Terjebak dalam Lembah Kidang

Cerita sebelumnya Diantara Arjuno dan Welirang

Telah aku tinggalkan ganas batuan jalur tambang belerang. Kini, jalanan begitu bersahabat dengan kaki. Jalan datar dengan tekstur tanah berdebu. Jalan tak terlalu lebar. Cukup hanya untuk satu lajur saja. Kanan kiri dipenuhi semak belukar yang gatal jika kena kulit. Tetapi syukurlah sudah tiada batuan yang meremukkan tulang-tulang itu. Sekarang kita berada di Lembah Kidang.

Welcome Lembah Kidang, kata tersebut seolah terpampang diantara pepohonan dimana tali rafia terikat dibatangnya. Terdapat sebuah tenda berukuran 8-10 orang sudah berdiri kokoh diantara tanah datar yang dipenuhi rumput hijau. Tempat ini adalah tempat yang sempurna untuk mendirikan tenda. Tanahnya datar di kelilingi oleh pohon pinus yang sangat tinggi. Tak begitu luas memang. Tetapi sangat rimbun dan air tak jauh bisa didapat dengan mudah.

Sayang, menurut informasi, lembah kidang masih 10 meter dari camping ground ini. Terletak di bawah bukit ini.

Savana disekitaran lembah kidang
Savana disekitaran lembah kidang

Lembah kidang telah menjebak diriku serta pikiranku untuk berdecak kagum padanya. Lembah kidang adalah savana yang dipenuhi oleh rumput hijau. Rumput begitu hijau, terhampar sejauh mata memandang. Rumput yang ada disana sangat berbeda dengan rumput biasanya, halus dan lembut di kulit. Tebal dan lembut. Ditengahnya, terdapat dua buah pohon besar yang menaungi siapapun yang berkunjung kepadanya bak pohon kelapa di padang pasir, tepat sekali untuk berteduh. Disana segalanya disulap menjadi sejuk. Tidur di bawah pohon yang rimbun di atas kasur empuk rumput tebal dan lembut di lembah kidang akan menyajikan sensasi tersendiri. Banyak pohon cemara dan pinus mengitari lembah. Sumber air mengalir daripadanya. Aliran airnya tenang. Begitu jernih berkaca-kaca.

Bonus bunga
Bonus bunga

Perpaduan antara khasanah alamiah yang begitu nyaman dan makhluk hidup yang hidup di habitat tersebut sangat mengagumkan. Banyak sekali spesies animalia yang tinggal disana, seperti burung, bunga, katak, belalang, dan lain sebagainya. Sesuai namanya (Lembah Kidang) pula, Dahulu kijang/rusa sering kali bermain disana dan meminum air di sumber air. Entah di era penduduk kota pindah ke gunung ini masih adakah rumah bagi mereka.. Kemarin aku tak bertemu. Setidaknya habitat yang asli seperti itu sudah menggambarkan savana Australia, Eropa, atau Amerika.

Betapa Maha Karya Allah SWT yang sempurna hingga tak sampai pula akal kita menjangkau ilmu-Nya. Kita hanya bisa mengucap memuji kebesaran-Nya semampu kita.

Tendaku sudah berdiri diantara pepohonan besar, aku masuk tenda dan menikmati sore di dalam tenda. Kabut mulai turun. Dingin menerpa. Sleeping bag aku gelar, musik aku nyalakan, istirahatlah aku di dalam dekapan-Nya.

Aku terbangun. Malam telah tiba. Seperti biasa, aku menjadi koki andalan yang bertugas mempersiapkan makan tim. Aku selalu suka memasak. Senang, bahkan bergembira sekali dan selalu tampil ekspresif. Aku bernyanyi, tertawa, dan melafalkan kata dalam percakapan dengan begitu keras dan bernada intonasi medok ala orang desa yang jarang menggunakan bahasa Indonesia.

Racikan bumbu seadanya aku gunakan semua. Perbandingannya aku atur semauku. Seenaknya. Semua serba instan. Tak terlalu suka sebenarnya. Tetapi apa daya, aku tak membawa perlengkapan memasakku, apapun yang dibawa temanku aku masak deh. Aku memasak hanya bermodal prinsip masak ayah dan ibuku. Mereka yang mengajarkanku tentang meracik bumbu dan berbagai varian metode memasak. Mereka adalah guru memasakku. Dan latihanku di alam bebas seperti ini. Maaf ya teman-teman aku jadikan kelinci percobaan hasil latihan memasakku.

Masakan pun sudah matang. Saatnya membangunkan teman-teman untuk makan malam. Aku buka tenda. Oh nampaknya banyak juga pendaki yang akan naik ke Arjuna malam nanti. Tenda menjamur di segala penjuru. Ada sekitar 6 tenda baru yang didirikan setelahku. Aku buka tenda temanku, aku bangunkan dengan alasan sholat maghrib. Hihihi.

Makan yuk makan. Semua sudah tersaji di tengah tenda temanku. Kami semua melingkar dalam satu tenda, dalam satu penerangan, dalam satu sajian masakan. Kebersamaan itu yang selalu aku ingat betul.

Improvisasi terbukti positive. Berhasil. Malam ini aku memasak sup kacang dan wortel plus nasi dan lauk telur dadar. Semuanya khas. Terbukti enak dan lezat. Anggota tim yang mencicipinya memuji masakanku. Padahal juga aku memasaknya tak begitu serius.

Sehabis makan, persiapan tidur lagi untuk mengisi tenaga summit attack.

See you on top!

Bersambung Summit Attack Puncak Ogal-Agil

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s