Ketika Kita Menjadi Budak Politik

Dari dulu hingga sekarang, Indonesia sama saja, sama gelapnya. Negara kita memang tergolong masih negara berkembang dimana ketimpangan terjadi di berbagai sektor, seperti: pendidikan, ekonomi, sosial, dan bahkan budaya. Pemerataan rupanya hanya menjadi mimpi indah belaka. Manisnya kemerdekaan belum terasa bagi sebagian saudara kita di pelosok negeri tak terjamah sana.

Sungguh ironi bila orang elit di Jawa, pusat segala kemajuan negeri, menggembor-gemborkan tentang bagaimana memajukan bangsa tanpa melihat sisi lain pedalaman nusantaranya sendiri. Mereka bergeming, berpikir keras, menentukan arah kebijakan untuk memajukan tanah air yang sama kita cinta ini. Tapi tanpa sadar mereka hanya menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Contoh kecilnya begini, negara ini memang masih tergolong ekonomi rendah, kok malah pemerintah ”menjual negaranya”. Mengundang para investor asing untuk menggarap tanah air yang katanya gemah ripah loh jinawi ini. Menjajakan aset rakyat dengan dalih meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menjual kekayaan alam, batu bara, gas alam, minyak mentah, mineral berharga, dan banyak lagi yang lain. Menyuruh orang asing mengolahnya di negeri kita untuk nantinya akan di jual pada si pemilik aset.

Analoginya seperti ini, ketika petani memiliki sawah dan sedang tak punya uang maka keputusan terbaik agar ekonominya meningkat adalah menggarap sawahnya dan menjual hasil sawahnya pada orang lain yang berduit. Dan akhirnya orang bermodal tersebut menyuruh si tuan tanah untuk menggarap tanah tersebut. Kini tuan tanah yang harusnya merdeka dan berkuasa, hanya tunduk pada nilai uang yang begitu tak berarti itu.

Konsep tersebut bertolak belakang dengan ideologi kapitalis sekarang dimana pemilik modal akan menguasai segalanya. Sedangkan tuan tanah hanya menjadi buruh belaka. Naas sekali malah kapitalisme dengan sistem bank yang bisa dipastikan merugikan yang lemah dan menguntungkan yang kuat. Sudah jelas jelas sistem tersebut malah menelurkan kesenjangan sosial yang berkepanjangan.

Ingat Bang Rhoma bilang,

Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Begitulah kenyataannya dewasa ini.

Tentunya orang yang pemerintahan bukan lah orang bodoh. Mereka semua pandai dikuatkan lagi oleh kenyataan mereka adalah orang berpendidikan tinggi hingga sarjana kelas elit. Mereka tentunya tahu betul permasalahan ini dan analogi yang saya utarakan sebelumnnya. Tetapi kenyataannya mereka tak bersuara, seolah bisu terhadap pembodohan massal ini. Seolah tutup mata, cuci tangan terhadapnya.

Sebuah diskusi kecil dengan kolega saya dini hari tadi, menyimpulkan bahwa biang kerok semua itu adalah politik. Politik telah mematikan akal sehat. Dimana kebenaran akan ditekan terus menerus oleh kepentingan dalam skema politik kepentingan sekelumit orang. Sekelumit kepentingan orang tersebut disuapkan pada orang lain.

Contoh kongkretnya seperti ini, ketika seorang mahasiswa menginginkan pergerakan di Kampusnya dan pergerakan tersebut dinilai radikal oleh birokrasi maka birokrasi menjalankan intrik politiknya untuk mengintimidasi gerakan tersebut. Contoh lain ketika ada presiden Indonesia berkebijakan mengusir semua perusahaan asing dari negerinya maka tentu politik dunia multilateral akan mengembargo Indonesia. Begitulah politik di jalankan agar orang asing dapat mengeruk kepentingan di Indonesia. Jadi, pembangkangan itu sangat sulit dijalankan di tengah kungkungan politik yang sudah di jalankan sekelumit orang itu.

Itulah inti politik yang sangat tidak saya suka. Kenapa kepentingan tersebut harus dipaksakan terhadap orang lain. Politik bilang, ”Orang lain harus dipengaruhi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bersama.” Jadi jelas, bahwa politik adalah ilmu untuk mempengaruhi orang.

Kesimpulannya, pendidikan harus balance dengan politik. Tak boleh keduanya lebih tinggi kedudukannya. Kalau sampai timpang mereka akan saling mematikan dan saling menghancurkan. Ketika pendidikan terinterferensi oleh politik, maka pendidikan tak memiliki ”gigi”. Ketika pendidikan tak dibarengi dengan politik maka perkembangan ilmu pengetahuan akan minim.

Lalu apa solusinya? Baca disini solusinya

Entahlah. Semoga mencerahkan.

Sebuah salinan diskusi mahasiswa modern

Baca juga matinya pergerakan kampus

Advertisements

6 thoughts on “Ketika Kita Menjadi Budak Politik

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s