Tanjakan demi Tanjakan

Day 4

Alarm berbunnyi. Adzan shubuh berkumandang. Aku terbangun olehnya. Pak Haji Sholeh, sang pemilik rumah, membangunkanku pula. Sholat jama’ah pagi ini tak seramai jama’ah isya tadi malam. Cobaan sholat shubuh disini memang lebih berat dari apapun karena untuk mengambil air wudhu dan keluar rumah malasnya minta ampun. Alhamdulillah berlama-lama hidup dalam kesulitan dan cobaan berat seperti ini membuatku terbiasa dan semakin tegar jikalau nanti ada cobaan cobaan lain di masa mendatang.

Ba’da sholat shubuh, aku masih disibukkan oleh kompor. Aku berkutat pada bagaimana cara membuka ring yang tak ada engkol yang pas untuknya.

Seluruh isi rumah sibuk dengan kegiatan masing masing. Pak sholeh beserta anaknya pergi ke ladang untuk merawat kebun apel mereka. Tanah subur Nongkojajar memang pemasok apel yang sangat berpengaruh di Malang. Ibu ibu tetangga sibuk dengan cucian mereka. Ada yang sibuk menyiapkan sarapan pagi di dapur. Dan aku pun sibuk dengan masalahku sendiri.

Tak terasa matahari 8 Agustus 2014 sudah bersinar terang. Aku sampai tak menyadarinya. Pintu rumah aku tutup rapat karena udara dingin dan angin yang bertiup kencang. Percobaan ke sekian kali masih belum membuahkan hasil. Komporku masih meledak ledak. Aku sudah bisa membuka ring dan membersihkan katup yang tersumbat. Masih saja belum waras sepenuhnya. Malah tambah parah. Komporku terbakar di dalam.

”Ah ini mungkin Cuma butuh adaptasi saja, fidh”, ujar temanku menguatkan.

Ya aku turuti saja. Semoga komporku tak lagi bermasalah di perjalanan nanti. Spirtus aku andalkan untuk menggantikan komporku ketika kejadian yang tak diinginkan terjadi.

Sarapan pagi ini aku manfaatkan betul. Bu Hajjah Sholeh menyiapkan menu masakan ala orang tengger khusus untuk kami. Sungguh nikmat makan pagi hangat di daerah dingin seperti Bromo Tengger ini.

DSCN0428
Let’s rock

Setelah berpamitan, otakku hanya tertuju pada satu hal, yaitu tanjakan demi tanjakan. Medan yang akan ku lalaui nanti sudah ku kenal betul berdasarkan informasi dari perbincangan dengan pak Sholeh dan Ta’mir masjid tadi malam. Dua tanjakan ganas menanti di depan sana. Ditambah tanjakan rata-rata 20 derajat keatas sebagai makanan awal kami. Alhamdulillah tak ada lagi tanjakan tegak layaknnya tiang listrik seperti kemarin. Tanjakan Nongkojajar-Penanjakan bromo didominasi oleh kelokan tajam dan membahayakan. Rambu rambu bel sebelum menikung terdapat di setiap pojok tikungan.

DSCN0454
Tanjakan ganas tipe satu

Aku tak ingin menyerah. Aku pacu sepedaku, berharap segera menemukan dua tanjakan yang dijanjikan itu. Vegetasi perkebunan sudah berganti dengan hutan hujan bertipe hutan hujan seperti halnya hutan hujan tropis di Indonesia lain. Berkabut, dingin, lembab, dan kadar air yang tinggi di tengah pepohoan tinggi nan besar. Hijaunya bukan hijau daun. Hijaunya karena lumut. Hijau kelam. Benar sih mata semakin damai dan sejuk tapi suasanya mencekam melingkupi pikiran, maklum takut terjadi hal yang tak diinginkan.

DSCN0444
Sungai jernih pinggir jalan

Tanjakan pertama setelah sungai yang indah dengan air jernih mengalir diatas bebatuan hasil sendimentasi terlihat tak terlalu menakutkan. Sayangnya, aku salah lihat. Tanjakannya ternyata bukan hanya satu. Lima tanjakan meliuk liuk seperti tangga rumah. Aku geleng geleng. ’Siapa yang membuat jalan ini?’, masih tak percaya. Aku menyiapkan nafas dan mental. Ku giring sepedaku menjauhi garis luar aspal untuk mendapatkan elevaasi tanjakan yang lebih ringan. Ku kayuh pelan tapi pasti. Ku atur nafas yanng mulai tak tentu.

Ku pegang erat stang tanduk sepeda sembari bibir berteriak kencang,”Ayooo…”. Aku pasti bisa.

Berasa bertambah berat. Tanjakan kedua malah lebih berat lagi. liak liuknya mengular hingga 500 meter. Diatas terlihat ramai orang membuat parit pencegah longsor. Aku perccepat langkahku. Dan langsung terkapar di pinggir jalan bersama pacul salah seorang pekerja. Nafasku tak beraturan. Jantung berdegub kencang, sampai menggetarkan sepedaku.

Disemangati oleh para pekerja membuat naluriku utuk segera sampai di penanjakan semakin tinggi.

Aku susah dan sulit di dunia ilusi ini tak lebih berat dibandingkan masalah yanng harus dihadapi di dunia nyata kelak.

DSCN0474
Vegetasi pinus pinusan dan lumut

Aku senang menganggap tripku sebagai dunia ilusi karena memang keberadaannya jauh dari dunia nyata yang lebih kejam. Cobalah tengok beberapa hari kemarin. Hidup keras ala gembel di alun alun kota Malang. Terjangan polusi bagi supir angkot di Singosari. Sikut sana sikut sini ala pedagang pasar di Jantung kota Lawang. Cobaan berat muslim daerah tengger setiap shubuh. Dan para pekerja kuli yang meneteskan keringat mereka hanya untuk segopeh uang receh. Tak ada apanya aku ini dibanding mereka yang hidup digaris keras kehidupan.

DSCN0432
Selamat Tinggal Nongkojajar
DSCN0485
Selamat Datang Ngadirejo

Selamat datang di desa Ngadirejo. Tulisan ini sudah cukup membuat hati bangga meskipun bukan target pemberhentianku selanjutya. Aku berhenti disana untuk waktu yang cukup lama.

DSCN0486
Jum’atan dulu

Hari ini hari jum’at. Hari raya mingguan orang muslim. Aku hormati itu meskipun aku seorang musafir. Tak ada alasan tuk meninggalkan hari istimewa ini. Sholat dhuhur 4 rakaat di hari jum’at diganti dengan khutbah dan 2 rakaat sholat jum’at saja. Tentu fadhilahnya sangat banyak, salah satunya doa yang diijabahi ketika antara dua khutbah. Tak akan kusia-siakan semua ini untuk pemurnian diri sebagai muslim yang memiliki hubungan hablum minnallah dan hablum minnannas. Aku tak hanya beribadah di masjid yang tak terlalu besar ini. Aku sadar diri sebagai musafir yang sudah selayaknya menghormati tuan rumahnya. Alhasil, mereka pun menerima kami dengan baik.

DSCN0490
Menu siang ini

Ba’da sholat jum’at, aku segera masak untuk makan siang. Menu makan hari ini adalah sup perdana ala masakan ibuku. Resepnnya sudah tentu aku dapatkan dari ibuku yang jago masak itu. Sup sederhana ini membuka katup nadi jantung untuk memompa lebih cepat lagi darah. Hangatnya membuat selimut tebal di pori pori kulitku yang semula tembus oleh butiran kabut. Yummi.. masakan sup sosis sapi buatanku sudah jadi. Rasanya nikmat bukan main.

DSCN0514
Senyum anak Tengger
DSCN0494
anak tengger
DSCN0512
Senyum langit Tengger

Perjalanan berikutnya mencapai target desa Gemowo, berjarak 10 Km dari sini. Hutan sudah lagi tak terlihat. Yang ada hanya ladang warga yang kebanyakan merupakan sayuran dataran tinggi seperti sawi, kubis, bawang, dll. Berjalan dan bersepeda di ketinggian seperti ini memberikan kesan mendalam bagiku. Betapa tidak, kabut bertiup kencang dihadapan sepedaku. Tak jarang kabut menyela nyela di sebedaku merasuki ruang kosong sepeda ini.

Tak perlu banyak energi untuk mencapai desa ini. Jarak jauh tapi medan tanjakan tak terlalu tinggi sehingga kecepatan sepeda bisa mencapai 5 Km/jam. Desa gemowo ternyata nama lain dari desa Mororejo. Disana aku santai dulu, berhenti di masjid sekaligus sholat asyar.

DSCN0497
Sabana yang dijanjikan sudah di depan mata

Aku bertanya pada penduduk sekitar,”Penanjakan bromo masih jauh pak?”

Warga menjawab,”Masih jauh dek, 17 Km dari sini, ada tiga alternatif jalan yaitu Kandangan dengan trek dekat tapi jalan hancur, Ngawu dengan trek medium dan kondisi jalan yang medium pula, serta Tosari dengan trek panjang tapi jalan mulus”

Aku putuskan saja pillih jalan tengah. Ngawu. Jalan yang berdebu dan bergelombang. Treknya menanjak hingga 25 derajat. Disebut desa Ngawu karena memang disana debu berterbangan dimana mana.

DSCN0521
Rembulan muncul dibalik pohon

Aku sampai di Desa tertinggi ini pukul 17.00. Sudah terlalu petang untuk melanjutkan perjalanan. Aku tak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan. Tidak mugkin aku camping di areal perkebunan warga seperti ini. Lagi pula tentu aku tak mau mem-break down 1 hari menjadi 3 hari. Aku pilih nekad saja. Ku lintasi jalur potong kompas ini di kegelapan malam. Sempat ada rasa takut. Anjing menggonggong diselimuti kabut dan debu. Headlamp sudah terpasang, jalan tetap saja tak terlihat. Jarak pandang hanya 1 meter saja. Untung suasana mencekam seperti ini tak berjalan lama. Bulan menampakkan diri dari kepalan awan hitam. Bintang bersinar redup di langit yang begitu biru oleh sinar rembulan purnama malam itu. Maha Besar Allah yang telah menciptakan keindahan yang tiada tara ini.

DSCN0554
Suasana mencekam jalur Ngawu malam itu

Dibalik keindahan langit yang biru dan sinar rembulan yang menembus celah celah dedaunan, aku agak sulit membedakan bayangan bayangan hitam. Bayangan putih di depan seolah orang yang sedang berdiri. Bulu kudukku pun berdiri juga. Serem. Tak ku temui satupun orang disini. Suasanya semakin mencekam dibarengi dengan anjing yang menggonggong. Tak terpikir jika ketika di kegelapan malam, tak tau arah, malah dikejar anjing penjaga sawah ladang warga.

Perpotongan jalur sudah terlihat berkat keahlian insting temanku yang hafal betul daerah bromo. Keyword-nya gunung batok yang merupakan gunung hijau di sebelah barat kawah bromo. Ikuti saja arah gunung itu, pasti akan sampai juga. Benar. Aku mendapatkan jalan beraspal turun. Aku yakin ini adalah jalan menuju lautan pasit bromo. Memang aku tak mendapatkan area penanjakan. Tapi aku sudah bersyukur bisa sampai disini.

Memutuskan untuk turun kebawah, aku terhenti di salah satu tikungan yang berada di tengah jalur penanjakan.

”Tempat yang cocok untuk camping nih”, aku bergumam dalam hati.

Ya, aku putuskan untuk beristirahat disini menanti esok sunrise bromo yang katanya menawan itu. Malam itu aku sudah sangat yakin besok sunrise dari sini pasti sangat bagus karena aku sudah melihat lautan awan dibawah bromo. Harapanku besok tak naik itu kabut agar pandangan terhadap matahari langsung tersorot.

Di pinggir jalan mendirikan tenda tak membuatku takut. Aku tetap saja berkeras kepala untuk istirahat disini. Sepeda aku amankan. Kunci aku lepas, Ban beserta velg-nya juga terlepas sebagai bantal tidurku. Tas aku masukkan ke dalam tenda. Semua aman. Sarden ABC plus nasi hangat sebagai makan malam untuk mengantarkan tidurku di suasana dinginnya Bromo yang menusuk tulang.

Bersambung..

Advertisements

One thought on “Tanjakan demi Tanjakan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s