Etape 5: Kegamangan Jalan

Pagi buta, aku terusik bangun akibat alarm temanku yang berisik sekali. Yang punya alarm masih saja molor. Payah. Tubuhku pegal pegal. Kakiku cenat cenut. Ah punggungku nyeri. Tanganku kaku. Begitu juga semua jariku. Tubuhku remuk. Aku tak kuat untuk bangun. Aku kira sudah waktunya shubuh. Ternyata masih sebelum shubuh. Aku bangunkan temanku berharap dia bisa tetap bangun dan membangunkanku sholat shubuh. Nyatanya kami tidur lagi. Sholat shubuh pukul 5 pagi.

Aku tak kuat. Meskipun hanya membuka hp. Tanganku lunglai. Lemas tak berdaya. Kantuk berat. Padahal sudah hampir 10 jam aku tidur. Aku masih terlelap lagi. Pagi yang paling malas.

Aku terbangun tatkala temanku menawariku untuk makan. ”Sarapan pagi, fidh”,  katanya sambil meyodorkan makanan bungkus untukku. Mataku yang masih berat aku paksakan untuk terbelalak. Sarapan pagi. Dia, temanku, akan berangkat ke kampus. Aku bersiap. Sayang, aku tak sempat bersalaman dengannya. Dia sudah berangkat terlebih dahulu. Sedangkan aku masih harus packing.

Yeah, perjalanan jauh dan menjenuhkan dimulai. Matahari sudah menyingsing. Aku terlalu siang untuk berangkat. Pukul 8 lebih aku baru start dari kampus unej.

Tak banyak hal yang bisa aku ceritakan selain kegamangan hati. Trek lurus dan sedikit menanjak menjadi makanan. Santap habis beserta bukit bukit di kaki Gunung Argopuro hingga ke Tanggul. Pemandangan alam tak banyak. Perumahan. Desa. Sungai yang mengular. Jalan yang memanjang mengikuti sungai. Jalan yang bergelombang merusak pantat.

DSCN1406
Buah Manecu

Ditengah perjalanan, aku belikan oleh oleh untuk keluarga dirumah berupa buah manecu dan tape. Semua adalah kesukaan orang rumah. Ayahku dan ibuku sangat menjadikan tape sebagai makanan favorit. Aku rela beban punggungku semakin berat. ”Ini adalah perjuangan terakhir”, hingga menuju tempat idaman. Tempeh-Lumajang.

DSCN1409
Sisi barat
DSCN1412
Sisi timur

Tak lupa juga, oleh oleh untuk temanku yang merasa penasaran dengan persimpangan sungai yang ada di Lumajang. Foto dokumentasi tersebut semoga menjadi obat dari rasa penasaranmu. Parit besar Sungai Bondoyudo mengalir mulai dari Wonorejo-Lumajang hingga Tanggul-Jember sekitar 20 km. Di tengah jalan, terdapat banyak persimpangan sungai. Ada sungai yang menyilang dari utara ke selatan. Sedangkan parit besar mengarah ke timur.

DSCN1152
Prinsip dasar

Prinsip dasar persimpangan tersebut adalah adanya sebuah perbedaan ketinggian. Perbedaan ketinggian tersebut terletak pada bidang yang berbeda.

Parit besar Bondoyudo merupakan proyek besar pemerintahan Hindia Belanda untuk irigasi di perkebunan tebu di Jatiroto. Hanya pemerintah Belanda yang tahu konstruksi parit tersebut. Orang pribumi hanya tahu cara membuat beton tanpa tahu ilmu irigasi, terlebih persimpangan seperti itu. Hingga kini, yang mungkin menjadi misteri adalah, apa yang ada di dalam saluran air bawah sungai tersebut sehingga air dalam parit tetap masih bisa mengalir meskipun melewati bawah sungai. Padahal, air dalam parit tersebut sangat tenang dan tak terlihat alirannya. Kadang tak ada airnya. Entahlah.

4 hours 30 minutes adalah angka yang terlalu buruk untuk perjalanan balik Jember-Lumajang. Treknya berjarak 75 km.

Yeah, perjuangan demi perjuangan sudah aku tempuh. Saatnya menutup mata di tujuan terakhir perjalanan Tour de Eastern Java Ring, rumah, aku datang..

The end.

Advertisements

4 thoughts on “Etape 5: Kegamangan Jalan

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s