Pergerakan Pendidikan di Kampus

Salinan ulang percakapan dengan ahli filsafat

Permulaan pembicaraan

Kebingungan akan studi dan dunianya yang jauh bertentangan. ”Aku sedang berada diambang kehancuran. Semuanya hancur. Studiku hancur dan semuanya hancur. Yang tak hancur adalah kesukaanku pada sosial, hukum, dan politik. Aku tak seperti kalian. Duniaku sangat jauh dari apa yang aku jalani setiap harinya, kawan. Aku pergi ke kampus, belajar dunia teknik, dan mengerjakan segala tugasnya dengan prinsip”, jelasnya seakan menjelaskan betapa butuhnya ia pada datangnya seseorang yang bisa menjawab pertanyaannya.

Rupanya dia sedikit menyindirku. Yang meskipun bisa bebas setidaknya indeks prestasiku lebih tinggi diatasnya. Meskipun sedikit. Padahal, aku tidak ada niatan untuk membahasnya.

Meskipun demikian, aku sebenarnya terkagum padanya. Aku mengesani asas yang dia pegang di kalangan terpelajar bobrok bangsa Indonesia sekarang ini. Prinsip kejujuran. Asas mendapatkan apapun hasil yang diperoleh melalui kerja sendiri. Aku tak mampu berbuat demikian. Betapa malaikat telah menjaganya. Dia mengerjakan tugas kuliah sendiri, belajar materi kuliah bersama, berusaha sekuat tenaga hingga sepertinya dia sudah megap-megap ditengah terpaan persaingan yang begitu ketat dewasa ini. Sepanjang aku lihat, dia selalu terlihat percaya diri mengerjakan ujian, tes, maupun kelulusan mata kuliah dengan kejujuran tinggi. Tak ada mungkin dalam kamus otaknya itu budaya mencontek, plagiarisme, berbuat curang selama ujian dengan membawa catatan kecil atau bekerja sama dengan teman.

Aku jawab dengan ringkasan salah satu buku yang sedang aku baca, jejak langkah milik Pram. Begini:

”Ada seorang anak bangsawan yang berkesempatan belajar ala eropa. Setelah lulus dari H.B.S (yang menurutku) setara SMA, dia meneruskan studinya di perguruan tinggi satu-satunya di hindia, STOVIA. Sekolah kedokteran terkenal itu yang sekarang menjadi cikal bakal kedokteran Universitas Indoensia. Itupun bisa melanjutkan tak spontan. Bertahun tahun harus dihabiskan untuk hadapi masalah hidup, keluarga yang terjerat hukum. Bahkan harus melawan keputusan pengadilan putih, belanda. Ketegarannya mengantarkan pada sekolah dokter. Seperti yang ia cita-citakan sebelumnya. Meskipun ditolak oleh sahabat-sahabatnya lain. Belum genap satu tahun, ternyata kata temannya itu benar, dia tidak cocok menjadi seorang dokter. Dia lebih asyik dunianya di luar, koran dan menulis. Serta kehidupannya bersama istri baru, seorang gadis angkatan muda tiongkok yang energic hingga semangatnya telah merenggut menguruskan tubuhnya. Cobaan berat hidup Minke terus berlanjut. Istrinya meninggal dunia karena penyakit kuning, tak ada obatnya pada masa itu. Studinya kacau dan ketinggalan jauh. Tak dapat diselamatkan lagi. Gubermen yang mengundang dan membiayai studinya pun akhirnya memutuskan memecat Minke. Namun, bukan tambah terpuruk, gagal jadi dokter dan rumah tangga tak membikin masa depannya kacau. Malah sebaliknya, bisa bertahan dalm terpaan badai dan bangkit lagi mendirikan organisasi modern pertama di hindia untuk pribumi. Mendirikan koran pribumi.”

Hah, dia masih tak puas, tapi tak melanjutkan. Menyimpangkan pada yang lain:

”Aku masih tak habis pikir dengan anak yang rajin belajar di kampus, belajar dan terus belajar. Apa yang mereka pikirkan? Apa tak jenuh? Apa tak tertekan?”

”Aku pun tak tahu. Sudah kutelaah sedari sekolah dasar dulu, tak kunjung dapat jawaban”

”Menurutmu buat apa mereka belajar matakuliah hingga mendalam dan mendapat indeks prestasi yang baik itu?”

Sepertinya dia sangat tak setuju dengan pola yang demikian. Terlihat dari penekanan setiap pertanyaan yang menjurus pada anak berorientasi belajar kuliah dengan rajin.

”Tanpa mengembangkan banyak bidang dan berpengetahuan luas, orang hanya akan menjadi jongos. Betul begitu, bukan?”

”Jongos jongos orang yang punya uang”

Lagi-lagi ’Anak Semua Bangsa’ aku sodorkan.

”Inilah dunia kapitalisme itu. Dunia dimana orang berilmu pengetahuan saja akan menjadi ’budak’ pemegang modal. Orang hanya akan menjadi anak buah, pegawai, dan pekerja yang digaji oleh pimpinan. Tak bebas.”

Alih berdalih, dia mulai muntahkan semua yang ia miliki.

”Bukan mereka yang salah. Mereka adalah akibat dari pengaderan raksasa. Dimana orang didesain untuk terus menerus mempelajari ilmu yang dapat memajukan industri yang dipegang oleh kaum bermodal. Dalam filsafat dikenal pendidikan formal dan dialek. Formal berarti statis. Dan dialek bersifat dinamis. Kita distatiskan.”

Aku tak terlalu paham filsafat. Aku tanggapi saja yang aku tahu dan dapat aku teruskan.

”Orang nanti hanya menjadi sebuah robot. Robot di pabrik-pabrik produksi. Berpakaian sama, melakukan hal yang sama, mengerjakan tugas yang sama pula. Apa beda dengan robot?”

”Makanya berpendidikanlah dialek”

Teman lain datang dan menanyakan suatu hal. Bagaimana kedinamisan di kampus ini sebenarnya. Temanku, salah seorang aktivis sosial politik mulai berkotbah.

”Semua organisasi di kampus ini statis. Mereka mau tak mau harus patuh pada dewanya. Sang pemilik peraturan – birokrasi. Tak bisa berbuat lebih. Kalau bertentangan dengan atasan, bisa dilebur organisasinya. Pergerakan mahasiswa yang didengungkan oleh aktivis organisasi itu sejatinya intrik saja. Mereka sebenarnya tak bergerak. Dilain sisi, perkumpulan orang penggerak pemikiran sudah terbentuk. Mereka berpikir kritis, menentang kebiasaan lama yang tak berkembang. Dan yang terpenting mereka bebas.”

Aku hanya mengisyarakan iya.

Idealisme yang cukup tinggi. Dan memang itu yang harus dia miliki sebagai pemuda cendikia.

Tak puas dengan celotehnya yang hanya aku iyakan saja, dia berbelok lagi.

”Menurutmu, adakah yang salah di sistem pendidikan kita? Kok sampai jauh seperti ini. Sudah lama berpendidikan tetapi tak merdeka.”

“Penerapan di lapangan yang salah. Keliru.”

“Bagaimana dengan sistemnya?

“Sistem dibuat oleh orang yang hebat. Berpendidikan tingkat tinggi. Mereka tak mmungkin menjerumuskan pendidikan negeri ini. Mereka menelurkan kurikulum sebagai acuan dasar. Sudah bagus menurutku. Tetapi ketidak-mampuan pengajar dan siswa sebagai pemeran dalam dunia pendidikan membikin alur cerita bagus menjadi kacau balau.”

Teringat pula aku pada impan Pram.

Dia ingin sekali menjadi dalang yang hebat. Mensutradarai peristiwa di seluruh negeri. Tetapi impiannya tak sesederhana itu. Ternyata, dalang tak serta merta bisa mengatur papan wayang kulit mati diatas panggung. Papan wayang kulit itu ternyata hidup dan memiliki keinginan sendiri-sendiri.

”Menurutku, sistem salah dan penerapan pendidikan bermasalah. Output tidak jelas. Kalau sistem benar dan penerapannya sesuai, tak mungkin sekarang lulusan sarjana banyak yang menganggur. Tak mungkin anak SMA hanya menjadi karyawan toko.”

”Pendidikan ala eropa itu tak akan memajukan negeri ini, percayalah. Bukan itu yang cocok dengan kita. Orang kita terlalu kerdil. Perlu digemukkan dulu. Dimotivasi dulu. Bukan dikerdilkan. Kalau diri manusia, siswa pribumi, anak bangsa indonesia sudah percaya diri, dan bangga akan identitasnya. Cukup sulutkan saja api, mereka akan dengan sendirinya aktif mencari jati dirinya sendiri. Akan lebih menggerakkan SCL yang katanya metode terbaik dan inovasi terbaik jaman modern ini. Tanpa keterpaksaan.”

Segar dan mencerahkan di era yang serba bingung dimana ideologi fasisme sudah dicoba dan gagal, pun demikian komunisme. Semua hancur ditelah ideologinya sendiri. Dan sekarang, era liberalisme yang juga sedang kejang menunggu ajal menjemput.

Jam 14.50. Waktunya sholat asyar.

Advertisements

One thought on “Pergerakan Pendidikan di Kampus

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s