lautan pasir terhampar luar di depan mata. Betapa tidak, sepeda motor saja kadang terjebak pasir, apalagi sepedaku yang memiliki gaya tekan lebih besar. Ditambah lagi beban berat dipunggung.

”Aduh, kenapa disaat saat seperti ini baterai kameraku habis?” sambil kugaruk garuk kepalaku.

Padahal ini adalah medan yang sangat ekslusif bagi bikepacker sepertiku. Masak iya tanpa ada dokumentasi.

Turun dari penanjakan tanpa mengendarai sepeda. Tentu saja tak dikendarai karena curamnya jalur. Ini bukan main. Turunannya melebihi 40 derajat. Berkelok lagi. Rem sepeda plus rem sandal gunungku tak mampu menahan laju sepeda yang semakin cepat saja. Aku dorong saja sepeda ini.

Selepas dari turunan tak berkompromi itu, lautan pasir adalah rute tantangan berikutnya. Lautan pasir di bromo masih tergolong labil. Sepeda apapun kalau tak tahu caranya pasti sepedanya masuk pada kubangan pasir.

DSCN0647
Lautan Pasir

Teorinya: pasir tidak akan menyerap ban motormu jikalau sepedamu kamu pacu dengan kecepatan tinggi meskipun beban berat motormu sangat besar.

Bagi pengendara sepeda onthel seperti kami, tak ada jalan lain selain memilih jalur yang berumput dan memiliki tekstur padat. Konsekuensinya, aku harus mau melewati rute yang lebih jauh daripada jalur resmi. Pasir akan sedikit padat di ring luar kaldera laut pasir bromo.

Beberapa jalur bisa aku lewati dengan mudah. Ada pula yang masih harus didorong. Tak mudah melewati medan yang seperti ini. Panas dan abu menghalangiku sampai ditujuan dengan tepat waktu. Buktinya saja, aku hanya sampai cemoro lawang ketika dhuhur. Sungguh terlalu perjalanan dari penanjakan menuju cemoro lawang ditempuh dengan waktu 4-5 jam.

Berada di Cemoro lawang, perasaanku mulai tidak enak. Berdampingan dengan tai kuda. Anjing dengan liur yang berada dimana mana. Panas membuat tenggorokan dehidrasi. Makanan dengan sayur mayur pun tak mengobati dehidrasiku. Air sulit didapat. Untuk bersuci/ wudhu pun susah. Minum harus beli. Pipis harus bayar. Semua kebutuhan pokok mahal harganya. Terlebih kebutuhan utama seperti air. Betapa tanah ini tandus, kering, tak ada hujan, hanya embun pagi dengan kadar uap tinggilah yang menyegarkan pagi di bromo. Selebihnya tidak. Mungkin tanah ini adalah tanah kutukan.

”Tak akan kesini lagi”, pikirku.

Layaknya hitam dan hijau. Tanah bromo menyuguhkan paradoks yang membingungkan. Ketika pagi kau akan melihat keindahan alam yang tiada tara. Hijau merona dalam perjalanan menuju kalderanya. Hutan hujan tropis mengiringi iring iringan sepeda. Sepanjang jalan terdapat tanaman palawija, sayur ayur, dan buah hasil kebun dataran tinggi. Kabut menyapa. Hati bergetar menyambutnya. Ironi, ketika masuk lautan pasir, tak ada lagi semua itu. Pasir hitam pekat siap melahab sepeda yang lewat. Abu berterbangan mengganggu pernafasan. Air tak ada. Bersucipun susah. Semua fasilitas baik yang jelek maupun baik semua dihargai dengan uang.

Matahari mulai bergerak dari kedudukannya. Hari semakin panas. Aku tak boleh berlama lama disini. Hanya penderitaan yang berkepanjangan yang ada disini. Targetku mendapatkan air disini tak tercapai.

DSCN0658
Musafir

Aku gegap gempita menyambut keyuhan perdana sepedaku di tanah tandus ini. Keringat bercucuran meskipun belum 1 Km aku berjalan. Turun ke lautan pasir, hati juga mulai tak enak lagi. Aku mengikuti naluriku. Naluri ini sudah menyatu dengan perasaan sepedaku. Bagiku sepeda adalah bagian dari hidup. Aku mengerti kapasitas sepedaku dan juga kebutuhannya. Banku yang terdesain untuk arena beraspal mulus / race sungguh tak akan mampu melewati medan berpasir ini. Aku menyeleksi jalan dan memilih yang sesuai dengan kapasitas sepedaku. Aku pilih jalan terjauh bukan tanpa alasan. Selain aku bisa mendapatkan jalur yang lebih enak, aku juga bisa mencari jalur alternatif menuju puncak B29 Argosari Lumajang.

DSCN0649
Tepat di Sabana

Hijau itu bukan di kawasan kawah bromo. Semakin menuju kearah barat daya aku semakin dengan kehijauan. Sabana yang mulai mengering. Gunung bervegetasi semak semak. Cemara berkerumun menjadi kelompok kelompok. Bukit berbaris tinggi menjulang enak dilihat. Jalan berdebu sudah tak ada. Samping kiri dan kanan vegetasi hijau ala alam liar di gurun sabana. Senanglah sedikit hati ini. Meskipun air masih belum ada disini, aku tetap senang. Hijau menandakan kesegaran. Aku suka itu.

DSCN0661
Makro padang savana

Berjalan berkilo kilo menuju arah paling selatan bromo, aku menemukan sekelumit peradaban manusia. Gembira hati ini. Setelah berjam jam hanya berkutat dengan makhluk lain dan benda mati, kini ada orang, musafir, berjalan menuju perbatasan probolinggo.

”Pak, naik dari bromo menuju B29 langsung bisa apa tidak?” tanyaku

”Kalau mendaki bisa, kalau bersepeda seperti ini tidak bisa”, jawab salah seorang dari kawanan manusia.

”Wah iya pak, ini jalan yang benar, zig zag 50 derajat ya” tambahku

”Ya begitulah, hanya orang yang jalan kaki saja yang bisa melewati jalur ini dek, jadi kamu jangan lewat sini, lewat Jemplang sana, disana jalannya sudah bagus meskipun harus putar arah ke barat dulu baru ketimur”, terangnya

DSCN0666
Dihadang bukit

Aku tak punya pilihan lain. Melihat bukit yang gagah tinggi menjulang di depan mata, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti saran dari para musafir yang mencari nafkah ke negeri seberang ini. Beliau sudah terbiasa melewati jalur ini sebaagai makanan sehari hari.

DSCN0706
Sunset di padang savana

Jingga langit di ufuk barat. Senja mulai memenangi persaingan dengan biru. Semuanya mulai menghitam. Aku terus memacu sepedaku dengan kecepatan penuh. Jalan mulai membaik. Waktu yang tidak mau membaik. Sudah hampir maghrib rupanya. Angin bertiup kencang menerjang alang alang. Tumbuhan semak menoleh kanan kiri. Hamparan ini begitu menyeramkan di malam hari. Deru angin terasa masuk dari kuping menuju ke hati. Gemetaran lah hati ini. Takut ini lah itu lah. Semuannya.

DSCN0712
Penutup sore ini

Aku memutuskan untuk istirahat di bawah pohon cemara. Niat hati menuju Jemplang roboh bersama harapan yang mmulai memudar akibat informasi dari salah seorang kawanan touring di persimpangan bawah.

Mereka bilang,”Jemplang masih jauh mas” nadanya sungguh meyakinkann karena mereka memang baru saja melewati Jemplang menuju ke Bromo.

Aku sudah tak sanggup keras kepala di situasi seperti ini. Medan berat berpasir dengan tanjakan yang tiada berhenti mengular di lereng gunung sudah cukup untuk mengurungkan niatku mencapai target selanjutnya.

Sudah 2 hari aku pecah jadwalku. 2 hari berada di tanah ini sudah cukup membuatku tersiksa. Hanya sabarlah yang aku bisa lakukan dikala terhimpit masalah yang datangnya tidak diduga duga ini. Malam ini aku tidur dalam kekalutan jiwa akibat gagalnya banyak rencanaku.

Bersambung..

Advertisements

One thought on “Antara Hitam dan Hijau

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s