Bacpacker-an Surabaya ke Dieng Plateau

Ingin destinasi wisata yang komplit menyuguhkan keindahan alam yang memukau, peninggalan masa lampau, dan keelokan budaya lokal? Dataran Tinggi Dieng adalah jawaban yang pas. Tak perlu khawatir mengenai budget, berwisata murah meriah ala backpacker kesini sudah semakin mudah kok.

Dataran Tinggi Dieng
Dataran Tinggi Dieng

Rencana refreshing ke Dieng sudah jauh hari terbesit dipikiran setelah diiming-iming oleh teman seperjalan yang sudah dahulu kesana. Aku riset kecil-kecilan di internet. Waw, aku terpukau. Foto-foto perjalanan mewarnai keyword Dieng Plateau. “Aku harus kesana!” Pikirku berangan-angan.

Tak perlu waktu lama untukku mengatur segala kebutuhan. Segera aku hubungi temanku yang kebetulan kuliah di jogja. Aku ajak dia. Ah dia menolak. Dia ada jadwal kuliah dan memang di sudah pernah kesana sebelumnya. Tetapi dia ikut pendakian Merbabu yang aku slotkan setelah mengunjungi Dieng. Baca juga ceritanya disini.

Perlengkapan outdoor seperti matras, sleeping bag, jas hujan, alat mandi, dan jacket hangat anti-air sudah dalam tas. Berbekal nekad, aku berangkat. Itinerary perjalanan seadanya. Dipikir setelah di jalan saja lah! Kalau dipikir terus tak akan berangkat.

Bus Sumber Selamat jurusan Surabaya-Jogja melaju cepat. Tetapi seakan waktu berhenti. Perjalanan sangat lama dan membosankan. Aku berusaha membunuh waktu dengan tidur. Aku berangkat dari surabaya tengah malam dengan harapan sampai di jogja pagi hari.

Benar. Aku sampai pukul 6 pagi waktu setempat. Segerakan bergegas di Terminal Giwangan menuju Kabupaten Magelang. Bus Jogja-Magelang ini masih jarang penumpang lepas dari Giwangan. Aku kira langsung meluncur ke Magelang dengan cepat. Eh lewat Road Ring Jogja, malah ngetem di Terminal Jambor lama sembari menunggu bangku terisi.

Pedagang asongan sibuk dengan dagangannya. Pun pengamen jalanan yang mengais rejeki dari serak suaranya. Cukup menghibur di panas penat bus umum.

Sumpah! Aku boring berada di bus seperti ini terus. Bicara sama orang sebelah yang kebetulan orang magelang asli pun sudah kehabisan bahan pembicaraan. Untung aku bawa buku favoritku, Bumi Manusianya karya Pramoedya Ananta Toer yang terkenal itu. Aku bacai dengan seksama kisah roman yang menarik ulur emosi itu. Geregetan dengan gelagat Annealis. Dan terpesona oleh petuah nyai ontosoroh. Baca juga review singkatnya disini.

Pindah bus Magelang-Wonosobo. Kali ini buku sudah aku simpan. Sulit membaca buku dalam keadaan seperti ini. Memasuki kabupaten Temanggung, anak-anak sekolah berjubel riuh masuk bus dari Temanggung menuju perbatasan Wonosobo. Alhasil, bus pun penuh sesak.

Temanggung masih menyisakan kenangan. Aku mengendarai bus melintasi lembah diantara dua gunung api kelas tinggi di Indonesia, Sindoro dan Sumbing. Letaknya berdampingan. Semua gagah. Areal persawahan warga tersusun rapi meskipun kemiringan begitu curam. “Rawan longsor!” pikirku. Menuju kaki gunung, medan terus menanjak hingga ditemukan kebun teh dan jagung, barulah turun.

Pikiran tiba-tiba tegang sesampainya di Wonosobo. Kekhawatiran muncul. Betapa tidak, aku tak tahu jalan. Kapan harus turun dan kapan harus pindah bus lagi. Sedang waktu terus memburu, hari ini adalah hari jum’at. Sial, sebentar lagi sudah sholat jum’at. Teringat nasehat orang tuaku, jum’at itu dirumah saja. Siap-siap menyambut hari raya mingguan umat kami – islam.

Saking gugup dan kelabakannya aku, turunlah dari bus. Aku kira disinilah tempat tukar bus itu. Pertigaan menuju Dieng. Ai sial, ternyata ini masih daerah Kretek, 5 Km lagi menuju pusat kota Wonosobo. Gegabahnya aku! Huh.

Tenangkan diri, aku berbincang-bincang dengan pemilik warung. Tentu aku beli sepiring makan terlebih dulu.

Tahu aku keliru ambil bus dan turun pada tempat yang salah, kondektur bus merasa iba terhadapku. Sendirian, gembel tak tahu jalan. Ditariknya saja uang berapa pun ditanganku. 3 ribu saja.

Sudah cukup! Jangan ada kejadian sial lagi.

Ai, aku ditegur bus Dieng. Aku bayar tak sesuai. 10.000 mas! Katanya dengan sopan. Oiya pak maaf. Saya tidak tahu. Padahal berharap pak supir tak mengeceknya. Aku buru-buru pergi. Eh malah kena tegur. Lena perjalanan Wonosobo ke Dieng yang eksotis hilang sudah. Jalan pegunungan khas tebing dan jurang yang meliuk liuk mengular. Petak sawah yang tersusun rapi menghampar di depan mata. Sepanjang deretan bukit-bukit itu, perkebunan, ciri daerah perbukitan, memadati seluruh area tanah. Dari kejauhan Sindoro Sumbing menyapa.

Selamat datang di dieng
Selamat datang di dieng

Dan perjalanan panjang ini mengantarkanku pada suatu tempat darat, lebih tepatnya cekung. Akhirnya, aku sampai juga.

Siang menuju sore itu, Dataran Tinggi Dieng tertutup kabut. Aura mistis memang terpancar. Tanah para dewa.

Lantas mau apa kamu kesini?

Pertanyaan muncul menyergapi diri. Iya, aku tak tahu mau kemana ya? Seperti orang hilang lah aku, tengok kanan kiri diantara pertokoan yang berjajar. Kebanyakan sudah tutup sih. Sudah hampir perempat siang menjelang malam.

Aku buka peta kecil sticky note-ku. Oke! Langkah kaki ku percepat agar dapat menuntaskan 4 atau bahkan 5 objek disisa waktu yang sedikit ini – 4 jam saja. Sekarang sudah menunjukkan pukul 14.00. tak boleh lama. Aku andalkan kaki saja. Maklum tak punya daya untuk beli jasa ojek. Apalagi selebihnya.

Budaya perkebunan di dataran tinggi
Keramahan penduduk lokal
Salah satu hasil bumi andalan di dieng, kentang
Salah satu hasil bumi andalan di dieng, kentang

Berjalan setengah lari. Langkah dihentikan petugas yang menarik tiket. Petugas yang ramah dengan nada sedikit menawarkan jasa dengan paksaan. Tak punya pilihan, aku borong tiket menuju 4 objek sekaligus. Yang homestay aku tolak tanpa memberi isyarat sedikit pun. Aku punya tempat tidur sendiri. Tanah.

18 ribu hilang sudah dari kantongku. Semakin tipis saja dompet ini.

Telaga Warna

Telaga warna sedang surut berwarna biru muda
Telaga warna sedang surut berwarna biru muda

Untuk yang pertama, telaga warna. Berjalan menyusuri setapak pinggir telaga. Menyambangi goa sekaligus petilasan yang dianggap keramat. Suasana mistis tiba-tiba mencuat. Memang di daerah Dieng banyak peninggalan Hindu yang masih dilestarikan hingga kini. Goa-goa pun berhiaskan sesajen dan dupa yang masih terlihat segar dan tentu baru. Terdapan Goa Semar, Goa Sumur, Batu Tulis, Goa Jaran, dan Goa pengantin. Pikiran tentang mitos-mitos menggentayangi pikiranku.

Gua Sumur
Gua Sumur

Tetapi berjalan mengelilingi danau, terbayar sudah pengorbananya. Danau berwarna biru muda dan pekat. Gelembung kecil meletup letup menuju permukaan air. bukti nyata bahwa disini, aktivitas vulkanik masih terjadi. Kadar sulfur yang tinggi menyebabkan telaga yang warnanya dipantulkan dari sinar matahari menjadi berubah-ubah. Aku kedapatan warna yang sesuai dengan hatiku. Biru muda.

Telaga Pengilon juga dapat dijangkau dengan mudah dari telaga warna. Dahulunya kedua telaga ini menjadi satu. Sekarang terpisah karena airnya sudah surut. Begitu surut, karakter kedua telaga ini sangat berbeda. Jika telaga warna memang berwarna-warna, telaga Pengilon lain lagi. Jernih. Konon, kita bisa mengetahui kondisi hati kita kala bercermin dengan air telaga tersebut.

Sayang, Telaga pengilon dan situs di sampingnya aku lewati saja. Tak banyak waktu. Di perjalanan melalui jalan setapak, banyak ditemukan rummput Wlingi. Rumput yang khas berbentuk sepeti batang rumput tetapi ruas-ruas lebih panjang. Rumput jenis ini dapat hidup disegala kondisi, daya adaptasinya sangat tinggi.

Candi Bima

Tengah jalan dari telaga warna menuju kawah sikidang, aku menemui candi. Ini candi yang pertama aku singgahi. Meskipun sebelumnya dalam perjalanan, dari kejauhan di tengah lembah terlihat kompleks candi arjuna.

Candi Bima di persimpangan jalan
Candi Bima di persimpangan jalan

Sepintas, bagian atas candi ini mirip dengan mangkuk yang ditelungkupkan. Biasanya orang hindu menyebutnya kudu. Candi ini sangat terawat. Sekarang sudah ada pagar yang melindunginya. Dan beberapa taman di bagian depan.

Kawah Sikidang

Kawah yang masih aktif dengan kegiatan vulkaniknya
Kawah yang masih aktif dengan kegiatan vulkaniknya

Si kidang namanya. Kawah dengan gelembung yang muncul di tempat yang berbeda beda, mirip dengan kijang yang melompat-lompat gesit. Ada sebuah legenda yang menyertainya. Seorang raja yang meminang seorang ratu, tetapi mendapat tolakan. Mendapatkan prasyarat untuk membuat sumur yang dalam. Namun dalam proses pembuatan, ratu dan pengawalnya mengubur sang raja. Hingga sang raja mengamuk mengakibatkan bumi bergetar dan mengeluarkan uap air panas yang berpindah-pindah.

Terlepas dari itu, kawah Sikidang adalah kawah yang masih aktif. Aktivitas vulkanologinya terasa dalam getaran jarak radius beberapa meter. Gelembung udara berupa sulfur keluar diantara air dengan kadar sulfur yang sudah jenuh.  Batuan andesit disampingnya berwarna putih karena semburan sulfur kadar tinggi tersebut. Asap sulfur mengepul-ngepul. Jangan menghirup asapnya terlalu banyak. Jika melebihi batas, paru-paru terganggu dan bisa pingsan. Beli masker dari rumah sangat direkomendasikan.

Mereka pun pulang. Matahari sudah mulai tenggelam

Penduduk sekitar
Penduduk sekitar

Golden Sunrise Sikunir

Selamat datang di Sikunir
Selamat datang di Sikunir

Matahari terbenam meninggalkan gelap di bumi. Aku segera merapat ke tempat tidurku. Harus segera aku catat perjalanan ini dan segera tidur. Karena apa? Besok harus bangun pagi buta untuk mengejar golden sunrise di bukit sikunir. Dimana matahari paginnya sangat klasik.

Jangan lupa menikmati kulinernya juga. Ada carica dan mie ongklok. Sayang warungnya belum buka. Carica adalah olahan pepaya manis. Segar dan manis.

DSCN0384
Carica
DSCN0322
Tak ada mie ongklok, nasi goreng pun jadi

Perjalanan menuju ke sikunir terpaksa harus aku tulis karena ada pengalaman gila kala itu. Begini:

Aku berangkat dari pintu selamat datang dieng terlalu terlambat. Ingat aku ini jalan kaki. jam 3.30 sudah sekarang. Kantuk tak tertahankan. Kaki masih loyo setelah perjalanan 5 Km mengelilingi kompleks wisata Dieng yang populer itu. Harus menguatkan diri. Hangat kantung tidur masih terasa. Uh, saatnya bertempur!

Aku harus berlarian mengejar 8 Km dengan jalan yang menanjak menikung. Sial. Tak bakal bisa. Secepat apapun, dan sekuat apapun kaki tak bakal bisa. Huh. Tak ada jalan. Mana mungkin aku sewa ojek dengan uang segini.

Aku jalan ditengah dinginnya malam. Sarung yang terlilit di tubuhku tak banyak melindungiku dari dingin. Memang itu saja yang aku punya sebagai penghangat. Aku tak bawa jacket. Bukan lupa, memang di sengaja.

Jalan terus pantang mundur. Belum lama berjalan. Lampu senterku kalah oleh lampu kendaraan yang juga bertujuan sama. Ke sikunir. Mereka berbondong-bondong menarik sepeda motornya. Betapa enaknya? Aku hanya bisa berharap-harap ada yang menghampiri dan menawarkan bantuan.

Tepat 2 Km sebelum sikunir, aku hampir saja menyerah. Aku salah jalur menuju perkampungan warga. Hampir pudar asa untuk dapatkan sinar matahari terindah di Sikunir. Sinar matahari sudah nampak di ufuk timur terhalang oleh bukit-bukit. Sialku tak hanya itu. kali ini aku dicurigai anjing penjaga PLTU. Dikira aku pencuri. Dia buntuti aku dari belakang. Gemetaran bukan main. Ooooii.. Aku berteriak ketakutan. Kalut.

Terbayang digigit anjing sendirian, mati terkapar dipinggir jalan karena virus rabies.

Aku masih tak mau mati muda. Aku biasakan saja langkahku. Seperti tak terjadi apapun. Tak kulihat belakang. Terus melangkah. Meskipun hati terus tak tenang. Dag dig dug dear. Aku percepat sedikit. Terus dan terus.

Tin.. Tin.. Ada mobil lewat. Ah leganya. Anjing minggir, takut mati kena tabrak mungkin.

Mereka telah menyelamatku dari anjing penjaga yang seram itu. Aku diberi tumpangan mobil. Gratis. Satu-satunya orang yang memberikan bantuan tanpa aku minta sebelumnya. Girang bukan main. Let’s go adventure!

Horeeee.. masih ada 15 menit waktuku. Aku ijin berlari mendaki bukit pada orang yang menolongku. Aku kejar sang mentari. Jangan nampakkan dulu wajahmu sebelum aku bersiap untuknya. Ayolah. Cepat-cepat. Nafas terus memburu langkah. Ngos-ngosan.

Golden Sunrise sikunir
Golden Sunrise sikunir

Yeah… aku sampai. Hilang sudah rasa capek melihat sang mentari masih dalam kerubung awan. Garis-garis cahaya merah kekuningan memang sudah nampak. Tetapi rupanya keberuntungan masih berpihak padaku. Aku diberi kesempatan terundah. Sungguh indah pagi ini. Hangat itu lebih-lebih ditambah kehadiran sosok pejuang muslim dari Surabaya juga. Aku ketemu dengan teman sejrusanku kuliah disini. Dunia memang selalu terasa sempit.

Glow
Pemandangan klasik pagi hari di dataran tinggi

Museum Kaliaksa

Museum Kailasa masuk kawasan Kabupaten Banjarnegara. Museum ini berisikan beragam peninggalan kuno dan artefak-artefak. Banyak koleksi yang dapat dinikmati didalamnya berupa arca, makara, kemuncak, yonni, lingga, dan yang paling unik adalah patung Dewa Siwa berkepala tiga (Siwa Trisirah)

Museum Kailasa
Museum Kailasa

Sayang hari sudah sore, tutup.

Candi Gatotkaca

Candi Gatutkaca ini berada di seberang museum Kailasa. Sebenarnya candi ini terdiri dari beberapa gugusan candi, sayang yang lain sudah tinggal reruntuhan. Tinggallah Candi Gatutkaca yang masih kokoh. Namanya sendiri mengambil nama salah satu tokoh perwayangan jawa.

Candi Gatutkaca
Candi Gatutkaca

Kompleks Candi Arjuna

Kompleks Candi Arjuna
Kompleks Candi Arjuna

Puas dengan mentari pagi. Aku turun dan segera pulang. Mampir dulu di peninggalan Hindu tertua di Jawa dan sekaligus tertua kedua setelah nepal. Pembangunannya sekitar abad sembilan masehi. Masih tertata rapi hingga kini. Ditemukan oleh salah seorang tentara Inggris bernama Van Kinsbergen pada tahun 1814.

Kompleks Candi Arjuna terdiri atas beberapa candi antara lain Candi Arjuna itu sendiri, Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Memang ciri candi hindu tak banyak relief candi ditemukan. Hanya beberapa relief tergambar diantara bebatuan yang menunjukkan Dewa Trimurti yaitu Siwa, Wisnu, dan Bahma. Kala itu Candi Arjuna masih dalam perbaikan. Tetapi tak mengurangi sedikitpun keindahan kompleks candinya.

Riang gembira bersama keluarga dan teletubis
Riang gembira bersama keluarga dan teletubis

Seperti dapat suasana yang bersemangat. Pagi begitu cerah. Rumput menghijau, mengkilap pula oleh seberkas embun diantaranya. Aku merenung mengagumi kedigdayaan orang terdahulu. Membangun sebuah peradaban di atas dataran tinggi seperti ini. betapa hebat mereka. tak ada teknologi jaman dahulu. Tak ada katrol, tak ada truk pengangkut material, tak ada pula pesawat sederhana. Nyatanya mereka mampu bangun peninggalan yang hingga kini masih kokoh berdiri dihadapanku.

Sisa peninggalan di kompleks candi Arjuna
Sisa peninggalan di kompleks candi Arjuna

Senja sudah tepat dipelupuk cakrawala. Saatnya pulang untuk melanjutkan tour berikutnya.

Siluet Candi di kompleks arjuna
Siluet Candi di kompleks arjuna

Tips agar perjalanan backpacker kamu nyaman, antara lain:

  1. Observasi detil medan

Pelajari medan yang akan ditempuh. Riset tempat yang akan dikunjungi. Cari sebanyak-banyaknya informasi tentang transportasi dan akomodasi. Hubungi hotel, homestay, atau hostel. Lagi, gali informasi. Homestay murah sangat banyak dengan vasilitas beragam mulai kamar nyaman, kamar mandi air dingin dan hangat.

Tetapkan, kapan harus berhenti, transit atau bahkan ngetem. Jangan sampai salah turun dan salah jalur ambil bus. Meskipun cara paling ampuhnya ya bertanya, tapi alangkah baiknya kalau sudah tahu medan terlebih dahulu. Setidaknnya memudahkan.

  1. Rencanakan itinerary dengan matang

Rencanakan perjalanan dengan matang. Jangan sekali-kali hanya modal nekad. Susah sendiri nanti. Tentukan tempat apa saja yang mau dikunjungi dan sesuaikan dengan waktumu!

  1. Bawa perlengkapan outdoor

Gunung bukan dataran rendah yang cuacanya mudah diprediksi. Panas terik bisa saja timbul hujan. Berjagalah dengan peralatan anti hujan seperti payung dan jas hujan. Apalagi musim hujan. Dan yang terpenting jacket. Udara disana sangat dingin. Kabut turun ketika sore. Angin berderap kencang. Sayang kalau aktivitasmu malah menjadi buruk karena kesehatan menurun.

Bawa juga peralatan penunjang seperti selimut tebal, tissu, dan masker.

  1. Bareng-bareng sama teman

Untuk meringankan beban biaya, hendaknya bareng taman. Ramai sekalian. Karena akan sangat membantu menekan biaya. Lebih rame kan juga lebih seru toh.

  1. Paket tour

Tentukan juga paket tour. Bisa menyewa EO atau jasa paket tour ke Dieng. Banyak sekali tawaran dengan harga yang variatif pula. Kalau berinisiatif untuk berjalan sendiri, perhatikan biaya. Sekali lagi, pandailah menawar harga. Misal ketika terpaksa ngojek. Sesuaikan kata hati dengan budget.

  1. Bekal

Yang terakhir bekal. Tak kalah penting juga. Pasalnya di daerah yang dingin tubuh akan mudah lapar. Tubuh membakar cadangan lemak untuk menjaga suhu tubuh. Tak ada salahnya membawa berbagai macam makanan ringan, snack dari rumah untuk menemani perjalanan kamu.

Sebagai referensi, aku kemarin kesana sekitaran bulan november. Rincian biayannya sebagai berikut. Bisa saja berubah seiring fluktuasi harga bahan bakar.

Rincian biaya
Rincian biaya

NB:

Bus Surabaya-Jogja ekonomi AC bisa naik Eka, Mira, atau Sumber group

Mini Bus Jogja-Magelang naik Mustika berwarna abu-abu dan putih

Mini Bus Magelang-Wonosobo turun di perempatan kauman naik Putra Perdana

Mini Bus Wonosobo-Dieng naik mini bus dengan embel-embel Full Dieng

Untuk pulang, harus lewat Terminal Pendolo untuk transit

Have a Nice Trip!

Tulisan ini diikutkan pada event lomba Visit Jawa Tengah 2015

1 Banner Jan-Feb 2015
Banner lomba

 

Advertisements

18 thoughts on “Bacpacker-an Surabaya ke Dieng Plateau

  1. Mas itu knp pulangnya gak pake bus yg sama pas berangkat, klo wonosobo-magelang-jogja -SBY apa susah?
    soalnya rencana pake rute itu baliknya

      1. maaf mau taxa ni mas broo…
        kalo penginapan disana brapa ya??
        untuk taun ini kira” bisa ngabisin budget brapa ya??
        kalo dari surabaya..
        thanks mas

      2. Wah kalo soal penginapan relatif, mulai dari 60-100ribu dengan kapasitas 2-3 orang. Coba cek langsung homestay disana aja. Kurang ngerti untuk perkembangan terkininya. Perkiraan sekrang paling ya 400-500ribu lah untuk 3 hari pp.
        Semoga membantu

  2. Terima kasih udah visit dan review tentang wisata Dieng. Makin Bangga jadi anak asli Wonosobo. Tapi kok transport mya ruwet ya
    .. Hehe… Biasa aq wonosobo – surabaya langsung pake OBL / Handoyo. Yang perlu info jasa tour n guide hubungin aja 085697574894. Semoga mbantu yoooo

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s