‘One’ Day with Some’one’ Special

One day, aku berkelana ke negeri seberang, plosok paling selatan Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Gunung Kidul tepatnya. Bersama salah seorang teman traveller kuliah di Jogja. Teman cewek yang cantik jelita, imut seperti marsha di film animasi marsha and the bear. Teman yang dipertemukan oleh hobby travelling yang sama. Meskipun demikian kami sangat bertolak belakang, layaknya air dan minyak bisa sih berdampingan tetapi memiliki struktur dan jalan hidup yang berbeda. Itulah kami, aku menyebutnya ’team’.

Ini dia temanku sedang bersembunyi di balik siluetnya
Ini dia temanku sedang bersembunyi di balik siluetnya

Kami sengaja memilih Gunung Kidul untuk hari terakhirku di Jogja karena sangking inginnya menyibak pesona baru yang masih perawan. Eksotika pegunungan Nglanggeran yang mana disana terdapat bebatuan andesit yang berumur puluhan juta tahun hingga menguliti satu persatu pantai pasir putih yang tersusun oleh rumah kerang yang sudah ditinggalkan penghuninya. Membuktikan ketidakbenaran kata orang, ”Gunung Kidul adalah tanah yang tandus, sering kekeringan, dan hutan kering tanpa dedaunan”. Siapa bilang sepertu itu? Dari sisi historis, memang kawasan Gunung Kidul tersusun atas Gumuk (red: Perbukitan) yang dahulunya berada didasar laut. Namun, dibalik itu semua, Gunung Kidul mulai diserbu penikmat alam karena pesona surganya yang mulai terkuak.

Bebas lepas layaknya burung lepas dari sangkarnya, terbang mengepakkan sayap selebar lebarnya berusaha menjangkau sejauh-jauh tempat tuk menemukan keindahan yang tiada dua. Seperti itulah perasaan kami saat meninggalkan kota Jogja. Tangan kami melambai dalam laju kendaraan. Mengepakkan tangan sembari merasakan hembusan angin. Menghirup udara sedalam dalamnya. Dan bernyanyi. Ingin rasanya kami berteriak pada dunia, ”How beautiful you are! I’m coming” Melepas penat kehidupan kampus yang menjenuhkan.

Terus memacu sepeda menembus kecepatan tertinggi, naik-turun, meliuk-liuk, mengular, dan berkelok-kelok. Sensasi yang memacu adreanalin dan bulu kuduk merinding tegang.

Dua puluh tiga kilometer sudah terlewati. Gunung Api Purba adalah destinasi pertama.

****

Gunung Api Purba, Nglanggeran

Ekspedisi pendakian dimulai. Set ice! Cuaca pagi itu sudah membakar tubuh kami. Memaksa kami untuk terus berjalan. Angan angan melintasi tebing bebatuan purba sudah terlintas dalam pikiran. Tekad kuat telah terpegang baik untuk segera memegang serta merasakan sisa peninggalan purbakala.

Namun, trek terjal dan cuaca yang ekstrim terkadang menghetikan langkah kami. Sejenak duduk di pinggir untuk sekadar membasahi tenggorokan yang kering dan melepaskan dahaga. Tak begitu tinggi sih gunungnya, tetapi treknya itu sesuatu sekali. Menanjak dan terus menanjak. Langkah kaki sering kali menerbangkan debu tanah lempung. Lengkap lah sudah penderitaan tanpa masker dan peralatan yang lengkap.

What’s it? Aku tak melihat jalurnya. ”Kok tiba tiba terputus dan buntu seperti ini?”, tanyaku pada temanku yang sudah beberapa kali kesini. ”Ini lho lewat sini, lewat antara tebing bebatuan besar”, jawabnya. Aku terkejut. Aku mengira aku harus memanjat tebing setinggi ini untuk sampai puncaknya. Lorong tebingnya mirip dengan gua hiro di Saudi Arabia. Terkadang harus memiringkan badan untuk bisa melewatinya. Sempit dan sedikit cahaya. Bahkan acapkali kami harus melewati tangga yang terbuat dari kayu dan bambu karena kaki tak mampu menjangkaunya. Serta harus berpegangan pada tali yang sudah disediakan disana. Dan, bebatuannya memang mengeras. Teksturnya keras dan kuat. Terdapat beberapa sendimen berwarna hitam menghiasi setiap jengkal permukaannya. Sendimen tersebut berupa material clay yang terbawa oleh air dari atas tebing menuju bawah. Sungguh enak dipandang.

Batuan Andesit purbakala
Batuan Andesit purbakala

Berada di daerah pemberhentian pertama tepat diatas tebing batuan besar di ketinggian 500 mdpl sungguh menyuguhkan sudut pandang yang berbeda. Hamparan persawahan milik warga yang hijau ditemani pepohonan yang bergoyang diterpa angin pantai. Gagah berdiri dalam gebu angin yang kencang menerpa diatas batuan besar. Sisi kanan menawarkan tembok besar batuan besar seperti bidgestone di Inggris.

narsis dulu
narsis dulu

Perjalanan masih panjang. Kami melanjutkan sisa perjalanan yang ada dengan saling cerita dan membahas semua segala yang kami temui dengan cara pandang yang berbeda. Pernah kali kami memandang ke arah tebing tinggi nun jauh di barat, aku berfokus pada batuan penyusun tebing, sedang dia malah fokus pada anggrek yang tersangkut pada tebingnya. Di jalan, dia terus menunjuk setiap bunga dan tumbuhan yang ditemui serta menyebutkan nama ilmiah atau nama latinnya. Hafalan model apalagi, tuh? Apa yang keluar dari penglihatannya selalu berhubungan dengan biologi. Wajar saja, memang dia adalah seorang mahasiswi Fakultas Biologi UGM. Seorang biologist yang belajar dari alam dalam proses menimba ilmunya. Matanya terlihat bersinar-sinar tatkala menemui pemandangan hamparan bunga, pohon, daun, akar, dan keanekaragaman flora dataran tinggi. Semua mencerahkanku, memberikan dunia baru.

Tak lama kemudian, kami sudah menapaki puncak tertinggi, Pegunungan Nglanggeran, Puncak Gunung Api Purba. Di puncak terlihat horizon yang tersusun atas perkotaan di sisi utara dengan segala kebisingan dan hiruk pikuknya, terasiring persawahan dan perkebunan warga yang membentuk lantai hijau lumut, dan sisi timur puncak gunung Nglanggeran yang lain dengan anak danaunnya, Si Embung dan bagian tengah yang tersusun oleh kaldera sisa kawah letusan gunung. Tebing sisi timur terlihat lebih hijau ditumbuhi tanaman semak belukar. Tanah di sekitar gunung ini terlihat subur ditumbuhi berbagai macam tanaman perkebunan. Merupakan tanah tersubur di Gunung Kidul. Kesuburannya ditengarai disebabkan oleh abu vulkanik sisa letusan gunung dibawah permukaan air laut.

Mataku sudah tak tahan menahan kantuk akibat semilir angin dan pemandangan yang mengelabuhi bawah sadarku untuk tidur. Sontak tergugah oleh angin yang tiba tiba berhenti, panas puncaknnya menyengat kulit. Kami ingin segera turun dan melanjutkan perjalanan menuju 0 mdpl.

Perjalanan turun tidak semudah yang kami bayangkan. Niat hati untuk segera sampai bawah dan melanjutkan perjalanan lagi lagi terhambat oleh medan yang licin. Licinnya bukan karena air, melainkan material tanah berbatu yang mudah bergerak. Sering kami terjatuh dan bangun lagi dan berlari lagi. Dan pada akhirnya sampai juga.

####

Petualangan 0 mdpl

            Let’s rock! Going to the wild. Melaju dari ujung utara hingga ujung selatan untuk menyibak titik terendah daratan yang penuh misteri akan eksotisme yang membuat penasaran siapapun yang ingin mengunjunginya. Pemandangan hamparan pasir putih yang memanjang hingga ujung mata memandang. Warna hijau muda hingga tua yang menyejukkan. Simfoni alam yang selalu membuat hati rindu untuk segera menyambanginya. Garis cahaya matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat yang begitu indah sehingga tak bisa rasanya aku melukiskan keindahannya dalam bentuk kata-kata. Menari dan bernyanyi diatas tebing tengah pantai.

Thuss.. Gas..!

****

            Pantai Baron

Deretan pantai yang kami kunjungi bernama Deretan Pantai Tanjung Sari. Pantai terbaratnya adalah pantai Baron. Sengaja memilih pantai Baron sebagai pantai pertama yang aku kunjungi karena kami ingin menapaki dan menjejakkan kaki deretan pantai dari barat hingga ke ujung timur. Fine, murahnya tiket masuk sedikit melegakan, cocok untuk kantong backpacker mahasiswa seperti kami. Sepuluh ribu untuk delapan pantai. It’s so cheap than your get from here.

Kesan pertama mengunjungi pantai ini adalah keramaian. Keramaian yang seharusnya tak kami temui disini. Ternyata keindahan pantai Baron sudah dicium orang luar. Bus berjajar di parkiran. Mobil dan sepeda terlihat berserakan dimuka pantai. Orang orang sedang sibuk dengan kegiatan dan kesenangannya sendiri sendiri. Warga sekitar terlihat kelelahan namun dalam kerianggembiraan melayani para turis yang haus akan kenyamanan fasilitas. Penjual terlihat kerepotan melayani pembeli. Tukang parkir tertawa dalam hati, menyaksikan tempat parkirnya penuh sepeda. Apakah kota sudah diboyong ke tepian pantai Baron ya?

Sedikit kecewa diawal. Nafasku terhenti tatkala melihat keindahan pantainnya. Deltanya membentuk pusaran air yang begitu indah nan mempesona. Ombanya kecil mendayu-dayu. Kadang kala tak disangka-sangka ombak membesar. Kudu ekstra hati-hati berada di tepian pantai. Apalagi berada di jauh lepas pantai untuk berenang dan bermain ombak. Tebing bermotifkan abrasi pantai terlukis indah mengapit pantai Baron. Motifnya yang begitu indah mirip lukisan di film cartoon buatan USA.

Gulungan ombak dan tebingnya
Gulungan ombak dan tebingnya

Pertemuan antara sungai dan pantai Baron merupakan pemandangan khas disana. Sungainya jernih berwarna hijau kebiruan. Airnya deras mengalir melawan ombak. Pusaran air mengeruk air disekeliling menuju tengah pertemuan air tawar dan air lautnya membentuk delta. Terlihat wisatawan sedang asyik bermain disungai. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Bermain melata seperti buaya muara yang berjalan di air payau. Aku namakan mereka ”croc man that swim like a croc”.

Croc-Man
Croc-Man

Desir angin semilir. Rambut akan diterbangkan olehnya. Payung-payung tempat berlindung dari panas matahari melambai-lambai. Syahdu. Banyak pengunjung yang sekadar menikmati panorama pantai dibawah payung payung beralaskan karpet dari rotan. Mereka menyantap hasil tangkapan nelayan asli Baron. Ikannya masih segar. Memang, pantai Baron digunakan oleh penduduk sekitar untuk mengais rejeki mencari ikan untuk dijual. Nelayan adalah mata pencaharian mereka. perahu perahu terpancang ditepian pantai menyuguhkan background yang pas untuk diabadikan sebagai foto kenang-kenangan.

Aku ditengah para turis
Aku ditengah para turis
Sungai yang dikelilingi payung
Sungai yang dikelilingi payung

Tak ingin berlama lama disini, kami segera cabut tanpa membersihkan diri dulu, tanpa memakai alas kaki, tanpa ganti baju. Kami memang sengaja karena sebentar lagi akan menuju ke pantai sebelah, Pantai Kukup.

****

Pantai Kukup

Ya, Pantai Kukup namanya. Berjarak 2 Km dari Pantai Baron. Pantainya tak seramai Pantai Baron. Berjajar warung penjual aneka olahan laut mulai dari ikan asin, keripik, dan gorengan laut, serta ikan yang digoreng kering. Masuk ke kawasan pantai ini membuat kami sedikit khawatir, ”kok masih sepi pengunjung?”. Jangan jangan pantainya tak terlalu indah? Ah tak peduli aku, kami terus berjalan cepat, ingin segera melihat keindahannya. Waktu terus berjalan. Kali ini sudah pukul 15.30 sore. Terlalu sore untuk mengejar sunset di 6 pantai yang kami targetkan. Satu pantai tak bisa lebih cepat dari setengah jam. Kami mulai meragukan keberhasilan trip kami.

That’s really beautiful beach. Sebelumnya pasirnya didominasi warna coklat muda kemerahan, Pantai Kukup memberikan kesan berbeda, pasirnya putih tulang bersih dan halus di kulit. Kaki yang semula diangkat ketika berjalan, kini, sudah tak lagi. Kaki kami berseluncur di atas pasir. Benar benar lembut. Lembut karena komposisi karangnnya sudah homogen. Bentuknya tak beraturan tetapi sangat kecil sekali.

WP_003525
Aku dan Tanah Lot-nya jogja 🙂

Belum lagi eksotika pantai ala tanah lot bali terpampang di depan mata. Terdapat tanah yang berupa daratan terpisah dari daratan pantainya. Diantaranya dihubungkan oleh jembatan yang cantik. Di lereng tebingnya dihiasi oleh jalan setapak untuk menggapai puncak tebing. Terdapat bangunan gubuk mirip dengan pendopo diatasnya. Pemandangan yang tentu tak hanya luar biasa, seluruh horison pantai biru tua akan tertangkap retina mata, kalau kita melihat kebawah, pasti seluruh pantai Kukup akan terlihat lebih mempesona daripada view dari pantai. Ornamen hiasannya pas banget dengan jogja. Seolah menyatakan kalau jogja punya pantai yang tak kalah cantik dari Bali, yang katanya surganya Indonesia.

Jaring dan tempat ikan untuk disewakan
Jaring dan tempat ikan untuk disewakan

Ada yang menjadikan pantai Kukup istimewa dari Pantai sebelumnya yaitu karang hijau yang dipenuhi oleh flora dan fauna khas pantai seperti alga hijau, alga coklat, landak laut, kelabang laut, yuyu, hingga biota pantai lain. Adanya keanekaragaman flora fauna di Pantai Kukup memberikan semangat tersendiri bagi temanku yang notabene pecinta alam dan ilmuwan biologi. Mengidentifikasi jenis spesiesnya dan mencari tahu karakteristiknya serta kegunaannya bagi manusia. Pekerjaan yang menurut orang sepele, namun tidak bagi kami yang haus akan ilmu pengetahuan alam yang menghubungkan kami dengan Ayat Kauniyyah Allah. Semoga dapat mendekatkan kami pada-Nya Sang Pencipta segala sesuatu dengan segala keindahan yang menyertainya.

Keanekaragaman hayati Pantai Kukup
Keanekaragaman hayati Pantai Kukup

Kalau anda ingin berlama lama dipantai Kukup anda dapat mencoba menyewa alat penangkap ikan lengkap dengan tempatnya. Alternatif kegiatan seperti ini akan membuat anda sejenak meninggalkan rutinitas yang membosankan. Bercanda, bersenda gurau, dan berkumpul menjaring ikan ditengah tumpukan karang bersama keluarga tercinta memberikan sensasi mak nyus bagi sebagian orang.

Setelah puas bermain karang, kami melanjutkan perjalanan masih dengan cara yang sama. Next Pantai Sepanjang.

****

Pantai Sepanjang

Bukan pantai sepanjang namanya kalau pantainya tidak memanjang dari ujung barat hingga ujung timur. Garis pantainya yang sangat panjang dan bahkan terpanjang diantara pantai pantai lain di Gunung Kidul membuat nama Sepanjang cocok dilabelkan padanya.

Panjang di Pantai Sepanjang
Panjang di Pantai Sepanjang

Begitu masuk Pantai Sepanjang, deretan pantai dan karang akan menyambut. Pantai lurus dan banyak karang tipis di tepian mirip dengan Pantai Kuta Bali. Kata orang, ”Tak perlu jauh jauh ke Bali kalau hanya ingin berjemur ataupun menikmati gugusan karang dan deretan pantai pasir putih yang indah, cukuplah Pantai Sepanjang”. Deretan gubuk berasal dari rotan berwarna coklat yang mengikuti garis pantai mengingatkan pada budaya masyarakat yang masih tradisional. Pohon palem yang berjajar berdampingan dengan gubuk juga menambah kesan pantai yang lebih mengena.

Penjaga gubuk adalah warga sekitar yang sangat ramah terhadap pengunjung. Keramah-tamahan tersebut membuat kami ingin terus berlama-lama disini.

Gubuk coklat
Gubuk coklat

Di dalam gubuk, kita bisa memesan makanan sea food dengan harga terjangkau. Beberapa diantaranya terdapat makanan khas jogja. Tak lupa pula disana terdapat berbagai macam kerajinan yang berasal dari olahan biota laut seperti cangkang kerang, bintang laut, landak laut, dan bermacam macam lainnya. Tak perlu khawatir dengan oleh-oleh pokoknya.

Matahari sudah semakin redup dan tertutup awan. Kami tak ingin berlama-lama lagi disini, masih ada beberapa pantai lagi. Pantai selanjutnya adalah Pantai Drini.

****

Pantai Drini

Pantai Drini ialah pantai terindah yang pernah aku kunjungi selama ini. Bagiku pantai tersebut bukan hanya terindah dari deretan pantai Gunung Kidul, tetapi disemua pantai yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Tanya kenapa?

WP_003561
Pantai Drini dan pulaunya

Pantai Drini menawarkan sebuah pemandangan yang amat sangat berbeda dibanding pantai yang lain. Pantainya terbelah menjadi dua bagian yang membentuk huruf W yang dibatasi oleh pulau karang raksasa bernama Drini. Pulaunya berada ditengah pantai. Menurut mitos yang ada disana, ketika pantai surut maka pengunjung bisa menuju pulau karang tanpa perahu. Tak perlu khawatir berjalan di pulau ini karena sudah terdapat anak tangga yang menuntun langkah kita menuju menara pandang yang tepat berada ditengah Pulau. Vegetasi hijau sangat padat menutupi keseluruhan pulau. Nama drini diambil dari jenis pohon santigi yang biasa disebut oleh warga dengan sebutan pohon Drini. Sayangnya, kini sudah tiada entah kemana.

Dan jika kebetulan sedang surut, maka pantai drini akan menyuguhkan karang karang yang indah lengkap dengan biota lautnya. Bermain dengan biota laut yang kecil dan mencoba bersembunyi dibalik karang tatkala kita mencoba mengejarnnya seolah mereka mengajak bermain petak kumpet.

Berjalan menyusuri pantai, kami mendapati pasir putih yang tak biasa. Pasirnya sangat lembut. Karang yang berjajar tak serapat pantai lain. Sedikit terlihat disisi barat dan sedikit rapat di tengah. Ombaknya relatif lebih besar karena karang yang lipis tersebut. Mirip sekali dengan Pantai Siung. Terus berjalan, kami berdua melihat tebing yang sepertinya menyuguhkan pemandangan indah. Dinding tebing terlihat bebatuan cadas yang berwara abu abu. Berbeda dengan pulau Karang sebelah Timur yang berwarna kecoklatan. Kami tertarik untuk memanjatnya. Kami harus merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah untuk masuk ke kawasan tebing. Tak perlu takut untuk panjat tebing karena tebingnya sudah dilengkapi oleh tangga yang terbuat dari rotan yang kuat. Tapi terkadang meskipun sudah terbiasa memanjat tebing, adrenalin akan keluar memacu denyut jantung kencang ketika melewati tebing satu menuju tebing lainnya dengan hanya mengandalkan jembatan yang tak teruji kekuatannya tersebut. Bismillah, akhirnya kami sampai tepat diatas karang yang mengambang dilautan lepas pantai. Seperti sedang berada diatas kapal yang akan berlayar mengarungi samudra luas.

WP_003558
Berjalan menyusuri pantai

Benar saja, pemandangan eksotis terlihat dari puncak karangnya. Kami dengan leluasi memandangi seluruh arah jarum kompas. Mengikuti naluri yang terlarut dalam suasana alunan ombak yang mengalun merdu di telinga. Suaranya selalu membuat nyaman, lebih nyaman dari musik klasik jaman 80an yang terkenal sepanjang masa itu. Kami sangat menikmati garis cahaya matahari yang memantul dari pantai. Segaris bayang cahaya yang terhalang oleh tebing nan gagah yang sedang aku tumpangi. Memandangi perahu, wisatawan, karang, pulau Drini, dan sisi paling timur pantai Drini merupakan kenangan yang tak akan pernah bisa aku lupakan.

NWP_141012_0004
Pantai di bawah langit yang menghitam tertutup awan

Semakin lengkap rasanya ditambah dengan orang yang menemaniku kala itu. Iya dia, Si Cantik Jelita yang kecil tetapi tahan banting, yang selalu menginspirasiku untuk hidup lebih dan lebih baik lagi. Cara pandang kehidupan yang berbeda. Motivasi hidup yang berbeda. Tujuan hidup yang berbeda. Cita cita yang berbeda. Semakin memperkaya diriku akan keberagaman dan kompleksnya kehidupan. Bersamamu, ku dapatkan beribu-ribu jawaban atas pertanyaan yang tak bisa aku selesaikan sendiri. Aku tahu kita memang ada di dunia yang sama tapi kita memiliki jalan yang berbeda. Lagi, perbedaan cara berpikir yang terpatri (yang aku yakini) berasal dari adaptasi lingkungan yang berbeda. Saat itu, kamu sedang asyik melihat langit biru yang mengalir bersama angin dengan alunan alam ombak lautan yang menenangkan itu, sedang aku sedang menikmati plesir ombak yang mengalir lembut perlahan yang menyejukkan jiwa.

WP_003566
Dari atas tebing

Sebuah komposisi yang pas, dengan segala kehidupan alam dan manusia yang sudah mennyatu dengan alam. Tak rugi mengeluarkan kocek agak dalam untuk mendapati keindahan yang tiada dua. Every moment that we took will be a nice story letter.

Sayangnya kebersamaan ini tak bisa kami nikmati dibawah gazebo atau di bawah payung beralaskan rotan. Padahal Pantai Drili merupakan tempat bath up paling kece di seluruh pantai di Gunung Kidul.

Tak terasa sudah pukul 5 pm. Kami harus segera beranjak dari kenyamanan yang maya ini. Segera kami tinggalkan Pantai Drili, menuju pantai selanjutnya, Krakal yang indah seperti orang bilang. Hmm.. kami sebenarnya belum puas berada disana, ingin terus menikmati alam hingga berteman dan bahkan bersahabat dengan alam. Ingin mewujudkan citamu yang memimpikan hunian yang menghadap secara langsung ke laut.

So Next Pantai Krakal.

****

Pantai Krakal

Temanku bilang bahwa pantai krakal merupakan pantai yang sangat indah. Biru pantai yang kehijauan mewarnai lukisan terindah. Mata menangkap keindahan yang akan direpresantasikan dalam kekaguman padanya. Terutama pada Pencipta keindahan itu sendiri.

Deretan Pantai Timur Krakal
Deretan Pantai Timur Krakal

Sayangnya, aku kesana tatkala matahari sudah tertutup oleh awan. Terkadang terlihat malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Cahayanya sudah tak lagi menyinari. Tinggallah sedikit biasan cahaya yang tembus. Biru muda langit semakin redup saja. Aku bahkan tak melihat pantai yang indah seperti yang temanku janjukan. Memang aku yakin, relativitas itu ada. Relatif terhadap acuannya. Seperti halnya acuan waktu dalam menikmati keindahan pantai Krakal. Kalau kesana dalam kondisi kurang cahaya, pasti keindahan tak berada dipihakmu.

Ah kami tak ingin berlama lama disini. Sunset tak terlihat dari pantai. Harus berada di daratan untuk dapat melihat sunset. Padahal yang kami inginkan adalah sunset di pinggir pantai dengan suasana desiran ombak yang anginnya sejuk seperti oase di tengah gurun.

Deret barat yang tebingnya mirip taring gajah
Deret barat yang tebingnya mirip taring gajah

There are two types of beach, big and small ones. The big one is eastern. And the small one is western. Terdapat pantai yang dibatasi oleh tebing yang menjorok ke laut mirip dengan taring gajah. Sungguh indah. Meskipun tak seindah yang kami impikan. Tak apalah, tak bisa bermain surfing, tak bisa bermain dengan karang, tak bisa mennyusuri tebing purba yang katanya proses terbentuknya karang tersebut dari lekukan lempeng bumi yang menonjol keatas, tak bisa melakukan plesir menyusuri pantainya. Semua kami ikhlaskan.

Malam sudah mulai menyibak. Hanya tinggal satu pantai lagi, Pantai Sundak. The last and the best moment. Mari berpacu dengan lengsernya matahari dari kedudukannya untuk mengejar sunset terindah di Gunung Kidul sebagai penutup trip Gunung Kidul kali ini.

****

Pantai Sundak

The last one, Sundak Beach. Terakhir dan yang terindah.

Kami melaju cepat menuju sisi paling timur deretan pantai Tanjung Sari. Kami bergegas melibas jalanan yang sudah sepi. Berlari mengejar matahari, sebuah harapan akan keindahan yang dijanjikan. Terus berlari, tanpa mengenal lelah. Semua itu, tak mengurangi niatku untuk mengamati suasana disekitar Pantai Sundak kala sore hari. Teringat cerita masa lalu akan adanya asu dan landak yang saling beradu kuat memperebutkan wilayah sebuah pantai yang diabadikan menjadi Pantai ”asu landak” di singkat Sundak.

Landscape Sundak Beach
Landscape Sundak Beach

Terlihat pula gubuk kecil berjajar berwarna hijau terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk. Temanku malah tidak memperhatikannya sama sekali. Ia menyibukkan diri untuk mengamati pohonan tanpa daun yang dahan dan rantingnya mengarah keatas seperti orang kena arus listrik tegangan tinggi berambut berdiri keatas. Hahah.. Memang indah, bagaikan musim gugur di negeri negeri empat musim.

Alhamdulillah. Matahari tenggelam tepat pada waktunya. Kami masih diberi kesempatan untuk melihat wajah Sang Surya yang bulat dan twin berada terlukis diatas air laut. Penampakannya bundar dan tenggelam bersama awan di ufuk barat dan tersembunyi oleh tebing tebing yang indah nun jauh disana.

Senja dibalik tebing
Senja dibalik tebing

Kami masih sempat mengabadikan momen momen terakhir bersama hilangnya cahaya matahari. Kami masih bisa membekukan kebersamaan dalam frame kamera ponsel. Titik titik cahaya masih terlihat menembus sela tebing dan awan. Terlihat jingga kuning kemerah-merahan. Sisa cahaya tersebut kami manfaatkan betul to take picture for the last.

Matahari sudah tenggelam, hari mulai malam. Pukul 17.30 tepat kami mulai meninggalkan deretan pantai eksotis Gunung Kidul. Melaju mengendarai sepeda motor dalam kegamang dan keremang remangan petang. Sisa mega merah mengurai diantara awan hitam menyajikan paket ketakutan tersendiri. Tanpa berpikir macam macam, aku terus mengendarai sepeda teman yang aku pinjam. Di jalani bersama teman yang memiliki cara berpikir yang sama sungguh membuat every moment that I take always very unforgetable.

Dan misi yang terselubung lain adalah misi mengejar sholat maghrib sebagai persembahan rasa syukur pada Allah Sang Pencipta segala keindahan. Butuh kerendahan hati, sikap merasa bahwa diri ini berlumur dosa di hadapan-Nya, tak ada lagi yang perlu disombongkan, tak ada lagi yang kita punya, semua miliknya-Nya. Dan sujudku adalah wujud penghambaanku pada Yang Esa, Allah SWT. Karena aku yakin tak akan ada daya selain dari-Nya.

Salam perpisahan penghormatan pada warga sekitar mushola tempatku sholat menjadi jalan mulusku menuju bukit bertabur bintang, Bukit Patuk, dimana dari sana lah terlihat view kelap kelip lampu seluruh isi kota Jogja. Bertaburnya kelap kelip lampu ditengah malam membuat nama Bukit Bintang cocok disandangnya.

Makan malam atau sekedar minum yang hangat di Bukit Bintang selepas berpetualang di Gunung Kidul merupakan sajian pas menutup hari. Begitu pula kami yang asyik memutar ulang momen yang terekam dalam kamera selama seharian di Gunung Kidul. Desain tempat dan waktu yang tepat.

Akhirnya perpisahan adalah hal yang wajib diikhlaskan tatkala terikat sebuah perjumpaan. Sayonara Jogja, Auf wiedersehen, frau. Will come back, next season. Time to back home and doing something real, not dream land like before.

The End

#####

Advertisements

17 thoughts on “‘One’ Day with Some’one’ Special

  1. Maybe one day we can spent our time to enjoy sunrise and sunset on the peak of mountain. Feel free between sweet Edelweiss and beneath amazing Milkyway. Maybe one day. 😀

    complete and good story, Brother .. hihihi

    1. Oke, tulisannya masih begitu acak acakan TT
      hmm postingannya aku update, takut ada yg salah paham, ah tapi kmu udah bayak komentar disini, pasti banyak yg tau meskipun identitas disembunyikan -_-

  2. gpp kok bagus fid 😀 .. wahahaa salah paham? kita teman kok. serius teman sodara2. jadi aku gak boleh koment nih ceritanya. ya udah deh kalau begitu ..

    1. Eh bukan gitu maksudku. Biar org menilai tak berlebihan, kan emang kenyataan kita just travelling mate, not more. Ya kan? Boleh kok komentar, malah disini butuh banget komentar hahaha 😀

      1. Kalo itu mah referensi yg udah super duper bagusnya. Inspiratif isinya. Eh aku kok tiba tiba ingin ke flores ya. Yuk backpacker kesana. 🙂 Coba search deh pulau komodo, pulau rinca, pink beach, manta point, gili lawa, pulau kanawa, dan pulau bidadari, Semua bisa 3 hari 2 malam saja. Budget 2 jt ala backpacker banget deh. Itu udah amat sangat mepet.

      2. iya dia Biologi juga lho .. ayo ke Merbabu dulu :p wah ke Flores. mau banget. Liat taman nasionalnya, komodo2nya, pantainya, savananya, suku adatnya, makanannya. wah sepertinya asyik yaa! tapi nabung duluu, Bro .. 🙂 bikin dulu itenary perjalanannya

      3. Aku udah dapet jadwal utsku, 4 hari tanggal 24-27 Oktober besok free. Kalo jadwalnya cocok boleh lah dipastikan merbabunya. 🙂
        InsyaAllah flores liburan semester ini via jalur darat. Sudah persiapan nabung dan segala sesuatunya nih aku. 🙂 hahah 😀

    1. Yah jadi nggak bisa lagi deh, tapi aku punya alternatif lain, Ci, tanggal 31 Okt – 2 Nop weekend juga boleh kok.
      Hmm.. iya dong, soalnya itu mungkin jadi liburan terakhirku. Libur semester 6 aku magang, Libur Semester 7 udah lulus dan tak mungkin memikirkan main main lagi. 😦 Maka dari itu, yuk jadikan liburan semester ini adalah liburan terindah 🙂

      1. aku bisa 31 Oktober mungkin sore berangkat, Fid 😀 .. wah aku gak bisa kalau libur semester besok Fid, aku yg magang. libur semester 6 ke 7 KKN. trus skripsi. 😦 😦 travellingnya pas weekend2 aja. hihi

      2. Hahah okelah gpp, sepertinya akan jadi solo backpacker lagi 🙂
        InsyaAllah, merbabu jadi 2 hari satu malam saja kan? Berdua aja? Hm.. Nanti aku buatin itinerary perjalanannya deh.

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s