[Hot Issue] Indonesia Di Tangan Pemerintah Baru

Isu transisi pemerintahan lama menuju pemerintahan baru menyajikan banyak peristiwa yang menarik untuk diamati. Di pelbagai media massa, berita tentang kinerja Presiden, DPR, dan Menteri banyak menuai kabar dari yang baik hingga buruk. Pujian dan celaan atas kinerja yang pemerintahan baru yang belum genap 100 hari banyak dolontarkan oleh pelbagai kalangan.

Pak presiden yang sedang berjualan aset negaranya sendiri ke negara asing. Proyek pembangunan sebagai konsekuensi atas program yang dijanjikan seperti pengukuhan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan pelayanan kesehatan yang terintegrasi dan mudah. Dimana konsekuensinya pembangunan infrastruktur membutuhkan banyak investasi yang tak mungkin bisa dicover oleh orang sendiri. Orang asing lah ujung ujungnya. Pak presiden sekarang sedang gencar merayu pihak berduit untuk berinvestasi terhadap pembangunan di Indonesia. Bahkan tak disadari malah menjadi bumerang bagi negaranya sendiri nantinya ketika semua menjadi kepemilikan asing.

Oiya ada satu lagi, ”kartu sakti Jokowi” namanya. Yang entah seperti apa pembuatannya, tiba-tiba kartu itu sudah jadi dan siap untuk disebarluaskan pada khalayak. Sungguh hal yang tak masuk akal. Entah datangnya ide dari mana, mekanismenya seperti apa, semua masih menjadi tanda tanya besar. Sistem PBI BPJS yang dari dulu sudah ada saja masih mengalami kembang kempis karena terganjal masalah administrasi, pencairan dana, dan proses yang rumit. Malah ketambahan KIS (Kartu Indonesia Sehat). Menurut hemat saya, pembenahan kekurangan pada sistem BPJS akan lebih efektif dan efisien dalam aplikasinya daripada harus susah susah mengganti namanya dan mendapatkan pencitraan olehnya.

Sungguh ironi, DPR yang terhormat disana yang seharusnnya mengayomi, mewadahi aspirasi rakyat sekarang sedang bersetongkol dan bertengkar tiada ketemu pula ujungnya. Mereka lebih mementingkan kepentingan kelompok koalisi. Ingat, bapak ibu DPR yang terhormat, kalian disana dibayar sebagai pemanjang mulut dari rakyat. Bukan dibayar untuk memperjuangkan kepentingan partai anda dan koalisi anda. Sudah berapa lama kami sebagai rakyat tak melihat kinerja anda. Malah berseteru rapat paripurna yang berkepanjangan hanya untuk tarik ulur kekuasaan di DPR.

Ada lagi yang menarik. Kenaikan harga BBM dari dulu hingga kini masih saja sama. Dari pemerintahan satu ke yang lain selalu ada alasan untuk menaikkan harga BBM. Alasan klasiknya adalah salah sasaran. Subsidi besar besaran negara malah banyak dinikmati oleh pemilik mobil mewah. Rakyat tetap saja melongo. Kesulitan dan keberatan dengan harga BBM yang tinggi dan tak mendapatkan alih fungsi subsidi.

Masih terngiang bagaimana nasib para nelayan yang hendak melaut mencari peruntungan. Mata pencaharian satu satunya. Semakin terdesak dan terancam berhenti jadi pelaut jika kenaikan solar terus melaju tak terkendali. Adanya pembatasan solar pula. Tangkapan semakin menurun, biaya operasional semakin naik. Tercekik lah mereka. Betapa tega, pilar penentu keberhasilan maritim di Indonesia juga ditentukan oleh nelayannya. Sudah mapankah nelayan Indonesia. Tak akan mapan kalau hanya mendapatkan gelontoran dana 3.3 % dari total APBN 2015. Sedikit sekali. Tak akan meningkat signifikan hasilnya nanti, kalau menurutku.

Iya, Desas desus kepemilikan pulau terpencil di Aceh oleh perseorangan dan bahkan menyangkut pautkan pada Menteri Perikanan dan Kelautan yang baru saja dilantik.

Belum lagi, Gonjang-ganjing Ahok yang diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Gubernur lama yang mencalonkan diri sebagai presiden. Banyak yang protes. FPI beraksi dan demo sebagai aksi solidaritas pendukung Ahok pun saling bertabrakan. Pamflet maju terus Ahok dengan gambar wajah Ahok diarak turun ke Jalan.

Dan bahkan munculnya rasa waswas dan takut untuk menitipkan buah hatinya di sekolah akibat maraknya kasus pencabulan oleh gurunya sendiri. Dalam sepekan terdapat dua kasus pencabulan terhadap murid SD. Terutama terjadi di Surabaya, SDN Gubeng 1 salah satunya. Orang tua semakin dibuat pusing oleh oknum pengajar yang tak bertanggung jawab. Muncul pula rasa ketidakpercayaan. Tak bisa dipungkiri memang, sudah sewajarnya orang tua waspada pada pihak sekolah yang seharusnya mendidik siswa dengan baik lah kok malah bertindak tidak senonoh. Lantas kepada siapa lagi orang tua akan menitipkan tanggung jawab pendidikan kalau keadaannya seperti ini?

Entahlah, mau dibawa kemana negaraku ini. Aku hanya bisa membantu lewat kata. Membuka pikiran lewat wawasan. Menggugah asa melalui motivasi. Mengkritisi untuk membangun. Dan mencoba sekuat tenaga bisa membanggakan negeriku tercinta ini. We love Indonesia, right?

Sumber: Berbagai harian Jawa Pos

Kenapa kok posting tentang isi koran sih? Penulisnya sedang kena sindrom nih. Ini penyebabnya.

Advertisements

2 thoughts on “[Hot Issue] Indonesia Di Tangan Pemerintah Baru

  1. Bagus nih bisa nambah informasi buat pembaca yang gak sempet baca koran, apalagi nonton tipi .. lanjutkan bosss!! hihi 😀

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s