Tetralogi Pulau Buru by Pramoedya Ananta Toer

Semakin aku mengikuti untaian kata-katanya, semakin aku terlarut dalam hingar bingar tahun penjajahan negeri ini. Seakan aku sendiri sedang berjuang atas penindasan bangsa penjajah yang begitu kejam. Kesengsaraan bangsa pribumi, yang menyediakan bumi untuk mereka perah, mereka angkut, mereka bawa ke negeri mereka. Betapapun pedih perasaan rakyat penyedia lahan, mereka tak menggubrisnya. Sudah menyediakan lahan, menjadi jongos pula di negeri sendiri. Upah tak sebanding dengan kerja. Politik etis yang dijanjikan pun tak lebih dari sebuah omong kosong untuk meraup untung yang lebih banyak lagi. Mengambil hati rakyat untuk patuh terhadapnya.

Berapa sih pribumi yang di sekolahkan di sekolah anak kulit putih? Hanya satu mungkin ditiap sekolah. Seberapa penting ilmu pengetahuan yang diajarkan mereka. Tatkala ilmu pengetahuan tak mengantarkan pada martabat manusia yang lebih baik. Tatkala si pribumi memiliki ilmu dan dengannya ia ditindas, bagaimana perasaanmu? Manakala hukum tak berpihak pada manusia? Kemanusiaan sudah hilang dari bumi manusia. Lebih memenangkan persekutuan setan yang terkutuk demi mendapatkan sekelumit harta yang menipu itu. Sudah tak ada guna semuanya. Dan sebagai terpelajar harusnya sudah adil sedari pikiran.

Buku Tebal Tetralogi Pulau Buru
Buku Tebal Tetralogi Pulau Buru

Selama tiga hari aku sedang sibuk dengan bacaanku yang menumpuk. Koran aku bacai berulang kali. Empat buku Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer sudah selesai seperempatnya. Buku setebal lima ratusan lembar itu aku lahab dalam 3 hari saja. Buku yang telah tamat berjudul Bumi Manusia.

Semakin aku baca, terus hingga tamat pun, aku semakin sadar diri ini tak ada apa-apanya di banding manusia-manusia di belahan bumi lain. Sudahlah, aku ini adalah sebuah tong tak berisi. Apa yang aku banggakan menjadi seorang diri? Tak ada. Hidup dua puluh tahun lamanya, tak ada yang membuatku berarti. Mau mati paling juga tak ada yang menghiraukan. Ada pun paling sehari dua hari lalu ditinggalkanlah aku sendiri dalam kubur.

Sungguh nista, selama ini aku hidup melakukan apa saja? Apa yang kelak aku tinggalkan di bumi. Membuktikan bahwa pada tahun sekian ada seorang yang bernama Hafidh yang lahir dari belahan bumi entah dimana berhasil melakukan ini dan itu sehingga nama itu terus dikenang oleh manusia setelahku.

Semuanya menggugahku dari mimpi panjang dalam keempukan kasurku. Ternyata selama ini terlalu nyaman hidupku. Mungkin sekali kena terpa badai masalah, pendirianku bisa saja rubuh. Oleh karenanya, mulai sekarang, aku lebih bisa terbuka dan melangkah keluar untuk menjejakkan setiap langkahku pada bumi manusia ini.

Advertisements

14 thoughts on “Tetralogi Pulau Buru by Pramoedya Ananta Toer

    1. Aku mungkin ingin seperti Pram, jago nulis, karyanya dikenang hingga kini, multilangual, dan cerdas. Tapi aku tak ingin punya istri manja macam Annealis, betapapun cantiknya ia. πŸ™‚
      yg bikin aku ingin segera menyudahi baca buku ini ya cerita Annealis, hahah pegel dewe lihat tingkahnya. πŸ˜€

      1. akhirnya sad ending, cenderung nggantung .. cinta yang terpisah benua dan samudera itu kembali lagi kah? Robert kemana akhirnya? Annelies tertular penyakit sipilis juga kah gra2 abangnya? akhirnya kekayaan Nyai habis begitu saja kah? atau Minke dan Nyai masih terus berusaha mendapatkan Ann dan hartanya lagi? Minke akhirnya gimana? jadi bupatikah? jadi penuliskah? ahh masih banyak tanya di kepala .. 😦

        aku suka sama Magda Peters dan nasihat yg diucap ke murid2nya ttg belajar dan sekolah ..
        “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua” πŸ™‚

      2. Wah kamu udah paham betul ceritanya ya? Jawaban pertanyaan itu ada di kelanjutan ceritanya yaitu Anak Semua Bangsa. Ada semua kok. πŸ™‚
        Hahah kalo aku sih suka sama itu tuh ya sama penulisnya. Joss dah semuanya. Dan quote yang paling mengena dari teman baiknya, “Harus adil sedari pikiran” πŸ˜€

      3. Aku paling suka sosok ibu Nyai Ontosoroh alias sanikem. Dia berani bangkit dari keterpurukan hidup. Wanita yang hebat πŸ™‚

      4. Hahah yang bisa menggenggam hati lawan bicaranya, yang lembut hatinya, yang keras menentang penindasan, yang pandai seperti lulusan sekolah tinggi padahal tak bersekolah, dan yang mampu menempatkan diri setepat-tepatnya. Keren.
        Btw, kapan kamu baca ini ci? Kok udah khatam aja rupanya? #keheranan

      5. kemaren minggu pas lagi galau jalan2 sendiri ke malioboro, eh tergoda baca2 buku di shoping center book dan ada bukunya Pramoedya A.T. sebenarnya sih penasaran fid cz katanya penulisnya slalu masuk nominasi nobel sastra gitu. jadinya pengen tau gimana tulisannya πŸ™‚

      6. Walah iya, dia top dah dalam dunia sastra dan jurnalistik. Tulisannya selalu dimuat di koran lokal, bukunya diterjemahkan di 17 bahasa asing. Tulisannya terbanyak dibaca dalam bahasa inggris. Keren banget dah. Baca lengkap tetraloginya dari bumi manusia, anak semua bangsa, jejak langkah, dan rumah kaca. Itu tetralogi pulau buru. πŸ™‚

  1. Mungkin zaman juga telah membuatku nyaman saudaraku….
    Dilahirkan di zaman “serba” nyaman seperti ini, seolah2 membuatku tenggelam dalam arena kesenangan tanpa menghasilkan atau mungkin sedikit memperjuangkan nilai2 kehidupan…
    Salam kenal πŸ™‚

    1. Ya, semuanya serba ada, dan kita harus berjuang untuk mendapatkan sisi baiknya. Itupun kalau sadar itu perlu, kalau tidak? sudah barang tentu kita terjerumus dan celaka. Teknologi bagai pisau memang. πŸ™‚

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s