Diantara Arjuno dan Welirang

Cerita sebelumnya Sebelum Pagi Tiba

Pagi ditandai oleh mentari yang menyapa siapapun orang yang menantikannya. Horison timur yang memerah perlahan hilang menguning dan akhirnya berubah menjadi biru muda yang amat cerah. Garis cahaya menembus cakrawala. Sunray yang memukau.

Lereng bukit harus segera kami lahab. Kemudian memasuki punggungan dengan hutan pinus yang cukup rapat telah menanti. Seperti jalur pendakian pada umumnya, ketika melewati lereng gunung, melipir di kanan jurang dan di kiri tebing. Banyak sekali jalan tikus setelah lepas dari kokopan.

Aku beranikan diri melepaskan diri dari rombongan hanya untuk hunting foto.

Mereka sedikit mengkhawatirkanku.

Mas Reza bilang, ”Ayo barengan aja, tak tunggu deh”

Iqbal menerjang, ”Ayo cepet, takut tidak keburu ke Welirang nanti”

Dengan santainya aku jawab, ”Duluan saja nanti aku susul”

”Beneran?”, Mas Reza ingin memastikan

”Iya beneran duluan sana mas”, mencoba meyakinkan dengan tegas dan raut muka yang patut.

Aku optimis bisa mengejar mereka. Akhirnya aku ditinggal juga. Aku tak menggubris kepergian mereka seperti aku bisa jalan sendiri meskipun tak tahu medan. Aku melanjutkan petualanganku, pemburuanku, dan warna perjalananku sendiri. Berusaha mengabadikan semua yang aku temui. Dan berusaha menuliskannya pula.

Penanggungan lebih terkesan menakutkan, mirip orang gundul dan wajah yang menyeramkan. Perhatikan!
Penanggungan lebih terkesan menakutkan, mirip orang gundul dan wajah yang menyeramkan. Perhatikan!

Cukup puas dengan pemandangan gunung Penanggungan yang diselimuti kabut tipis, aneka tetumbuhan, dan rimba rerumputan yang bergoyang liar dalam derap angin kencang. Aku memilih jalur pintas untuk mengejar teman-teman yang sudah jauh diatas. Tak terdengar lagi kode alam yang mereka raungkan. Tak kelihatan sama sekali titik yang bergerak. Terus berjalan dalam cepat menembus ilalang setinggi dua kali kepala orang dewasa. Rantingnya kuat dan tajam. Sulit diterobos. Jalan tikus lama kelamaan makin kabur. Disana sudah tak bisa diperkirakan lagi ending dari jalur alternatif ini. Apakah nanti bersinggungan dengan jalan normal atau tidak? Pertanyaan muncul diiringi perasaan takut pula. Jalanan semakin melipir sulit tuk dilalui. Setapak manusia sudah tak bisa diperkirakan lagi. ”Ini bukan jalan manusia, ini jalan air”, aku bergumam dalam keresahan. Sisi kananku tebing bukan semakin rendah, malah semakin terjal dan tak mungkin aku daki. Padahal instingku kuat mengatakan jalur sebenarnya ada di balik bukit tersebut. Kekalutan semakin menjadi-jadi kala jalur air tak terlihat lagi, jalan benar-benar buntu.

Hati-hati bukan jalur pendakian
Hati-hati bukan jalur pendakian

”Ah sialku memang”, aku marah pada diriku sendiri. Bodoh! Akulah yang menyebabkan ini semua. Mau jalan sendiri tanpa tahu medan yang akan dilalui. Aku tak punya pilihan lain, aku berputar haluan menemukan jejak kaki manusia. Aku berbalik turun dengan terburu-buru. Kacaulah detak jantungku kala itu. Dag dig dug kencang, tak beraturan. Ambil arah bukit yang lebih rendah meskipun tak ada jalan, terobos terus keatas. Up up! Aku berlari, mendaki bukit menggapai asa bertemu dengan jalan yang benar.

Yeah, kiuk kiuuuukkk.. kodeku aku nyalakan untuk memberikan kabar pada manusia sekelilingku bahwa aku masih ada dan tak tertinggal jauh. Tak lama berselang, teriakanku dijawab oleh Mas Reza, aku ingat betul suaranya. Yooo… Menyemangati dengan tegasnya.

Semangatku memuncak. Kekalutanku sudah tiada. Sayang, langkah kaki tak mau diajak melangkah lebih cepat. Aku lebih memilih perlahan memulihkan pernapasan yang tak beraturan dan kaki yang kejang. ”Yang penting aku sudah temukan jejak manusia”, aku bergumam dalam hati.

Telah kutemui Mas Reza sedang duduk telentang diatas batuan. Wajahnya terlihat lelah dan mengantuk berat.

”Mana yang lain, mas?” tanyaku keheranan melihat Kamil dan Iqbal tak bersama Mas Reza.

”Tidak kamu salip?” Jawabnya.

Pertanyaan tersebut berimplikasi bahwa mereka masih ada di bawahnya. Seharusnya aku menyalipnya.

”Sayangnya, aku tadi lewat jalur pintas, tak menyalip sama sekali, Mas”, jawabku

”Ya sudah kita tunggu saja mereka”, Mas Reza tak bergerak sedikitpun dan melanjutkan tidurnya.

Tak lama berselang, ada tanda-tanda manusia berjalan dari bawah. Tak salah lagi. ”Itu mereka, Mas”, aku membangunkannya agar segera berjalan lagi. Mereka tak mau kalah denganku yang menikung lewat jalan pintas, sebelum mereka melihatku, mereka berbelok melewati jalur tikus. Licik.

Mereka tepat berada di punggungan lebih tinggi dariku. Iqbal berteriak dengan nada mengejek, ”Aku sudah diatas, fidh”.

Aku tak bergerak. Aku melanjutkan istirahatku. Itulah yang membuat mereka jengkel.

Terus melangkah di jalan yang kurang lebih sama dengan medan yang aku lewati tadi malam. Jalur paling tidak disukai pendaki. Batuan begitu keras. Batu hasil pecahan dari batu besar yang dipalu tertata rapi dan tertanam di jalan. Harusnya tak bergerak, tapi beberapa batu lepas dari kedudukannya dan terlempar kesana kemari menyebabkan jalan tak bersahabat sama sekali dengan kaki. Sakit disemua bagian telapak kaki. Pergelangan hingga sendi lututpun tak luput dari efek jalan tak manusiawi ini. Menyedihkan sekali.

Jalan yang demikian didesain untuk mobil jeep kelas berat. Mobil tersebut yang menjadi alat kelengkapan transportasi belerang dari Pondok Penambang menuju Tretes dan kemudian didistribusikan ke pabrik untuk diolah menjadi berbagai aneka kosmetik dan kebutuhan lain. Penambang biasa menambang di Puncak Welirang pagi sebelum fajar meyingsing dan mengumpulkannya di Pondok. Jarak pondokan ke puncak welirang adalah 6 jam pp. Sangat jauh. Tidak mungkin bagi para penambang mengantarkan beban berat hasil tambang mereka dengan memikulnya ke bawah hingga Tretes, sedang jarak Pondokan Tretes tembus hingga 7 jam perjalanan naik. Kalau turun bisa sampai 3 jam. Medannya pun menurun tajam.

Jalanan semakin berat. Sebentar lagi tanjakan panjang menghadang. Semacam merambat atas tebing. Lurus ke atas tegak seperti dinding. Temanku mengeluh terus. Wajahnya nelangsa, ngesakke. (baca: patut dikasihani) Tidak enak. Carrier terasa berat. Bolak balik menginginkan istirahat. Aku sangat risih dengannya. Merasa tersinggung karena aku memang membawa tas Daypack saja. Dikira gegara itu aku kuat menanjak tanpa berhenti. Tak ingin terganggu lagi aku angkut saja tas sebesar 50 L miliknya ke punggungku. Kita bertukar tas.

Lantas aku melaju seperti petir menyambar. Menyalip siapapun yang ada di depanku termasuk Kamil dan Mas Reza.

Iqbal bilang dengan nada merendahkan, ”Tuh, makan tanjakan curam”. Seolah aku tak akan bisa melewatinya dengan cepat mengingat beban punggungku bertambah berat.

Dari situlah aku merasa motivasiku meningkat signifikan. Aku berjalan semakin cepat. Nafasku telah terengah-engah. Tapi tetap terjaga dalam ritme yang beraturan. Kaki aku atur dengan pijakan yang ringan di ujung telapak. Sedikit aku bungkukkan badanku ke tanah berharap beban tersebar merata pada tulang punggungku. Aku malah berjalan semakin masif dan meninggalkan kawananku di belakang. Dalam hati aku berkata, ”Ini, sudah aku makan segar tanjakan curam yang kau bilang”. Kala itu aku sudah berada di puncak bukit. Tak terlihat lagi mereka. Pun tak terdengar lagi suaranya.

Aku ingat baik-baik, aku akan sampai di pondokan tak lama setelah Gunung Welirang tak terlihat oleh pandang mata. Tetapi semakin aku kejar imajinasiku tentang pesona pondok penambanng, Gunung Welirang malah semakin jelas terlihat.

Ah masa bodoh. Aku malah terlarut dalam suasana hutan yang semakin lebat. Pohon tinggi menjulang. Didominasi jenis pinus. Semak hijau dibawahnya menyejukkan mata. Banyak terdapat biji pinus yang hendak melakukan penyerbukan. Bentuknya seperti bunga ada yang kincup ada pula yang mekar. Keras seperti kayu berwarna cokelat kehitaman. Segar terasa. Sinar mentari hanya menembus celah kecil dedaunan.

Ditambah pantulan sinar mentari oleh embun pagi yang tersisa pada rerumputan. Yang enak berlama lama disana adalah sejuk dan hawa pegunungan yang amat kental terasa.

Kicauan burung menentramkan jiwa. Burung berterbangan dari dahan menuju ranting dan kadang menghampiriku. Tak punya takut. Malah seperti menyambut kedatanganku. Mengucapkan salam. Burung yang cantik. Ada yang berwarna hitam berpadu dengan mata merah dan kunung pada bagian bawahnya. Ada pula yang perpaduan antara hitam dan putih. Hitam dan kuning tipis. Bertengger diantara dahan. Mereka menghirup udara sebanyak mungkin. Menyimpannya dalam pundi udara mereka. Dan siap mengepakkan sayap tuk terbang. Berterbangan menyusuri luasnya langit. Bebas. Ceria.

Berjalan dengan sangat lambat seperti siput untuk lebih menikmati perjalanan, merasakan sekitar, dan peka terhadap lingkungan. Mendengarkan simfoni alam. Melihat keindahan seluk beluk hutan. Mencium bau segar udara pegunungan yang minim oksigen dan kaya embun air.

Kera hitam sering kali mengagetkanku di tengah perjalanan. Bergelantungan dari ranting pohon ke pohon yang lain. Kresek.. kresekk dia tiba-tiba hilang dibalik semak semak. Cepat melintas dan cepat pula hilang dari pandangan.

Tak terasa, aku dibius oleh eksotika rimba, aku telah lama kehilangan perhatian pada gunung Welirang. Telah lama hilang tertutup bukit rupanya. Pun demikina jalan datar berganti menurun. Inilah tanda berikutnya yang harus aku lalui sebelum sampai di Pondokan. Di kanan jalan terlihat bekas kebaran hutan. Abu, kayu kering, dan pohon tumbang berserakan di area yang sangat luas. Kebakaran yang terjadi di akhir musim kemarau kemarin melahap berhektar-hektar hutan di Kawasan Taman Hutan Raya Raden Soeryo ini.

Tak lama kemudian aku sudah sampai di Pondokan. Aku merasa terlalu cepat melangkah tadi. Datang 1 jam dari waktu tempuh yang ditargetkan.

Kampung / Pondok Penambang belerang Gunung Welirang
Kampung / Pondok Penambang belerang Gunung Welirang

Tanpa basi basi, aku berkeliling, observasi pada sekitar. Inilah salah satu alasan aku mau ikut ke Arjuna. Pondok Penambang yang sarat akan budaya gunung. Aku amati dengan cermat segalanya.

Aku ingin bicara. Aku teriaki semua yang ada di seklilingku. Tapi tak ada jawaban. Siang itu sangat sunyi. Tak ada satupun penambang yang beraktivitas. Bukan lagi lengang, tapi nyaris seperti gubuk yang mati ditinggal penghuninya. Padahal aku berharap bisa berbaur dengan mereka dan menelanjangi pedalamannya. Sayang sekali.

Karung berisikan belerang tergeletak menunggu antrian pengangkutan oleh jeep menuju Tretes
Karung berisikan belerang tergeletak menunggu antrian pengangkutan oleh jeep menuju Tretes

Pondokan adalah rumah bagi para penambang belerang Gunung Welirang. Mereka menghabiskan waktu berminggu-minggu disana untuk mengais segocek uang dari hasil tambang mereka. Pondok tersebut terbuat dari gubuk bambu dengan atap dedaunan kering. Tak ada aksesoris rumah, keramik, ataupun marmer dan genteng mewah yang berkilau-kilau disana. Semua serba sederhana dan begitu menyatu dengan alam. Kayu bakar terlihat menumpuk untuk perapian dalam rumah. Gerobak belerang tergeletak begitu saja di teras rumah. Tak jauh dari populasi tersebut terdapat karung putih yang tak lain berisi belerang tertata rapi dibawah tenda yang terbuat dari tongkat dan terpal yang tak berdinding. Menunggu antrian pengiriman.

Kesan angker mengemuka ketika angin berhembus kencang diikuti oleh kabut tipis melingkupi pondokan. Nyaris tertutup kabut. Aku tak kuat mennyembunyikan ketakutan dan kedinginanku. Aku berlindung dibalik pohon besar di pelataran bagian atas pondokan. Aku tertidur dibawah naungan pohon yang umurnya sudah puluhan atau bahkan ratusan tahun yang lalu. Disanalah tempat tanah datar mudah ditemukan. Cocok buat mendirikan tenda. Mampu menampung banyak sekali tenda.

Pondokan ini juga terdapat percabangan jalur menuju Gunung Welirang ke kanan dan Gunung Arjuna ke kiri. Letaknya yang tepat berada di kaki kedua gunung tersebut membuatnya cocok sebagai tempat percabangan jalan. Terdapat sumber air disana. Hanya saja kadang begitu kecil dan keruh.

Aku tertidur cukup lama. Sampai aku dikegetkan oleh ingatanku sendiri. Mana teman-teman lain. Aku tak tahu jalan. Dalam kesendirian diterpa angin kencang yang berhembus. Tas milikku masih ditemanku. Aku tak bisa bertahan tanpa tasku sendiri. Aku keluarkan semua yang ada di tas temanku. Aku berharap ada sesuatu yang bisa dibuat survival bertahan hidup. Setelah aku bongkar, tak ada perlengkapan yang aku butuhkan.

”Huh. Mau tidak mau aku harus segera menemui teman-temanku, jika tak ingin mati muda disini”, sedikit jenuh mondar mandir di tempat angker seperti ini.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya suara berisik kawanan manusia samar-samar terdengar. Mereka berbaris-baris melewati jalan sempit penuh semak. Yang terlihat hanya kepala mereka. Aku berteriak, Kiuuukk kiuuukk… Persis seperti anak ayam yang memanggil ibunya dengan suara lirih karena telah ditinggal dalam waktu lama. Mereka, teman-temanku sendiri, tak menggubrisnya. Melewatkan setiap teriakan yang aku berikan. Entah apa yang ada dipikiran mereka, baru kali ke lima aku teriak mereka baru sadar.

Untunglah, mereka sepertinya akan melanjutkan perjalanan ke lembah kidang. Huh. Kalau sampai ketinggalan, tak tahulah aku harus bagaimana. Ditinggal teman, tanpa tahu jalan. Beruntung aku bangun tepat waktu.

Iqbal mulai menunjukkan geliatnya lagi, ”Aku sudah mencarimu sedari tadi, aku teriaki dari dekat sini, tak ada orang” sepertinya akan menyalahkanku lagi.

”Wah, kurang dekat, aku tertidur pulas di balik pohon” aku membela diri

”Tidur mulu”, katanya

Tak kulanjutkan perbincangan kecut ini.

Matahari telah berada tepat diatas kepala. Panas terik menembus ubun-ubun. Perut keroncongan ingin diisi energi. Aku mengarahkan teman-teman untuk menggelar dapur di pondokan.

Semua botol dikosongkan. Kami berbagi tugas. Ada yang mengambil air di lembah kidang, ada pula yang mempersiapkan makan di pondokan. Aku dan Kamil kebagian masak di pondokan.

Di sela-sela keputus-asaan kami, aku dan Kamil, dalam memasak karena kompor kami rusak. Sedangkan spirtus tak membawa begitu banyak. Saat itulah ada seseorang yang menghampiriku. Kebetulan aku yang berhadap-hadapan, bertanya, ”Mau naik apa turun, mas?”

Belum sempat ku jawab, dia memergoki Kamil berada di balik kayu. Itu tak lain adalah teman Kamil, Khabib dan Irul.

Mereka adalah manusia mental baja. Nekad. Bayangkan saja naik ke kokopan tanpa persiapan tenda dan alat masak. Tidur di gubuk dengan perlengkapan tidur seadaanya. Dan melanjutkan perjalanan dengan energi selembar roti. Harapan mereka hanyalah bertemu dengan rombongan kami yang membawa tenda dan alat masak.

Kami memasak sarden dan nasi. Alat masaknya sederhana, tak ada kompor, kealeng bekas pun jadi kompor. Kaleng sisa biskuit cukup besar menjadi tumang yang aku isi dengan kayu bakar dan ranting pinus. Pemicunya spirtus yang berada dalam kaleng sarden. Sambil menanti masakan matang, kami berbincang bincang.

Ah masakanku tak matang. Perapianku kurang besar. Sial. Sarden pun sudah dingin kembali. Mas Reza dan Iqbal pun sudah datang. Waktunya makan. Di sela-sela makan siang kami berdiskusi. Merencanakan waktu, logistik, dan energi agar selamat sampai tujuan tanpa ada hal yang tidak diinginkan.

Pos Pondokan
Pos Pondokan

Diantara Arjuna dan Welirang, kami bermusyawarah menetukan arah.

Temanku punya opsi: Aku bertemu dengan pendaki lain yang akan naik ke Arjuna, meminta kita untuk ikut dengannya. Tawaran menarik jika kita bisa summit Welirang dulu sekarang dan sampai di lembah kidang nanti langsung summit Arjuno. Perkiraan naik Welirang pp 6 jam sehingga kita akan berada di lembah kidang nanti jam 10 malam. Dilanjutkan berjalan ke Arjuno jam 12 malam tuk mengejar sunrise.

Aku angkat bicara: Aku hanya mau ke Welirang kalau cuaca mendukung, kalau tidak kita sekarang istirahat dan persiapkan diri untuk sunrise Arjuno esok hari.

Ada pula yang hanya ingin ke Arjuno saja. Dengan santainya temanku Khabib dan Irul berkata, “Kami hanya ingin ke Arjuno saja”

Sempat terjadi perhelatan dan debat berlarut larut. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Arjuno saja yang akan kami daki untuk kali ini.

Bersambung Terjebak dalam Lembah Kidang

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s