Di Balik Kemajuan Banyuwangi

Beberapa tahun terakhir, tentu kita dengar kabar dari daerah paling timur di Jawa, Banyuwangi. Apalagi yang kita tahu sekarang tentang Banyuwangi kalau bukan tempat wisatanya. Benar, tempat wisata di Banyuwangi dulu bukan tidak ada. Hanya saja, dahulu belum banyak terjamah manusia, sekarang sudah banyak bermunculan dengan akses yang lumayan mudah. Keindahan alamnya tak tertandingi. Eksotika surga yang tersembunyi dieksploitasi sedemikian hingga para turis terkagum kagum karenanya. Semua meledak begitu saja.

Coba sibak, siapa yang tahu TN Baluran, TN Alas Purwo, TN Meru Betiri yang memiliki hutan yang indah dan pantai yang masih perawan. Sebut saja Baluran, Pulau merah, Teluk ijo, Plengkung, Sukamade, Pantai bama, dan Plengkung. Dulu tak ada deretan pantai itu. Tapi sekarang siapa yang tak tahu pantai pantai mempesona tersebut? Ada juga pantai Boom dan Ketapang yang dulu mati, kini bangkit dari tidur panjangnya.

Belum lagi kawah ijen yang namanya lekat dengan Banyuwangi, dimana mana. Dulu masih sepi. Setidaknya tak seramai sekarang. Kenapa? Aksesnya dipermudah. Perbaikan jalan dilakukan. Pembuatan shelter peristirahatan dengan view panorama yang sangat indah. Kawasan hutan dan tanah longsor sudah dibuatkan pelindung yatu batu beton. Rambu dan pal penunjuk jalan pun terlihat masih baru. Apalagi aspalnya masih hitam pekat masih mengkilap.

Naik daun tanpa banyak yang tahu kerja keras berbagai pihak di belakangnya.

Ada sebab ada akibat? Siapa yang membuat nama Banyuwangi melambung tinggi dan harum hingga pelosok nusantara bahkan dunia. Salah satunya adalah Pemimpin yang hebat. Pemimpin kabupaten yang biasa disebut Bupati Banyuwangi memang masih muda tapi memiliki kompetensi yang tak diragukan. Beliau mendapatkan anugrah bupati terbaik se-Indonesia. Sudah cukup membuktika profesionalisme beliau. Pengalaman menjadi pejabat tinggi termuda di pemerintahan pusat juga tak bisa dianggap remeh. Beliau mampu menggerakkan seluruh elemen masyarakat untuk bersama sama membangun kota impian.

DSCN1106
Relief Tanjung blambangan
DSCN1101
Bangunan dengan gaya arsitek tua

Sejatinya bukan hanya itu yang dilakukan oleh Pemimpin tertinggi Kabupaten Banyuwangi. Lebih dari itu, beliau melakukan pembenahan tata kota, perombakan besar besaran bangunan kota, jalur lalu lintas, penertiban pedagang asongan dan kaki lima, perbaikan sistem transporasi beserta sarana dan prasarananya, perbaikan akses menuju tempat wisata, dan publikasi yang berkelanjutan. Dan penghargaan khusus diberikan pada pegawai negeri sipil atau sukarelawan yang mau bekerja sama membangun kota. Contohnya, hadiah umroh bagi pasukan kuning di Banyuwangi. Mau tidak bersih bagiamana kota kalau hadiahnya berlimpah begitu? Semangat berlomba lomba melakukan kebaikan itulah yang mencoba dibangun olehnya.

DSCN1111
Pasar Banyuwangi

Sayangnya, terkadang para pedagang kaki lima sering merasa tersisihkan ditengah melesatnya kemajuan diberbagai sektor Kabupaten Banyuwangi. Mereka merasa tak punya lahan untuk berdagang. Dulu mereka mendirikan lapak di setiap sudut alun alun Sri Tanjung. Sekarang sudah tak bisa lagi. Mereka digusur dan alun alun dirombak pagarnya. Meskipun mereka sudah diberikan lahan untuk berdagang, mereka merasa beban tanggungan sewa yang harus dikeluarkan lumayan besar sehingga mengurangi laba mereka yang tak seberapa.

Itulah kisah dibalik kemajuan berbagai sektor di Banyuwangi. Sekarang kota ini hidup kembali. Kota Banyuwangi, kota yang ramai dan nyaman untuk hidup. Be there, you’ll feel like in paradise.

Jayalah terus Banyuwangi, Eits.. Lumajang juga kan menyusul kejayaanmu kelak.

Semoga menjawab semua pertanyaan kita tentang Banyuwangi.

200 meter sebelum Blambangan, 15 menit sebelum sholat asyar di akhir waktuku, aku sempatkan mengisi perut yang sudah kosong ini. Aku selalu ingin makan dengan sayur yang berisi banyak air dan lauk yang kaya akan gizi. Menu kali ini istimewa. Masakan khas Banyuwangi. Sup merah. Yummie.. Makan sore yang nikmat.

Sebelum menuju pemberhentian utama yaitu masjid Baiturahman di alun alun Sri Tanjung, aku kunjungi Tanjung Blambangan. Aku abadikan momen demi momen sebelum sinar matahari habis tenggelam di ufuk barat. Senja masih terlihat bagus. Saatnya hunting foto di Banyuwangi. Serasa masih tak percaya aku pernah menjajaki kota tersebut. Begitu cepat dan sesaat aku ada disana. Tak puas rasanya.

DSCN1117
Masjid Baiturrahman, Banyuwangi
DSCN1092
Kantor Bupati Banyuwangi

Sholat asyar perdana di Masjid terbesar tepat di Jantung kota. Nikmat rasanya mendekatkan diri pada Sang Pencipta perjalanan yang kekal dan hakiki. Tak ingin menyia-nyiakan waktu sedikitpun, 15 menit menjelang sholat maghrib ku pergunakan untuk hunting foto lagi di alun-alun Sri Tanjung. Sholat maghrib usai, aku merasa benar benar berharga waktu saat itu.

DSCN1126
Anak kecil bermain balon air

Aku mencoba membuat kedekatan dengan warga sekitar. Bercerita tentang apapun yang sama diantara kita, tentang kehidupan di Banyuwangi, dan tentunya pengalaman hidup diantara kita.

DSCN1137
Bunga alun alun Sri Tanjung

Isya’ pun tiba tanpa terasa kami tenggelam dalam cerita perkenalan yang sangat dalam. Tali persaudaraan pun tersambung. Namun, perpisahan memang tak dapat dielakkan. Semua orang yang menghampiriku seusai sholat isya’ langsung meninggalkanku. Lampu masjid dimatikan ta’mir. Tinggallah lampu jalan dan kelap kelip warna lampu alun-alun jelas terlihat dari teras masjid. Suasanya mencekam. Dingin menusuk tulang. Tubuhku merasa panas setelah seharian bersepeda dari Jember-Banyuwangi. ”Aku tak ingin sakit disini”, aku meronta namun tak ada yang menggubrisku. Aku tak kehabisan akal sebelum mencapai batas kemampuanku. Aku hubungi temanku yang masih berada di Banyuwangi. Dengan tangan terbuka, dia menyambut kedatanganku di rumahnya. Bahkan keluarganya pun dengan senang hati menjamuku.

Begitulah sejatinya arti dari sebuah pertemanan. Bahwasanya tatkala seorang teman membutuhkan bantuan kita, bantulah ia semaksimal mungkin selagi kita bisa. Dan ketika kita butuh bantuan teman, kita tak akan susah untuk mendapatkan bantuan. Perbanyaklah teman, kurangilah musuh. – Haf quote

Tak lama aku menunggu, muncul sosok wanita cantik dari selatan masjid. Dia tak salah lagi adalah teman satu angkatanku. Dia tak sendirian rupanya. Bersama mamanya. Cerita pendek dan perkenalan singkat mengawali perjalananku singgah di rumahnya.

Sepeda dimasukkan mobil, kami segera menuju rumah. Malam itu berasa sangat hangat sekali. Mie goreng jalanan dibelinya untukku. Perbincangan malam bersama keluarga temanku sangat menyenangkan. Aku dan mereka sama memiliki jiwa petualang sehingga obrolan kami begitu mudah tersambung. Mereka juga baru saja berlibur ke Pulau Merah. Andai aku sampai di Banyuwangi Minggu pagi, maka aku bisa ke pulau merah bersama meraka. Secangkir air putih menutup malam yang penuh lelah itu.

Bersambung.. Etape 3: Tour de Ijen

Advertisements

One thought on “Di Balik Kemajuan Banyuwangi

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s