Prediksi yang Salah

Day 3

Perlengkapan sudah fullset. Semua sudah ter-packing dalam carrier. Mentari pagi 7 Agustus 2014 menyapaku di SPBU dekat terminal Arjosari, Malang. Kaki sudah tak perlu diperintah lagi tuk mengayuh. Kaki ini mulai terbiasa dengan pedal yang bergerigi lancip sepeda buntutku. Tulang punggungku juga tak lagi meronta kesakitan akibat beban berat tas karungku. Entahlah adaptasi ini berjalan lebih cepat dari perkiraanku.

DSCN0347
Seusai Bermalam di SPBU

Tak seperti biasanya, kayuhan sepedaku hari ini berada pada puncak gear terbesar. Benar saja, trek hari ini didominasi turunan di awal. Berbeda dengan hari sebelumnya yang didominasi oleh tanjakan demi tanjakan. Jalanan turun sepanjang 40 Km mewarnai perjalananku dari pusat kota menuju ke piggiran kabupaten tetangga Malang, Purwodadi Kabupaten Pasuruan. Disanalah tempat pemberhentianku selanjutnya.

Selama perjalanan, aku sangat merasakan siapa diri ini sebenarnya. Dikala yang lain sibuk bekerja. Siswa sibuk berangkat ke sekolah. Supir angkot sibuk dengan penumpangnya. Pedagang belepotan di pasar. Pegawai negeri melaksanakan tugas suci demi negara. Aku dapati diri ini berjalan terkatung katung di jalan. Benarkah aku sedang ada disini? Aku merenungi diri ini yang tak tahu tujuan hidup. Aku malu pada semua orang.

Namun, aku bertekad untuk tidak mudah menyerah dalam mengarungi cobaan berat perjalanan ini. Cukuplah mengingat Allah dan ambil hikmah dari setiap momen di jalan yang menjadi peganganku saat itu. entah orang bicara apa pada tampilanku. Aku tak begitu peduli. Aku tetap mengayuh cepat sepedaku.

DSCN0359
Ditengah hiruk pikuk Kota Lawang

Awalnya, aku berencana sarapan pagi di Lawang karena berdasarkan survei hari sebelumnya ketika aku naik bus menuju ke arah Surabaya, aku melihat banyak sekali kuliner khas Malang yang di jajakan disana. Sepedaku melaju kencang saja, seperti tak ingin menyia-nyiakan waktu. Terus melaju dalam waktu meskipun angin bergesek melewati aerodinamis objek sepedaku. Melewati batas kota Lawang yang ramai pagi itu.

DSCN0366
Jalan layang pertanda masuk Kabupaten Malang

Pertigaan Malang-Bromo-Purwodadi sudah di depan mata. Sarapanku berada disini. Sepedaku terhenti oleh tanjakan awal sebelum masuk nongkojajar, dimana pemberhentianku selanjutnnya berada. Sarapan pagi ini sangat istimewa. Hatiku bergemetar. Jantung berdegub kencang. Aku teringat masa laluku. Makanan ini sungguh menyuguhkan bayangan indah masa lalu. Nasi jagung, krawu daun singkong dan pepaya, serta lauk tempe dan rempeyek ikan asin adalah komposisinya. Jaman sudah berganti tapi masakan ini tetap menjadi nomor satu. Mengalahkan rasa burger, menyingkirkan pizza, dan menghilangkan bayang bayang fast food lain. Tak ada dua.

DSCN0367
Sarapan menu pedesaan

Titik balik di mulai dari sini. Gear yang semula berada pada top speed, 3 depan 7 belakang, sontak berganti menjadi 1 depan plus super low gear belakang tuk hadapi tanjakan gila di depan mata. Terpampang jelas dipinggir warung, dimana aku sarapan, Nongkojajar 20 Km. Ini berarti tanjakan tak akan berhenti hingga 0 Km Nongkojajar. Sungguh menguras tenaga. Keringat dingin yang semula tak mau keluar di medan turunan, kini, meluber deras sebesar kacang di wajahku. Tekadku tak mati begitu saja. Aku menargetkan sholat dhuhur di Nongkojajar.

DSCN0370
Tanjakan rendah tapi memanjang dan berkelok ala perbukitan

Nongkojajar adalah rancangan acuan perjalanan selanjutnya. Ketika aku sukses dengan target tersebut maka dipastikan aku bisa melanjutkan perjalanan ke penanjakan bromo tepat waktu. Nongkojajar juga merupakan pemberhentian perdanaku. Disana terdapat pasar yang sangat besar. Pasarnya selalu ramai oleh kegiatan jual beli skala besar. Hasil kebun, hasil sawah, hasil tani para penduduk daerah pegunungan di jajakan disana. Dari yang tradisional hingga modern. Semua tumpah ruah dalam wilayah yang tak begitu luas. Sehingga suasana pasar semakin mengena karenanya.

DSCN0408
Nongkojajar

Yeah aku sampai di Nongkojajar. Meskipun terlambat 30 menit dari perencanaan, aku sangat senang. Ini berarti aku akan sampai di penanjakan bromo, target place yang selanjutnya, hari ini juga. Aku makan siang dengan segera, sholat, kemudian dilanjutkan dengan membeli logistik untuk keperluan kehidupan di alam rimba. Daftar logistik telah dibagi, kami berpencar.

Beberapa logistik sudah siap, sisanya memang tidak ada. Aku putuskan untuk maju saja. Aku sempat sedikit ingin menyerah dan berperasaan tak enak karena gas isi ulang untuk komporku tidak ada disana. Huh. Gila.. di pasar sebesar ini tak ada gas isi ulang. Parah.

Tak jauh dari pasar, aku lihat indomaret. Aku bergumam, ini dia penyelamat. Aku yakin disana ada gas. Alhamdulillah gas sudah siap, tanda perjalanan dilanjutkan.

Apadaya? Tak ada daya sedikitpun yang kita punyai selain daya dari Allah. Lahaula wala kuwwata illa billah. Hanya itu yang bisa aku sebut kala itu. sungguh di luar prediksiku. Taruhlah tanjakan sedikit datar berkelok sekitar 20 derajat saja, super low gearku masih bisa bekerja. Nah selepas dari pasar Nongkojajar bergerak ke arah penanjakan bromo, jalur bukan semakin baik. Tanjakan tegak 45 derajat gagah di depan mata. Sungguh aku tercengang melihatnya.

”Ini lebih heboh dari tanjakan Puncak B29 Argosari Lumajang yang pernah aku jejaki dulu”, pikirku.

Kalau rute ini menyimpan tanjakan seperti ini hingga tempat tujuan nanti, aku akan menyerah sampai disini saja.

Aku menyerah bukan untuk kalah, tetapi untuk menang.

Aku lebih memilih untuk menitipkan barang ke ojek dan sepedaku aku pacu terus hingga penanjakan daripada harus tersiksa dengan tanjakan yang bukan didesain untuk pesepeda ini.

Dingin menerpa. Senja di ufuk barat menyingsingkan jingga di langit. Kabut turun. Gerimis membasahi relung relung tubuh. Rasanya menusuk hingga ke tulang belulang. Aku berhenti mengayuh. Aku tidur beralaskan tanah berpayungkan kabut. Ku tunggu temanku yang memang tak mungkin bisa mengayuh dengan tanjakan seperti ini. Dia tak memakai superlow gear.

Aku bilang,” Kita akan tidur disini dulu, besok kita pikir lagi, kita replan again”.

Temanku sempat ngotot ingin terus melaju dengan sepeda buntutnya. Debat tak terelakkan. Akulah yang menang, karena aku memang leader disini. Dia hanya mengangguk tanda ikut dengan keputusanku.

Kesabaran menunggu hari esok di masjid yang tak jauh dari pasar Nongkojajar membuahkan hasil. Aku bertemu dengan saudara sesama muslim yang iba melihat nasibku seperti ini. Aku minta bantuan pada mereka agar diberi ijin untuk bermalam di masjid tersebut. Takmir masjid menyetujuinya. Jamuan petang itu adalah apel dan teh hangat jumbo.

”Wih orang tengger memang memiliki kultur yang sangat menghormati tamu”, terbesit dalam hatiku.

Berbincang bincang kesana kemari.

Ba’da sholat isya’, beberapa orang menghampiriku. Tanpa basa basi mereka menawarkan tempat bermalam unntukku. Mereka malah berebut untuk bisa menampungku di rumahnya. Aku sampai merasa sungkan sendiri. Bagiku, aku tak bisa menolak penawaran ini karena memang sejatinya aku butuh bantuan mereka.

Tak akan terhina seseorang ketika ia meminta minta bantuan orang lain setelah menggunakan usaha maksimal dari keringatnya sendiri.

Perbincangan malam itu begitu hangat. Aku tak lagi merasakan dinginnya hawa pegunungan yang membuat makhluk hidup apapun menggigil itu. Bukan karena mie goreng hangat sajian malam itu. Bukan pula teh hangat yang disuguhkan. Akan tetapi cara mereka merangkulku, mendekati garis hidupku, dan menyelami dalamnya pengalaman hidup, serta kultur pemaknaan yang sesungguhnya pada kata,’Sesama muslim adalah saudara’, sangatlah kental disana.

Perbincangan telah usai, bukan berarti aku langsung terlelap dalam empuknya kasur milik pak Haji Sholeh itu. Aku harus menyiapkan makan malam. Masalah muncul di rumah kosong yang diperunntukkan untuk kami. Komporku tak bisa menyala. Masalah masalah ini datang tak tepat pada waktunya. Di kala hati sudah mulai tenang karena gas isi ulang kompor sudah siap, kompornya malah rusak. Rasanya hatiku hancur lebur kala itu. aku tak jadi makan malam. Aku harus memperbaiki kompor kecilku ini. Sempat terpikir untuk beli lagi. terpikir untuk membantingnya. Tapi temanku menguatkan,

Bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluar. Bahwa Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan hambanya.

Sedikit demi sedikit mur baut terlepas oleh alat mekanik sederhana yang aku punya. Bukan berarti kompor sudah diperbaiki. Membuka casingnya saja belum selesai. Masalah muncul lagi. Peralatan kami kurang mendukung dibeberapa ring yang terpasang di kompor. Akhirnya malam itu aku menyerah saja. Akan aku lanjutkan besok. Sari roti dan pemutaran ulang jepretan kamera kecilku mengantarkanku pada tidur pulas tanpa makan malam.

DSCN0377
Someday I’ll come
DSCN0390
Pemandangan selama perjalanan
DSCN0404
Sepedaku bersama hamparan bukit yang luas

Bersambung..

Advertisements

3 thoughts on “Prediksi yang Salah

  1. Salam dari Malaysia.. Teruskan usahamu sebagai pelajar. semoga berjaya. Saya berencana bersepeda touring dari Surabaya ke Lombok ikut persisiran pantai lewat Banyuwangi. Info yg diperolehi amat sedikit tentang jalur ini.. khususnya tempat menginap sekitar Situbondo. Mungkin saudara ada info yg sesuai untuk tujuan touring ini . T-kasih

    1. Boleh, saya pernah melintasi jalur yg anda akan lalui, Informasi itu memang sulit didapat. Apalagi tempat menginap. Tapi untuk kondisi jalan baik lah. Kalau ingin tantangan mending via jalur selatan Lumajang-Jember-Banyuwangi-Gilimanuk-Denpasar. Heheh. Makasih sudah mampir. 🙂 Salam kenal Hasan. Wah dari Malaysia mau tour ke Jawa. Keren… Kalau lewat Lumajang mampir rumahku. 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s