Jurnal Perjalanan Gunung Lemongan 1671 mdpl

Gunung Lemongan atau yang sering disebut Lamongan merupakan gunung yang berada diantara Pegunungan Yang dan Pegunungan Bromo Tengger Semeru. Lanscape view lautan awan dan sunrise dari balik Gunung Argopuro dengan puncak Rengganisnya sangatlah cantik. Ketinggian 1671 mdpl yang tergolong tidak terlalu tinggi bukan berarti puncak Lemongan mudah digapai, medan extreamly hard plus kerikil berpasir hingga bebatuan yang mudah longsor sebagai sisa muntahan lahar ratusan tahun lalu menguji siapapun yang ingin bercumbu dengan puncak terindahnya.

Gunung Lemongan via Ranu Klakah
Gunung Lemongan dilihat dari Ranu Klakah

Pos terakhir sekaligus basecamp pendakian terletak di Desa Papringan, Klakah, Lumajang tepatnya di pesanggrahan Mbah Citro. Mbah Citro sendiri adalah juru kunci dari Gunung Lemongan. Kepiawaiannya dalam ilmu kejawen membuat beliau didatangi oleh para peziarah yang datang dari berbagai penjuru kota untuk meminta sesuatu. Beliau juga penganut Pancasila sejati. Beliau membangun padepokannya sendiri dengan ornamen burung Garuda lengkap dengan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Beliau mengeklaim bahwa dirinya teman dekat salah satu Founding Father yaitu Ir. Soekarno, yang tidak lain adalah presiden pertama Indonesia. Di tempat inilah kita dapat menitipkan sepeda dan meminta ijin pendakian. Alternatif lain juga perijinan dan penitipan sepeda bisa dilakukan di Pak Kampung di desa terakhir sekitar 1 Km sebelum pesanggrahan Mbah Citro.

Malam ini, tanggal 24 Oktober 2014, malam satu Suro jatuh bertepatan pada Jum’at Legi. Pesanggrahan Sunyoruri nama lain pesanggrahan Mbah Citro sedang ramai didatangi para peziarah. Hari ini dianggap keramat bagi penganut ajaran kejawen. Bagi mereka yang memiliki benda pusaka yang dianggap keramat, hari inilah hari yang tepat untuk mensucikannya. Mereka biasanya melarang untuk berpergian dan hanya diperbolehkan untuk beribadah saja. Tepat malam itu pula kami akan melakukan ekspedisi Summit Mt. Lemongan. Berbekal keyakinan bahwa kami hanya berniat baik untuk mendaki gunung bukan untuk kepentingan dan sikap yang kurang baik, kami tetap kekeh untuk mendaki malam ini.

Adventure trekking siap dimulai. Perjalanan malam penuh penyiksaan tim. Kami tak membawa penerangan yang cukup. Dua belas orang yang tergabung dalam tim dari berbagai aliansi hanya tujuh penerangan saja. Alhasil, seringkali langkah kami tersandung batuan yang keras. Apalagi kali ini aku hanya memakai sandal jepit. Tak jarang kakiku terbentur batuan-batuan di sepanjang jalan. Kau tahu? Ada suatu jalan setapak yang tersusun oleh batuan sisa lahar yang bentuknya tak teratur dan posisinya mudah bergerak. Jalannya yang demikian dinamakan ’Watu Telek’. Batunya mirip telek atau kotoran makhluk hidup. Bayangkan saja harus berjalan dibongkahan batu batu tanpa penerangan yang cukup. ”Kaki terlihat lecet, perjalanan tak boleh terhenti”, pikirku.

'Watu Telek' background Lemongan bertopi awan tebal
‘Watu Telek’ background Lemongan bertopi awan tebal

Ilir semilir angin berhembus membelai semak belukar sabana dikanan dan kiri jalan. Udaranya dingin segar melewati lekuk tubuh dan menusuk kulit hingga lapisan terdalam. Backsound klasik era tahun 80-an diputar. Uuhh.. tenang rasanya hati untuk satu jam pertama lepas dari Pesanggrahan Mbah Citro menuju Pos Pertama Watu Gede.

Batu besar berbentuk balok dengan ukiran alami yang berundak undak ini dinamakan Watu Gede. Pos pertama yang biasanya digunakan para pendaki untuk beristirahat, makan malam, dan mengisi tenaga untuk perjalanan berat sebentar lagi. Areanya datar cocok untuk berkemah mendirikan tenda. Anginnya sangat kencang, diusahakan tenda sedekat mungkin dengan batu untuk memecah angin. Namun tempat ini tak begitu luas, hanya 5-7 tenda yang dapat ditampung.

Cerita malam kami
Cerita malam kami

Malam hari dibawah batu besar dan sebuah pohon dalam terpaan angin dingin yang kencang menusuk tulang, menggugah kami yang terlelap dalam kelelahan untuk memantik api menyalakan perapian. Kami berkumpul melingkar mengelilingi api sambil bercanda tawa ringan. Kami duduk saling berdekatan merekatkan tali silaturahmi yang baru saja terbentuk. Kami adalah keluarga baru yang terkumpul atas kesukaan dan niat yang sama yaitu menikmati alam dan melestarikan tanpa merusaknya. Kehangatan api terasa dan semakin terasa hangat ketika mie rebus siap digilir dan dinikmati bersama. Disini, ego sudah tak bernilai lagi harganya ditebus oleh saling bahu membahu antar satu dengan yang lain.

Aku duduk diatas batu menikmati gugusan bintang-bintang yang semu tak terlihat terselubung oleh polusi cahaya. Kabut hitam tebal juga sedang menyelimuti langit. Pandanganku tak lagi keatas. Hamparan lampu-lampu berpijar dan berjajar di dataran tanah lebih menarik layaknya rasi bintang di langit. Rasinya membentuk cincin putih yang melingkar. Tersebar tak merata, disanalah kotaku, kota Lumajang berada. Disana, di barat kotaku terlihat kelap kelip lampu tipis berada diatas dari yang lain, itulah Kecamatan Gucialit yang terletak di ketinggian pegunungan Bromo Tengger Semeru yang paling subur dengan ditandainya perkebunan teh yang hidup tenang disana.

Pukul 1 dini hari adalah waktu yang tepat untuk memulai Summit Attack. Ekspedisi puncak Lemongan, puncak yang menyisakan catatan sejarah panjang Gunung Api Purba. Puncak yang menarik bukan karena kegagahan ’meter diatas permukaan laut’, akan tetapi karena kepuasan bersama akan sebuah pengorbanan perjalanan melewati jalur tangga batuan lahar mudah longsor dalam menggapai tujuan pencarian sisi lain pandangan akan kehidupan.

Tanjakan putus asa salah satunya. Tanjakan berpasir lembut ditambah kismis batuan besar berdensitas tinggi adalah ramuan masakan yang membuat tekad menjadi down. Jalur yang merupakan desain karya pecinta alam Gepala dan Gaspalu tersebut tegak berdiri melewati punggungan gunung mengikuti aliran lahar. Semangat yang berkobar akan terpadamkan. Kaki yang kendur mulai kencang. Otot lemas menjadi memadat. Berusaha terus berjalan tapi langkah yang terbentuk tak cukup berarti untuk segera sampai di ujian berikutnya. ”Sepertinya aku sudah berjalan tiga langkah, nyatanya dua langkah saja yang terbentuk” ujarku pada temanku.

Gerbang adalah Pos Kedua yang memang sesuai namanya dia adalah pintu masuk menuju hutan tropis yang lebat, lembab, dan sangat basah disepanjang tahun tak peduli penghujan maupun kemarau. Istirahat untuk menghela nafas panjang sejenak dipelataran tanah berbatu lancip yang tak terlalu lebar memang tepat di Pos Gerbang setelah berjuang menapaki medan berat. Tubuh direbahkan diatas tanah. Menikmati lukisan Sang Pencipta yang Maha Indah. Taburan milyaran bintang membentuk untaian rasi bintang menghiasi biru gelap langit malam. Meskipun langitmu tengah ditinggal sang Rembulan, bintang telah membuatku tersenyum lagi. Hatiku tergugah oleh keindahan titik titik cahaya di kegelapan malam. Imajinasi, kerinduan, dan pengharapan atas jalan hidupku turun mengilhami kalbu. Aku sambung bintang bintang tuk tuliskan namamu, nama orang yang selalu menari nari di dalam otakku. Dan sempurna sudah suasanya malam itu tatkala sebuah meteor jatuh melesat cepat ke selatan dan hilang menyusup di kepulan awan putih tebal. First time and looks so extraordinary!

Hutan Paku dan Lumut
Hutan Paku dan Lumut

Terbukalah pintu hutan. Hutan unik. Hutan yang saking lebatnya, cahaya matahari pun sedikit yang mampu menembusnya. Hutan pakis atau hutan lumut. Pepohonannya saling berdekatan dan ditutup oleh semak yang didominasi jenis Pteridophyta (pakis pakisan) terutama spesies Cycas rumpii (pakis haji), Asplineium nidus (paku sarang burung), dan Adiantum sp (suplir), serta jenis Bryophyta (lumut lumutan). Hutannya sangat basah. Embun malam pegunungan turun membasahi dedaunan. Bersiaplah untuk kedinginan ketika menyentuh dedaunan, ilalang, semak yang liar tinggi menjulang setinggi kepalamu. Terkadang harus berjongkok dan melompat ranting pohon yang tumbang. Namun, jangan sekali-sekali berharap jalanan rendah elevasi dan tanah liat yang empuk oleh akar tumbuhan yang elastis. Sama sekali tidak. Ditengah hutan yang rapat tersebut batuan kecil-kecil masih mendominasi rute hingga pos selanjutnya atau bahkan hingga puncak.

Terlihat Guci (red: tempat penyimpanan) yang dalam hal ini difungsikan untuk menadah air hujan dan air sisa kondensasi tumbuhan. Guci tersebut tepat berada dibawah pohon besar dan dilengkapi oleh teras semen untuk menjaga guci tetap berdiri pada tempatnya. Konon katanya, sebelumnya guci tergeletak miring dan terjatuh dari tempatnya karena pondasinya tidak datar hingga akhirnya beberapa pecinta alam memperbaiki guci tersebut dan menjadikannya Pos 3. Ketika musim hujan tiba guci yang terletak ditengah perjalanan antara puncak dan Watu Gede, banyak sekali ditemukan hewan filum Annelida seperti Haemadippza zeylania (pacet) dan Hirudo medicinalis (lintah). Hewan hewan tersebut siap menyambutmu dan menghisap darahmu kapanpun mereka mau. Jadi sebaiknya anda memakai gaiters (pemanjang tangan/kaki) dan bersepatu lengkap dengan kaus kaki dan sarung tangan agar terhindar dari serangan penghisap darah tersebut. Tetapi jika anda berniat untuk donor darah, boleh kok.

Lahan kering terbakar, akhir September 2014 kemarin
Lahan kering terbakar, akhir September 2014 kemarin

Tantangan selanjutnya masih berkutat dalam hutan yang dipenuhi oleh semak dan perdu yang rantingnya bisa menghambat lajumu karena pakaianmu akan tersangkut olehnya kemudian dilanjut dengan savana khas Lemongan yang dipenuhi bongkahan batu. Sayang, hijaunya kini telah tiada. Yang ada hanyalah tumbuhan kering kerontang sisa kebakaran hutan di Gunung Lemongan akhir September 2014 kemarin. Hutan yang didominasi tanaman semak dan pohon buah buahan seperti jambu mente dan tanaman konservasi lain sepanjang perjalanan dari Watu Gede hingga puncak gunung Lemongan habis dilalap si Jago Merah. Miris melihat hutan yang sedang kekeringan seperti ini. Terlebih pabila ada orang yang sengaja membakar untuk kepentingan pembukaan lahan.

Aku yang selalu terburu buru untuk mengejar sunrise di puncak yang katanya sunrisenya kurang lebih sama indahnya dengan puncak tertinggi jawa ijin untuk mendahului rombongan yang masih beristirahat di Pos Guci. Aku terus berlari hingga menyalip group yang berada di paling depan ditengah perjalanan Guci-Puncak. Menurut salah seorang teman yang sering mendaki Gunung Lemongan, jarak Guci-Puncak 1 jam waktu normal tanpa distraksi dan gangguan pada apapun. Aku optimis bisa mengejarnya. Lepas dari guci sekitar pukul 4, aku bergegas mengerahkan semua tenaga untuk pencapaian kesekian kalinya dalam berburu keindahan.

Bendera berkibar kencang, berkelibat kelibat. Plakat Gunung Lemongan 1671 by Gepala menyambut kedatangan setiap pendaki yang berhasil memijakkan kaki di puncaknya. Deru angin menerpa dataran bergelombang tak rata. Batuan besar yang berada di kurva puncak Lemongan tak cukup memecah angin. Semua terbang bersama beban dipikiran. Ku lihat kearah horison jingga yang paling mencolok. Ternyata mentari masih sibuk mempersiapkan diri dan beranjak dari tempat persembunyiannya di balik Pegunungan Yang, sebuah kawasan pegunungan konservasi eksitu Suaka Marga Satwa yang menyimpan beragam vegetasi hutan heterogen, danau, rawa, hingga padang Sabana. Pegunungan dimana tempat bersemayamnya Istri Raja Majapahit yang terkenal itu yaitu Dewi Rengganis yang mitosnya cantiknya bukan main dan biasa mandi di danau taman hidup.

Tebing yang tersusun atas bebatuan yang membentuk kurva bergelombang lingkar Puncak Lemongan
Tebing yang tersusun atas bebatuan yang membentuk kurva bergelombang lingkar Puncak Lemongan
Aku dan tebing Puncak Gunung Lemongan
Aku dan tebing Puncak Gunung Lemongan

Dari arah yang lain, ada hal yang membuat hati gemetaran melihat gagahnya tebing yang menjorok kebawah menuju perut gunung Lemongan. Tebing tersusun oleh batuan hitam pekat yang masih mengeluarkan asap belerang. Tebing melingkar dipenuhi oleh tumbuhan lumut yang hidup habitat ekstrim. Tanahnya masih panas membuktikan kebenaran bahwa gunung ini masih aktif dari yang tercatat dalam sejarah tahun 1799 hingga kini abad 21. Pun membuktikan kebenaran Junghuhn, seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog, dan pengarang berkebangsaan Jerman (lalu berganti belanda), yang dalam karyanya melukiskan kondisi riil Gunung Lemongan tahun 1852 yang hingga kini masih relevan. Franz Wilhelm Junghuhn juga sempat mengabadikan gambar Gunung Lemongan dari Maar besar di klakah yang tak lain adalah Ranu Klakah. Junghuhn menulis bahwa dahulu gunung Lemongan masih dalam satu kesatuan dengan pucuk raksasa yang mengeluarkan asap meletup letup dan melakukan aktivitas vulkanik yang masif. Sempat tercatat sebagai gunung dengan aktivitas terbanyak di Jawa. Dan akhirnya meletus pada tahun 1898 hingga membentuk kawah yang membagi dua puncaknya dengan lembah Marutha yang hingga kini tanahnya masih terasa hangat dan sesekali mengeluarkan asap belerang.

Ya, saat ini gunung lamongan memiki dua puncak utama yaitu puncak Lamongan (Kabupaten Lumajang) dan puncak Tarub (Kabupaten Probolinggo) yang dibatasi oleh kawah aktif. Puncak Lamongan lah yang sering disambangi oleh pendaki gunung dan pecinta alam karena medannya cukup mudah dan pemandangannya sangat memukau. Setelah sempat ditutup jalur pendakian via Klakah pada awal tahun 2012 akibat meningkatnya aktivitas Gunung tersebut, sekarang jalur sudah dibuka kembali. Puncak Tarub jarang didaki karena hutan hujan tropis yang lebat dan dihuni berbagai macam satwa liar seperti ular, burung alap-alap, dan kelelawar. Tercatat pada tahun 2010, tim dari Rangers Probolinggo berhasil mencapai puncak tarub yang merupakan puncak tertinggi 1671 mdpl. Orang yang sengaja mendaki puncak tarub hanya sampai pada puncak candi saja untuk keperluan ilmu gaib, ziarah, dan mengirim sesajen pengharapan atas sesuatu yang diinginkan.

Lagi, orang hilang, sandal jepit, dan lautan awan
Lagi, orang hilang, sandal jepit, dan lautan awan

Di celah celah lautan awan terhampar pemandangan dataran rendah yang hijau dipenuhi uap air tipis yang menyelimuti. Terlihat pula dua buah maar yang besar dan dipenuhi oleh air. Dua maar tersebut adaah Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Maar dalam istilah vulkanologi adalah lekukan dataran berdinding tebing terjal sebagai akibat aktivitas vulkanik gunung berapi. Terdapat sekitar 27 maar yang terbentuk disekitaran radius kurang dari 1 km Gunung Lemongan. Hanya saja yang lain tak terlihat jelas dan tak diisi air. Itulah yang menjadikan Gunung Lemongan unik dan istimewa bagi penggiat gunung dan bidang vulkanologi. Sayang, setelah itu, tak ada lagi pengamatan tentang terbentuknya maar di Gunung Lemongan ini.

Tak lama setelah mengamati segala penjuru sambil menunggu sunrise, mentari pagi menyapaku yang berada di ketinggian dari balik Gunung Argopuro sisi selatan. Sinarnya runcing lurus menabrak bola mataku dan menembusnya hingga kedalam retina dan diproses sebagai gambar sedemikian rupa yang tak ingin segera diakhiri karena saking indahnya. Dewi Rengganis mungkin cantik jelita seperti cantiknya Sunrise pagi itu. Perlahan meninggi menghapus garis horison jingga kuning merah yang tergores di langit biru. Gumpalan awan putih berubah menjadi kekuningan oleh karena sinar matahari. Sorot ceria mentari yang tak pernah luntur sampai kapanpun. Keceriaan abadi yang akan terus disalurkan oleh penghuni bumi, manusia, hewan, dan tumbuhan sekalipun. Bumi bergembira matahari bersinar lagi dari ufuk timur. Menghangatkan bumi yang kedinginan dalam gelap sepanjang malam. Seolah menggugah semangat kembali setelah sekian lama tertidur dalam mimpi.

Sunrise Lemongan dari balik Gunung Argopuro
Sunrise Lemongan dari balik Gunung Argopuro

Tak banyak aktivitas selain menunggu group lain dari tim kami yang masih dalam perjalanan ke puncak. Aku bersantai seperti di pantai. Menikmati deru angin yang tak lagi semilir. Kencang seperti badai yang membawa kabut tebal. Merasakan kehangatan yang Allah berikan padaku melalui Matahari-Nya. Matahari yang selalu tertunduk oleh-Nya. Syukur tiada henti memang layak diucapkan. Manakala aku, manusia biasa, sering kali lalai pada Sang Pemilik Segalanya. Sering tak bersyukur dengan apa yang dipunyai. Padahal apapun yang ada dalam diri saat ini, sudah lebih dari cukup.

Sudah puas di puncak dengan aksi tidur ria karena sudah semalam tidak istirahat sama sekali, kami semua bergegas turun karena kabut sudah mulai menerpa. Semua anggota tim turun. Aku berada di paling belakang. Berusaha dengan cermat merasakan dan mengamati sekitar. Menelaah semua yang ku temui di jalan. Because I’m different, I take different rute. Mengambil gambar yang unik selagi cahaya berlimpah di siang hari seperti ini. Bernyanyi sendiri ditinggalkan tim di belakang. Hatiku malah ceria. Inilah hidup. Inilah jalan yang aku tempuh. Santai dan dapatkan yang maksimal. Dapatkan sebanyak banyaknya. Karena aku yakin, aku naik gunung, berkorban, menghabiskan waktu, tak untuk menyia-nyiakan waktu. Justru aku mendapatkan pembelajaran langsung dari alam. Menambah ilmu pengetahuan. Memperluas wawasan. Dan mengetahui apa yang belum aku ketahui di bangku kuliah. Inilah ranah menimba ilmu yang sesungguhnya. Bukan hanya teori saja.

Bonus vegetasi di tengah semak belukar yang menanti hujan tuk memekarkan bunganya
Bonus vegetasi di tengah semak belukar antara Mbah citro dan Pos Watu Gede yang menanti hujan tuk memekarkan bunganya

Meluncur tanpa kenal lelah. Medan seperti ini bukan hanya pengorbanan sulit diawal saja dan mudah diakhir, semua sulit. Waktu tempuh turun dan waktu tempuh naik sama. Ini yang tak aku temui di gunung manapun yang telah ku daki. Biasanya waktu tempuh turun 2 kali lebih cepat dari waktu tempuh untuk naik. Huuh.. aku terus melaju. Menyalip tim. Dan menjadi orang yang sampai di Watu Gede yang pertama.

Aku disambut oleh dua rekan tim yang memilih tidak summit to the top. Akmi menunggu tim diatas batu sambil mengamati pergerakan mereka. Terlihat jelas seperti semut turun dari sendok. Mereka mereka yang turun lambat. Salah seorang rekan tim sedang sakit dan tidak kuat untuk melangkah. Dia memang pertama kali mendaki gunung, wajar saja. Terdapat 4 orang yang terdiri dari 3 laki-laki dan satu pasien perempuan yang sakit tersebut. Mereka bergantian membantu menuntun langkah kakinya. Sampai akhirnya tak tahan lagi dan seorang laki-laki yang terlihat sangat gagah, paling kuat, dan terlihat paling dewasa menggendong perempuan tersebut hingga bawah. Sungguh mengesankan. Jangan ditanya lelahnya. Jangan pula tanya tentang waktu yang molor hingga berapa jam. Semua tak bisa kami jawab, kami hanya bisa menjawab pengalaman berharga apa yang kami dapatkan saat itu.

Being understand that everyone who walk together with us, they are friend, don’t leave them alone ” – Hafidh

Singkirkan ego dan rasa individualismu, karena sungguh tak dibutuhkan di dunia manusia manusia ini. Padamkan emosimu seiring dengan hilangnya aurora mentari yang terbenam di gulungan awan ufuk barat. Sayonara Lemongan, you’re impressive and miss you as always.

Tim kami dan ketambahan tim dari Rangers
Tim kami dan ketambahan tim dari Rangers di Watu Gede

Thanks for Allah, yang memberikan kesempatan untuk menyaksikan kebesarannya. Terima kasih pula pada semua aliansi tim dari Komunitas Pecinta Alam, Kader Konservasi, dan Peduli Lingkungan Vabfas Lumajang, (Mas Beny, Damas, Mas Anton, Mas Yuli, Mas Rovic) yang sudah menjadi guide yang baik, ramah, rendah diri. Terima kasih juga aliansi dari teater SMA Muhammadiyah (Mas Arif, beserta 4 anak buahnya yaitu Fahmi yang dapat julukan baru Marsha, Yuni, Iqbal, Udin) yang sudah memberikan bumbu penikmat perjalanan kami dengan adegan teatermu. Serta tambahan Mbak Ajeng yang jauh jauh dari Probolinggo kesini untuk mendaki Gunung Terjal ini, Jangan kapok kesini lagi mbak ya, Lumajang masih menyimpan banyak alam yang begitu indah!

Advertisements

9 thoughts on “Jurnal Perjalanan Gunung Lemongan 1671 mdpl

  1. ceritanya bagus! apalagi ditambahi ttg sejarahnya gunung Lamongan, jadi dapet ilmu baru ttg vulkanologi. itu kuncup bunga, sepertinya kuncup bunga Melastoma malabatrichum – bunga senggani, flora khas gunung 😀

    1. Thanks, inilah suasana baru yg ku coba angkat, ci..
      Semoga bermanfaat. 🙂
      Weh, itu oleh2 buatmu banyak foto2 bunga dan tanaman gunung yg aku bawa dari Lemongan kemarin.

  2. Keren mas..
    Btw malam itu, malam satu suro tgl 25 oktober 2014 saya juga ndaki sampai puncak lemongan mas, wahh bareng lak’an

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s