Cobaan Besar dalam Perjalanan Musafir

Day 7

Fajar pagi tak mewarnai langit timur. Kabut tebal berwarna hitam pekat tepat diatas tenda. Tak terlihat apapun di luar tenda. Rintik gerimis embun kabut turun membasahi sela sela tenda. Untung tak sampai hujan.

Dinginnya semakin menjadi. Kami berdua menggigil. Sleeping bag bagian bawahku agar basah terkena embun. Gila.. tenda double sheet seperti ini masih ditembus embun kondensasi.

Aku berada dalam suasana terjepit. Aku harus sholat shubuh pagi ini. Gerimis tak kunjung reda. Udara luar juga tak memungkinkan ku untuk keluar. Aku tak punya pilihan. Hingga pukul 5.00 pagi 11 Agustus 2014, gerimis masih berlangsung. Aku sholat di dalam tenda dengan ala kadarnya. Tayamum dan sholat dengan duduk. Semoga Allah mengerti keadaan ini dan memaafkan diri yang renta dengan cobaan berat ini. Aku hanya bisa meminta maaf atas ini.

DSCN0833
Cuaca membaik

Cobaan berat belum selesai. Permulaan masih baru saja dimulai. Cuaca pukul 6.00 pagi mulai membaik. Alhamdulillah aku mulai membuka tendaku. Terlihat kabut tebal mengumpul di tengah ranu. Aku mulai aktivitasku dengan masak untuk kebutuhan energi summit attact dini hari nanti. Menu pagi ini adalah sayur bening berair. Sup sapi kubis wortel ditambah sosis sapi dan nasi. Air yang melimpah sungguh memudahkanku untuk memasak logistik yang memerlukan banyak air.

DSCN0832
Bersama teman menikmati pagi di Ranu Kumbolo

Sinar matahari semakin terik. Hangat-hangat kuku di tengah udara pegunungan yang sangat dingin.

Dalam hatiku,’inilah surga itu’.

Panas matahari tak terlalu tinggi. Hawa udara yang sejuk segar. Hamparan bukit dengan semak menyusun sabana yang luas. Beberapa titik terlihat pohon besar, entah cemara atau pinus. Berteduh dibawah pohon tersebut begitu rindang. Apalagi bermain air di pinggir danau. Serasa tak mau cepat cepat meninggalkan tanah surga ini.

DSCN0843
Aku dan Ranu Kumbolo

Namun jadwal selanjutnya begitu mendesak. Aku harus segera mencapai pos pemberhentian selanjutnya, kalimati. Disana tempat yang cukup dekat untuk summit attack. Namun disana tak ada air. Namanya adalah kalimati, yang berarti kali yang sudah mati yang aku prediksi dulu adalah tempat aliran lahar semeru yang sekarang sudah berubah arah ke utara akibat perubahan seiring waktu yang berjalan. Sumber airnya 1 jam perjalanan. Berlama lama disana juga tak terlalu enak.

DSCN0849
Perenungan diri di depan tanjakan cinta

Aku segera bergegas merapikan peralatan. Aku bagi tugas dengan temanku. Ku percepat segalanya. Tepat pukul 10 pagi aku sudah siap untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini perjalanan tak terlalu jauh. Hanya melewati beberapa fase oro oro ombo, cemoro kandang, jambangan dan sampailah di kalimati. Tak ingin membuang buang waktu. Aku dan temanku siap mengatur nafas dan mempercepat langkah. Tapi entah mengapa, kakiku serasa berat. Bahkan aku banyak disalip oleh beberapa pendaki lain.

DSCN0862
Oro oro ombo

’Ada apa?’, pikirku.

Kenapa tenagaku sudah habis seperti ini. Kaki lemas. Seperti enggan mendaki lagi. Atau karena tanjakan cinta tadi. Atau aku tak mau beranjak dari tanah surga. Atau jangan jangan memang aku sudah tak kuat lagi.

DSCN0863
Ladang lavender

Terus berjalan adalah motto kami menggapai cita. Terus berusaha mengatur pernafasan. Alhamdulillah semakin lama kakiku sudah lemas. Aku telah beradaptasi dengan medan dengan tanjakan yang lumayan tinggi ini. Berjalan mengelilingi lereng gunung tak banyak menguras tenaga. Pendaki lain sudah jauh di belakang ku. Aku amat senang kala itu. Kalimati, Im coming, this mission will complete! Ah ternyata aku salah. Ini jambangan. Sungguh malu diri ini. Vegetasi dan tata letak sabananya mirip dengan pos kalimati. Ternyata bukan. Huh disana banyak pendaki lain yang sedang berteduh dibawah jambang / dalam bahasa indonesia tumbuhan bunga. Saking malunya aku tak istirahat dulu, langsung saja nyelonong sambil berlari berharap segera mendapati kalimati yang sesungguhnya.

DSCN0867
At Kalimati Shelter

2 jam 20 menit aku berjalan, akhirnya sampailah di kalimati. Sesampainya disana aku bertanya tanya pada orang tentang informasi summit attack.

Pendaki bilang,” Mending camp di atas Arcopodo, pos terakhir vegetasi dan pasir Semeru, lebih dekat hanya 2 jam dari kalimati dan untuk summit attact ke puncak Mahameru hanya butuh 3.5 jam saja”

Aku,” Wah, kebetulan sekali, aku ingin mempercepat perjalanan dan berharap dapat sunrise disana”

Pendaki lain menambahkan,” Iya mas, kemarin aku berangkat dari sana jam 1.30 dini hari sudah sampai puncak pukul 5 pagi, dapat sunrise deh”

Aku,” Yaya, thanks ya informasinya, aku akan camp disana”

Pendaki lain berkata,” Iya mas, semangat ya!”

Istirahat, makan siang, dan sholat dhuhur di kalimati. Tanpa banyak basa basi, matras aku gelar, dan popmie aku masak. Semua serba cepat. 1 jam saja ishoma. Selanjutnya perjalanan gila dimulai. Tanjakan tiada henti. Tak tanggung tanggung semua diatas 40 derajat. Tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Aku berjalan dalam sepi hutan pinus dan cemara. Sering kali aku temui pelataran bunga edelweis menyerupai taman jurug kota solo. Indah sekali. Bunga bermekaran di tatanan yang tak teratur. Sayangnya medan yang dilalui tak berpihak padaku. Pasir berabu. Material mirip aspal. Kerikil besar kecil tak homogen. Kadang juga longsor. Tak enak sama sekali untuk dilalui kaki. Maju 3 langkah mundur satu lankah. Debu berterbangan menyesakkan dada. Lengkap sudah penderitaan ini. Belum lagi 2 tanjakan mengerikan siap menghadang. Aku tak kuat lagi.

Di sela sela pohon pinus tanganku mulai gemetar. Aku mulai kehabisan tenaga. Tanganku melambai lambai memegang erat ranting pohon senantiasa berharap agar badanku bisa tertarik maju. Memang kakiku perlu bantuan sepertinya. Debu berterbangan ini cukup menyulitkan pendakian menuju camping site target hari ini. Aku duduk di pinggiran jurang. Ku lihat puncak semeru sudah dekat. Batas vegetasi juga sudah terpampang jelas. Itukah yang akan aku daki nanti malam. Aku masih linglung tak percaya. Se-ekstrim dan se-dasyat inikah?

Dalam lelah terdengar langkah kaki pendaki lain. Langkahnya panjang dan cepat. Srok srok srok. Bunyi sepatu bergesekan dengan material bebatuan yang labil. Dari kejauhan aku lihat ke bawah. Terlihat juga batang hidungnya. Mancung dengan gaya light pack. Gayaanya nyentrik. Sepatu trekking, celana pendek outdoor abu abu, kaos oblong warna hijau, dan tas carrier sekitar 40 liter. Aku suka gayanya. Begitu sederhana untuk seorang turis. Dia berasal dari prancis. Mendaki dengan jam dan waktu yang sama tetapi start pendakian yang berbeda. Dia mampu berjalan 5 jam saja untuk jarak tempuh 23 Km dari ranu pani ke arcopodo. Sedangkan aku 5 jam juga untuk jarak tempuh 15 Km dari ranu kumbolo menuju arcopodo. Tercengang ku melihat stamina orang luar negeri yang negitu luar biasa ini.

Aku berdiri melihat turis yang bergerak cepat. Aku berada di belakangnya seraya ingin mengikuti jejak langkah kakinya. Tapi semakin lama semakin jauh. Makan apa sih para turis ini?

Berada di pinggir jalan arah puncak, turis istirahat. Aku mendekatinya sambil basa basi. Eh ternyata dia mau istirahat disini di tengah jalan menuju arcopodo. Aku ajak naik sedikit untuk menemukan lahan datar yang lebih lebar. Dia tak mau. Rupanya dia sudah kelelahan. Turis tersebut bersama istrinya. Ya aku pamitan saja untuk melanjutkan ke atas. Dia tetap kekeh dengan pendiriannya untuk mendirikan tenda disini.

Cobaan berat dimulai lagi. Udara di arcopodo relatif lebih hangat daripada ranu kumbolo. Tapi jangan salah. Sholat di sini lebih sulit daripada disana. Disini tak ada air. Tayamum pun terasa berat. Badan kotor ternodai oleh debu yang pekat selama perjalanan. Pakaian pun klumus klumus (red: kotor sekali). Sulit tapi harus dijalani sepenuh hati.

Aku pun mengisahkan cobaan berat ini tak ada apa apanya daripada cobaan berat kita selama 6 hari yang lalu, apalagi dengan cobaan berat orang lain dapatkan. Aku bercerita pada temanku,

”Masih ingatkah kau bagaimana rasanya menjadi musafir yang dikata gila oleh orang lain ketika di Nongkojajar kemarin? Tampilan boleh saja seperti gila tapi tekad mencapai tujuan tak boleh luntur hanya karena cemoohan orang yang tak mengerti apa yang kita pikirkan, buktinya kita kuat hingga pencapaian detik ini.

Masih ingatkah kau bagaimaa rasa dikata orang tak kuat mengayuh sepeda, kau dikata kebanyakan makan oleh orang yang tak tahu kondisimu sebenarnya. Tekadlah, usahalah, dan doalah yang membuktikan kau bisa sampai pencapaian detik ini.

Masih ingatkah kau tatkala diikuti oleh anak kecil, dilihat orang banyak, dikata turis di tanjakan selepas pasar nongkojajar dan di padang pasir kala itu. bagaimana perasaanmu. Hancur kah? Tentu iya, tapi kau tak pantang menyerah. Kau tetap kekeh pada pendirianmu.

Masih ingatkah kau tentang semua penderitaan, cercaan, rasa hormat, harga diri yang terinjak injak selama perjalanan ini.

Belum lagi cerita tentang penderitaan orang lain yang jauh lebih kejam. Jauh lebih beresiko dari perjalanan kita kali ini. Cobalah tengok, porter yang membawakan barang para pendaki setiap hari hanya untuk segopek uang kecil untuk menyambung hidup mereka, para penjual makanan yang rela berangkat sebelum ayam berkokok dan mendaki untuk menjajakan makanan bagi para pendaki. Mereka tak bisa hidup tanpa menderita terlebih dahulu. Mereka akan kelaparan ketika barang dan jasa yang mereka tawarkan tidak laku dijual. Sedang kita yang punya perbekalan banyak, mewah, bisa makan meskipun tak menderita terlebih dahulu saja mau menyerah dengan cobaan seperti itu. Boleh lah aku bilang kau adalah manusia terhina jika kau patah arang dalam hidupmu?

Kisah penyemangat itu selalu aku dengungkan sebelum kami tidur malam ini. Sambil aku memasak makanan dan minuman aku semangati temanku. Aku juga rencanakan semuanya untuk keperluan dini hari nanti. Jam, makan, minum, logistik, dan peralatan yang harus dibawa. Ba’da maghrib aku terlelap dalam kelelahan jasmani.

Bersambung…

Advertisements

One thought on “Cobaan Besar dalam Perjalanan Musafir

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s