Berpikir kritis, sebuah pemikiran serius

Sejak dahulu kala, para guru di sekolah sudah mengajarkan anak didik untuk selalu berpikir. Berpikirlah wahai kaum bodoh, agar kau tak diinjak injak oleh pemilik ilmu pengetahuan!

Tak ada guna Sang Pencipta membuat akal untuk manusia, makhluk paling sempurna diantara makhluknya yang lain. Hewan tak memilikinya. Mereka tak memikirkan apapun. Yang ada hanya kesenangan jasmani saja. Begitu pula makhluk yang sangat taat kepada tuhannya. Malaikat. Malaikat memang diciptakan untuk mengagungkan, bertasbih, melakukan tugas sesuai perintah tuhan tanpa nafsu badaniyyah. Ketahuilah mereka masih dibawah kita, manusia, asalkan manusia bisa mengendalikan nafsunya dan menggunakan akal baiknya. Naasnya, manusia akan juga dikutuk menjadi makhluk yang lebih keji dari binatang kalau akal sudah ditelan oleh nafsu belaka.

Maka sudah selayaknya manusia terpelajar. Mengendalikan akal pikirannya. Sejernih mungkin. Bebas. Lepas dalam kungkungan kepentingan yang tak berbudi.

Memang terkesan mudah mengatakannya. Hanya berpikir saja kok tidak bisa. Setiap waktu manusia pun berpikir. Tetapi cobalah sedikit telaah sudahkah pikiran kita tercurah pada kebaikan, atau hanya berkisar pada kegalauan hidup, kekhawatiran akan masa depan yang suram, kesedihan terhadap musibah, dan kesenangan duniawi belaka. Kepekaan terhadap lingkungan, apakah kita sudah memilikinya? Atau kita sibuk pada diri sendiri, sibuk meninggikan nama, mengejar pangkat, dan menggapai kemewahan harta saja. Bukan kah sudah banyak contoh manusia tak dapat bahagia karenanya. Apakah sudah lupa? Sudah itu mati, dilupakan orang.

Ah, omong kosong lah aku jadinya. Pikiran kritis akan menimbulkan jiwa alim yang terus mengalir dalam otak. Senantiasa terus menggunakan akal yang jernih. Tak gegabah dilahab amarah. Betapa mulianya pemilik ilmu. Dan mulinya seorang penimba ilmu.

Berpikir kritis bagiku adalah proses pemikiran hal kecil maupun besar terhadap apa yang terjadi di sekeliling kita. Kepekaan terhadap lingkungan – kejadian. Bukan sekedar acuh saja. Betapa pelajaran itu sudah sering diajarkaan di sekolah-sekolah, yayasan, maupun lisan dari orang terdahulu dan berilmu di luar sana. Sampai kita bosan bahkan muntab mendengarnya. Memang hati ini terlalu ‘batu’ untuk menerimanya. Belum juga sempurna menerapkan suatu ilmu sudah berlagak berilmu. Itulah yang paling ditakutkan.

Ets jangan terlalu menggebu juga. Pemikiran kritis juga tak boleh berlebih atau berkurang. Berlebih akan menimbulkan gejolak dan serangan penolakan dari khalayak. Berkurang pun menjadi lesu, kering, kerontang – tak berilmu.

Pernah suatu ketika, kala masih arogan dahulu, jaman muda. Emosi hatiku terusik oleh sesuatu yang tak patut. Pelayan, pengayom, dan pelindung masyarakat jelas tak memihak pada rakyat. Mereka tak ada ketika rakyat butuh terhadap jasanya. Aku sangat tak terima dengan perlakuan seperti itu. Segera aku koarkan pada dewa masa kini yang sekaligus pendukung setiaku – media. Aku kabarkan melalui media media bahwa ada suatu kejadian tak patut. Aku keburu berkecoh menjatuhkan lawan tanpa tahu duduk perkaranya. Sayang, lawan yang aku hadapi bukan main, miliki seribu tank. Sedang aku hanya memiliki ketapel. Amunisiku kalah telak. Aku diserang habis oleh temanku yang tak setuju. Dan aku sadar bahwa aku salah tafsir dan aku sadari aku yang salah atas semua ini.

Dan itu sedikit ceritaku yang berlebihan kritis terhadap sesuatu. Hingga kini pun aku terlalu memperhatikan hal sepele menjadi sebuah hal yang besar. Namun, aku lebih berhati-hati. Aku tak ingin mati telak di depan para serdadu tak lebih dariku. Sungguh, berpikirlah kritis. Merdekalah! Selama kemerdekaanmu tak melenceng dengan apa yang telah digariskan oleh agamamu. Karena aku yakin, dalam lubuk terdalam, agama lah yang akan jadi tuntunan hidup. Tak ada itu, hidup dipenuhi kegusaran belaka.

Jawaban atas pembisuan akhir-akhir ini.

Advertisements

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s