Universe

Universe

Ekspedisi jejak perjalanan hidupku tak akan berhenti selama waktuku tetap berjalan. Denyut nadi jantungku memompa darah yang haus akan petualangan menemukan hakikat hidup sebenarnya. Aku masih terngiang tentang angan mencatatkan diri sebagai orang yang dikenang banyak orang. Ku tak ingin orang lega, atau bahkan tertawa ketika ajalku menjemput. Perasaan kehilangan yang mendalam, tangisan histeris dikepergianku nanti menjadi puncak dari keberhasilan ku dalam hidup bersosial.

Harapan tentang abadinya jejak selama aku hidup, tentang perkenalan yang baik, tentang torehan pencapaian tertinggi maupun terendah, dan pula tentang persahabatan yang tak lekang oleh waktu akan menggenjot langkah kaki yang mulai sempoyongan menjalani tantangan hidup ini. Pengharapan demi pengharapan mengucur dalam doa.

Kisah cinta masa lalu sungguh masih menyisakan luka yang dalam. Kegagalan dalam membina hubungan tak terelakkan lagi. Paradoks memang. Di tengah semangat penggapaian harapan yang berseru-seru, dilema kisah kegagalam masa lalu menyarukan seruan itu. Jiwa ini semakin takut akan datangnya kesedihan yang mendalam tatkala penghianatan atas kasih sayang bukti ketulusanku berhembus lagi.

Meskipun demikian, kecintaanku pada alam sudah lama melipur lara dihati. Benih benih neuron penyegar pikiran telah tumbuh subur dalam tempurung tengkorak ini. Benih tersebut dirangsang oleh mata yang terbuka lebar akan peristiwa di langit maupun di bumi yang dinamis ini. Kata hatipun naik ke permukaan, Siapa yang menciptakan semua ini dengan segala kesempurnaan, keteraturan, dan kepastiannya? Benarkah awal dari alam semesta ini dari sebuah ketidaksengajaan? Ataukah ada tujuan penciptaannya?

Pengembaraanku dari kecil hingga mengijak tahun ke dua puluh aku hidup mengantarkan pada keyakinan yang terus bertambah dari waktu kewaktu bahwa penciptaan alam semesta ini bukanlah hal yang sia-sia saja, bukan pula dari sebuah ketidakpastian. Ketegaranku, kekeras kepalaanku, kepecundanganku seolah benang yang lentur dan tersipu dalam segala kebesaran-Nya. Aqidah ini mengharuskanku mematuhi segala aturan di dalamnya. Dan puncak dari segala pengharapan umat manusia juga ada di dalamnya, yaitu ridha dari Tuhan Semesta Alam ini. Karena sampai kapanpun, manusia tak akan merasakan ketentraman hati, jiwa, pikiran, dan raga tanpa energi positif spiritual pada Allah.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s