Indikasi Penurunan Kualitas Pelajar

Sebuah catatan kecil di saat detik-detik akhir penutup matakuliah polimer. Dosen memberikan wejangan[1] kepada murid didiknya. Waktu yang sangat singkat sekali. Tetapi sangat berharga.

Begini kira-kira ceritanya yang telah saya rangkai ulang menggunakan dengan bahasa sendiri:

Mengapa kualitas lulusan Teknik Material dan Metalurgi ITS berbeda jauh dengan lulusan Teknik Material MIT? Harusnya secara logis sama kualitasnya. Mahasiswa Teknik Material MIT juga mempelajari materials science seperti yang dilakukan di ITS.

Apa penyebabnya? Bukan dosennya. Mahasiswa sendiri yang menyebabkan kesenjangan tersebut. Mahasiswa ITS disaring dari bibit unggul SMA terbaik bangsa. Tetapi semakin lama kuliah di ITS kok tidak banyak berubah dan malah merosot kemampuannya. Sekali lagi, mahasiswa lah yang harus punya niatan berkembang. Bukan malah menurunkan level belajarnya.

Oke kita skip dulu masalah tentang penurunan level belajar. Nanti akan saya bahas lebih mendetail. Untuk lebih memahamkan diri terhadap permasalahan yang diungkap, mari lihat contoh riil berikut:

Sekarang kita ambil contoh SMA N 5 Surabaya. Mengapa mereka menjadi sekolah percontohan di Jawa Timur ini? Siswa mereka memang didapat melalui persaingan ketat sekolah unggulan di Surabaya. Siswa disana juga punya semangat tinggi untuk belajar pada tingkat pendalaman yang sangat tinggi dalam setiap pelajaran dan kegiatan di sekolah. Akhirnya sekolah bisa hidup sangat dinamis dan kritis.

Ruh dan nyawa dari ilmu itu berasa. Sangat bisa dirasakan. Terlihat sedikit filosofis memang. Tetapi kenyataannya memang demikian. Pemahaman mahasiswa terhadap sebuah materi sangat kelihatan dari cara menyampaikan gagasan, jawaban, dan ide. Kalau hanya step by step jawaban atas soal ujian ditulis saja dengan menghafal akan memiliki ciri tersendiri. Dangkal dan tak bermakna. Kalau ditulis berdasarkan pemahaman dan pengertian terhadap apa yang akan ditulis, maka akan lebih greget. Hidup. Maka jangan salah jika dosen menilai jawaban ujian dengan nilai yang berbeda meskipun jawabannya sama. Karena bisa jadi tingkatan pemahamannya itu berbeda.

Metode belajar yang diterapkan di Indonesia sebenarnya sudah bagus. Metode belajar Student Center Learning (SCL). Metode belajar seperti ini sangat memungkinkan mahasiswa belajar lebih banyak karena memang menjadi peran utama dalam setiap pembelajaran di kelas. Harusnya kompetensi belajar lebih mudah dicapai.

Pada penerapannya, model presentasi materi di depan kelas salah satu yang paling diminati dalam proses belajar mengajar metode SCL. Sangat ideal. Presentasi di kelas memungkinkan interaksi yang hidup antara mahasiswa dan mahasiswa. Mahasiswa sebagai penyampai dan juga penerima. Dosen hanya mengarahkan saja. Namun, kenyataan berkata lain. Mahasiswa, terutama yang saya ketahui di Teknik Material dan Metalurgi ITS, sering menurunkan bobot materi yang disampaikan. Materi yang disampaikan di dalam kelas sangat dangkal dan hanya berkutat pada kulitnya saja. Buruk. Sebuah bencana. Sayang sekali kan? Hanya karena menurunkan grade materi, semua akan terimbas akibatnya.

Benar, karena menurunkan level. Grade rendah. Hanya kulitnya saja. Orang Indonesia ini memang suka omong-omong saja. Slogan jalanan. Tak berbobot. Begitu kata Prof. Tan dari NUS pada sebuah kesempatan berada di Teknik Industri ITS beberapa waktu yang lalu.

Sayang. Diberi kenikmatan tiada batas yang ada pada diri, tetapi tak disyukuri. Bersyukur itu ya digunakan. Bukan membiarkannya lapuk dan rusak begitu saja. Punya otak, ya dipakai untuk berpikir.

Mahasiswa datang, duduk, pulang. Tak berbekas sedikitpun matakuliah yang dipelajari tadi. Hanya mengisi waktu saja. Jangan! Jangan sampai seperti itu. Eman[2].

Ada juga yang sudah merasa belajar setiap harinya. Membaca materi, mendengarkan dosen berceramah di depan kelas, dan mencatatnya. Nyatanya itu saja belum cukup bisa dikategorikan sebagai belajar secara hakikat. Belajar itu ya keseluruhan.

Seperti contoh pada kuliah tadi. Polimer. Judul topik pada pertemuan kali ini adalah tentang struktur polimer. Kalian malah belajar tentang apa itu polimer, ciri-ciri polimer, bagaimana polimer terbentuk, dan bagaimana wujudnya. Kita ini bukan murid SMA. Kuliah itu ya tahu tentang fundamentalnya seperti menghitung Number Molecular Average (Mn) dan Weight Molecular Average (Mw) serta apa perbedaan keduanya dan apa relasinya dengan sifat material tersebut. Begitu.

Dikutip dari penyampaian materi matakuliah polimer oleh Dr. Widyastuti

18 Februari 2015

[1]Wejangan (Bhs. Jawa) berarti nasehat baik

[2]Eman (Bhs. Jawa) berarti sayang kalau terbuang sia-sia

Advertisements

4 thoughts on “Indikasi Penurunan Kualitas Pelajar

  1. […] Dari sanalah saya berpikir, kalau saja pelajar, murid, mahasiswa mau memanfaatkan betul internet sebagai sarana belajar, bukan hanya sarana hiburan dan eksis didunia media social saja, maka kualitas pendidikannya akan jauh meningkat dari sekarang. Pelajar sekarang cenderung menurunkan tingkat belajar mereka dan memilih untuk bersantai dengan buaian fasilitas internet yang menyenyakkan itu. Baca juga: Indikasi penurunan kualitas pelajar […]

  2. Wow, keren mas tulisannya. Tapi kualitas lulusan tidak hanya dipengaruhi oleh semangat mahasiswanya, tapi juga bagaimana cara si kampus nge-treat mahasiswanya. Mahasiswa indonesia gak bisa dibilang anak2 aktif. yo kalo mau ngasilin lulusan yang aktif, ya mustinya gak pake SCL dong. SCL kan buat yang aktif. kalo make sistem MIT juga gak bisa karena karakter mahasiswanya juga beda.

    Tapi, sejauh aku jalan jalan di kampus Chulalongkorn dan Mahasarakham, aku mendapatkan situasi yg berbeda. Kampus memperlakukan mahasiswanya dengan sangat baik. pelayanan yang ramah dan pembimbingan yang tulus jelas ada disana. kalo dosen tidak kapabel dgn itu, ya gak bisa lah kit aharapkan mahasiswanya oke. mas tau sendirilah gimana dosen dosen di ITS. (#No Offense ke dosen btw)

    Yg paling penting menurutku adalah Kampus sebagai institusi pendidikan harusnya juga mendidik. bukan hanya mengajar. selama ini ada dogma dalam kampus bahwa mahasiswa adalah siswa yang maha. jadi gak perlu dididik. cukup diajar aja.

    boleh discuss lebih jauh sih. hehehehe

    1. Yup, memang yg sedang ditekankan pada tulisan diatas adalah salah satu faktor kenapa penurunan kualitas pendidikan bisa terjadi. Faktor yg lain tentu lebih kompleks daripada tulisan yg ga lebih dari 1000kata ini. Thabks for visiting and giving comment here

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s