Summit Attack Ogal-Agil

Cerita sebelumnya Terjebak di Lembah Kidang

Fajar memerah merona di ufuk timur. Tergores oleh kelam awan nan hitam. Bergaris-garis memucatkan wajah Sang Pagi.

Gunung Arjuno 3339 mdpl dari balik bukit
Gunung Arjuno 3339 mdpl dari balik bukit

Horeeee… teriak tim pertama yang telah mampu menginjakkan kaki di puncak Ogal-Agil, puncak tertinggi Gunung Arjuna. Ketinggiannya 3339 mdpl. Gunungnya bertipe strato. Pernah meletus sudah puluhan tahun yang lalu.

”Oh jadi itu toh puncak tentingginya”, ucapku dalam hati.

Puncak Ogal-Agil itu terlihat runcing seperti corong bensin yang terbalik. Terlihat begitu indah dari kejauhan. Bendera merah putih di atasnya menghiasi puncak semakin ramai.

Tak lama kemudian, aku menyusul. I’m coming Arjuno. Bebatuan besar tersusun rapi di pelatarannya. Entah bagaimana terbentuknya. Siapa yang telah menyusun bebatuan yang tetata apik seperti itu? Dan aku pun segera mempersiapkan tempat yang pas untuk mengambil dokumentasi matahari terbit dibelahan gunung ini.

Selalu dan selalu aku ingin bersiap dulu sebelum mentari menyapaku. Aku duduk di atas bebatuan besar kompak. Aku memandangi alam yang kedinginan oleh angin malam. Terlihat tak banyak aktivitas. Dingin dan beku. Tak ada gerak-gerik pertanda kehidupan di seluruh arah yang aku perhatikan. Hanya diriku yang sebatang kara ini, di puncak yang tingginya lebih dari 3000 mdpl ini, diam merenungi diri yang begitu kecil diantara kebesaran alam ciptaan Allah.

Perlahan mentari muncul dari sela-sela pegunungan Bromo Tengger Semeru yang bertengger di ufuk timur. Menghiasi sinar mentari. Lukisan yang sangat memukau.

Nasionalisme
Nasionalisme

Aku sempatkan untuk refleksi diri. Memegang simbol negara, bendera merah putih. Sederhana saja. Bertongkatkan kayu dengan bendera yang terikat padanya. Aku rasakan hembusan angin. Sembari memutar ulang perjuangan pahlawan dalam menegakkan merah putih di tanahnya sendiri, mengusir para penjajah yang notabene menang dalam segi intelektual teknologi dan kekuatan militer.

Gunung Putri, Batu, Malang
Gunung Putri, Batu, Malang

Aku perhatikan sekelilingku. Aku dapati hamparan dataran yang mulai menampakkan jati dirnya. Semula tertutup oleh kabut, perlahan mulai jelas terlihat berkat sinar mentari terang menyinari bumi. Gunung putri terlihat berada diatas awan. Letaknya seperti selemparan batu saja. Begitu dekat, arah selatan kota Batu, kota wisata itu. Terlihat jelas yang mana Panderman, Gunung Butak, dan Kawi yang membentuk barisan seperti putri sedang tidur. Pegunungan anjasmoro yang tampak rendah dan tertutup kabut tipis terletak di daerah barat. Yang terlihat jelas tentu kawasan pegunungan di Tahura Raden Soerya antara lain: Gunung Kembar I, Gunung Kembar II, dan Gunung Welirang, serta satu bukit arah utara yang bersanding bersama Gunung Penanggungan yang masih tertutup kabut. Gunung Welirang lah yang paling tak luput dari pandanganku. Dia terus menerus sibuk dengan aktivitasnya. Tak peduli, waktu terus berjalan, semburan belerang terus menerus keluar dari sisi samping puncaknya. Akibat semburan awan putih belerang, puncaknya terlihat begitu putih, ditambah oleh bebatuan belerang.

Puncak Ogal-Agil bukan hanya tentang batuan yang bertumpuk-tumpuk begitu terlihat alaminya, atau tentang angin kencang yang berhembus menerbangkan apapun, ataupun tentang pemandangan yang menyertainya, lebih dari itu disana terdapat cerita panjang yang dianggap penting bagi yang mendalami ilmu kejawen. Di puncak, terdapat batuan besar sekali, setidaknya lebih besar dari yang lain, yang dianggap sakral bagi yang mempercayainya. Di bawah batu tersebut terdapat banyak dupa dan sesaji yang di khususkan untuk penunggu disitu. Mereka yakin, berdoa disana lebih mujarab karena letaknya yang sangat dekat dengan langit, tempat tuhan berada.

Uniknya ada batuan yang datar, luasnya cukup untuk tidur 3 orang orang. Panjangnya dua kali tinggi orang dewasa. Disana biasanya digunakan sholat bagi pengunjung muslim. Memang tempatnya cocok, seperti sajadah untuk sholat.

Bumi semakin terang saja. Semua kini terlihat jelas. Yang semula hanya hitam tak terlihat apapun.

Hamparan padang savana menutupi tubuh gunung, seperti pakaian gunung arjuno yang terus kebawah hingga daerah Lawang, Malang. Ada jalur pendakian juga yang terlihat seperti jalur tikus, yang langsung tembus ke sini, Puncak Ogal-Agil. Memang jalur Lawang, adalah jalur terdekat jika ingin berkunjung ke Gunung Arjuno.

Diatas padang savana banyak sekali ditemui tumbuhan khas gunung seperti berikut.

DSCN0711
Edelweis
DSCN0709
Cantigi
DSCN0707
Entahlah apa ini, tumbuhan kecil mirip rumput yang kering
DSCN0703
Ini pula, tak tahu. Backround welirang

Indah bukan?

Tak terasa aku sudah begitu lama menghabiskan waktu di puncak Gunung Arjuno ini. Teman-temanku mengajakku segera ke Lembah Kidang dan meneruskannya pulang karena esok hari kami harus kuliah seperti biasanya. Tapi aku tak ingin segera menyudahi ini semua. Aku duduk terus termenung, temanku meninggalkanku satu persatu. Tak aku pedulikan.

Mereka sudah di seberang bukit, berteriak, “Ayoo, pulaaang..”

“Nanti dulu..”, jawabku dengan menggebu-gebu

DSCN0717
Pasar Dieng dengan background Puncak Ogal-Agil
DSCN0719
In memoriam
DSCN0720
Batas Malang-Pasuruan

Aku berjalan sangat lambat. Kakiku lelah tanpa suntikan semangat dari teman-temanku. Mereka sudah jauh di depan. Huh aku ditunggu di Pos Watu Gede. Sial. Jaraknya sekitar 1 jam di depanku. Tak mungkin aku mengejar mereka dengan tenaga seperti gajah loyo seperti ini.

Daripada lelah, aku memilih menikmati perjalanan pulangku. Perjalanan yang begitu melelahkan dan menjenuhkan. Hutan pinus dari atas hingga bawah. Sulit sekali memindahkan kakiku dari langkah ke langkah. Tak tahu, magnet apa yang menarik-narikku untuk tak segera pulang. Hasrat belum puas mendongkolkan hati kala perjalanan turun tersebut.

Percabangan Welirang via Gunung Kembar dan via Lembah Kidang
Percabangan Welirang via Gunung Kembar dan via Lembah Kidang

Ups, temanku tergeletak menungguku di Pos Watu Gedhe, pos satu-satunya selepas dari Lembah Kidang menuju ke Gunung Arjuno. Mereka menungguku untuk berjalan bersama, takut aku tersesat, karena jalan sebentar lagi adalah kawasan Hutan Lali Jiwo. Jalannya banyak bercabang. Bukannya aku bersama, malah aku semakin melesat karena semangatku pulih, langkah kaki semakin cepat, sepertinya kakiku sudah di doping. Aku meninggalkan mereka.

Bersambung Album Rindu

Advertisements

2 thoughts on “Summit Attack Ogal-Agil

  1. Terima kasih telah berkunjung ke kebun ya Hafidh. Ikutan bangga menjadi pembelajar alam yang sesungguhnya. Puncak ogal-agil yang mempesona, aneka tumbuhan khas gunung yang cantik, dan hutan lalijiwa pasti jadi tulisan elok.
    Selamat terus menulis

    1. Iya, bukan hanya vegetasi tetapi keanekaragaman lain flora fauna dan banyak lagi yang lain burung yang elok terbang diantara dahan dan kupu yg sedang asyik menari diantara bunga, sungguh menenangkan jiwa. Apalagi tidur beralaskan rumput tepat dibawah pohon yg mana ada sumber air mengalir dengan panorama savana, greget banget 🙂

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s