Siapa yang salah?

Untuk semua yang mengaku mahasiswa

Sekelumit cerita dari dunia lain. Dunianya para elite students. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa. Siswa yang mengganggap dirinya beda. Dirinya spesial. Ah itu terserah apa kata orang. Entah spesial atau tidak, tak peduli. Yang penting mah bukan anggapan atau labelnnya. Yang penting adalah pola pikirnya. Sudahkah pola pikirnya berbeda dengan siswa pada umumnya?

Aku sengaja mengambil case tugas laporan praktikum dalam perkuliahan untuk lebih mudah memahamkann kita, para mahasiswa, pada permasalahan yang selama ini terjadi di dunia para elite student ini. Mungkin sih terkesan sepele atau nggak guna. Tetapi cobalah sedikit terbuka. Open mind. Kalaupun tak setuju, boleh lah caci tulisan ini.

Mahasiswa selalu mengeluh pada tugas apapun yang dikerjakan dalam bentuk tulisan tangan. Ya kan? Apalagi nulis laporan dengan tebal belasan halaman A4 atau bahkan berpuluh puluh lembar. Paling ogah dalam hal nulis tangan seperti ini. Tangan capek. Waktu banyak habis untuk menulis. Buang buang tenaga. Pola pikir mereka terbentuk sedemikian rupa karena melihat teknologi yang sudah ada, kenapa tidak dimanfaatkan. Kok kehidupan mahasiswa masih saja sulit. Padahal sudah ada laptop, komputer, diketik kan juga bisa? Dicetak dalam bentuk hardcopy juga bisa. Nyatanya apa? Tulis tangan adalah harga mati untuk lulus dalam matakuliah yang didalamnya ada praktikumnya. Sah sah saja kita memiliki pemikiran yang demikian.

Sisi lain, sebagai asisten atau pihak dosen yang memberikan tugas, mereka tak mau kecolongan dan susah sendiri mengurus mahasiswanya. Mereka tak ingin ada fenomena copas atau copy paste tugas terjadi. Kalau mahasiswa diberi tugas print out atau ketik di komputer, ujung ujungnya pasti sama satu kelas. Tugasnya berasal dari satu sumber anak yang paling rajin. Yang lain copas dan dengan sedikit editing. Editingnya kalau misalkan ditambah materi sih fine fine saja. Parahnya kalau hanya ganti font, ukuran, dan tata letak tugas.

Lantas bagaimana cara mereka mengatasi fenomena tersebut? Menghambat atau memperlambat proses itu terjadi. Tulis tangan lah solusinya. Ya dengan tulis tangan, paling tidak mahasiswa yang sukanya salin tugas teman itu belajar menulis, kemudian mau membacanya meskipun dengan terpaksa.

Nah kalau dilihat dari kedua sisi tersebut, sepertinya baik mahasiswa dan dosen memiliki alasan yang sama kuat untuk mempertahankan argumennya. Tetapi jika ditelaah lebih dalam, apakah mahasiswa mampu apabila tugas memang diketik mereka bisa menjamin tidak adanya copas. Bagi sebagian mahasiswa mungkin bisa. Bagi yang lain, belum tentu. Oleh karenanya sebenarnya siapa yang salah? Aku berani mengkambing-hitamkan budaya pendidikan di Indonesia. Budaya mencontek pekerjaan orang lain. Budaya plagiarisme yang masih sangat kental. Andai saja budaya itu sirna di bumi Indonesia sudah barang tentu, teknologi bisa dipakai dan kemmudian pendidikan di negeri ini semakin maju.

Masih ada kok pelajar di pedalaman pelosok Indonesia yang demikian ideal. Mereka adalah murid yang kecil dan belum dewasa. Mereka rela waktu bermainnya terkurangi oleh tugas. Bahkan mereka mengerjakan tugasnya di pinggir jalan, saking inginnya tugas mereka sendiri. Mereka belajar bersama seusai sekolah. Berdiskusi dengan teman untuk menghasilkan tugas yang berkualitas.

Tak malu kah kita dengan mereka?

Dan terakhir, aku pernah mendapati di surat kabar terbitan Jogja beberapa tahun lalu, bahwa Ketika mahasiswa saja sudah plagiat, ketika kerja korupsi lah ranah plagiatnya. Sedih dengarnya.

Advertisements

2 thoughts on “Siapa yang salah?

  1. Saya juga masih ada tugas tulis tangan. Gak banyak sih, cuma ada aja beberapa. Niat dosen pun emang gitu, bilangnya biar gak ada yang copas. Tapi di fakultas saya sih udah biasa jadi nya gak ada yang ngeluh, kalaupun ada yang ngeluh mungkin seorang duaorang kali ya.

    1. hahah baguslah kalo nggak ada yg ngeluh, yg penting sama ngerti aja antara dosen sama mahasiswa, soalnnya paling nggak suka kalo ada mahasiswa yang jelek2in dosennya hanya karena ngasih tugas yg ekstra berat, emang mahasiswa pikir, dosen ngasih segala sesuatu nggak dipikir dulu apa ya hahah. 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s