Mau ke Coban Sewu? Trekking Susur Sungai Dulu.

Bagaimana ya akses menuju Air Terjun Tumpak Sewu – nama lain Coban Sewu? Medannya berat nggak? Pertanyaan-pertayaan yang menggebu dilontarkan banyak orang pasca air terjun yang memukai ini tersebar di media.

Note: untuk panduan lengkap menuju Air Terjun Tumpak Sewu dapat anda lihat di detikTravel yang khusus membahas tentang rute terbaik, timing yang pas, akomodasi yang nyaman, tiket masuk dan parkir, water/food resource, savety and security, dan beberapa recommended tips dan trik menuju Tumpak Sewu dan juga wisata alam lumajang yang lain. Klik disini Air terjun niagara di Indonesia.

Coban Sewu sendiri adalah destinasi wisata sepaket dengan Gua Tetes, Pronojiwo. Lokasinya 2 km arah barat Gua Tetes. Untuk sampai kesana, harus menuruni tebing menuju aliran Sungai Glidik dan berjalan melawan arusnya hingga menemui potongan tanah yang dihujani air yang terjun dari langit. Itulah Coban Sewu.

Penggambaran Coban Sewu dalam Imajinasi
Penggambaran Coban Sewu dalam Imajinasi

Tingginya sekitar 180 meter. Debit airnya super tinggi. Deburan titik air es yang dingin mengangkasa. Menjadi kabut dan menggumpal membentuk awan. Bisa jadi, ini adalah Niagara yang ada di Jawa Timur.

Ah, saya juga manusia. Punya imajinasi tentang keindahan. Saya harus kesana!

Tertaklukkan alam

Sedari awal perjalanan, bulu kuduk sudah merinding. Takut akan medan yang ganas. Hanya berbekal nekad saya menuruni tebing. Kebetulan saya bertemu dengan teman lama. Sekarang, kami berlima tergabung dalam tim ekpedisi Coban Sewu.

Karena dianggap berpengalaman, saya ditunjuk sebagai leader. Sebentar mengobservasi, saya langsung putuskan jalan yang sekiranya landai hingga bawah. Menerobos ilalang, rumput tinggi, dan semak.

Baca juga: Eksotika Gua Tetes

Gua Tetes klasik
Gua Tetes klasik
Sisi lain yang baru saya temui tentang gua tetes
Sisi lain yang baru saya temui tentang gua tetes

Ditengah jalan, bibir tebing menghentikan langkah kami. Setelah yakin ini bukan jalurnya, saya putuskan naik keatas lagi. Huh.. Dua puluh menit hilang. Tenaga terkuras. Saya tak tega membuat mereka terengah-engah. Saya pilih mencari dulu jalan. Survei dan mereka tunggu di tempat yang aman.

Oke, petualangan segera dimulai.

Naik-naik ke puncak bukit..

Tinggi-tinggi sekali

Kiri-kanan kulihat saja

banyak lumut kuning kecoklatan

Kiri-kanan kulihat saja

banyak batu dan air

OST. Naik Puncak Gunung, revised by own lyrics.

Beberapa kali harus terjungkir dalam arus deras air. Basah-basahan. Tetapi jangan salahkan batuan berlumut, ada kok lumut tingkat tinggi yang mirip dengan rumput. Perawakannya padat berduri tidak tajam, persis dengan rumput laut, tapi lebih kuat. Lumut ini sangat padat dan sangat keset – tidak licin sama sekali.

Bulir air menghujani tubuh
Bulir air menghujani tubuh

Dari ketinggian, tak ada jawaban. Saya nekad turun saja mengikuti aliran air. Sampai menginjak batuan stalagtit warna coklat kehitaman yang belum sepenuhnya padat. Sisa kayu kecil tumbuhan tingkat tinggi, sampah, dan batuan kecil lengket di-lem alami oleh Lumpur. Lumpurnya menghisap-hisap kaki. Semakin dicari semakin buta arah. Semua kemungkinan sudah saya coba, tetapi tak membuahkan hasil.

Saya menyerah. Saya putus asa. Saya duduk termenung menghilang dibalik rumbunnya tetumbuhan. Sembunyi di balik goa yang amat gelap. Saya terbata-bata dan merangkak diantara batuan cadas. Punggung diarahkan pada aliran air. Pijat refleksi dulu sambil melamunkan kegagalan saya.

Susur Sungai Menanti Hujan

Untung. Beberapa wisatawan ada yang menyewa porter, penduduk sekitar. Mereka adalah penyelamat kami. Well, rute jalan sudah ada pemandu, tetapi kondisi jalan siapa yang tahu.

Berjalan mengikuti arus. Merambat diantara batuan cadas keras. Berbelok menambati tanah berlumpur yang licin. Harus memiringkan badan saking sempitnya. Harus pegangan tali saking curamnya. Harus pula merendahkan posisi tubuh dan rela berbasah-basahan agar tidak terjungkal ke depan, di depan mata adalah jurang.

Dua tebing yang mengapit aliran sungai
Dua tebing yang mengapit aliran sungai

Persis dengan imajinasi saya sebelumnya. Saya akhirnya berada diantara tebing yang menjulang ke langit. Gagahnya alam yang tiada tandingan, membuat diri serasa kecil dan tidak berarti. Perbandingan dengan ciptaan-Nya saja sudah kalah telak, apalagi dengan Sang Pencipta Alam Semesta. Tebing batu hasil sendimentasi yang berkontur indah dihiasi oleh tanaman merambat yang berwarna hijau tua. Suasana yang begini ini yang bikin diri semakin terkagum-kagum pada Alam. Betapa Maha Segalanya Allah. Dan kita, manusia, hanya setitik noktah yang lemah tak berdaya dihadapannya.

Tebing terakhir berbentuk mirip dengan pintu gerbang. Dimensinya menutupi aliran sungai. Bergeser sedikit saja turun ke sungai, mata air surga yang turun dari langit terlihat begitu jernih bak susu yang baru diperas. Satu dua mulai terpampang. Saking derasnya, butir-butir air terbentuk akibat benturan keras air pada batuan keras di bawah. Desiran angin membikin semburat titik-titik air ke udara. Dari jarak segini jauhnya, pakaian saya sudah mulai terairi oleh berjuta titik air.

Megah arsitektur alam
Megah arsitektur alam

Saya berlari bersemangat. Melompat dari batu satu ke batu lainnya. Menyebrangi sungai. Hinggap dari tebing satu ke tebing lainnya. Bruak.. kamera dan tripod saya terlempar. Ah saya terperosok. Tumbuhan semak khas daerah kaya air ini sangat menyulitkan pandangan. Tak tahu kalau yang dipijak ternyata tidak ada batunya, kalau ada pun sangat licin. Ngeri, disana banyak yuyu (baca: kepiting). Pegang batu ternyata yuyu, siaplah digigit.

View paling selatan Coban Sewu
View paling selatan Coban Sewu

Diatas sebuah bukit, saya arahkan pandangan ke utara. Papan tingginya ratusan meter terpampang. Tergambar jelas di depan. Lukisan alam yang dipenuhi lumut liar yang hijau tua. Sungguh menyejukkan. Adem di jiwa. Ditambah tusukan dingin dari air arah barat.

Ketertarikan pada tempat ini semakin menggila tatkala banyak ditemukan hewan dan tumbuhan unik. Hewan yang biasa saya temui di pantai, disini ada. Itu dia yuyu. Banyak sekali berkeliaran. Tiap kali menginjak batu, yuyu bertaburan mencari perlindungan dibalik batu.

Ada lagi caduk, hewan berbobot ringan yang dapat berterbangan dengan menggunakan keempat sayap tipisnya. Bentuknya unik dan disana berwarna warni. Perpaduan biru muda dan pink sungguh sangat memukau. Keanekaragaman hayatinya sangat besar. Belum lagi tetumbuhan yang jarang ditemui di daratan lain, hanya ada ditempat kelebihan air seperti ini. Ah, saya sangat menikmati dunia biologi yang dahulu pas waktu sekolah paling saya benci. Nyatanya kalau bersinggungan langsung dengan “Dunia biologi” yang sesungguhnya, tiada yang membosankan kok.

Caduk menclok ndek kayu
Caduk menclok ndek kayu

Mata adalah kunci tuk dapat melihat dunia seisinya. Mendapat nikmat berupa mata saja, syukurnya harus tiada tara, tiada mengenal waktu. Bayangkan kalau tak dapat melihat indahnya alam ini, begitu sengsaranya. Jangan gunakan untuk maksiat.

Atas, akhir cerita

Perjalanan masih belum berakhir. Tujuan saya bukan hanya view dari bawah. Masih ada satu lagi spot keren berdasarkan referensi yang saya dapatkan di media. Yaitu view atas dari salah satu sungai yang juga nantinya bermuara pula pada air terjun Coban Sewu.

Saya harus bergegas, matahari sudah menunjukkan pergeserannya. Lengsernya terasa cepat. Saya gugup dan terburu waktu. Langit juga turut mengugupi. Perlahan kegelapan menyelimuti bumi perbukitan Pronojiwo.

Lari-lari teruslah berlari. Tema yang pas memang susur sungai. Saya musti jalan kaki melewati sungai di perbatasan Lumajang – Malang. Setapak demi setapak penghabisan. Energi terkuras habis untuk medan naik turun lembah sebelumnya. Pikiranpun kacau. Tak sampai hati kepikiran, pusing, migren, dan terlena dan jatuh ke dasar jurang. Ah, mengerikan sekali.

Tebing batuan yang menganga menjurus pada jurang kematian
Tebing batuan yang menganga menjurus pada jurang kematian

Tak ada pagar pembatas, hanya batuan yang menganga. Bebas begitu saja. Kalau tak sadar pasti sudah jadi bahan pemberitaan seantero negeri bahwa gara-gara dibuka untuk wisata, salah seorang wisatawan mati jatuh dari atas tebing Coban Sewu.

Dan menjadi kenyataan.

View atas ini sangat tidak direkomendasikan. Pemandangan view atas ini telah menelan korban jiwa. Hari ini tepatnya (1/5/2015), seorang Mahasiswa UM meninggal karena jatuh dari atas tebing hanya demi selfie dengan background view atas.

Ada alternatif lain jika ingin mendapatkan sudut pandang lain cuban ini. Yaitu tepat diatas Goa Tetes. Sebelum loket keatas sedikit. Disana telah dibangun akses jalan yang memadai. Dikelola oleh penduduk setempat dan Disbudpar Lumajang. Medan ini dibangun lantaran jalur via portal yang akhirnya menelan korban jiwa ini sangat berbahaya. Kebetulan juga Bupati Lumajang juga berkunjung kesana beberapa waktu lalu. Selengkapnya bisa dibaca di:

Sembrono, Mahasiswa UM Tewas Jatuh di Coban Sewu

Bukti saya dan coban sewu pernah bermesraan
Bukti saya dan coban sewu pernah bermesraan

Duduk diatasnya sambil mengarahkan pandangan nun jauh di depan sana. Sebuah maha karya Sang Pencipta yang begitu eksotis dan menakjubkan. Penampakan dari sisi lain selalu menawarkan sudut pandang yang berbeda. Sangat berbeda, tadinya dari bawah merasa diri kecil, sekarang melihat semut-semut kecil di bawah sana yang tak lain itu manusia yang saya jumpai di bawah tadi.

Untaian dan rangkaian sungai membentuk komposisi struktural 2D yang sempurna indahnya. Dari kejauhan terlihat tebing nirwana yang melingkupi sekelumit surga yang tersembunyi itu.

Terpikir pula bahwa ternyata tempat ini, terkepung air dari berbagai sisi, tak sampai membayangkan kalau banjir lahar dingin semeru menerpa. Bebatuan besar mengalir bersama alirannya. Dan jatuh di dasar jurang.

Begitu kecil manusia dihadapan alam yang notabene 'hanya' ciptaan-Nya
Begitu kecil manusia dihadapan alam yang notabene ‘hanya’ ciptaan-Nya

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman [55])

Sekian jalan panjang di waktu yang singkat. Lelahnya perjalanan tertebus oleh pemandangan yang ditawarkan. Dijamin akan memberikan exciting experience. Baru, pertama, dan terkenang selamanya.

Selamat berpetualang.

Temukan caramu sendiri dalam menjelajahi ganasnya medan.

Alam bukan tempat sampah. Wisata bukan tempat mesum.

Tip-tip menuju Coban Sewu:

Berikut saya sertakan juga tip-tip yang bisa anda gunakan sebagai bekal untuk menuju Coban Sewu. Saran ini diharapkan membantu anda yang ingin segera membuktikan sendiri kecantikan alam susur sungai yang komplit di Pronojiwo. Yang perlu diperhatikan antara lain:

  1. Sandal / sepatu outdor

Harga mati untuk memudahkan langkah kaki. Untuk bisa turun ke sungai menuruni tebing curam dengan medan batuan cadas berlumut yang amat licin, sepatu atau sandal dengan gerigi/paku sangat disarankan. Boleh juga sepatu boot, lebih kuat dan tahan air.

  1. Disarankan bareng guide

Jangan pernah mencoba untuk mencari jalan sendiri. Jalannya sulit diprediksi dan sebenarnya memang tidak ada. Utamakan kesana dengan orang yang pernah kesana sebelumnya. Jikalau tidak ada, berhati-hatilah di jalan. Kalau ragu tanyakan pada warga / tukang parkir / wisatawan lain. Bisa juga memakai jasa guide.

Butuh guide atau tanya seputar Air Terjun Tumpak Sewu? Silakan email saya di hafidhfrian@gmail.com

  1. Amankan alat elektronik

Bungkus alat elektronik dengan plastik double kalau bisa. Masukkan dalam tas. Dan bungkuslah tasnya juga. Kita bukan sedang jalan di trotoar kampus, kita sedang menuruni air terjun dan menyusuri sungai serta menengadahkan diri dibawah desing angin yang membawa butir-butir air yang siap merusak alat-alat elektronik tak tahan air.

  1. Tali akan sangat membantu

Kalau rombongan rame-rame, patut kiranya membawa tali. Selain lebih aman, bisa terlihat lebih kompak, bukan?

  1. Makanan dan minuman

Ini alam liar, jangan bayangkan ada jualan cilot anget-anget di objek wisata. Jangan pula berharap air bersih untuk diminum, ini aliran dari sungai yang diatasnya ada penduduk, bos. Bawalah camilan dan air mineral botolan secukupnya, agar piknik semakin bernyawa.

  1. Matangkan itinerary

Wah ini penting banget. Jangan sampai kesana ternyata sudah mendung dan kurang cahaya. Intinya tahu kondisi dan tetapkan penjadwalan kapan berangkat dan kapan harus turun.

Sebagai referensi saja,

No. Perjalanan Waktu Tempuh
1. Kota Lumajang/Malang – Gua Tetes 120 menit
2. Turun tebing via Gua Tetes menuju Coban Sewu 60 menit
3. Foto dan main di air terjun 30 menit
4. Balik naik ke parkiran 90 menit
Total waktu yang dibutuhkan (tidak termasuk perjalanan dari rumah menuju parkiran coban sewu) 180 menit / 3 Jam
  1. Timing kudu pas

Ini adalah ruhnya perjalanan. Nggak lucu kalau ternyata kesana pas waktu mendung dan berada dibawah ketika hujan tiba. Atau tidak perhatikan timing, sehingga turun sudah mau sore dan nekad saja turun dan alhasil kemalaman ketika pulang.

Rute Coban Sewu.

Adapun rute yang dapat ditempuh untuk menuju Coban Sewu akan dijelaskan secara gamblang pada peta berikut.

Note:

Telah direvisi pada tanggal 1 Mei 2015. Peta sudah diperbarui. Peta yang sebelumnya sudah tidak berlaku.

Peta Coban Sewu
Peta Coban Sewu

Dan sebenarnya, kesenangan, kegembiraan, keceriaan tak akan menemui puncaknya tanpa diceritakan pada orang lain. Karenanya, saya menuliskan cerita ini.

Semoga bermanfaat.

Updated 24 July 2015. Beberapa akses jalur dan view sudah dibuka beberapa pekan lalu, sayang pembaharuan peta tidak dapat dipercepat karena kesibukan yang tidak bisa ditinggal. Anda boleh bertanya via email yang tertera diatas. Thanks.

Extra doc.

Saya dan penduduk setempat
Saya dan penduduk setempat
Advertisements

119 thoughts on “Mau ke Coban Sewu? Trekking Susur Sungai Dulu.

  1. Laporan perjalanan yang bagus dan detail kawan. Sangat beruntung saya menemukan informasi selengkap ini, setelah saya sempat kaget juga ada booming baru tentang coban sewu ini di sebuah komunitas backpacker. Sulitnya akses dan ngerinya jurang tebing yang menganga sempat bikin adrenalin saya naik. Tapi begitu njenengan menginfokan bahwa menyewa guide adalah sangat disarankan, saya agak tenang jika kelak pada musim dan waktu yang tepat ke sana. Karena karakter airnya sepertinya murni sumber air ya, bukan air sungai kayak Madakaripura atau Coban Pelangi yang akan kecoklatan keruh jika hujan.

    Sekali lagi terima kasih dan akan saya catat informasinya. Semoga kelak jika saya berkesempatan ke sana, saya akan buat catatan perjalanan dengan bahasa saya sendiri dan akan saling berkabar. Semoga Coban Sewu tetap terjaga, dan biarkan saja seperti itu, supaya penuh tantangan dan petualangan, bahwa tak ada yang mudah mencapai sesuatu yang indah!

    Salam kenal kawan, salam pelangi 🙂

    1. Terima kasih banyak kawan, akan sangat senang melihat orang lain terbantu dengan adanya tulisan ini, dan lebih senang lagi menantikan anda kesini dan melengkapi tulisan yg kacau disana sini ini. Salam pelangi 🙂

      1. Kita sama-sama belajar ya Mas. Oh iya saya minta izin untuk masukin nama dan blog njenengan di blogroll/bloglist di blog saya ya 🙂

      1. sekarang kesana nggak perlu pake guide gan, aksesnya jelas kok. tinggal ke goa tetes saja, nanti ada plakat menuju coban sewu. ikuti aja, kalau ragu tanya tukang parkirnya

  2. sial arek iki wes mrunu, le, nggarai ngiler ae. coban sewu iku ngisore gua tetes a, pidh? nek nak gua tetes.e wes pernah tapi aku ga ngerti coban sewune sebelah endine

  3. keren banget foto-fotonyaa Fidd …. kamu berbakat potret alam tuh diasah terus fid, tulisannya juga bagus, lengkap!! great traveller! 🙂

    1. Makasih banyak Cici, ini mah belum ada apa-apanya drpd tuh diluar sana, semakin tahu sesuatu semakin merasa diri nggak tahu apa-apa, Eh itu kamu tau nggak spesies namanya apa? caduk dalam bahasa jawanya, warnanya keren lho?

      1. iya tadabbur alam, Fid.. semakin kita banyak melihat kehebatan penciptaan makhluk Allah, semoga semakin menambah kecintaan kita kepadaNya. Hmm mungkin itu capung sambar merah, keren ya ekornya warna merahmuda, anggun banget .. lingkungannya masih asri disana ya .. 😀

      2. Betul, mengenal dan mempelajari ayat kauniyah yang ada disekliling agar mempertebal iman, bukan begitu? Wah capung sambar merah ya? betah deh disana hewannya dan tumbuhannya unik. Biologist seharusnya kesana 🙂 Identifikasi itu keanekaragaman disana 🙂

      3. iya betul-betul-betul Fid. insya Allah lah kalau ada waktu kesana, sambil mampir ke Gua Tetes. hehe. foto-fotonya bagus bangettt … bikin pingin liat langsung tempatnya 😀

  4. kalau pas mudik ke jember, pengen banget ke sini. juga ke b-29. secara pas mudik kemarin pengen jalan2 ke malang lewat lumajang jalur selatan. view nya cakep walau tangan harus pegel karena kemudi setir yang harus sering diputar2…

    tapi dengan medan yg berat itu, spt nya ga bisa kesana. karena kalau mau coba lihat tempat wisata selalu bawa istri, yang ga terbiasa berwisata yg harus melintas medan berat gitu.

    tulisannya keren.

    1. Iya jalur Lumajang Malang via selatan (Piket nol) memang lebih menantang. Iya sih kalau capek ya rehat sebentar, di pinggir jalan banyak warung dan rest area kok. Kalau banyak waktu luang ya mampir disini, Tempatnya pinggir jalan kok 🙂 Salam 🙂

  5. Informasi yang sangat membantu mas, dengan bahasa penyampaian yang mudah dicerna juga. Saya yang notabene mencari informasi tentang coban sewu ini sangat terbantu… untuk terakhir bisa kah saya untuk mengirim email..hehehe., saya tertarik berkunjung kesana dengan bantuan guide lokal mas.

    1. Iya, pemandangannya sih bagus, tapi kalo resikonya terlalu besar ya ogah juga mau kesana. Takut, udah ada kejadian lagi. Untuk sementara ditutup hingga waktu yang nggak ditentukan

      1. Kak, b29 itu bahaya banget ya kalo cewek2 kesana? Soalnya kita dan rombongan banyak ceweknya, bugdet kesana berapa kira2 kak?

      2. InsyaAllah aman, sekarang sudah ramai. Cewek banyak nggk apa kok. yg penting bisa jaga diri di alam. apalagi kalo mau ngecamp. oiya, budget tergantung moda transportasi yang digunakan. kalo ngojek ya siap2 uang 75-100rb. dan tambahan lain2 tergantung darimana start point-nya dan bekal yg dibawa.

      3. Kalo jalan kaki berapa lama kak? Dan terlalu jauh ga kalo jalan? Banyak yaang jalan ga disana? Kita mau hemat soalnya haha

      4. Wahaha mau jalan silakan, asal kakinya kuat dan nggak keburu waktu sih. Banyak juga yg jalan kok. Kalau dari gapura sekitar 2 jam. Kalau dari parkiran terakhir ya 20 menit lah.

      5. Kalo jalan kaki berapa lama kak? Dan terlalu jauh ga kalo jalan? Banyak yaang jalan ga disana? Kita mau hemat soalnya haha

      6. Kita rata2 bawa matic kak, nyampe ta sampe di parkiran terakhir, kalo dari gapura jalanya naik ya? Jalan kaki 2 jam aja capek apalagi jalan kaki naik pegunungan 😦

      7. Sabtu ini kak, ayo kak bareeeng 🙂 kawani kita lah kak, kita 12 orang cowonya cuma 2 loh kak 😦

      8. Wah, kalo sabtu ini mah nggak bisa, aku lg kuliah di surabaya eh, kebetulan pas ujian. hadeh. lain kali aja kalo mampir lumajang, boleh lah kita adventure bareng

  6. selamat malam mas hafidh 😀
    saya dari jakarta nih mau ke malang dan mau menuju ke air terjun ini
    kereta saya berhenti di stasiun Malang Kota baru dari stasiun itu menuju ke air terjun coban sewu naik angkutan umum berapa lama ya?
    dan untuk rute nya?

    terima kasih mas hafidh

    1. Kalau dari stasiun malang, cari aja bus arah dampit/lumajang, nanti minta turun di perbatasan malang lumajang. Supir pasti tau. Lama waktu kira2 3 jam kalau naik angkutan.
      Salam,

      1. Mas kalau ke coban sewu bawa kamera dlsr aman gak mas??dan tips buat bawa kamera dlsr agar tidak basah bagaimana??

      2. Kemarin abis ngenter orang jakarta, kamera dslr mati kena air. Harus ekstra hati2 memang. Plastik atau kreset ditali yang rapat sudah cukup kok.
        Selamat berlibur,

  7. Mas tanya dong, saya dan rombongan (sekitar 15org) ada rencana bkunjung ke tumpaksewu dan goa tetes, dan bsa dibilang dri kami kbanyakn memang awam bgt soal medannya, pgalaman tracking nya jg minim banget hehe. Klo mnurut mas yg sdh pgalamn dan tau medan, sbaik2nya rute yg kami ambil lewat mana dulu ya? Trimakasih 🙂

  8. Ehiya ketinggalan, klo waktu memungkinkan sbnernya kami jg brencana sambang ke kapas biru. Mungkin mas ada info saran tips and trick buat kami ini? Terimakasih lagi 🙂

  9. Wow review yang sangat keren mas, bahasanya juga puitis jadi betah baca sampe habis. Oiya mas rencana kalo jadi sekitar 2 minggu lagi kami mau main ke coban sewu. Kira-kira sekarang sudah ada banyak petunjuk jalan yg jelas atau masih harus menyewa guide? Thanks mas, very good review

  10. tepat kemarin saya dengan istri saya ke tumpak sewu.. luar biasa indahnya.. meski harus susah payah menuruni tangga dan aliran air terjun (saya turun lewat jalur lumajang) dan masih harus nyebrangi sungai tapi semua terbayar ketika sampai dibawah air terjun tumpak sewu..
    tetapi yang saya sayangkan kenapa di goa tetes pengelolanya tidak seperti di tumpak sewu.. keamanan kurang dan kotor.. saya dengan istri saya sempat di ikuti oleh seseorang yang mencurigakan.. dan akhirnya saya putuskan untuk segera naik lagi ke parkiran goa tetes karena saya takut terjadi apa apa..

    1. Dear Agil,
      Nice story kang. Tumpak sewu memang indah, tetapi lebih indah tanpa tangan-tangan perusak. Memang pengelolaan dari dinas pariwisata Lumajang masih kurang, soal kebersihan dan keamanan apa lagi. Masih dalam pembenahan kang. Kita sebagai penggiat dan penikmat hanya bisa berdoa dan mengusahakan yg terbaik bagi Lumajang ke depan.
      Thanks for sharing 🙂

  11. Infox mantap kak.. Oia, bs mintol saran n infox lg kak, rencana mw travelling dr Sby ke Madakaripura trus lanjut ke Coban sewu, kira2 keburu ndak dlm sehari y ? Thanks before..

      1. Oo, ok2 kak.. makasi byk infox.. pikirx bakal sempat klo berangkat jam 6 pagi dr Sby ke Madakaripura trus lanjut ke Coban Sewu..

      2. nggak bisa mas, soalnya bener2 jauh. dan kalau memaksakan pasti akan lelah dan nggak menikmati apapun. tak kasih gambaran ya, jam 6 dari sby jam 9 lagi sampai di madakaripura. jalan dan main di madakaripura 2 jam berarti 11 baru keluar dari madakaripura. dari sana 4 jam ke coban sewu via lumajang. udah jam 15.00 baru sampai. disana jalan kaki 1 jam udah kesorean mas. pulangnya bakal capek 🙂
        Semoga membantu

Kritik, saran, dan masukan anda sangat berharga bagi kami

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s