Mengapa saya menulis?

Banyak orang tanya pada saya mengapa menulis blog, apa manfaatnya, apakah dapat uang dari menulis di blog. Pertanyaan senada juga sering saya dengar setiap hari. Mereka terheran-heran pada saya yang membela menulis sebuah artikel yang kadang sepele. Seolah pekerjaan saya tidak jelas dan tidak ada gunanya. Saya hanya bisa tersenyum menyambut kata-kata pedas teman-teman menertawai pekerjaanku.

Sebenarnya ada banyak alasan yang menguatkanku diterpa badai ini, antara lain kebermanfaatan. Apalah arti kita di dunia ini, hidup bersenang-senang lantas mati dilupakan orang. Tak berkesan sama sekali. Hidup puluhan tahun mengumpulkan harta tetapi nantinya harta itu tak bersama kita selamanya.

Ali Bin Abi Thalib, seorang khulafaur rasyidin, pernah berkata,

”Setiap penulis akan mati. Hanya karyanyalah yang akan abadi. Maka tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.”

Untuk memudahkan, coba tengok, permisalan ini. Kalau saya ingin dikenal orang, saya akan mempublikasikan identitas saya sebagai orang baik. Saya sebar dalam segala bentuk informasi, TV, buku, media online, media cetak, dll. Saya akan dengan mudah ditayangkan kalau saya punya hal yang unik dan punya potensi terkenal. Setidaknya harus ada orang lain yang rela saya suruh untuk menulis biografi saya, liputan tentang saya dan lain sebagainya. Sebaliknya kalau saya menulis sendiri, meliput sendiri, mempublikasikan sendiri dalam sebuah media yang saya kelola sendiri, maka saya akan abadi dalam tulisan dan segala sesuatu mengenai saya tanpa harus menjadi terkenal terlebih dahulu. Biar orang yang akan mengenal dan mengenangnya.

Sudah diterangkan jelas pada sebuah hadist bahwa:

”Ada tiga perkara yang tidak akan terputus meskipun sang empunya, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang berdoa kepadanya.” (HR. Muslim)

Jadi apapun yang kita tulis dan itu baik secara konten dan niat, maka tulisan itu akan bernilai ilmu yang bermanfaat. Orang lain bisa memahami sebuah permasalahan dan membuatnya berilmu. Itulah yang akan menjadi amalan yang tidak akan ada habisnya. Walaupun satu ayat saja, ketika kita sampaikan pada orang lain, dan orang lain memegangnya selama hidupnya maka selama itu pula nilai kebermanfaatan tetap hidup.

Ingat pula pada Pramoedya Ananta Toer, yang legendaris sastra Indonesia, yang bilang kalau kamu tak menulis, sehebat apapun kamu, kamu akan tenggelam ditelan masa. Dan nyai ontosoroh pernah bilang kalau dia pernah menyayangi menantunya dengan amat sangat seperti anak sendiri karena dia menulis.

Maka, apalagi yang dapat meragukan keputusan saya untuk menulis?

Tidak ada.

Semoga mencerahkan

Advertisements

2 thoughts on “Mengapa saya menulis?

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s