Pengalaman Pertama Nonton Bioskop

Aku sangat ragu akan kemampuanku. Nyaliku menciut. Jantungku berdetak kencang. Bukan karena pertandingan classmeeting yang mendebarkan seperti kemarin. Kali ini aku berhadapan dengan realita yang jauh berbeda dari hidupku sebelumnya.

Aku selalu sendiri. Merenungi alam dalam sepi. Memandang keindahan pegunungan. Merasakan dingin angin yang berhembus bersama kabut. Sunrise dari ketinggian. Menyaksikan indahnya bintang dari tempat yang nyaris tak ada polusi cahaya. Dari sana terlukis bintang yang bertaburan membentuk geometri yang sempurna. Mengamati pergerakan bulan. Menentukan arah, gerhana, dan fenomena hujan meteor dengan mata kepala sendiri.

Interstellar
Interstellar

Dan kali ini aku berkesempatan untuk menyaksikan keindahan luar angkasa dalam dunia fiksi. Scince fiction tepatnya. Menonton film di bioskop tentang sebuah loncatan penjelajahan dunia luar angkasa yang jauh menembus cincin saturnus untuk mencari tempat tinggal masa depan manusia. Interstellar judulnya. Film yang lagi hot di bulan november ini.

Malam ini aku berangkat. Aku berangkat menuju gedung teater terdekat.

Sungguh aku gerogi dibuatnya. Aku berhadapan dengan satpam yang cool abis.

Aku bertanya padanya, ”apakah sepeda onthel bisa di parkir disini, di mall dekat kampusku?”

Dia menjawab dengan sangat sopan dan ramah, ”Sangat bisa, mas”

”Langsung saja lewat sini, nanti ambil karcis kesini lagi ya. Jangan lupa pulangnya lewat pintu masuk saja!”, Tambahnya.

”Oke, terima kasih”, jawabku dengan sedikit senyum

Tantangan pertama sudah terlewati dengan begitu gugupnya. Selanjutnya adalah mencari gedung bioskop di mall sebesar dua kali lapangan bola ditambah tingkat lima. Sungguh aku tak tahu. Aku ingin menonton film di bioskop sedang tempatnya atau bahkan studionya pun aku tak tahu.

Bermodalkan tekad, aku berjalan terus melesat ke lantai paling atas mall.

Aku bertanya pada satpam, ”Dimana Cinema XXI, pak”

”Lurus saja, dek”, jawabnya dengan gaya ala satpam yang sedang sibuk bertugas. Memegang alat komunikasi radio dan tongkat anti huru hara di ikat di ikat pinggangnya.

Perjuangan belum berakhir. Aku mondar mandir di lobby XXI. Aku tak tahu cara masuk gedung teaternya. Bingung. Membuka hp. Sok sibuk dengan smartphone yang aku punya. Seperti orang yang sedang mengecek notification pentingnya. Yang sebenarnya tak ada yang perlu dicek. Hpku semi maleminggu ini. Aku mencoba melihat, mengamati dan survei kecil kecilan bagaimana membeli tiket disana.

Sementara orang sedang asyik menunggu masuk gedung teater, aku mencoba menenangkan diri. Sibuk dengan gadget masing masing. Ada pula yang sedang seru berbincang bincang dengan keluarga. Menanti datangnya makanan yang mereka pesan. Dan juga yang sedang menikmati cinta dengan pasangannya.

Aku meyakinkan diri untuk ikut dalam antrian panjang lobby bioskop. Hatiku benar berkecambuk. Kalut. Tak menentu. Pikiranku diselimuti oleh bayang-bayang, ”bagaimana jika aku salah mengantri? Bagaimana pula kalau sebenarnya membeli tiket film di bioskop itu harus minimal 1 jam sebelum film dimulai? Bagaimana jika dilm sudah mulai, dan seat sudah habis. Bisa jadi lelucon bagi para pengantri yang lain dong.

Jadi bahan tertawaan para chinese. Cewek dengan hotpen yang gaul abis. Cowok maco dengan style distro dan mall. Cantik dan ganteng bertebaran. Nah aku, aku ini siapa? Aku yang berwajah kusut dan kumal, sepeti tidak mandi selama satu bulan, mencoba berbaur dengan mereka. Apakah iya bisa? Aku sendiri tak yakin. Sekali lagi aku disini hanya bermodal keberanian. Tak lebih. Aku memakai sandal gunung. Kaosku menekuk nekuk. Kumal. Tidak rapi sama sekali. Celana jeansku kedodoran. Jaketku adalah jaket himpunan jurusanku. Sungguh penampilan yang tak serasi sama sekali. Tak layak harusnnya aku disana.

Dan saat berhadapan langsung dengan pelayan tiket, aku pun bernegosiasi tentang film interskallar. Ternyata masi ada, di seat terdepan, dan harganya lumayan mahal. Aku sudah berusaha sejauh ini. Aku tak ingin pulang tanpa pengalaman menginjakkan kaki di dalam studio lima Cinema XXI Galaxy Mall. Apapun resikonya aku ambil. Deal dan aku mendapatkan tiket masuk. Menunggu terus menunggu hingga pintu studio terbuka.

19.00 WIB. Gedung teater sudah dibuka. Aku langsung masuk dan duduk sesuai seat yang tertera pada tiketku. Ternyata ini ya yang paling tak disukai orang nonton bioskop di depan. Ternyata pandangan cukup tak mengenakkan. Harus melihat keatas. Posisi yang tak nyaman.

15 menit sebelum film diputar, aku gunakan waktuku untuk internetan. Sayang sinyal tak tembus di ruangan tersebut. Kedap sinyal rupanya. Aku tak punya banyak jalan. aku utak atik saja smartphone-ku. Mungkin itu adalah jurus andalan tatkala tak ada yang mengajakmu bicara dalam keramaian. Menunggu dan menunggu. Terus aku lakukan dengan senantiasa mengingat kembali tips dan trik ketika berada di gedung bioskop yang sengaja aku cari via google sebelum sampai kesini.

Film diputar, dan aku sangat menikmatinya. Aku terkesan. Aku seperti hidup pada dunia lain. Inilah dunia baruku. Mall.

Mesin, TV, dan alat elektronik sudah sangat banyak. Kita tak butuh lebih banyak lagi pada insinyur. Kita butuh petani. Petani yang hebat untuk menghidupi manusia di bumi. –Cuplikan film Interstellar

Advertisements

10 thoughts on “Pengalaman Pertama Nonton Bioskop

    1. Wah asyik aja kok. Tapi lebih seru lagi kalo bareng teman ataupun dengan keluarga. 😀
      Ya, silakan. Cobalah pengalaman baru yang sekiranya belum kau tau. Temukan ceritamu sendiri dengan segala keunikan dan pelajaran yang ada didalamnya. 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s