Longest Day

Last Day, Day 8

00.01 Am. 12 Agustus 2014, waktu tak terasa sudah sedikit terlambat. Sudah banyak pendaki mencuri start dari bawah sana, pos kalimati. Sepertinya mereka berangkat lebih awal untuk menghindari macet di summit attack. Aku bersiap diri dalam keterburu-buruan. Aku khawatir tak mendapatkan sunrise.

”Mereka boleh lebih dahulu berjalan tapi tenaga mereka akan terkuras oleh 2 tanjakan gila yang telah ku lewati kemarin” Aku menguatkan diriku sendiri. Motivasi inilah yang menggugah hati.

DSCN0873
Mengisi perut dengan martabak

Tetangga sebelah sudah siap dengan segala sesuatunya. Mereka tidak mengisi perut mereka dulu. Mereka hanya minum energen. Persiapan mereka cepat meskipun bangun lebih telat dariku. Ini membuatku tergopoh gopoh. Aku harus masak nasi, martabak, sayur, agar agar, dan air gula untuk kebutuhan summit attack. Benar benar ingin nangis aku kala itu. Aku dikejar waktu. Pikiranku kalut.

1 am. Aku sudah siap. Kita berdoa bersama dengan tetangga baruku yang mendirikan tenda tepat disebelah tendaku. Mereka berasal dari Surabaya, juga belum pernah mendaki Mahameru sebelumnya. Perkenalan sekaligus perbincangan di hangatnya api unggun yang mereka buat membuat kita seperti tim yang solid. Sayangnya tak berjalan lama, aku dan temanku meninggalkan mereka karena aku haus akan sunrise. Aku memisahkan diri dari rombongan dan terus melaju keatas mengejar sunrise di 3676 mdpl.

Batas vegetasi telah terlewati dengan cepat. Jarak tenda dengan batas vegetasi tak terlalu jauh memang. Kini medan semakin berat. Tanjakan diatas 45 derajat tegak berdiri megah dihadapan tubuh mungil ini. Subhanallah, Maha Besar Allah yang menciptakan gunung gagah berdiri sebagai pasak bumi seperti ini.

Medan berpasir. Kerikil besar. Batu yang labil mmudah longsor. Sering kali teriakan batu dari pendaki lain terdengar dari atas. Berpegang pada batu atau pasir di kanan dan kiriku sangat rawan patah dan longsor. Aku tak berani mencobanya. Yang aku lakukan dengan medan seperti ini adalah terus berjalan dengan kaki dan tangan dibantu dengan botol di kanan tanganku. Kerja headlamp tak terlalu berat malam ini. Sinar rembulan menerangi jalanku menuju puncak. Alhamdulillah.

Setiap perjalananku selalu mendapati bulan purnama sebagai tolak ukur perjalananku malam hari. Aku menjadi saksi perjalanan bulan dari setengah hingga supermoon seperti ini.

Semangat aku kobarkan. Setiap langkah aku kuatkan kakiku. Nafas aku pusatkan pada kaki. Semangat yang aku kobarkan tak seiring dengan tanjakan yang ada. 1.5 meter jarak terjauhnya. Jarak tega sumbu y sekitar 900 meter. Tak bisa ku bayangkan. Semakin keatas tanjakan semakin tak karuan menukiknya. Semangatku pun ditelan oleh ganasnya alam ini.

Jam tangan terus aku lihat. Masih 2 jam perjalanan. Tapi tubuh sudah meringkih tak kuat. Aku tenggelam dalam lautan kenyamanan di lereng tandus semeru. Dulu disini terdapat cemara tunggal. Satu satunya cemara yang dapat hidup di lereng tandus semeru setelah batas vegetasi. Cemoro ini juga dijadian patokan untuk turun dari atas yang sering salah jalur karena disorientasi medan. Aku tidur sejenak. Melepas lelah. Dingin tak tertahankan menyerbu tangan yang tak memakai full sarung tangan. Aku tahu aku tak boleh berlama lama istirahat. Aku lebih baik jalan terus meskipun jalan pelan agar tidak terjadi hipotermia. Tubuh akan kedinginan bila tak melakukan kerja. Katanya seperti itu.

Aku merasa perjalanan ini tak ada habisnya. Sejauh mata memandang, sejauh itulah mahameru menjauh dariku. Perasaan itu yang menyurutkan semangatku tiap langkah kaki. 1 jam berlalu lepas dari jam 3 pagi. Aku masih tetap saja belum sampai di puncak. Tinggal satu jam lagi targetku sampai di puncak. Lepas dari itu aku gagal mendapatkan sunrise. Terus aku melangkah dengan langkah sempoyongan khas orang kehabisan energi.

Batuan cadas mulai terlihat. Ukiran batu indah di sisi kanan dan kiri terlewati. Pintu masuk mahameru. Ya itulah pintu masuknya. Mirip gua tanpa atap. Batuan kerikil sudah jarang. Dominasinya adalah batuan besar sekepalan tangan. Aku sudah tak melihat lagi pucuk gunung. Seperti dataran saja. Aku meyakinkan diri, inilah pintu mahameru itu.

Alhamdulillah aku sampai di puncak tertinggi tanah jawa. Horeeee.. aku bersorak kegirangan. Tanganku ku kepalkan bukti tekadku yang terus membara. Meskipun demikian aku tak boleh berbangga diri. La haula wala kuwwata illabillah. Tak ada daya selain dari Allah. Maka jangan sekali kali sombong.

Aku mendengar adzan di tengah puncak mahameru. Rupanya anak pesantreen tadzabur alam yang menyuarakan adzan tersebut. Aku menghela nafas panjang sambil menikmati sekilas horison garis awan di ufuk timur yang berwarna merah kekuningan. Lurus hingga tak mengenal batas. Sungguh tak bisa digambarkan oleh kata kata. Maha Besar Allah yang menciptakan.

DSCN0874
Sunrise di puncak tertinggi pulau Jawa

Setelah agak lama menikmati sunrise yang masih malu malu dibalik gunung argopuro di timur sana, aku melaksanakan tugasku sebagai umat islam. Sholat shubuh di atap tertinggi pulau jawa.

DSCN0887
Aku dan kawah Jonggring Saloko

Usai sholat aku berkeliling di sekitar puncak mahameru. Inikah yang aku lihat setiap pagi dari rumahku. Inikah yang meletup letup dari kejauhan setiap pagi. Inikah rasanya ada diatas gunung yang setiap pagi aku lihat dari rumahku. Lumajang. Oh aku tak percaya bisa mencapai puncak gunung ini. Impian, harapan, keinginan, dan ambisi bercampur menjadi satu dalam asa yang tak pernah padam ini. Aku bersyukur bisa merasakan tanah kering Semeru yang terlihat gagah di barat kampung halamanku.

DSCN0879
Bayangan Gunung Semeru dan lautan awan

Tak terlalu lama menghabiskan waktu disana. Aku segera turun. Berasa hambar puncak tertinggi itu. Mungkin aku terlalu sombong atau idealis sebagai orang yang amat mencintai perjalanan bukan tujuan dari perjalanan.

Banyak orang pergi keluar negeri untuk mengunjungi tempat indah diluar sana seperti Paris dengan menara eifelnya, Jerman dengan tembok berlinnya, Belanda dengan kincir dan bunganya, Turki dengan Hagia Sophianya, dan lain lain. Banyak orang pergi ke pelosok terdalam negeri Indonesia seperti Raja ampat, TL Bunaken, Pulau Derawan, Bangka Belitung, Gili Trawangan, dan lain sebagainya untuk menikmati keindahan alam di dalamnya. Banyak orang mengeksplor keindahan tersembunyi dari negeri yang sulit di jamah manusia. Tapi tak banyak orang yang sepertiku, yang berkunjung pada tempat tempat biasa, banyak dikunjungi orang, sulit dijamah manusia, dan berbagai macam jenis tempat lain tanpa mementingkan tujuan itu, lebih suka berlama lama di jalan, menikmati dinamika perjalanan yang ada, kejadian, suasana, bercengkrama dengan orang, hewan, tumbuhan dan makhluk lain. Itulah indahnya perjalanan bagiku.

Turun dari Mahameru sangatlah menyenangkan. Tak ada es, sky bisa dilakukan disini. Tumpukan kaki pada pasir dan meluncurlah kamu ke bawah layaknya bermain sky di es. Menyenangkan. Kerikil yang semula menjadi kawan menakutkan sekarrang menjadi kawan yang menyenangkan. Tak butuh waktu lama. 1 jam turun dengan kecepatan rata rata 1 km/jam sangatlah cepat. Turunan ini berbanding terbalik dari tanjakan yang harus dilalui di awal.

Hari ini perjalanan begitu panjang. Aku tak menyia nyiakann waktu yang ada. Targetku sampai rumah hari ini juga. Pukul 8 aku go out dari camping ground arcopodo untuk turun ke ranu pani. Target 7 jam turun harus tercapai. Sebelum petang tiba aku harus keluar dari Km 30 kawasan hutan lindung TN BTS (Taman Nasional Bromo Tengger Semeru).

Lari lari lari. Turun dari arcopodo tak bisa berlari. Kakiku terbiasa berseluncur dari puncak tadi. Ada yang mengganjal rasanya. Kaki harus diangkat. Tak boleh diseret lagi. Tanjakannya menyiksa, turunanpun menyiksa. Turunan di atas elevasi 20 sangat menyiksaku. 45 menit sudah sampai di kalimati. Cepat memang. Tapi tidak untuk perjalanan selanjutnya. Pasalnnya perjalanan turun dari kalimati menuju ranu kumbolo masih menyisakan tanjakan.

Ingatlah, jangan bersenang hati tatkala ketika mendaki gunung mendapati jalan turunan karena ketika kau turun gunung akan kau dapati itu bukan sebagai turunan lagi, sebaliknya sebagai tanjakan.

Perjalanan turun kalimati-ranu kumbolo sangat melelahkan dan membosankan. Panas terik matahari membakar kulit. Stamina sudah menurun derastis akibat summit attack dini hari tadi. Logistik sudah menipis. Udara tak segar bercampur debu yang berterbangan. Pekat sekali. Rasanya hidungmu ditusuk tusuk dan tertempel batu di dalamnya. Tidak enak sama sekali. Huh. Apalagi sesampainya di oro oro ombo tanjakan cinta menanti, tak ada pepohonan yang rimbun disana, yang ada hanya sabana. Selepas dari balik bukit keluar dari cemoro kandang, yang ada hanyalah penderitaan semata. Lavender ungu tak mengobati penderitaanmu kali ini. Lavender pun enggan menghiburmu, dia saja kekeringan, daunnya pucat, bunganya keriput. Ditambah jebakan tai manusia yang berkeliaran di sepanjang jalur menyisakan aroma busuk yang mengerikan. Ingin cepat aku sudahi penderitaan ini.

Ranu kumbolo sudah di depan mata. Aku tepat berada di puncak tanjakan cinta. Aku lagi kebawah membawa debu berterbangan yang menyesakkan itu. Aku tak peduli. Yang aku cari air, sejuk, dan ketenangan di ranu kumbolo. Ishoma sejenak dan lanjut ke ranu pani.

DSCN0889
Tralala Trilili Bonus foto ketika turun

Perjalanan ke ranu pani diliputi keriangan. Jalanan relatif datar dengan kadar tanjakan dan turunan tak terlalu miring sangat menyenngkan. Berlari lari sambil berjoget. Kadang aku juga bernyanyi dengan lirik yang tak jelas. Semak semakpun tertawa menyambut kekonyolanku. Saking riangnnya aku tak memperhatikan yang lain selain rumah rumah rumah dan keluarga. Aku sudah sangat rindu pulang kerumah. Sudah 8 hari ini aku berada dalam ketidakjelasan hidup. Terkatung katung di jalan tak tahu arah tujuan. Hidup bergantung sana dan sini. Penderitaan berkepanjangan. Yang ada dipikiranku hanya rumah dan ibu bapak.

Hidup sendiri, jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga untuk waktu yang cukup lama akan mengajarkan banyak hal, tetapi ada yang paling penting dari hal tersebut, yaitu kamu akan tahu betapa berharganya keluargamu di rumah

Aku terus berlari dalam ambisi. 2.5 jam aku habiskan waktuku untuk mengejar Ranu Pani. Sempat khawatir dengan adanya pos penjagaan di pintu masuk pendakian. Aku meyakinkan diri yang mulai mengeluarkan keringat dingin tanda ketakutan. Seperti yang aku ceritakan diawal, aku mendaki tanpa ijin dan aku juga pernah menulis dalam materai 6000 bahwa aku tak akan mengulangi lagi. Takut di penjara.

Alhamdulillah pos pendakian aku lewati dengan santai. Tantangan selanjutnya memastikan sepeda onthelku masih ada di sungai tempat aku parkir kemarin. Sempat dag dig dug dor juga. Takut bagaimana nasib diri ketika sepeda diambil orang. Pulang 30 Km jalan melewati hutan dengan jalan rusak. Mimpi buruk.

Alhamdulillah sepeda masih terjaga beserta segala sesuatunya. Apelku juga masih ada. Oleh oleh untuk keluarga di rumah. Tantangan berikutnnya adalah bersepeda di jalanan rusak tengah hutan sejauh 30 Km selama 1.5 jam dari sekarang. Lebih dari itu aku harus mengendarai sepedaku di hutan pada malam hari. Hari semakin sore. Jam menunjukkan pukul 15.30. Aku takut berada dalam hutan ini. Cerita tentang makhluk halus, maling, ban meletus, dan kemalaman d jalan menghantuiku sepanjang kayuhan jalan.

Untung, sekali lagi beruntung. Aku bertemu dengan rombongan besar pendaki dari Jember yang berbaik hati padaku memberikan sisa logistik mereka untukku. Di pertengahan jalan kami berbincang bincang. Mereka rupanya rombongan besar yang sedang saling menunggu tim berkumpul di pertengahan jalan. Kala itu kami berada di ireng ireng. Sungai jernih deras si tengah hutan hujan. Udara lembab dan dingin. Airnya sangat jernih dan dingin. Disana kesan mistis sangat kental. Konon katanya ada penunggu yang mengamuk ketika ada manusia berbuat kerusakan disana. Huh takut.

Setelah menemui peradaban sesama manusia. Aku sedikit tenang. Semangatku berkobar lagi. Aku seperti minum darah segar. Sholat asyar selesai dan packing barangpun selesai. Aku segera berangkat menyusul teman teman rombongan yang mengendarai sepeda. Mereka ternyata menungguku di warung remang remang pintu masuk hutan. Alhamdulillah mereka setia menungguku. Setelah sempat terjadi insiden tasku jebol dijalan akibat remku blong. Sepedaku meluncur tak beraturan pada jalanan batu yang berlumpur sangat licin.

Hari sudah gelap. Malam mulai mencekam. Gerimis turun. Kabut menghalangi lajuku dalam waktu. Aku harus mencari barangku yang jatuh di kegelapan malam. Aku sangat gemetaran akibat kedinginan dan ketakutan yang meradang. Hutan mahoni ini melambai lambai dan bersuara ingin memanggilku menemani setiap harinya. Uh aku takut dan tak mau hidup disini malam hari. Ku percepat misi pencarianku. Dan segera aku hampiri mereka di warung.

Peradaban manusia semakin dekat. Hatiku semakin lega. Meskipun remku blong aku tetap melanjutkan perjalanan dengan turunan yang ekstrim. Aku turun via jalur burno senduro dan kemudian pulang kerumah.

Di desa terdekat dengan hutan, aku disambut hangat oleh warga sekitar. Semua orang menawariku utuk tinggal dirumahnya. Ada yang sekedar iseng minum kopi. Istirahat sejenak untuk esok hari pulang ke rumah. Tapi niatku bulat untuk segera pulang kala itu. Sebagai tanda hormat, aku silaturahmi dengan mereka. Aku minum teh hangat, dan suguhan makanan mereka. Meskipun malam begitu dingin disana, kehangatan sambutan mereka sudah cukup menjadi selimutku malam ini.

Jam 8 malam aku lepas dari Burno. Ku sampaikan salamku pada penduduk sekitar, terutama pada pak Supriono yang memberikan tempat terhangat di perjalananku kali ini. Sopan santun dan ramah tamah mereka sangat aku acungi jempol.

Gas gas gas, aku pacu sepedaku lebih cepat lagi. Kini tak ada lagi turunan menyiksa. Sandalku sudah hampir jebol dibuatnya. Turunan di daerah senduro sudah habis.

DSCN0895
Turun dari Senduro malam itu

Kini perjuangan akhir hidupku di gemerlap kotaku Lumajang dimulai. 10 Km harus ku lalui untuk sampai di pelosok selatan Kabupaten ini. Terus aku kayuh dengan bayang bayang ibuku dan ayahku menunggu dirumah.

Assalamualaikum, ibu,

Anakmu sudah pulang dari perjalanan hidup yang panjang.

The end

Advertisements

5 thoughts on “Longest Day

  1. Selalu kepengen ngalamin liat matahari terbit dari puncak gunung, tp apa daya saya ini pemalas olahraga jadi ga bakal kuat nanjak heheheh..

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s