Mengejar Mimpi hingga ke Malang

Day 1

Perjalanan hidupku di dunia mimpi akan dimulai. Beberapa hari terakhir, aku susah tidur. Otakku selalu berputar putar pada persiapan demi persiapan. Aku tahu persiapan matanglah yang bisa mengantarkanku pada hasil yang memuaskan. Ku kabarkan pada Allah bahwa aku butuh keselamatan, kelancaran selama perjalanan, dan petunjuk agar tak sampai lupa pada hakikat perjalanan. Ku minta doa restu orang tua. Ku corat coret lembar kertas putih ini. Ku tuliskan peta perjalanan, jam demi jam, range perjalanan, pemberhentian, waktu sholat, dan istirahat.

Itinerary perjalanan sudah siap.

peta
Peta dan Perencanaan

Langkah kaki mulai gugup menyambut mentari pagi Hari Selasa, 5 Agustus 2014. Bangun pagi tuk mandi yang aku rasa ini akan menjadi mandi terakhirku untuk perjalanan selama delapan hari kedepan. ’Tok tok tok’, temanku sudah datang. Aku benar benar kelagapan pagi itu. Bumbu masak dan logistik yang ibu siapkan untukku belum sepenuhnya lengkap.

”Oh aku belum siap, belum”, dalam hatiku.

Temanku harus menunggu dan akupun kebingungan menyiapkan beberapa tool yang belum lengkap.

Bismillah, semuanya siap. Aku cium tangan orang tuaku, aku beri salam pada mereka yang mengijinkanku. Berat rasanya meninggalkan rumah ini. Tetapi apa daya, ini adalah pilihan.

”Yeah, ready? Let’s go, jangan lupa berdoa!” sahutku dengan keras.

Sepeda ku kayuh bersama dzikir sebagai pegingatku pada Sang Pemilik hidup.

Tak ada alasan untuk tidak mengingat Allah.

Perjalanan ini harusnya bisa mendekatkanku pada kalam-Nya.

Jalan datar Tempeh-Pasirian sudah membuat nafas ngos-ngosan. Ini dikarenakan tasku yang memang kecil tapi beratnya melebihi volumenya. Perjalanan masih panjang, kaki masih belum terbiasa meskipun sebelumnya aku sudah berlatih terlebih dahulu. Adaptasiku mulai terasa setelah jalan panjang menanjak candipuro. Terlihat dari jauh Gunung Semeru dan barisan bukit menghadang jauh nan disana. Ku tancapkan anganku di puncak tertingginya. Tepat di letupan asap putih mengepul itu.

DSCN0201
Gunung Semeru dan barisan bukit menghadang perjalanan

Trek selanjutnya jauh lebih ekstrim lagi. 3 Km/jam sudah cukup baik untuk melintasi jalanan berkelok lereng bukit menuju piket nol, titik nol tertinggi di bagian barat daya Lumajang. Sarapan pagi di Gladak perak, pertengahan jalan Km 2 piket nol, dengan suguhan pesona tebing lembah dan hamparan horison wilayah Lumajang sungguh memberi sensasi tersendiri. Kebun palawija, aliran lahar, tebing menjulang, pantai yang diselimuti kabut pagi tersaji sebagai pelengkap sarapan pagiku. Hangat matahari menggugah semangat tuk perjalanan yang semakin menantang.

DSCN0213
Sisi lain Gladak Perak
DSCN0272
Pos Pengamanan Piket Nol

Perjalananku turun dari piket nol mengantarkanku pada kecamatan paling barat Lumajang yang berbatasan langsung dengan Malang, Kecamatan Pronojiwo. Aku berhenti sejenak mengatur nafas dan beribadah.

Seberapapun sibuknya, sempatkanlah sholat, mendirikan tiang agama, dan mengingat Sang Pengatur Hidup.

1 jam di pertengahan hari terlewatkan di masjid dekat jembatan Pronojiwo. Tak ingin membuang banyak waktu yang sedikit terlambat dari jadwal akibat tali tasku sedikit bermasalah, aku melanjutkan perjalanan menuju Ampelgading. Disini aku merengek, tanjakan panjang dengan elevasi tinggi. Aku hampir menyerah. Asaku mulai luntur. Ayunan kaki semakin berat. Nafasku tak teratur. Sungguh aku ingin pulang saja.

Dalam kondisi low motivation seperti ini, aku putar ulang mimpiku dulu. Mimpi tentang gemerlap Kota Malang. Iming-iming untuk segera sampai sana. Dahulu aku sangat ingin pergi ke Alun Alun Kota Malang dengan mengendarai sepedaku. Sebuah pencapaian yang tinggi bagiku ketika aku bisa menginjakkan ban sepedaku disana. Kubacakan kembali catatan hidup temanku tentang pintu selatan Kota Malang, Daerah Bulu Lawang. Dia akan teringat sosok cewek yang dia sukai dulu dari SMP hingga SMA. Cerita cinta bertepuk sebelah tangan.

Deretan bukit sepertinya terus menyambung. Selesai melewati lereng bukit ini, bukit sebelahnya siap menanti. Seperti tak ada habisnya.

DSCN0262
Trek berkelok lereng bukit

Perut krucuk-krucuk menandakan waktu makan siang. Bakso dengan tambahan ketupat sisa hari raya mengisi perut kosong. Target pukul 20.30 mencapai Turen ternyata telampaui melebihi batas. Sebelum isya’ aku sudah berada di kota sibuk, sekitaran Malang selatan. Ramai, riuk, kikuk, macet di jalanan antarpropinsi ini karena pasar tumpahnya. ’Akhirnya sampai Turen juga’, batinku. Ini berarti jalan sudah tak lagi mencekam seperti naik turun gunung berkelok dalam gelap malam ataupun tanjakan ganas tebing jurang disamping kiri dan kanan.

Terang cahaya lampu dan hidupnya masyarakat malam Turen membakar semangatku tuk segera sampai di kota impian, Malang. Aku putuskan melaju sekejap mata. Jalan raya datar datar dan terus datar. Tak heran 30 Km, hanya aku habiskan 1.5 jam saja. Aku seperti menyusuri lorong waktu saja.

Kota lama Malang menyambutku dalam kesunyi-senyapan malam lengkap beserta dingin khas kota ini. Aku duduk termenung dalam kegundahan hati.

Hatiku berbisik,’ Mau kemana kau malam ini, tidur tak tau dimana?”.

Iya, aku lupa merencannakannya. Aku terkatung katung dijalan tanpa kehidupan ini. Hidup terasa keras. Kota ini rupanya tak ingin bersahabat denganku. Dibalut kekalutan tak mendapati tempat tidur, badan sudah meronta ronta kecapaian. Kota telah sepi aktivitas. Kota ini mati. Tak ada aktivitas disini. Pedagang kaki lima sudah gulung tenda berbenah untuk segera pulang masuk rumah.

Aku putuskan tuk tidur di alun alun kota saja. Foto disana pun tak berasa banyak arti. Padahal tempat itu, dulu aku impikan. Kini sudah tak lagi. aku dibalut kegelisahan ketika malam harus tidur diruang terbuka, barang bawaan diluar yang tentu tak aman, orang baru yang tak ku kenal serta omongan yang tak tentu bisa pegang, teman senasib, dan gembel jalanan lain yang sedang menghidupi diri oleh berharganya sampah.

DSCN0287
Aku dan Alun Alun Kota Malang

Aku mencoba menenangkan diri dan memperhalus kata. Tapi orang lain tak menggubrisnya. Sudah 10 orang lebih menghampiriku tuk sekedar basa basi tentang pengalaman dan perjalananku kali ini. Temanku sudah tidur. Aku masih terjaga dalam kesunyi senyapan malam. Seseorang datang tak biasa padaku. Tersenyum. Berlagak kenal. Dan nada sedikit menggoda.

”Ah, rupanya benar apa yang dikatakan orang sebelumnya, banyak orang homo disini”, aku mulai su’udzon.

Aku ketakutan. Salah seorang gembel jalanan menyarankanku untuk pergi ke pos polisi saja.

”Lebih aman,” katanya.

Aku bangunkan temanku dan bergegas pergi ke pos polisi terdekat. Negosiasi ketat terjadi dan menutup hari pertamaku bersama ketakutan disana, di Pos Polisi Lalu Lintas perempatan Alun-Alun Kota Malang.

Bersambung…

Advertisements

One thought on “Mengejar Mimpi hingga ke Malang

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s